
Happy Reading❣
...“Biarkan saja perasaan itu terpendam dengan sendirinya sembari menunggu waktu yang akan menjelaskannya.”...
...~Gilang Arvito Louis~...
“Gue capek, Papa selalu aja merintah gue biar bisa jadi kayak abang gue. Gue merasa tertekan, Sya. Gue nggak bakalan bisa jadi seperti abang gue. Gue, ya gue, abang, ya Abang. Gue sama Abang adalah dua orang yang berbeda. Enggak bisa disama-samain. Gue capek menghadapi ini semua sendirian. Kadang gue ngerasa benci sama abang gue, kenapa harus gue yang harus dibeda-bedain sama dia?”
Tak terasa air mata Vino mulai mengalir. Persetan dianggap lemah, dianggap alay. Setiap doang memiliki titik lelah dan rapuhnya, dan mungkin saat ini adalah salah satu waktu di mana titik rapuh Vino datang menghampiri. Vino tak ingin munafik, dia sungguh merasa kecewa pada takdir yang disuguhkan semesta untuknya.
Tasya menangkup wajah Vino. “Vin, dengarin gue. Gue tau lo nggak bakalan bisa jadi seperti abang lo, tapi gue yakin lo bisa bahagiain papa lo dengan cara lo sendiri, tanpa harus menjadi orang lain. Lo jangan pernah benci sama abang lo. Bagaimana pun dia itu abang lo.” Tangan Tasya terulur menghapus air mata Vino lalu merapikan rambut Vino yang tampak berantakan. “Udah bel. Ayo masuk kelas!” ajak Tasya lalu bangkit dari duduknya.
Namun, baru saja dia berdiri, tangannya sudah ditahan oleh Vino.
“Temenin gue di sini, Sya. Gue butuh lo,” ucap Vino dengan mata sayunya, yang tampak memendam begitu banyak masalah bagi Tasya.
Tasya tersenyum lalu mengangguk, dia kembali duduk di sebelah Vino. Gadis itu senang bisa berada di samping Vino seperti ini. Namun, dia juga tak tega melihat wajah tak berdaya laki-laki itu.
Dengan perlahan Vino mulai merebahkan tubuhnya dengan paha Tasya sebagai bantalannya. Tasya tersenyum sambil mengelus kepala Vino.
Kenapa ada makhluk Tuhan yang seganteng ini ya, Masyaallah. Nikmat mana yang kau dustakan, batin Tasya terkikik.
“Sayang!” panggil Vino yang membuat pipi Tasya seketika memerah. “Gue ngantuk, nanti kalau udah bel lagi bangunin ya,” pinta Vino yang diangguki oleh Tasya. Dengan perlahan, Vino mulai memejamkan matanya. Dia sudah sangat merasa ngantuk, karena kemarin dia baru bisa tertidur saat pukul empat pagi, dan terbangun saat pukul enam pagi.
Tasya terus mengulum senyumnya sambil terus menatap wajah damai Vino saat tertidur. Kesempatan ke dua belum tentu datang lagi. Tasya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di kelas, Arin tak hentinya menatap ke arah pintu kelas. Pasalnya, Tasya belum juga kembali setelah berpamitan untuk menyusul Vino saat istirahat tadi.
Arin meraih ponselnya yang berada di laci meja, dia mulai mengetikkan sebaris kalimat di layar ponselnya.
Anda
Sya, lo di mana?? (read)
Lo nggak balik ke kelas apa? (read)
Apa jangan-jangan lo bolos sama Vino? (read)
NaQuNa
Gue bolos sama Vino
Ini gue masih di rooftop
Ntar kalo ditanyain gue di mana
Bilang aja gue sakit, oke! makasih
__ADS_1
Anda
Buset, lo ni (read)
Udah tau bel, malah bolos (read)
Berduaan lagi (read)
NaQuNa
Iri bilang sahabat><
“Sialan Tasya,” umpat Arin lalu kembali meletakkan ponselnya di laci mejanya.
“Tasya udah ada kabar, Rin?” tanya Lala menoleh ke arah Arin yang duduk di belakangnya.
Arin mengangguk. “Dia bolos sama Vino, nanti kalo ditanyain bilang aja sakit.”
Lala hanya mengangguk ria. Tak lama kemudian, guru yang mengajar mulai memasuki ruang kelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel istirahat kedua pun kembali berbunyi. Tampaknya Vino masih berdamai dengan alam mimpinya.
“Vin!” panggil Tasya, berusaha membangunkan Vino dari tidurnya dengan cara menepuk-nepuk pelan pipi Vino.
“Udah bel istirahat, lo nggak laper?”
“Emangnya kenapa, lo lapar?”
Tasya mengangguk. “Iya, soalnya istirahat pertama tadi belum sempat makan.”
“Ya udah ayo, kita ke kantin.” Vino mulai bangkit dari tidurnya lalu mengulurkan tangannya ke arah Tasya agar membantunya berdiri.
Singkat waktu, akhirnya mereka telah sampai di kantin. Mereka berdua berjalan beriringan menghampiri teman Tasya dan juga teman Vino.
“Kalian habis bolos, ya?” tuding Rangga, mengarahkan telunjuknya ke arah dua sejoli yang baru saja mendudukkan dirinya di antara mereka.
“Lo cenayang, ya?” tanya Tasya memicingkan matanya ke arah Rangga.
“Apaan sih? Gue dikasih tau Arin tadi, hehe.”
“Makan apa?” tawar Vino kepada Tasya.
“Bakso sama lemon tea aja,” sahut Tasya lalu duduk di sebelah Lala. Vino mengangguk lalu mulai memesan makanannya
“Tasya ngapain aja waktu bolos?” tanya Lala lalu menyeruput jus mangga miliknya.
“Enggak ngapa-ngapain sih,” sahut Tasya acuh lalu memainkan jarinya di atas meja.
__ADS_1
Tak lama kemudian Vino datang menghampiri mereka dengan membawa dua mangkok bakso beserta minumannya.
“Makasih,” ucap Tasya yang diangguki oleh Vino.
Di sisi lain, kedua lelaki ini tampak diam. Salah satu di antaranya sedang fokus menatap ke arah Tasya juga Vino.
“Lo kenapa?” tanya Alvan. Iya, kedua lelaki itu adalah Alvan dan Gilang.
Gilang menoleh ke arah Alvan lalu menggelengkan kepala.
“Gue nggak apa-apa.”
“Cih, lo kayak cewek. Kalau ditanyain jawabannya pasti nggak apa-apa. Adek gue baru jadian sama Vino kemarin,” ucap Alvan, ikut memandang ke arah Tasya. “Lo suka 'kan sama adek gue? Lo juga cemburu lihat Tasya deket sama cowok lain, 'kan?” tuding Alvan memicingkan matanya ke arah Gilang.
“Apaan sih,” elak Gilang.
“Alah, ngaku aja lo kalau beneran suka sama adik gue iya, 'kan? Gue tahu cara lo natap adik gue tuh beda,” ujar Alvan lalu memakan makanannya.
“Iya, gue suka sama adik lo, tapi gue tahu adik lo sukanya sama adik gue,” ucap Gilang mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Uhuk-uhuk!
Alvan terkejut hingga tersedak makanan yang berada di dalam mulutnya.
“Hah? Maksud lo apaan? Adik gue suka sama adik lo?”
Gilang hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Alvan.
“Bentar-bentar, jadi Vino itu adik lo? Jadi marga L di belakang nama lo itu sebenarnya Louis?” Lagi-lagi Gilang mengangguk, apa yang dikatakan oleh Alvan semuanya benar.
“Kenapa gue nggak pernah tau?”
“Lo nggak nanya.”
“Bangsat lo, hal besar kayak gini nggak mau ngasih tahu gue. Selama ini lo anggap gue apa? Sampai-sampai gue nggak tau kalau lo punya adik,” ucap Alvan kesal, “terus gimana? Lo bakalan memperjuangkan adik gue, atau membiarkan adik gue pacaran sama adik lo?” lanjut Alvan, memberikan pertanyaan untuk Gilang.
Gilang hanya menggidikkan bahunya acuh.
“Gue nggak tahu. Gue sayang sama Tasya, tapi di sisi lain gue juga pengin lihat adik gue bahagia. Gue kasihan sama dia. Dia udah tertekan di rumah gara-gara Papa. Gue akan berusaha buat mengikhlaskan Tasya sama adik gue,” tutur Gilang lalu mengaduk-aduk mi ayamnya, tanpa berniat memakannya kembali.
“Lo serius?” tanya Alvan menoleh ke arah Gilang.
“Ya, kalau dengan Vino bisa membuat Tasya bahagia, gue bakalan berusaha mengikhlaskan, tapi kalo gue tahu Tasya nggak bahagia atau semisalnya Vino bikin Tasya terluka, maka gue yang akan berjuang buat Tasya bahagia, Biarkan perasaan itu terpendam dengan sendirinya sambil nunggu waktu yang bakalan menjelaskan,” ucap Gilang mantap.
Coba aja adik gue sukanya sama lo, Lang. Gue pasti dengan suka rela ngerestuin hubungan kalIan. Lo cowok baik-baik, Lang, semoga lo berjodoh sama adik gue, batin Alvan.
Sebenarnya Alvan kurang setuju dengan hubungan Tasya dengan Vino. Dia merasa sangsi dengan Vino. Pasalnya, kenapa tiba-tiba Vino menjadikan Tasya sebagai kekasih. Jika Vino benar-benar sayang dengan Tasya, dia tak mungkin membiarkan Tasya berjuang sendiri seperti dulu. Namun, itu hanya menurut pemikiran Alvan saja.
To be continue ....
__ADS_1