
Happy Reading❣
...“Cintailah dia sewajarnya, karena yang hadir belum tentu menjadi takdir.”...
...~Alvan Faresta Natapraja~...
Tok-tok-tok!
“Tasya sayang, bangun. Kamu nggak sekolah?!”
Ketukan keras yang berasal dari pintu kamarnya itu mau tak mau membuat Tasya harus bangkit dari tidurnya. Gadis itu dengan malas beranjak dari ranjangnya untuk membukakan pintu kamar.
Ceklek!
“Iya, Bunda. Tasya udah bangun nih,” sahut Tasya dengan suara khas orang bangun tidur, saat sudah membuka pintu kamarnya. Jangan lupakan piyama doraemon yang masih melekat di tubuh mungilnya.
“Astagfirullah, kamu baru bangun? Anak perawan jangan dibiasakan bangun siang!”
“Siang apanya, Bun? Orang masih jam setengah enam juga. Kalau kata guru Tasya, dimulainya siang itu jam dua belas, bukan jam setengah enam. Udah ah, Tasya mau tidur lagi, masih ngantuk.”
Tasya membalikkan badannya, hendak kembali menghampiri kasur empuknya. Namun, terhenti saat suara merdu sang bunda menginstruksikannya untuk berhenti.
“Eits, sana mandi. Udah bangun siang, bukannya mandi, malah mau lanjut tidur. Enggak ada lanjut tidur, mandi sekarang, Natasya Quiella!!” tegas Tera tak terbantahkan.
Kalau kanjeng mami sudah manggil nama panjangnya, auto kicep deh Tasya. Mau tak mau dia harus menuruti apa yang dikatakan oleh bundanya, jika tidak ingin mendapat siraman rohani setiap pagi.
“Iya-iya, Bun. Enggak usah marah-marah. Kata Pak Ustad, kalau suka marah-marah nanti cepat tua.” Menghindar dari singa yang mengamuk, Tasya segera lari terbirit-birit masuk ke kamar mandi.
“TASYA, AWAS AJA KAMU YA!” geram Tera lalu pergi meninggalkan kamar Tasya.
“Bunda kenapa sih marah-marah?” tanya Rafa saat Tera sudah berada di ruang makan.
“Anak kamu tuh, disuruh bangun pagi aja susah bener, kayak disuruh nikah aja,” sahut Tera, duduk di bangku meja makan, lalu meraih segelas air lalu meminumnya hingga tandas.
“Ralat, anak kita, Bunda. Bukan anak Ayah aja,” ucap Rafa tak terima.
“Bunda, nggak baik marah-marah, apalagi ini masih pagi,” tutur Alvan yang baru saja turun dari kamarnya dan menghampiri kedua orang tuanya.
Sedangkan di kamar, Tasya baru saja selesai mandi dan sudah lengkap mengenakan seragam sekolahnya. Dia mulai berjalan menghampiri meja riasnya. Mengambil bedak bayi lalu memakai di wajahnya, tak lupa memoleskan lip tint di bibir tipisnya. Gadis itu mulai menuruni anak tangga dengan tas yang tersampir di bahu kanannya.
“Pagi, Yah, Bun, Bang Al!” sapa Tasya mengambil duduk di sebelah Alvan. “Bunda kenapa cemberut kayak gitu?” tanyanya saat melihat wajah tampak tak bersahabat dari bundanya.
“Gara-gara tuh, Dek, bikin Bunda darah tinggi aja kerjaannya,” sahut Alvan yang dibalas tawa pelan oleh Tasya.
Tasya berjalan menghampiri bundanya. “Hehe, maaf, Bun. Kalau nggak gitu, nggak bakalan seru. Maafin Tasya ,ya, Bunda ....” Tasya mengecup pipi bundanya sambil tersenyum manis ke arah wanita itu. Dia berusaha merayu wanita nomor satu di rumah ini. Membuat kesal bundanya adalah rutinitas, tapi dia tetap tak ingin melewati batas.
__ADS_1
Jika sudah begini, Tera hanya bisa menghela napas pelan. “Iya, Sayang. Bunda maafin.” Tera mengecup pelan puncak kepala Tasya lalu memeluknya.
“Ayah nggak dipeluk, nih?” tanya Rafa sok merajuk.
“Sini-sini, Abang juga ikutan sini!” Akhirnya mereka berpelukan bak Teletubbies.
“Udah-udah, Tasya lapar, hehe.”
“Ya sudah ayo, Bunda udah masak nasi goreng sosis kesukaan adek.”
Mendengar nasi goreng sosis, sudah berhasil membuat Tasya lapar. Makanan favorit Tasya memang tak ribet dan mudah dicari, atau bahkan mudah dibuat. Iya, nasi goreng sosis. Namun, selain nasi goreng sosis, dia juga menyukai bakso (bakmi dan soto).
“Bunda tahu aja sih kalau Tasya lagi pengin nasgor sosis, makasih Bunda. Seperti biasanya, rasanya ... ah mantap!” ucap Tasya setelah mengunyah sesendok nasi goreng pertamanya sambil mengacungkan kedua jari jempolnya ke arah bundanya.
“Buruan habisin, Abang ada tugas piket nanti, jadi harus berangkat cepat,” ucap Alvan lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Lah, tumben Abang ngerjain piket? Biasanya paling malas kalau disuruh yang namanya piket,” celetuk Tasya.
🎀
Setelah memarkirkan mobil Alvan, Tasya dan Alvan berjalan beriringan melewati koridor kelas yang masih tampak sepi dikarenakan ini masih pukul enam lewat lima belas menit. Masih pagi, kalau kata aku sih.
“Bang!” panggil Tasya yang membuat Alvan menundukkan kepala karena tinggi Tasya yang beberapa senti di bawahnya.
“Kenapa?”
Seketika tawa Alvan pun pecah. “Haha, emang siapa yang mau sama lo, Dek? Haha! Ngakak, mana ada coba cowok yang suka sama modelan cewek kayak lo, haha.”
Pluk!
Dengan kesal Tasya memukul lengan Alfan dengan raut wajah yang tampak kesal.
“Jangan ngeremehin gitu dong, Bang. Gini-gini Tasya itu cantik, cetar membahana, dan yang pasti banyak juga yang mau sama Tasya!”
“Haha, emang lo pacaran sama siapa?”
“Sama, hm ... Vino, Bang.”
Tawa Alvan seketika berhenti, dia memasang flat face-nya. “Oh, masih orang yang sama. Kapan kalian jadian?”
“Eum, kemaren. Jadi waktu istirahat, Tasya, kan lagi makan di kantin sama Arin dan Lala, terus Vino datangin Tasya ....” Tasya menceritakan semuanya secara detail, tanpa ada satu kata pun yang tertinggal.
“Gue sebagai Abang cuma ngingetin lo. Jangan terlalu jatuh cinta, biar nanti kalo ditinggal nggak terlalu sakit. Cintailah dia sewajarnya karena yang hadir belum tentu menjadi takdir,” tutur Alvan sambil mengusap rambut Tasya dengan penuh kasih sayang.
Tasya mengangguk. “Makasih, Abang selalu ngingetin Tasya.” Tasya memeluk Alvan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvan.
__ADS_1
“Udah sampai kelas, masuk gih. Gue mau ke kelas, ada jadwal piket,” ucap Alvan sambil menunjuk kelas Tasya menggunakan dagunya.
“Iya, Bang.” Tasya akhirnya masuk kelas. Setelah sampai bangkunya, dia menaruh tasnya di atas meja.
“Duh gabut bener deh, chat Vino aja ah,” gumamnya lalu mengambil ponselnya yang berada didalam tas.
Anda
Selamat pagi pinokio❤
Jangan lupa sarapan ya😁
Sudah lima menit, tetapi pesannya belum juga dibaca oleh Vino.
“Huh, mending chat Lala sama Arin aja deh suruh cepetan ke sini.” Tasya kembali bergumam lalu mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
^^^Anda^^^
^^^Lala (read)^^^
Laila Angelina
Iya, Tasya kenapa? (read)
^^^Anda^^^
^^^Cepetan ke sekolahan dong, gue kesepian nih (read)^^^
Laila Angelina
Loh, Tasya udah sampai emangnya? (read)
^^^Anda^^^
^^^Udah dari tadi, lo cepetan ke sini ya! (read)^^^
Laila Angelina
Iya, ini Lala udah mau jalan. sampai jumpa di sekolah Tasya (read)
^^^Anda^^^
^^^Oke, hati-hati dijalan ya La, sampai jumpa juga.✔✔^^^
“Teman yang pengertian, jadi tambah sayang.”
__ADS_1
To be continue ....