Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 32


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


“Nyatanya, rinduku dan rindumu tak akan pernah menyatu. Cinta kita bahkan terpisahkan karena keegoisanku.”


~Arvino Afriza Louis~


Mentari kembali menyinari dunia, saatnya kembali memulai hari yang sempat terhenti semalam. Tasya bangun dari tidurnya, menatap keadaan kamarnya, masih sama seperti yang dia lihat sebelum tidur.


Tasya beranjak dari ranjangnya, mencabut charger ponselnya lalu mulai berselancar di atas layar benda pipih yang berada di tangannya.


To : Bang Gilang


Bang!


Tasya hari ini mau mulai sekolah


Abang jemput Tasya, ya?


Setelah selesai mengirimkan pesan singkat kepada Gilang, Tasya memulai ritual pagi yang sudah lama tak dia laksanakan. Gadis itu memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan diri.


Setengah jam kemudian, Tasya telah rapi dengan seragam khas sekolahnya, dia kembali melangkah menuju meja riasnya.


‘Ya Allah hilangkan rasa hamba kepadanya. Rasa ini hanya menyakiti hamba, izinkan hamba bahagia, Ya Allah.’


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Pagi semuanya!” sapa Tasya—mendudukkan dirinya di bangku meja makan.


Semua yang berada di meja makan tampak terkejut dengan kehadiran Tasya yang rapi dengan memakai seragam.


“Kamu udah mulai sekolah lagi, Sya?” tanya Tera, menatap intens Tasya yang sedang melahap roti tawar.


Tasya mengangguk. “Iya, Bunda. Tasya mau lawan masalah. Soalnya, kalau semakin lama Tasya menghindar maka masalah itu akan semakin menguasai diri Tasya. Tasya nggak mau jadi orang lemah karena masalah ini, karena Tasya yakin, Tasya mampu melewati ini semua dengan dukungan dari orang-orang yang berada di sekitar Tasya, terutama Ayah, Bunda, dan Bang Al!”


Rafa tersenyum menatap putri kesayangannya, dia kagum dengan sifat dewasa yang dimiliki Tasya saat ini. Semenjak Tasya sering bergaul dengan Gilang, lambat laun Tasya mulai bisa menghadapi masalahnya. Tidak seperti dulu, hanya bisa menghindarinya saja. Rafa yakin, Gilang bisa membawa Tasya ke jalan yang benar.


‘Semoga saja Tuhan mentakdirkan kalian untuk bersama. Karena Ayah yakin, Gilang bisa bahagian kamu, Nak!’

__ADS_1


“Yah!” Tasya melambaikan tangannya di depan muka Rafa.


Rafa tersentak. “Eh, iya ada apa, sayang?”


“Ayah kenapa ngelamun sambil senyum-senyum? Lagi bayangin apa hayo?” goda Tasya sambil mengarahkan jari telunjuknya.


Rafa tersenyum. “Ayah senang aja, semenjak kamu sering sama Gilang, kamu jadi bisa berani menghadapi masalah kamu.”


Tera mengangguk menyetujui pendapat suaminya.


“Iya, Bunda juga merasa kayak gitu. Bunda setuju, Sya kalau kamu jalin hubungan sama Gilang.”


“Bunda sama Ayah apaan sih? Tasya sama Bang Gilang itu nggak ada hubungan. Lagian Kan kita udah kayak adik sama kakak.”


“Udah ah, Tasya berangkat, assalamualaikum!” Tasya segera mencium punggung tangan kedua orang tuanya lalu bergegas pergi meninggalkan meja makan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keadaan SMA Pelita Bangsa saat ini tampak ramai. Entah apa yang membuat mereka tampak antusias berdiri di depan kelas masing-masing. Tasya hanya mengangkat bahunya tak acuh lalu kembali melangkah mengiringi langkah pria yang berdiri di sampingnya.


“Kenapa sih, Bang. Pada ramai di depan kelas?” tanya Tasya yang diliputi oleh rasa penasaran.


“Katanya sih ada anak baru yang bakalan masuk kelas XI, mungkin mereka penasaran kali siapa anak barunya,” sahut Gilang. “Udah ah, nggak usah dipikirin. Ayo, Abang antar ke kelas!”


Tasya hanya mengangguk tanpa mau bertanya lebih lanjut, dia sedang malas membahas apapun saat ini. Tak berapa lama akhirnya mereka telah sampai di depan kelas.


“Belajar yang rajin, nanti pas istirahat Abang jemput ke sini, kita ke kantin bareng, oke?”


Tasya mengangguk patuh, layaknya anak yang sedang diberi nasehat oleh ayahnya.


Tasya segera memasuki kelas. Baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi, dia sudah disambut oleh teriakan antusias dari teman-teman sekelasnya.


“Ya ampun, Sya. Lo kemana aja selama ini? Kenapa lama nggak masuk? Kelas sepi tanpa hadirnya lo, Sya!” Ini suara Arya, sang pembuat onar yang sudah lumayan dekat dengan Tasya.


“Ada sedikit masalah yang ngebuat gue malas buat sekolah,” sahut Tasya sekenanya.


“So, selama ini lo nggak sekolah ngapain aja di rumah?” tanya Septa—sang ketua kelas.


“Gue homeschooling,” sahut Tasya lagi. “Oh iya, Lala sama Arin belum datang?” Tasya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kelas.


“Belum, bentar lagi kali.”


Mereka menghabiskan waktu sambil menunggu bel berbunyi dengan berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan untuk Tasya. Hingga tanpa disadari bel masuk pun sudah berbunyi.


“Selamat pagi!” sapa Bu Eri selaku wali kelas mereka.


“Pagi, Bu!”


“Hari ini kalian kedatangan murid baru, silahkan kamu perkenalkan diri terlebih dahulu!”


Pria itu mengangguk. “Kenalin nama gue Raka Alfarasya Romenson, pindahan dari Tulung Agung.”

__ADS_1


“Baiklah, silahkan kamu duduk di tempat yang masih kosong.”


Raka mengangguk, dia mulai melangkahkan kakinya, menghampiri tempat yang memang masih kosong, tepat di belakang Tasya.


Tiga jam kemudian, bel istirahat mulai berbunyi, para siswa tampak berbondong-bondong untuk keluar kelas.


“Ayo kantin, Sya!” ajak Arin kepada Tasya yang masih anteng duduk di bangkunya.


“Iya, Sya. Ayo kita ke kantin!” sambung Lala.


“Kalian duluan aja, gue nunggu Bang Gilang, mungkin sebentar lagi.”


Mereka mengangguk dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan kelas, kecuali Raka yang masih stay berdiri di samping tempat duduk Tasya.


“Lo nggak kantin?”


Raka menggeleng. "Gue nungguin Bang Gilang-Gilang lo itu, gue kepo sama orangnya.”


“Yang boleh kepo itu perempuan bukan laki-laki.”


“Dih, sejak kapan ada istilah kayak gitu?”


“Sya!” Panggilan dari seorang pria menghentikan perdebatan mereka. Keduanya tampak menatap pria itu secara bersamaan.


“Siapa?” tanya Gilang, menatap balik Raka yang juga tengah menatapnya.


“Oh iya, Bang. Kenalin dia Raka, sahabat Tasya dari kecil.”


Keduanya mengangguk, mereka pun melangkahkan kaki bersama menuju kantin. Sesampainya di kantin, mereka menghampiri Lala dan Arin yang tampak sedang menikmati makanan mereka.


Di sisi lain, seorang pria menatap mereka dalam diam. Sedari tadi atensinya terus berfokus pada mereka—ralat hanya pada Tasya yang tampak tersenyum bahagia.


‘Ternyata kamu sudah bahagia bersama pria lain. Maafkan aku yang hanya bisa menyakitimu, kini aku hanya bisa terdiam dengan beribu penyesalan,’ batin pria itu masih terus memperhatikan Tasya dari kejauhan.


Tanpa sadar, kegiatannya saat ini tengah diperhatikan oleh gadis yang duduk di hadapannya. Gadis itu juga turut memandang objek yang membuat pria di depannya ini mengacuhkannya.


“Vin!” panggil gadis itu yang tak lain adalah Rika—kekasih Vino.


Vino terkesiap. “Eh, iya, lo tadi tanya apaan?”


Rika menatap datar wajah Vino. Dia yakin bahkan sangat yakin, bahwa saat ini hati Vino bukan lagi untuknya, melainkan untuk gadis yang sejak tadi dipandang oleh Vino.


Ingin sekali rasanya dia egois untuk mempertahankan hubungannya dengan Vino. Dengan cara menegur Tasya, agar berhenti mengganggu Vino. Namun, Rika bisa apa? Orang-orang di sekitarnya terlebih di sekolah selalu menganggap bahwa dirinya adalah gadis penghancur hubungan Tasya dan Vino.


Padahal, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Entah mana yang pantas disebut perebut, Tasya yang tidak tahu bahwa Vino sudah memiliki kekasih atau Rika yang tidak tahu bahwa Vino memiliki kekasih lain selain dirinya.


Masalah ini terlalu rumit bagi Rika, dia bingung. Sebenarnya Rika tahu, hati Vino sudah terpaku dengan satu nama, yaitu gadis yang notabenenya adalah mantan pria itu. Rika juga peka, bahwa Vino sering kali mengacuhkannya ketika mata Vino melihat Tasya hadir di sekitarnya.


‘Ya Tuhan, beri aku petunjuk. Jika memang Vino bukan jodohku, maka aku akan melepaskannya secara perlahan. Namun, jika Vino adalah jodohku maka aku akan mempertahankan hubungan ini apapun dan bagaimana pun kondisinya. Aku terlalu naif untuk mengambil keputusan ini. Bantu aku Tuhan, setidaknya permudahkan aku dalam memilih jalan keluar ini.


‘Hatinya bukan lagi untukku, aku sakit Tuhan, setiap kali dia mengacuhkanku karena kehadiran wanita itu. Aku tidak ingin menyalahkan wanita itu, karena aku dan dia hanyalah sama-sama korban keegoisan Vino. Bedanya, hati Vino sudah terpaku padanya. Sedangkan aku? Raga Vino memang bersamaku, tapi hatinya sudah bukan untukku. Apa mungkin cinta Vino untukku telah tergantikan dengan cinta Vino untuknya?

__ADS_1


‘Kenapa, kisah cintaku teramat rumit? Tidak semudah kisah cinta papa dan mama. Aku juga ingin mendapatkan kekasih sebaik papa, sepengertian papa. Apakah memang, Vino bukan untukku, Tuhan?’


To be continue ....


__ADS_2