Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 23


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


“Aku akan selalu menjadi matahari yang menghangatkan tubuhmu ketika hujan membuatmu kedinginan. Aku akan selalu menyinari hari-harimu agar kamu tidak kegelapan.”


~Gilang Arvito Louis~


Tasya terbangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya—melirik jam dinding yang terpajang di ujung tembok. Ternyata baru pukul satu malam. Tenggorakannya terasa kering, tangan Tasya meraih gelas di atas lemari kecil dekat ranjangnya, kosong.


Mau tak mau Tasya harus turun ke dapur untuk mengambil air minum. Tasya mulai menuruni tangga dengan gelas kosong di tangannya. Setelah sampai di dapur dia segera mengambil air dari dispenser.


Ah, lega.


Akhirnya, tenggorokannya tak terasa kering lagi. Tiba-tiba suara yang belum lama ini menghantui pikiran Tasya kini kembali lagi.


Lo terkesan kek murahan!


Terkesan kek murahan!


Kek murahan!


Murahan!


Pyarr


Gelas yang di pegangnya terjatuh ke lantai. Tasya menutup telinganya rapat-rapat.


“Berhenti, gue mohon jangan ganggu gue. Gue udah bilang gue nggak murahan!”


Kedua orang tua Tasya dan Alvan segera keluar dari kamar setelah mendengar keributan yang berasal dari dapur. Mereka dapat melihat Tasya yang berjongkok sambil menutup telinga menggunakan kedua tangan.


“Ya ampun Tasya, kamu kenapa, sayang?” seru Tera mempercepat langkahnya menghampiri putri bungsunya.

__ADS_1


“Bunda!” Tasya segera memeluk erat tubuh bundanya, tanpa mempedulikan kakinya yang terluka akibat menginjak pecahan gelas di lantai.


“Tasya nggak murahan, Bunda,” lirih Tasya terisak di pelukan bundanya.


“Siapa yang bilang kamu murahan, sayang? Kamu nggak murahan. Kamu istimewa bagi Bunda, Ayah, Bang Al, dan bagi kami semua,” tutur Tera mengusap lembut rambut Tasya. Bahkan dia ikut terisak pelan melihat keadaan Tasya, putri kesayangan keluarganya.


“Mending Bunda obatin dulu luka Tasya. Tuh, lihat kaki Tasya luka gara-gara nginjek pecahan gelas,” ucap Rafa ikut mengelus kepala putrinya.


“Ayo sayang, Al gendong adik kamu.” Alvan mengangguk, lantas mengangkat tubuh Tasya ala bridal style, membawanya menuju sofa yang berada di ruang keluarga.


Tasya menatap kosong ke arah depan, tak memperdulikan kakinya yang terasa sakit saat beling yang menyangkut di kulit kakinya di cabut oleh bundanya. Bahkan, Tasya tak merasakan sakit sedikitpun, saat ini pikirannya sedang kosong, entah apa yang dia pikirkan. Tasya terlihat seperti orang linglung.


“Sya!” Ini sudah ketiga kalinya Tera memanggil Tasya. Namun, belum ada jawaban dari gadis itu.


“Sya, kamu kenapa? Sini cerita sama Bunda!” ucap Tera kembali sambil memegang pundak Tasya.


Tasya mengerjapkan matanya terkejut lalu menoleh ke arah bundanya.


“Iya, kenapa, Bun?”


“Adek kenapa, kok ngelamun terus?” Rafa yang baru saja datang mengambil duduk di samping Tasya—mengelus rambut Tasya.


“Tasya nggak taukenapa, Yah, tapi suara-suara itu terus saja menganggu pikirkan Tasya. Suara-suara itu terus saja menggema di telinga Tasya, Yah,” ucap Tasya sambil meneteskan air matanya.


“Tasya selalu dengar suara orang yang bilang kalau Tasya itu murahan. Tasya nggak murahan Yah, Bun, Bang. Tasya nggak murahan!” Hancur sudah pertahanan Tasya, kini dia kembali menangis hingga terisak.


Semua keluarga yang berada di situ ikut merasakan apa yang bungsu rasakan. Bagaimana pun mereka terikat darah satu sama lain. Rafa menarik tubuh Tasya, membawanya bersandar di dada Rafa.


“Ayah percaya, adek itu nggak murahan. Jangan dengerin suara itu lagi. Semakin kamu dengerin maka suara itu akan sering membuat kamu jadi seperti ini, sayang. Udah ya, kamu jangan nangis. Di sini ada Ayah, Bunda, dan Bang Al, yang selalu ada buat Tasya,” tutur Rafa menghapus air mata Tasya menggunakan ibu jari.


“Udah sekarang lebih baik Tasya tidur, ini masih jam setengah dua malam,” ucap Tera sambil melirik jam dinding yang terpajang di ruang keluarga.


“Tasya mau tidur sama bunda, ya?”


Tera mengangguk sambil tersenyum. “Ya udah, ayo kita ke kamar Tasya.”


🎀


“Tasya sayang, bangun yuk!” ucap Tera sambil duduk disisi ranjang Tasya.


Mata Tasya terbuka, dia menatap bundanya sebentar lalu mendudukkan dirinya di atas ranjang.


“Mandi dulu gih, hari ini kamu nggak usah sekolah dulu. Tunggu perasaan kamu membaik baru kamu kembali lagi sekolah,” tutur Tera mengusap rambut putrinya.


Tasya hanya mengangguk pelan lalu turun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Tera menatap punggung Tasya yang hilang di telan ruang kamar mandi, dia menghela napas pelan.

__ADS_1


“Siapa yang tega nyebut kamu perempuan murahan, sayang?” gumam Tera mengusap sudut matanya yang berair.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bunda, Tasya mau ke taman dulu ya!” pamit Tasya kepada bundanya.


“Kamu mau ngapain ke taman, Sya?”


“Tasya mau jalan-jalan, Bun. Tasya bosan di rumah.”


“Ya udah, pulangnya jangan kemalaman ya, Sayang. Angin malam nggak baik buat kesehatan kamu.” Tasya mengangguk patuh, dia mengambil tangan bundanya lalu mencium punggung tangannya.


“Tasya berangkat bunda, assalamualaikum.”


Sesampainya di taman, Tasya mendudukkan dirinya di salah satu bangku, dia mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung di atas tanah. Tanpa sengaja, matanya menatap ke arah dua remaja berbeda genre sedang bercanda sambil sesekali tertawa.


Bentar-bentar, kalau di ingat-ingat sepertinya Tasya kenal dengan gadis remaja itu. Tasya mulai memutar kembali ingatannya. Nah, sekarang Tasya ingat, gadis itu adalah gadis yang dipeluk oleh Vino kemarin pagi. Iya, Tasya tak mungkin salah. Tasya masih ingat-seingat-ingatnya.


Berbicara tentang Vino, ‘btw siapa lelaki yang bersama gadis itu?’ batin Tasya.


Namun, sepertinya Tasya juga mengenali remaja laki-laki itu atau mungkin Tasya mengenalnya sangat baik. Mata Tasya terus mengarah ke arah dua remaja itu. Tiba-tiba matanya memanas saat melihat laki-laki itu adalah Vino dan saat ini Vino sedang memeluk erat tubuh gadis itu sesekali mengecup puncak kepala gadis yang tidak Tasya ketahui namanya.


Tasya memejamkan matanya, menghirup udara sebanyak-banyaknya, rasanya pasokan udara di sekitar sini sudah habis. Hati Tasya terasa tercabik-cabik. Dia kembali menangis, menangisi seseorang yang bahkan tidak peduli sama sekali dengan dirinya.


Tik-tik-tik!


Tasya mendongakkan, membiarkan air hujan membasahi wajahnya, dia tak peduli jika bajunya akan basah karena hujan yang semakin deras. Sepertinya semesta tahu bahwa dia sedang bersedih. Tasya kembali menunduk, membiarkan air matanya jatuh kembali, isak tangisnya pun ikut meloloskan diri.


‘Terima kasih semesta, setidaknya aku memiliki teman menangis untuk sesuatu yang seharusnya tidakku tangisi,’ batin Tasya.


Tasya terus menunduk, matanya terus mengeluarkan air mata. Jika dia tahu pada akhirnya akan seperti ini, mungkin dari awal dia akan meminta pada Tuhan, hilangkan saja rasa cintanya kepada pria itu. Namun, apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Dan sekarang Tasya hanya bisa menikmati rasa sakit yang dia buat sendiri.


Tiba-tiba Tasya tak merasakan hujan menimpa dirinya. Dia mendongakkan kepala, menatap seseorang yang sedang menaungi dirinya dengan sebuah payung, orang itu adalah Gilang.


“Jangan nangis, Abang nggak suka lihat kamu nangis.” Gilang mengusap air mata Tasya menggunakan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya sedang memegang payung yang menanungi mereka berdua.


“Bang, hati Tasya kembali sakit,” cicit Tasya, dia segera memeluk erat tubuh Gilang. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gilang.


“Jangan nangis lagi, aku akan selalu menjadi matahari di tengah hujan deras yang diciptakan oleh luka yang kamu rasakan. Aku akan selalu menjadi matahari yang menghangatkan tubuhmu ketika hujan membuatmu kedinginan. Aku akan selalu menyinari hari-harimu agar kamu tidak kegelapan. Mataharimu ada di sini, Sya,” tutur Gilang mengecup puncak kepala Tasya penuh kasih sayang.


Tasya melepaskan diri dari pelukan Gilang, dia menatap manik mata pria yang berdiri dihadapannya. Dia tersenyum.


“Aku percaya, Abang akan selalu bisa menjadi matahariku.”


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2