Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 50 (Epilog)


__ADS_3

Happy Reading❣


“Belajarlah dari kehilangan. Tak selamanya yang hadir akan menetap, akan ada kalanya mereka pergi meninggalkan kita.”


~Leonet05~


Sejauh mata memandang, hanya ada luka yang mendalam. Sejauh mata memandang, banyak hati yang terluka akibat di tinggalkan. Dan sejauh mata memandang, banyak tangisan air mata yang tak rela saat melihat orang yang mereka sayang harus di kebumikan.


Di sinilah mereka berada sekarang. Di tempat yang penuh dengan gundukan dan batu nisan. Tempat peristirahatan terakhir manusia. Raut wajah mereka tampak suram, dengan pakaian yang serba hitam.


Satu persatu orang-orang mulai pergi meninggalkan mereka. Meninggalkan anggota keluarga yang masih diliputi oleh duka.


Tiada senyuman yang menghiasi wajah-wajah mereka. Mereka terdiam, dengan air mata dan hati yang masih basah oleh kehilangan. Mereka berdiri di depan sebuah makam baru. Makam seseorang yang baru saja meninggalkan mereka dan kehidupannya.


Kehilangan adalah hal yang biasa. Namun, kehilangan memiliki seribu luka. Kehilangan meninggalkan segala kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kehilangan dapat menorehkan luka yang mendalam. Dan kehilangan dapat merubah hidup seseorang.


Namun, satu hal yang perlu diingat/ kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Terkadang, dibalik kehilangan pasti ada hikmah dari dalamnya.


Air mata menghiasi, bagai hujan yang tiada henti. Tasya menangis hingga terisak. Hijab yang dia kenakan sudah basah, akibat air matanya. Tangan kanannya bergerak menaburkan bunga di atas makam Gilang. Sementara tangan kirinya memegang baru nisan sang suami. Kehilangan ini membuat setengah jiwanya seolah pergi meninggalkannya. Pria yang dia cinta kini telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta.


Kehilangan ini menyakitkan. Namun, mau tak mau Tasya harus belajar mengikhlaskan yang telah pergi. Tasya harus belajar mengikhlaskan Gilang, agar suaminya itu tenang di alam sana. Dia tak ingin suaminya sedih melihat dirinya yang menangisi kepergiannya.


‘Ya Allah, ikhlaskan hatiku atas kehilangan ini. Tabahkan hatiku agar aku tak mengalahkan takdir dari-Mu. Jadikan aku termasuk orang-orang yang ikhlas dalam menerima cobaan dari-Mu,’ batin Tasya, lalu memeluk batu nisan suaminya.


Vino yang berdiri di samping Tasya menatap sendu makan abangnya. Dia pun turut merasakan kehilangan ini. Vino kehilangan sosok abang yang terasa begitu berarti untuknya, walau dia sempat merasakan benci.


Memang, benar kata orang 'semuanya akan terasa lebih berarti saat mereka sudah pergi'. Vino akui, jujur saja dia merasakan dua sakit sekaligus. Sakit karena kehilangan abangnya dan sakit karena melihat wanita yang ia sayangi menangis.


Vino mendudukkan dirinya di samping Tasya. Tangannya bergerak merangkul bahu Tasya lalu mengelusnya pelan. Hanya ini yang dapat dia lakukan, Vino ingin sedikit menghibur wanita yang berstatus sebagai kakak iparnya ini.


“Sya, udah jangan nangis. Bang Gilang pasti sedih di sana kalau lihat lo belum ikhlasin kepergiannya,” ucap Vino masih terus mengusap pundak Tasya.


Tasya terdiam, dia mulai mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya. Benar yang dikatakan oleh Vino, dia harus mengikhlaskan kepergian Gilang. Tasya tak mau melihat Gilang-nya sedih. Namun, dia juga tak dapat membohongi hatinya, bahwa hatinya belum mengikhlaskan kepergian Gilang.


Tera melangkah menuju Tasya lalu berdiri di antara Vino dan Tasya. Vino berdiri, dia memberikan ruang untuk ibu dan anak itu. Sebagai ibu, Tera dapat merasakan apa yang dialami oleh anak perempuannya. Dia tahu, Tasya begitu terpukul dengan kepergian Gilang.

__ADS_1


Semua orang juga begitu, mereka sama-sama merasakan kehilangan ini. Namun, Tasya-lah yang merasakan kesakitan terdalam. Selama setahun lebih ini, Tasya telah menghabiskan waktunya bersama Gilang.


“Sya?”


Tasya mengangkat wajahnya. Dia menatap bundanya yang sedang memandang makam Gilang dengan air mata yang masih mengalir deras dari matanya.


“Kamu nggak sendirian di sini. Kamu punya Bunda, Ayah, Bang Al, Arin, kamu punya orang-orang yang sayang sama kamu, yang akan selalu ada di samping kamu. Kamu juga punya Gita yang masih membutuhkan kamu di sampingnya.”


Tasya kembali terdiam sambil menunduk, benar kata bundanya. Dia tak sendirian di sini, dia masih punya mereka. Tasya mendongak, menatap bundanya.


“Bunda, aku mau ketemu Gita!”


Tera tersenyum, dia mengangguk lalu membawa Tasya ke dalam dekapannya.


“Kita berdoa dulu, setelah itu kita temui Gita.”


Tasya mulai mengangkat kedua belah tangannya. Wanita itu mulai memohon kepada Yang Maha Kuasa agar memberikan tempat terbaik untuk suaminya. Setelahnya, Tasya mengusapkan telapak tangannya ke wajah lalu kembali menatap bundanya.


Tera mulai bangkit dari duduknya, dia merangkul bahu Tasya. Menggiringnya keluar dari area pemakaman diikuti oleh anggota keluarga yang masih berdiri di sana.


Langkah demi langkah, mereka mulai keluar dari gerbang TPU menuju kendaraan mereka. Tasya membalikkan badannya, dia menatap bayangan sosok Gilang yang melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Tasya ikut tersenyum lalu kembali melangkah memasuki mobil orang tuanya.


Sesampainya di rumah Tasya. Rafa menghentikan mobilnya. Berbagai karangan bunga bela sungkawa nampak berjajar di depan rumah Tasya, membuat dia kembali merasakan sedih. Hingga sebuah rangkulan hinggap di pundaknya.


Tasya menoleh, menatap ayahnya yang tersenyum sambil mengangguk mengisyaratkan agar dia kuat menghadapi ini semua. Namun, Tasya tahu, dibalik senyuman itu juga tersimpan kesedihan seperti apa yang dirasakannya.


Tasya mulai meyakinkan hatinya bahwa dia kuat menghadapi ini semua. Tasya mulai kembali melangkah, dengan Ayah dan Bunda di sampingnya yang juga melangkah seiring dengan langkahnya.


Tasya menghentikan langkahnya di ruang utama, menatap anaknya yang nampak menangis dalam gendongan Arin. Tasya berbalik, dia menuju kamar mandi kamarnya untuk membersihkan diri sebentar sebelum menemui anaknya, agar anaknya tak terkena sawan.


Usai membersihkan diri, Tasya mulai kembali melangkah menghampiri anaknya yang masih menangis. Dia mengambil alih Gita ke dalam gendongannya. Tasya mulai menimang-nimang Gita.


“Cup, cup, cup anak bunda nggak boleh nangis. Anak bunda harus jadi anak yang kuat ya,” ucap Tasya lalu mengecup wajah Gita setelah Gita tak lagi menangis.


Tasya yakin, dia dan Gita pasti akan merelakan kepergian kepala keluarga mereka, aamiin.

__ADS_1


Pada akhirnya, kehilangan adalah jawaban atas semua permintaan. Pada akhirnya, Tuhan kembali memisahkanku dengan orang yangku sayang.


Meski tiada yang indah dari kehilangan. Namun, aku tidak ingin berburuk sangka pada Tuhan. Aku percaya apapun yang pergi pasti akan kembali, meski dalam wujud yang berbeda.


Terima kasih atas bahagia yang selama ini kamu lukiskan dihidupku, suamiku. Kehilangan ini memang terasa sangat menyakitkan, namun lebih menyakitkan saat melihat dirimu kesakitan.


Yang datang akan pergi, entah sekarang, esok atau nanti. Tinggal menunggu Tuhan berkata waktunya pulang. Sejauh apapun engkau pergi, engkau akan selalu memiliki tempat tersendiri di hatiku, engkau akan selalu menjadi yang pertama.


Meski ragamu tak lagi terbentuk, namun cinta kita akan selalu menyatu di jalan-Nya.


Selamat jalan, suamiku. Tenanglah di alam sana. Aku selalu berdoa, semoga Tuhan memberikan tempat yang terindah untukmu. Semoga Tuhan memberikan ketabahan hati kepada orang-orang yang engkau tinggalkan, tak terkecuali aku. Aku percaya rencana Tuhan pasti ada hikmahnya.


Aku mencintaimu, suamiku selamanya.


Natasya Quiella Natapraja


Surabaya, 11 Maret 2023


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=☣Selesai☣\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih kepada para pembaca yang telah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Thanks buat teman-teman yang udah ikhlas memberikan dukungan buat cerita ini.


Mungkin, untuk setelah tamatnya cerita ini, aku bakalan istirahat dulu dari dunia kepenulisan. Selamat tinggal semuanya, kalau mau ada yang ditanyakan silahkan DM atau komen saja. In syaa Allah, Din akan menyempatkan waktu buat membalas pertanyaan kalian.


Din ucapkan kata terimakasih buat semuanya yang sudah menyempatkan diri membaca cerita Din yang absurd ini.


Tiada kata yang bisa menjadi umpama bagaimana senangnya Din saat sudah bisa menyelesaikan cerita ini tanpa suatu kendala apapun, alhamdulillah.


Semuanya tak akan terasa berharga tanpa kehadiran kalian di sini. Penulis tidak akan bisa sukses tanpa pembaca. Begitupun, pembaca tidak akan bisa membaca tanpa ada penulis. Semuanya ada hikmah yang tersimpan di dalamnya.


Semoga cerita ini bisa kalian ambil positifnya dan meninggalkan yang negatifnya, ya? Semoga saja.


Cukup sekian yang dapat aku sampaikan. Selamat jumpa kembali, di cerita selanjutnya (itu pun kalau aku ada niatan bikin).


Wasallam🍫-

__ADS_1


🌾Leonet05🌾


Thanks for support. Tetap jaga kesehatan ya, by by.


__ADS_2