Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 18


__ADS_3


.


.


.


.


.


.


.


“Jatuh cinta adalah sebuah kewajaran yang akan di alami oleh semua orang. Namun, jangan sampai jatuh cinta membuatmu menjadi mencintai manusia terlalu dalam.”


~MDHD~


Tepat pukul tujuh malam, Vino telah menyelesaikan pekerjaannya sebagai pelayan. Saat ini dia tengah mengganti pakaiannya dengan kaos polo yang sengaja dia siapkan di dalam tas.


Setelah berganti pakaian, Vino keluar dari ruangan kafe dengan menyampirkan tasnya di bahu sebelah kanan. Dia memandang langit yang sangat gelap, nampaknya hujan akan turun sebentar lagi.


“Eh, Vino belum pulang?” tanya Pak Arip, beliau juga termasuk pelayan di kafe Alvan.


“Belum, Pak. Ini saya juga mau pulang, tapi kelihatannya bentar lagi hujan soalnya mendung banget,” sahut Vino sambil menatap ke arah langit.


“Oh ya udah, kalo gitu Bapak duluan ya, Vin,” ucap pak Arip yang diangguki oleh Vino.


Setelah Pak Arip pergi, Vino segera melangkah menuju parkiran di mana motornya dia berada tadi siang. Baru saja beberapa detik Vino menjalankan motornya, hujan sudah turun membasahi bumi. Karena sudah terlanjur basah, mau tak mau Vino tetap melanjutkan perjalanannya.


Karena mau berteduh pun rasanya dia malas, lagi pula ini sudah malam juga. Badannya pun terasa sangat lelah seharian ini bekerja tanpa istirahat. Vino segera menambah kecepatannya dalam berkendara. Sesampainya di kamar apartemennya Vino segera menggantung tasnya di dekat lemari lalu mengambil handuk yang ada di dalam lemari.


Selesai membersihkan badannya Vino segera membuat teh panas untuk menghangatkan badannya yang sudah terasa menggigil. Vino ini sedikit saja terkena air hujan dia akan langsung sakit.


Setelah menghabiskan secangkir teh hangat yang dia buat, Vino segera merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala dan mulai memejamkan matanya.


🎀


Vino mengerjapkan matanya pelan, kepalanya terasa seolah akan pecah, tubuhnya pun menggigil. Vino meraih ponsel yang sempat dia taruh di atas nakas. Dia mengirim pesan kepada Rangga agar mengizinkannya hari ini. Bangun saja dia tak sanggup, apalagi harus pergi ke sekolah.


To Rangga


Ngga, izinin gue hari ini


Tak butuh waktu lama, pesannya sudah dilihat oleh Rangga.


Rangga


Lo kenapa, bro?

__ADS_1


Anda


Kemarin gue kehujanan dan sekarang gue demam, kepala gue rasanya mau pecah


Udh gitu aja, pokoknya lo izinin gue ya?


Rangga


Oke, cepat sembuh bro


Nanti kalo sempat pulang sekolah gue ke sana sama Putra


Anda


Oke, thanks Ngga


Setelah mendapat balasan dari Rangga, Vino kembali menaruh ponselnya lalu memejamkan matanya guna menetralisir pusing yang sedang melanda kepalanya. Dulu sewaktu mamanya masih hidup, jika dia sakit begini maka dengan sabar mamanya akan merawatnya hingga sembuh. Jika sudah begini dia pasti akan merindukan mamanya, sangat.


Tak ada seorang pun yang dapat menggantikan sang mama di hatinya. Vino rindu Vino ingin bertemu sang mama. Apakah bisa?


🎀


Pelajaran pagi ini tampak tak menyenangkan bagi Tasya. Entah kenapa, Tasya merasa gelisah. Dia menggigiti ujung kukunya. Bahkan sedari tadi dia tak menyimak apa yang guru jelaskan di depan sana. Pikirannya melanglang buana.


“Tasya kenapa?” tanya Lala yang sedari melihat Tasya nampak gelisah.


Tasya menggeleng. “Enggak tahu juga, La. Gue ngerasa gelisah banget hari ini.”


“Tenang aja, Sya lima menit lagi istirahat,” ucap Arin yang diangguki oleh Tasya.


Lima menit telah berlalu, akhirnya bel istirahat yang ditunggu-tunggu telah tiba.


Tettt tetttttt


“Baik anak-anak, cukup sampai disini penjelasan yang dapat Ibu sampaikan, kurang lebihnya ibu mohon maaf. Sampai bertemu dipertemuan selanjutnya,” ucap Bu Ida lalu keluar kelas.


“Kantin yok, gue lapar,” ajak Arin kepada kedua sahabatnya.


Lala dan Tasya pun beranjak dari duduk lalu berjalan menuju kantin.


"Kita duduk di mana?” tanya Lala saat mereka telah tiba di kantin.


“Ikut Putra sama Rangga aja di sana,” sahut Arin. “Lagian tempat yang lainnya nggak ada yang kosong,” lanjutnya.


Arin, Tasya, dan Lala pun memutuskan untuk duduk bergabung dengan Rangga dan juga Putra.


“Vino mana?” tanya Tasya setelah mendudukkan dirinya disalah satu bangku yang masih satu meja dengan Rangga.


Rangga mendongak menatap Tasya yang menunggu jawaban dari keduanya.


“Vino demam, Sya. Soalnya kemarin dia kehujanan. Dia nggak bisa kena air hujan, sedikit aja kehujanan dia bakalan langsung demam,” jelas Rangga.

__ADS_1


Tasya langsung membalikkan badannya. Dia bergegas menuju parkiran, tak menghiraukan teriakan teman-temannya yang memanggil namanya. Tasya menghampiri mobilnya di parkiran lalu mengendarainya menuju apartemen Vino.


Sesampainya di depan apartemen Vino dia mengambil ponselnya yang berada di saku bajunya. Tasya mengetikkan nama Vino di layar lalu menelponnya.


“Halo, Vin. Gue di depan apartemen lo nih. Gue mau masuk,” ucap Tasya saat Vino sudah mengangkat teleponnya.


“Password-nya tanggal lahir gue,” sahut Vino dengan suara lemah khas orang sakit.


“Oke, gue matiin.” Tasya mematikan teleponnya.


Oke, tanggal lahir Vino. Tangan Tasya memencet password apartemen Vino.


05082003


Pintu apartemen Vino terbuka. Tasya segera memasuki ruangannya. Dia bergegas menuju kamar Vino. Tasya melihat Vino yang memejamkan matanya sambil berselimut sebatas dada.


Tasya menghampiri Vino, dia duduk di sisi ranjang Vino. Vino membuka matanya, menoleh menatap Tasya yang tersenyum ke arahnya.


“Lo, ngapain di sini?” tanya Vino.


Bukannya menjawab pertanyaan Vino, tangan Tasya terulur memegang dahi Vino yang terasa panas. Tasya bergegas menuju dapur, dia mengambil baskom yang berisi air hangat.


“Vin, ada handuk kecil, nggak?” tanya Tasya setelah menaruh baskom yang dia bawa di atas nakas.


“Ambil aja di lemari gue,” sahut Vino pelan.


Tasya segera mengambil handuk kecil yang dia perlukan lalu kembali mendudukkan dirinya disisi ranjang Vino. Tasya mulai mengompres dahi Vino.


"Lo kenapa bisa sampai sakit?”


“Kemarin malam gue kehujanan, mau neduh juga percuma, soalnya udah terlanjur basah,” jelas Vino.


“Tapi nggak gini juga, Vin. Kalau udah tahu nggak bisa kena air hujan harusnya lo berteduh sampai hujannya reda. Bukannya makin terobos, kalau sakitkan lo juga yang repot.”


Vino hanya bergumam sebagai jawaban, dia sangat malas berdebat. Untuk saat ini dia masih merasa sangat pusing.


“Lo udah makan?” Vino menggeleng pelan sambil memejamkan matanya.


“Lo tunggu sini dulu, gue mau masakin lo bubur buat lo.” Tasya beranjak dari duduknya.


Tak butuh waktu lama, bubur buatannya telah matang.


“Nih, makan dulu,” Tasya memberikan mangkok yang berisi bubur kepada Vino.


“Gue nggak selera makan, Sya.”


“Gue suapin, ya?” tawar Tasya yang dibalas anggukan oleh Vino.


Tasya membantu Vino mendudukkan dirinya, menaruh bantal di belakang Vino. Tasya mulai mengaduk buburnya dan menyuapkan sesendok ke mulut Vino.


“Nih minum, habis itu minum obatnya.” Tasya memberikan segelas air putih juga sebutir obat pereda panas kepada Vino setelah Vino menghabiskan buburnya.

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2