
*****
" Ayo Frans..."
" Tapi nona...tuan Berlin berpesan supaya nona tetap berada di rumah. "
" Tidak!!! Bagaimana aku bisa berdiam diri di rumah, aku ingin mendampingi nenek untuk yang terakhir kali nya Frans...Frans ayolah...jangan seperti itu, aku mohon...please..." Ujar Sandara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Frans tidak tega melihat Sandara memohon seperti itu. Tetapi Frans juga tidak bisa membiarkan Sandara hadir di pemakaman nenek Maria. Dan akhirnya, tanpa sepatah katapun, Frans menggendong Sandara di bahu nya dan memasukkan Sandara ke dalam kamar Sandara.
" Frans!!! Lepaskan aku...apa yang kau lakukan? " Teriak Sandara sambil mencoba memberontak dan mengayun-ayunkan kedua kaki nya.
Kemudian Frans menjatuhkan Sandara di atas tempat tidur nya, dan ia segera keluar dari kamar Sandara, lalu mengunci pintu kamar Sandara dari luar.
Dak...dak...dak...dak...
Sandara menggedor-gedor pintu kamar nya, namun Frans hanya berdiri di depan kamar Sandara dan tidak membukakan pintu kamar Sandara.
" Frans...kau tega sekali!!! Aku hanya ingin menghadiri upacara pemakaman nenek...Frans!!! Tolong buka pintu nya...Frans?? Apa kau tidak mendengar ku? "
Frans tidak menghiraukan teriakan Sandara, hingga Sandara mulai lelah dan sudah tidak bersuara lagi. Sandara terduduk di belakang pintu kamarnya. Ia duduk meringkuk sambil menenggelamkan wajah nya di antara kedua lututnya.
*****
Tiga jam telah berlalu...
Berlin, Devan dan Sarah sudah kembali, mereka masih sangat berduka. Devan menemani Sarah yang masih menangis di depan ruangan televisi, sedangkan Berlin...ia langsung berjalan menghampiri Frans yang terlihat dari kejauhan masih setia berdiri di depan kamar Berlin dan juga Sandara.
" Frans..."
" Iya tuan...acara pemakaman sudah selesai tuan? "
" Ya...dimana Sandara? "
" Di dalam tuan..."
Kemudian Frans memberikan kunci kamar Berlin dan membiarkan Berlin membuka pintu dan masuk ke dalam kamar nya.
__ADS_1
Saat Berlin ingin membuka pintu, Berlin mendorong pintu kamarnya perlahan, namun ia sulit untuk membuka pintu tersebut. Berlin pun mendorong pintu tersebut dengan sekuat tenaga nya.
Dan...
Brugghhh...
Tubuh Sandara yang tadi nya duduk meringkuk pun menjadi jatuh ke lantai. Berlin sangat terkejut, lalu ia segera masuk dan mengangkat tubuh Sandara.
Berlin membaringkan Sandara di atas tempat tidurnya, dan saat Berlin sedang menyelimuti Sandara, tiba-tiba saja Sandara terbangun dan membuka matanya.
Sandara langsung duduk dan memeluk tubuh Berlin. Berlin sangat terkejut, karena ini adalah kali pertamanya Sandara memeluk Berlin.
" Bagaimana pemakaman nenek? " Tanya Sandara dengan suara yang sudah bergetar dan juga dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya.
" Semua berjalan dengan hikmat, nenek sudah tenang...dan mungkin tuhan sengaja mengambil nya agar nenek tidak merasakan rasa sakit lagi. Kau juga sudah harus mengikhlaskan nenek, aku pun begitu. " Ujar Berlin yang ingin mengusap kepala Sandara namun masih ragu-ragu, lalu Berlin pun mengurungkan niat nya itu.
Sandara masih menangis sambil memeluk pinggang Berlin. Berlin pun hanya diam dan membiarkan Sandara menangis sepuasnya.
" Apa kau masih ingin terus menangis? " Tanya Berlin yang sudah merasa pegal karena sudah hampir satu jam ia membiarkan Sandara menangis sambil memeluk pinggang nya.
Sandara pun melepaskan pelukannya dan menyeka air mata nya. Ia masih terisak sambil sesekali memegangi dada nya yang terasa sangat amat sesak.
" Ya...aku mau mandi dan ganti baju, kau istirahatlah, dan cepat pulihkan kembali tubuh mu yang lemah itu. Ku kira kau gadis tangguh yang sangat pemberani, namun kenyataannya kau sangat lemah. " Ujar Berlin lalu berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.
" Memang laki-laki menyebalkan!! " Gumam Sandara yang merasa kesal dengan Berlin.
Sandara pun membaringkan tubuhnya kembali, dan saat ia ingin memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sandara menatap ponsel yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya itu dengan perasaan yang penuh kecurigaan.
Sandara masih trauma dengan kejadian saat ia mengangkat telfon dari ayah nya. Setelah kejadian itu, sampai detik ini Sandara tidak pernah menyentuh ponselnya, dan Sandara juga membiarkan ponselnya itu terus berada di atas meja yang berada di samping tempat tidurnya itu.
Ponselnya masih terus saja berdering, dan dering ponsel itu sangat mengganggu ketenangan Sandara. Lalu akhirnya Sandara memberanikan diri, dan meraih ponselnya dengan tangan yang sudah gemetar.
Lalu Sandara mulai berbicara dengan orang yang menelfon nya.
" Halo..."
" Halo sayang...kenapa kau tidak hadir di pemakaman ibu ku. Aku dengar-dengar kau sedang hamil. Apa itu anak ku? "
__ADS_1
Suara yang tidak asing, Sandara terdiam...tangannya masih bergetar, namun ia memberanikan dirinya dan berusaha untuk tetap kuat dan tegar. Ia tidak ingin Remon tau bahwa dirinya sebenarnya sedang gemetar dan ketakutan.
" Ternyata kau tuan iblis. "
" Wah, sungguh sangat berani kau gadis kecil...apa aku terlihat seperti iblis? Jika aku iblis, maka kau mengandung anak iblis...hahahaha...bukankah begitu sayang ku.? "
" Aku tidak akan pernah melahirkan anak ini. Tunggu saja..."
" Kau yakin? Tapi sepertinya putra ku yang bodoh itu akan menerima anak itu jika dia lahir nanti. "
" Apa kau selama ini tidak menyadari? Berlin bodoh? Ya...dan kau lah yang mewariskan kebodohan kepada Berlin. Kau bukan sekedar bodoh, tapi juga pecundang. "
" Wah gadis kecilku, kenapa mulut mu sangat lancang. Cobalah berbicara sedikit lembut dengan ku. Jangan seperti itu sayang, aku jadi merindukan mu. "
" Kau benar-benar iblis, apa kau tidak punya hati nurani? Ini adalah hari pemakaman nenek, tetapi kau? Kau terlihat sangat tidak berduka...jangan-jangan selama ini kau tidak pernah memperdulikan nenek. "
" Tutup mulutmu gadis kecil ku, ucapan mu sangat berbahaya. Apa kau tidak takut jika aku mulai emosi, lalu kemudian riwayatmu akan tamat malam ini juga. "
Sandara tidak ingin berbicara terlalu lama dengan Remon, dan Sandara langsung mematikan panggilan telepon tersebut.
Tidak lama kemudian Berlin keluar dari kamar Mandi dan mendapati Sandara yang sudah terlihat sedikit pucat, dan pandangannya juga terlihat kosong.
" Sandara..." Panggil Berlin, namun Sandara tidak menoleh dan masih tetap diam sambil menatap layar ponsel nya.
" Hei..." Panggil Berlin lagi sambil meraih ponsel yang sedang di genggam Sandara.
Berlin membuka layar ponsel tersebut dan melihat riwayat panggilan. Sedangkan Sandara yang sudah mulai tersadar dari lamunannya kini hanya menatap ke arah Berlin dengan wajah datar nya.
" Siapa yang menelfon mu? " Tanya Berlin kepada Sandara, Berlin melihat daftar panggilan masuk dan melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal.
Sandara masih diam dan tidak ingin menjawab pertanyaan dari Berlin, terlebih lagi Sandara sangat enggan untuk menyebut nama Remon.
Jangan lupa tinggalkan like, comment dan juga vote ya...❤️❤️
__ADS_1
Tekan tombol favorit juga ya ❤️😘❤️
Terimakasih atas dukungan kalian semua ❤️❤️❤️