
*****
" Kau ingin mengundurkan diri? " Tanya Berlin sambil menatap wajah Frans dengan tajam.
" Maaf tuan, tetapi saya takut jika saya tidak dapat mengendalikan perasaan saya tuan. " Jawab Frans lalu tertunduk di hadapan Berlin.
" Baiklah...pergilah...lagi pula aku juga tidak membutuhkan seseorang yang menusukku dari belakang di sampingku. " Ujar Berlin lalu beranjak dari duduk nya.
Kemudian Frans pun pergi membawa barang-barang nya dari kediaman Berlin. Kini perasaannya jauh lebih lega karena dirinya sudah tidak ada kaitan pekerjaan lagi dengan Berlin.
Lalu, setelah itu...Frans secara diam-diam selalu mengawasi Sandara dari kejauhan. Ia masih belum bisa melepaskan Sandara begitu saja. Kini dirinya lebih leluasa untuk melindungi Sandara tanpa harus bersembunyi dari Berlin.
Frans juga sudah mendapatkan pekerjaan baru yang sudah jauh lebih baik. Pekerjaan nya sangat mudah dan bisa ia kerjakan di mana saja. Ia bekerja sebagai copywriter di sebuah blog majalah.
🌸
🌸
🌸
Satu bulan sudah berlalu, kini sudah ada sedikit perkembangan yang di tunjukkan oleh Sandara. Meskipun ingatannya masih belum pulih, namun ia sudah bisa mengeluarkan sedikit suara nya. Dan Sandara juga rajin untuk menjalani terapi dan pemeriksaan rutin setiap minggunya.
Dan hari ini adalah jadwal Sandara untuk terapi dan menjalani beberapa tes untuk belajar berjalan. Sandara di temani oleh Sarah dan supir pribadi Sarah untuk menjalani fisioterapi.
Sedangkan Berlin, karena selama satu bulan ini Berlin belum menemukan pengganti Frans, jadi terpaksa dia harus menghandle semua pekerjaannya sendiri. Berlin terlihat begitu sibuk dengan pekerjaan nya yang sudah sangat menumpuk.
Bahkan ia tidak sempat memperhatikan Sandara, Berlin selalu pulang tengah malam belakangan ini. Namun berbeda hal dengan Frans, di sela-sela waktu bekerja nya, ia masih mengikuti kegiatan Sandara secara diam-diam. Frans hanya ingin memastikan jika Sandara akan segera pulih seperti semula tanpa ada yang menghambatnya ataupun berusaha untuk mencelakai Sandara.
Setelah Sandara dan Sarah selesai menjalani fisioterapi, mereka pun berniat untuk kembali ke kediaman Berlin. Namun, di tengah-tengah perjalanannya...ternyata mobil yang di kendarai oleh supir Sarah itu mogok.
Supir Sarah terlihat kebingungan karena ia tidak begitu mengerti mesin, lalu kemudian...Frans yang memang selalu membuntuti mereka pun turun dari mobil nya dan menawarkan tumpangan kepada Sandara dan Sarah supaya ikut bersama dengannya.
" Permisi..." Ujar Frans kepada supir Sarah tersebut.
" Iya...bukankah anda mantan asisten tuan Berlin? " Tanya supir Sarah tersebut yang memang mengenal Frans secara tidak langsung.
__ADS_1
" Iya betul, apa mobil nya mogok? "
" Iya tuan...sepertinya saya harus menghubungi derek mobil. " Jawab sopir Sarah sambil meraih ponsel nya.
" Kalau begitu biar nyonya Sarah dan nona Sandara saya antar saja. Kebetulan saya searah dengan kediaman tuan Berlin. " Ujar Frans, lalu supir Sarah memberitahu Sarah dan juga Sandara. Dan mereka pun langsung setuju lalu ikut dengan mobil Frans.
Setelah selama sebulan Sandara tidak bertemu dengan Frans, Sandara cukup terkejut melihat Frans yang tiba-tiba saja menolongnya dalam kesulitan itu. Lalu Sandara menulis di sebuah kertas dan memberikannya kepada Frans.
| Frans, kau dari mana saja? Aku tidak pernah melihat mu selama sebulan ini, dan sebenarnya aku ingin bertanya kepada Berlin, namun dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya. Apa kau dan Berlin sangat sibuk belakangan ini? |
Tanya Sandara lewat tulisan yang di tulis nya. Lalu Frans menoleh ke arah Sandara...
" Maaf nona...tetapi saya sudah tidak bekerja dengan tuan Berlin. " Jawab Frans sambil melemparkan senyum nya kepada Sandara.
Sarah dan juga Sandara terlihat terkejut karena mereka juga tidak tau kalau Frans sudah tidak bekerja lagi dengan Berlin. Dan Frans pun kembali melajukan mobilnya.
" Ada apa? Apa kau di pecat Berlin? " Tanya Sarah yang ingin tau kenapa Frans sudah tidak bekerja lagi dengan Berlin.
" Tidak nyonya, saya mengundurkan diri karena suatu alasan pribadi. " Jelas Frans singkat.
| Terimakasih Frans sudah mengantarku dan bibi Sarah. Jika tidak keberatan, mampirlah sebentar. |
" Tidak nona terimakasih...masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan. " Ujar Frans yang tidak ingin masuk ke dalam rumah Berlin.
Dan kemudian Sarah pun membawa masuk Sandara dengan mendorong kursi roda nya. Dan Frans kembali memarkirkan mobil nya tidak jauh dari rumah Berlin.
Sandara masuk ke dalam kamarnya, karena Berlin cukup sibuk selama sebulan ini, jadi terpaksa Sandara tidur di kamar tamu untuk sementara ini.
Sandara terpaksa tidur di kamar tamu karena tidak ada yang bisa membawanya naik ke lantai dua kamar nya selain Berlin. Berlin tidak mengizinkan para pelayan laki-laki yang ada di rumah nya untuk menggendong Sandara dan mengantarkan Sandara ke kamar nya.
Sandara membaringkan tubuh nya di atas tempat tidurnya. Ia memejamkan kedua matanya dan terlelap dalam tidur nya. Dan tepat pukul 00.30 Berlin yang baru pulang dari kantornya itu membuka pintu kamar Sandara dengan perlahan.
Ia berjalan mendekati Sandara, lalu mencium kening Sandara. Dan Berlin dengan segera membersihkan tubuh nya dan tidur berbaring di samping Sandara.
Sandara membuka kedua matanya lalu ia melihat Berlin yang sudah tertidur dan terlihat begitu letih di samping nya. Sandara pun membelai lembut wajah Berlin lalu mengecup bibir Berlin.
__ADS_1
Berlin pun terkejut lalu membuka kedua matanya. Ia menatap Sandara yang kini tengah melihat ke arah nya.
" Apa kau baru saja mencium ku? " Tanya Berlin sambil memegangi bibirnya.
Sandara hanya menggeleng kan kepalanya dan terlihat malu sehingga wajahnya mulai memerah. Ini pertama kalinya Sandara mencium bibir Berlin, dan ini juga yang pertama kali bagi Berlin.
" Sungguh? " Tanya Berlin lagi untuk memastikan.
Dan Sandara mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Berlin.
" Apa aku bermimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata. " Gumam Berlin yang masih memegangi bibirnya.
Sandara hanya menahan senyum di bibirnya dan kembali memejamkan kedua mata nya. Dan keesokan harinya, Berlin membangunkan Sandara dengan sangat lembut.
Dan Sandara pun terbangun lalu menatap Berlin yang kini tengah memandangi wajah nya. Sandara hanya kembali menatap Berlin, lalu ia meraih buku yang ada di samping tempat tidurnya dan menuliskan beberapa kalimat lalu memberikannya kepada Berlin.
| Kenapa kau menatap ku seperti itu? |
" Entahlah...mungkin karena aku merindukan mu. " Jawab Berlin lalu mengembangkan senyuman di wajah nya.
Sandara pun ikut tersenyum lalu memberikan beberapa kalimat yang di tulisnya lagi kepada Berlin.
| Sangat merindukan ku? |
" Ya...sangat merindukan mu, apa kau tidak merindukan ku? " Tanya Berlin lalu mencium kening Sandara.
Sandara hanya tersenyum dan tersipu malu di hadapan Berlin. Lalu Berlin beranjak dari tempat tidur nya dan membantu Sandara untuk naik ke atas kursi roda nya.
Jangan lupa like comment and vote ya ❤️❤️❤️
Klik tombol favorit juga ya ❤️❤️❤️
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️