
Happy Reading!
Seperti rencana tadi malam, hari ini mereka akan pergi ke butik Tante Cikka untuk membeli beberapa setelan baju muslimah untuk Tasya.
Saat ini keduanya sedang membereskan barang-barang mereka yang dibawa ke hotel semalam. Niatnya, mulai hari ini Gilang akan membawa Tasya tinggal di kediaman Bagas, untuk sementara waktu sampai rumah yang dimiliki Gilang selesai direnovasi.
“Udah selesai semuanya? Enggak ada yang ketinggalan, ‘kan?” tanya Gilang sambil melangkah mendekati Tasya.
“Iya, Mas. Sudah selesai semuanya,” sahut Tasya sambil menutup kopernya lalu meletakkan di sampingnya.
Gilang mengangguk. “Ya udah ayo pulang sekarang, setelah itu baru kita ke butik.”
Gilang segera menggeret kopernya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dia gunakan untuk merangkul pundak isterinya.
🎀
“Assalamualaikum!” ucap Gilang dan Tasya bersamaan saat memasuki rumah.
“Waalaikumsalam!” sahut seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Bi Indah—pembantu di rumah Gilang.
“Papa mana, Bi?” tanya Gilang melepaskan rangkulannya di bahu Tasya.
“Tuan lagi ke bandara nganterin Den Vino, Den. Kata Tuan, Den Vin akan kuliah di Belanda,” jelas Bi Indah yang membuat kerutan terlihat jelas di dahi Gilang.
Kenapa tiba-tiba Vino ingin kuliah di luar negeri. Bukannya sebelumnya dia baik-baik saja? Batin Gilang terus timbul pertanyaan.
Seakan tersadar, Gilang segera mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang baru saja menyelinap ke dalam pikirannya.
“Ayo kita ke kamar, kamu pasti capek.” Gilang kembali merangkul pundak Tasya, membawanya menuju kamar miliknya sambil kembali menggeret koper yang sedari tadi dia bawa.
Sesampainya di kamar, Gilang segera meletakkan kopernya di dekat lemari. Sementara Tasya menghampiri Gilang yang masih berdiri di tempat.
“Pakaian kamu taruh di lemari Mas aja, Dek. Jadikan satu.”
Tasya mengangguk, mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia segera memindahkan bajunya dari koper ke lemari. Tasya meletakkan pakaiannya tepat di sebelah pakaian milik Gilang. Setelah selesai, Tasya menghampiri Gilang yang sedang merebahkan diri di atas ranjang besar yang berada di kamar itu.
“Langsung ke butik sekarang atau nanti aja?” tanya Gilang setelah mendudukkan dirinya. Tangannya asik mengelus rambut Tasya lembut.
“Kalau sekarang Mas capek, nggak?” Gilang menggeleng. “Ya udah sekarang aja, nanti tinggal istirahat, biar capeknya sekalian.”
__ADS_1
🎀
Karena jarak butik dari rumah Gilang yang tak terlalu jauh membuat mereka tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di tempat yang dituju.
Gilang segera turun dari mobil diikuti oleh Tasya. Dia menggenggam tangan Tasya, seolah takut kehilangan.
“Assalamualaikum, Tante!” Panggilan dari Tasya membuat seorang wanita paruh baya dengan hijab panjang yang sedang asik berbincang dengan pegawainya itu menoleh.
Dia segera menghampiri dengan sedikit berlari. Dia memeluk Tasya erat, seolah sudah lama tak berjumpa.
“Wa'alaikumsalam, kamu mau beli apa, sayang?” tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah Tante Cikka, bundanya Raka sekilas, dia melirik ke arah Gilang lalu ke arah Tasya seolah memberikan pertanyaan lewat tatapan mata ‘siapa dia?’
“Oh iya, Tante. Kenalin ini Mas Gilang, suaminya Tasya, dan Mas kenalin ini Tante Cikka, bundanya Raka,” jelas Tasya memperkenalkan dua orang itu.
“Gilang, Tante. Suaminya Tasya.” Gilang mengatupkan kedua belah tangannya di depan dada, Tante Cikka pun melakukan hal yang sama.
“Oh iya, Tante. Tasya ke sini karena Tasya pengen beli baju muslimah, Tan. Tasya sudah berniat pengen berhijab kayak Tante sama Bunda,” ucap Tasya menjelaskan tujuan awalnya datang kemari.
Senyum sumringah tercetak jelas di bibir tante Cikka.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu berniat untuk berhijab. Ayo Tante anterin milih-milih baju untuk kamu, kebetulan Tante lagi punya baju yang baru aja selesai dirancang, sepertinya cocok buat kamu.”
Gilang hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala pelan lalu mulai mengikuti langkah istrinya dari belakang.
Setelah tiga jam lamanya menghabiskan waktu di butik Tante Cikka. Akhirnya, Tasya telah selesai membeli baju muslimah yang diinginkannya.
“Oh iya, Sya. Tante mau kasih hadiah buat kamu, nih.” Tante Cikka menyodorkan sebuah paper bag kepada Tasya.
“Ini apa, Tan?” tanya Tasya melongok apa yang ada di dalam paper bag yang diberikan Tante Cikka padanya.
“Itu ada gamis yang baru Tante rancang. Tante mau ngasih hadiah ini buat Tasya karena Tasya sudah berniat untuk berhijab. Tante senang banget dengarnya, semoga cocok buat kamu, ya,” jelas tante Cikka dengan senyum bahagianya.
Tasya ikut tersenyum, detik berikutnya dia langsung menghambur ke dalam pelukan Tante Cikka. Tasya sangat menyayangi wanita paruh baya ini. Tasya sudah menganggap Tante Cikka seperti bundanya sendiri.
“Makasih, Tante. Kalau gitu Tasya sama Mas Gilang pulang dulu ya, Tan. Kapan-kapan kalau Tasya nggak sibuk Tasya pasti bakalan mampir ke sini,” ucap Tasya setelah melepaskan diri dari pelukannya.
Tante Cikka mengangguk. “Harus dong main ke sini, temanin Tante. Boleh ‘kan, Lang?”
“Iya, Tante. Gilang nggak bakalan ngurung Tasya di rumah juga, Tan.” Gilang tertawa pelan.
__ADS_1
“Kita pamit dulu ya, Tan.” Tasya segera mencium punggung tangan tante Cikka, sementara beliau mengelus puncak kepala Tasya lembut.
“Gilang duluan, Tan.” Gilang menangkupkan tangannya di depan dada. Mereka berdua pun pergi meninggalkan butik Tante Cikka.
Semoga keluarga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawardah, warohmah, Sya. Tante sayang kamu, Tante mau kamu bahagia.
🎀
“Kamu mau makan dulu, tadi kita belum sempat makan, ‘kan?” tanya Gilang yang sedang mengemudikan mobil sambil sesekali menoleh ke arah istrinya yang duduk di sampingnya.
“Kita makan di rumah aja, Mas. Biar nanti Tasya yang masak.”
Gilang mengangguk, matanya kembali berfokus pada jalanan agar segera sampai di rumah. Dia sudah tak sabar merasakan masakan isterinya.
Setibanya di rumah, Tasya segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah, dia ingin segera memasak karena dia tahu suami sudah lapar karena sedari pagi mereka belum makan apapun. Sementara Gilang, berbalik menuju bagasi, mengambil belanjaan isterinya lalu membawanya ke kamar mereka.
Sesampainya di dapur, Tasya segera memakai apron lalu berkutat dengan bahan-bahan yang dia butuhkan. Rencananya Tasya ingin memasak ayam geprek, tumis kangkung, dan udang tepung. Tiga menu makanan itu sepertinya cukup untuk makan mereka berdua.
Saat sedang memotong sayuran, sesuatu melingkar di pinggangnya yang membuat Tasya sedikit tidak fokus. Dia menoleh, memastikan dugaannya benar, bahwa suaminyalah yang sedang memeluknya dari belakang.
“Mas, lepasin dulu. Aku mau masak,” ucap Tasya lembut.
“Masak aja, sayang. Aku nggak bakalan ganggu,” sahut Gilang, masih dengan posisi yang sama seperti tadi.
Tasya hanya menggeleng, dia membalikkan badannya menjadi menghadap ke arah Gilang. Tasya menangkup wajah Gilang.
“Mas, dengerin aku. Kalau Mas seperti tadi, aku jadi nggak fokus. Lebih baik sekarang Mas duduk di sana, biar aku bikinin teh dulu,” tutur Tasya lembut.
“Aku nggak mau teh, sayang. Aku maunya kopi.”
Tasya segera menggeleng.
“No, no, no. Mas Gilang belum makan jadi nggak boleh minum kopi dulu.”
Baru saja Gilang hendak melayangkan protesnya, Tasya segera mendorong pelan punggung Gilang, lalu menyuruhnya duduk di bangku meja makan. Jadi, mau tak mau Gilang harus menuruti apa yang dikatakan oleh bidadari hatinya.
Tasya segera menaruh secangkir teh di depan Gilang lalu kembali berkutat dengan aktivitas memasaknya yang sempat tertunda.
To Be Continue ....
__ADS_1