Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 26


__ADS_3

Happy Reading❣


...“Penyesalan itu selalu ada dan kini aku merasakannya. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan kamu yang dulu selalu ada untukku.”...


...~Arvino Afriza Louis~...


Kafe dengan nuansa elegan ini tampak memberikan ketenangan tersendiri untuk pada pengunjungnya. Namun, tidak bagi laki-laki remaja yang satu ini. Sudah sedari satu jam yang lalu lelaki ini masih terlihat melamun dengan tangan yang terus mengaduk-aduk jus yang berada di hadapannya.


Pikirannya tertuju pada seorang gadis yang notabenenya adalah mantan kekasih yang dia putuskan satu minggu yang lalu. Tak dapat dipungkiri, sepercik rasa penyesalan selalu hadir menghantuinya.


Dia merasa ada yang hilang, tapi laki-laki ini juga tak tahu apa yang hilang dari hidupnya. Dia adalah Vino.


Puk!


Seseorang menepuk pundak sebelah kirinya, yang refleks membuat Vino tersadar dari lamunan panjangnya.


“Lo nyesel?” tanya Alvan, memandang sinis ke arah Vino sambil mengambil duduk di depan pria itu.


Vino hanya diam, berlagak seolah tak paham apa yang sedang menjadi topik yang dibicarakan oleh Alvan. Padahal dalam hati dia tahu, bahkan sangat tahu apa yang dimaksud oleh Alvan.


“Lo nggak usah sok pura-pura nggak tau apa yang lagi gue bicarain,” ucap Alvan, menatap Vino dengan tatapan intimidasinya. “Lo baru sadar akan perasaan lo saat kisahnya sudah berakhir ... dan sekarang lo nyesel udah ngelepasin adek gue, right?”


“Gue nggak pernah nyesel dan sampai kapan pun itu nggak akan pernah terjadi. Ingat itu!” sahut Vino, tak acuh. Dia mengambil uang dari dalam dompetnya, meletakkannya di atas meja, lalu pergi meninggalkan kafe itu.


Alvan menatap kepergian Vino dengan senyum miring. Dia tahu, apa yang dikatakan tak sesuai dengan apa yang dirasakan. Namun, dia tak peduli apa yang terjadi dengan Vino. Yang dia tahu, rasa bencinya mendadak meluap saat mengingat lelaki itulah penyebab adiknya menjadi seperti sekarang.


Vino segera menancap gas motornya tak tentu arah. Apa benar yang dikatakan oleh Alvan? Apa benar sekarang dia menyesal karena telah melepaskan Tasya demi melanjutkan hubungan yang sempat terhenti dengan Rika? Apa benar sekarang dia sudah jatuh hati kepada Tasya?


Vino menghentikan motornya di sebuah taman, tempat di mana dia bertemu dengan Tasya saat dia diusir oleh Papanya. Vino memarkirkan motor di pinggir taman. Kakinya membawanya melangkah menuju sebuah kursi yang pernah dia duduki bersama Tasya.

__ADS_1


Vino POV


Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan. Kenapa aku merasa seakan-akan ada yang kurang di dalam hari-hari yang aku lalui akhir-akhir ini. Padahal, Rika selalu hadir di setiap waktuku.


Entah apa yang terjadi dengan diriku. Getaran dan detak jantung yang berdetak dua kali lebih cepat saat berada di dekat Rika sudah tak lagi aku rasakan. Bahkan aku sudah tak sebahagia dulu saat berada di dekat Rika.


Hatiku selalu merindukan satu nama. Nama yang pernah mengisi kehidupanku sejak sebulan yang lalu. Nama yang berhasil membuat hatiku bahagia. Nama yang sudah mengganggu kehidupanku sejak aku masuk SMA Pelita Bangsa. Dan, nama itu pula yang membuat pikiranku kacau akhir-akhir ini.


“Argh, gue nggak mungkinkan suka sama dia?!” erangku, merasa frustasi terhadap perasaan yang tak aku tahu sebenarnya rasa apa ini?


Aku merasa gagal memahami perasaanku sendiri. Jujur saja, ada yang sakit dari hatiku saat aku dengar dia trauma karena aku sering sekali menyebutnya murahan. Entah kenapa hati dan logikaku selalu bertentangan. Saat hati ingin berada di dekatnya maka logika menyuruh untuk segera pergi menjauhinya.


Tak jarang, aku selalu merindukan dia di setiap malam. Aku rindu canda tawanya, rindu senyumannya. Dan, karena aku selalu memikirkannya tanpaku sadari aku sudah menyakiti perasaan gadis yang saat ini menjalin hubungan denganku.


Perasaan ini sulit dipahami.


“Gue nggak pernah nyesel, dan akan pernah.”


Satu per satu air dari langit mulai terjun bebas ke bumi. Membasahi setiap bagiannya tanpa celah. Memberikan ketenangan untuk sebagian kehidupan.


Tanpa disadari, Vino mulai meneteskan air matanya seiringan dengan air yang makin menetes deras dari langit. Vino mendongakkan kepala, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Lantas dia kembali menunduk.


“Sekarang gue akui, gue nyesel, gue nyesel ngelepasin lo, gue nyesel udah buat lo jadi kayak gini. Dan sekarang semuanya udah terlambat, SEMUANYA UDAH TERLAMBAT, NGGAK AKAN ADA KESEMPATAN UNTUK GUE PERBAIKI INI SEMUA!!” teriak Vino dengan keras.


Namun, sekeras apa pun dia berteriak, tak akan ada yang bisa mendengarnya, sebab suaranya ditelan habis oleh hujan yang makin terasa deras.


Seorang gadis dengan membawa payung bermotif polkadot yang melindungi tubuhnya dari air hujan datang menghampiri Vino.


“Vino ngapain hujan-hujanan? Nanti kamu sakit, kamu, kan nggak bisa kena air hujan.”

__ADS_1


Vino bangkit dari duduknya, menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.


“Gue nyesel, Rik. Gue nyesel ngelepasin dia. Gue nggak tau apa yang gue rasain sekarang, yang pasti gue merasa kehilangan dia dari hidup gue,” ucap Vino menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rika dengan bahu yang bergetar akibat menangis.


Deg!


Tangan Rika yang memegang payung seketika terasa lemas hingga payung yang dia pegang lepas. Membiarkan payung itu terjun bebas dari tangannya dan bergerak tak tentu arah sebab terbawa angin.


Rika mematung, berusaha mencerna apa yang baru saja Vino bicarakan. Nyesel? Ngelepasin? Kehilangan? Siapa? Apakah gadis bernama Tasya itu? Berbagai pertanyaan bersarang di otak Rika.


“Kamu kehilangan siapa, Vin?” tanya Rika lirih, bahkan nyaris tak terdengar.


“Gue nyesel mutusin Tasya gara-gara lo, Rik. Kenapa lo hadir lagi saat gue udah jatuh cinta sama Tasya? KENAPA RIK, KENAPA?!” bentak Vino.


Jadi ini semua salah Rika karena dirinya hadir kembali? Jadi hubungan Tasya dan Vino bubar karena Rika?


“Kenapa aku yang salah? Aku bahkan nggak tau apa-apa tentang hubungan kamu dan Tasya, Vin. Mengenal Tasya saja aku tidak, bagaimana mungkin aku menghancurkan hubungan kalian, Vin? Aku yang datang lebih dulu di hatimu dari pada Tasya, Vin. Di sini yang salah Tasya, bukan aku. Karena Tasya kamu jadi bersikap cuek sama aku. Karena Tasya kamu sering mengabaikan aku. Dan sekarang kamu tega bentak aku karena Tasya. Sebenarnya seberapa berpengaruhnya Tasya di hidupmu, Vin? Bahkan selama satu tahun kita pacaran baru kali ini kamu bentak aku dan semua ini karena perempuan yang hanya aku kenal namanya saja.”


Pecah sudah tangisan Rika. Air mata yang sedari tadi dia bendung tak dapat lagi dia tampung. Hatinya sakit? Itu pasti. Perempuan mana yang tak sakit hati saat seorang pria yang notabenenya adalah kekasihnya membentak dirinya karena perempuan lain.


Biarlah orang berkata dia egois. Biarlah orang berkata dia mementingkan urusannya sendiri. Yang pasti, Rika hanya ingin mempertahankan hubungan yang sudah lama terjalin dengan Vino.


“ARGH SIALAN!” umpat Vino mengacak rambutnya frustasi. Namun, detik berikutnya dia kembali memeluk Rika. “Maaf, maaf, tadi aku cuma emosi. Maafin aku, aku nggak mau kita berakhir. Maafin keegoisan aku. Maaf, Rik.”


Entah hilang kemana gaya bicara lo-gue yang biasa dia pakai kepada siapa pun. Refleks, tanpa dia sadari dia telah memakai gaya bicara aku-kamu.


Rika hanya mengangguk lemah, walaupun hatinya saat ini sedang hancur. Untuk marah pun Rika tak sanggup. Rika telah dibutakan oleh cinta.


“Tanpa lo sadari, lo itu telah menyakiti hati dua wanita yang sama sekali nggak punya sama lo, Vin,” gumam seseorang yang sejak tadi menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam.

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2