Married To A Crazy Women

Married To A Crazy Women
#28


__ADS_3

*****


Lima belas menit kemudian, asisten Remon itupun akhirnya keluar dari kamar Berlin. Dan saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut melihat Berlin yang sudah berdiri di hadapannya.


" Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu terkejut? Apa kau melakukan kesalahan? "


Berlin bertanya dengan wajah yang sudah sangat emosi dan juga terlihat jika ia sudah sangat marah.


" Tuan muda...anda mengejutkan saya..."


" Oh...jadi kau terkejut? Sedang apa kau di kamar ku? "


" Saya sedang mencari beberapa berkas. "


" Apa yang kau sembunyikan di tangan mu? "


Berlin bertanya sambil melihat ke arah tangan asisten Remon yang saat ini sedang menyembunyikan kedua tangannya itu di belakang pinggang nya.


Kemudian Berlin meraih tangan Hendrik, asisten Remon itu. Dan ketika Berlin sudah berhasil menarik tangan Hendrik. Ternyata ada sebuah map coklat yang sedang ia sembunyikan dari Berlin.


Berlin meraih paksa map tersebut, lalu membukanya. Ternyata isi map tersebut adalah beberapa berkas yang sudah di tandatangani oleh Berlin.


Lalu Berlin membaca berkas tersebut, dan ternyata di dalam nya berisi mengenai surat pengajuan permohonan bercerai. Berlin semakin kesal setelah membaca isi yang tertulis dalam berkas tersebut.


" Apa ini? Apa maksudnya? Kau ingin memalsukan surat perceraian dan mengatasnamakan nama ku? "


Berlin menggebrak pintu kamar nya lalu ia berteriak di depan wajah Hendrik. Hendrik terlihat sangat ketakutan lalu kemudian ia berlutut dan memegangi lutut Berlin.


" Maaf tuan muda...saya hanya menjalankan perintah dari tuan besar Remon. "


" Dimana ayah ku? "


" Di hotel A tuan muda. "


Setelah mendengar dan mengetahui keberadaan ayah nya. Berlin dengan segera kembali ke mobil nya. Namun saat ia ingin naik ke dalam mobil nya, tiba-tiba saja mobil Remon datang.

__ADS_1


Remon pun turun dari mobil nya dan berjalan menghampiri Berlin yang masih berdiri di samping mobil nya. Lalu di sisi lain, Frans yang dari tadi mengikuti Berlin hanya bisa memantau dan melihat apa yang sedang terjadi di depan matanya itu.


Saat Remon sampai tepat di hadapan Berlin, Berlin terlihat sangat marah, sampai-sampai Berlin meraih kerah baju Remon dan tangannya sudah mulai mengepal dan ingin memukul Remon. Tetapi Berlin menahannya dan menurunkan kepalannya itu.


" APA YANG KAU LAKUKAN?? "


Teriak Berlin tepat di depan wajah Remon, Remon melepaskan tangan Berlin yang sudah memegangi kerah bajunya itu. Lalu dengan wajah tanpa rasa bersalahnya, Remon mengatakan hal yang benar-benar membuat Berlin merinding.


" Kenapa kau begitu terobsesi dengan wanita mu? Dara hanyalah wanita murahan, dia tidak berarti apa-apa Berlin, lebih baik kau segera menceraikannya. Atau nanti dia hanya bisa membawa aib bagi mu. "


Kata-kata Remon cukup membuat Berlin emosi, Berlin memang tidak mencintai Sandara, namun ia tidak membenarkan perbuatan ayah nya itu. Yang Berlin rasakan saat ini hanyalah, rasa penyesalan yang amat dalam karena dahulu saat Issabel masih hidup, Berlin tidak bisa melindungi Issabel, sehingga Remon berbuat keji kepada Issabel, dan sampai di akhir hayat nya pun Remon masih menyiksa Issabel.


" KAU..!!! APA YANG KAU LAKUKAN? DIMANA TUAN DION? "


Saat Berlin melontarkan pertanyaan tentang keberadaan Dion, Remon pun tertawa dan mendekatkan wajahnya ke wajah Berlin.


" Dia hanya lah sebuah umpan untuk memperingati wanita ja-lang itu. Kau tidak perlu memperdulikannya. "


" Dimana? Dimana tuan Dion? Kau tidak membunuhnya kan? Jika kau melakukannya..."


Berlin pun mengepalkan kedua tangannya, ia sangat ingin memukul wajah Remon saat ini. Berlin bahkan ingin sekali membunuh Remon, tapi ia tidak ingin melakukan hal yang keji, yang sama seperti yang dilakukan oleh Remon, jadi Berlin hanya bisa menahannya.


" Kau...dimana jasad nya? "


" Aku sudah membuangnya ke tengah laut, dan mungkin saat ini sudah di makan oleh hiu-hiu yang ada di laut. "


Remon membicarakan soal kematian seseorang dengan nada bicara yang amat sangat santai dan tidak terlihat jika ia merasa bersalah dengan perbuatannya itu.


Berlin menghela nafas panjang, laku ia memegangi kepalanya. Ia sangat frustasi mendengar kata-kata yang di lontarkan oleh Remon.


" Kenapa kau melakukan hal kotor seperti itu? Kau...kau telah merenggut nyawa seseorang. Apa kau tidak merasa menyesal dan bersalah? Aku benar-benar tidak mengenalmu...apa kau sungguh ayah ku? "


Berlin seperti di serang badai secara bertubi-tubi, perasaannya menjadi kalut. Ia bahkan tidak bisa berbuat banyak mengenai tindakan Remon tersebut.


Dan Remon malah tersenyum ke arah Berlin, lalu ia menepuk bahu Berlin dan berbisik tepat di telinga Berlin.

__ADS_1


" Dan aku juga menanam benih di rahim istri mu...semoga benih yang ku tanam bisa tumbuh dengan sehat. Jika kau tidak ingin menanggung aib ini seumur hidup mu, cepat segera ceraikan Sandara. "


Setelah membisikkan hal menjijikan di telinga Berlin. Remon langsung berlalu pergi begitu saja. Berlin hanya bisa berdiri mematung, lalu kemudian ia menendang ban mobil nya.


Frans yang sedang mengamati setiap pergerakan Berlin itupun menyimpulkan jika Remon lah yang membuat Sandara menjadi seperti sekarang ini.


Lalu kemudian Frans yang juga merasa kesal dan marah itupun tanpa berpikir panjang turun dari mobil nya dan menghampiri Berlin.


" Tuan Berlin..."


Frans memanggil Berlin lalu menyentuh bahu Berlin, sehingga Berlin pun tersadar dari rasa kalut nya. Namun ia juga menjadi terkejut melihat keberadaan Frans di hadapannya saat ini.



" Kau?? Sedang apa kau di rumah ku? "


" Maaf tuan, saya kebetulan lewat daerah sini, dan tidak sengaja melihat mobil tuan dan juga tuan. Jadi saya kemari, kalau boleh tau tuan sedang apa? Dan laki-laki yang baru saja masuk itu siapa? "


Frans pun berdalih dan berhasil membuat alasan, dan Berlin pun langsung mempercayai kata-kata Frans barusan.


" Itu ayah ku, aku sedang terburu-buru...aku harus pergi. "


Berlin terlihat tidak nyaman dengan keberadaan Frans, lalu kemudian ia masuk ke dalam mobil nya, dan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Frans hanya terdiam, lalu kemudian ia mencoba untuk masuk kedalam kediaman Saw tersebut. Frans memencet bel, dan salah satu pelayan pun membukakan pintu.


" Maaf tuan? Ingin bertemu dengan siapa tuan?? "


" Saya asisten pribadi tuan Berlin Saw, saya ada perlu mendesak apa saya bisa masuk? "


" Oh, tunggu sebentar tuan..."


Pelayan itu terlihat sedikit panik, lalu Frans meraih tangan pelayan itu.


" Ada apa nona? Kau sepertinya ketakutan? Apakah ada sesuatu? Tuan Berlin hanya mengutus ku, dan seperti nya tuan Berlin membutuhkan beberapa informasi. "

__ADS_1


Frans mencoba membaca situasi apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lalu kemudian pelayan itu menarik tangan Frans dan membawa Frans keluar kembali ke halaman depan. Dan pelayan tersebut mulai memberikan beberapa informasi yang ia ketahui dan meminta Frans untuk segera memberitahu informasi tersebut kepada Berlin.


__ADS_2