Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 36


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


“Bahagiamu adalah bahagiaku. Semoga Tuhan memang menakdirkan kita untuk bersama, istriku.”


~Gilang Arvito Louis~


Senyum kebahagian tergambar jelas di bibir sepasang pengantin yang sedang berdiri berdampingan itu. Mereka tampak antusias menyambut para tamu undangan yang memberikan ucapan selamat pada keduanya.


“Tasya, nggak nyangka sekarang lo udah jadi istri orang aja!” celetuk Arin sambil menatap Tasya dengan senyum lebarnya.


Tasya tersenyum. “Udah jodohnya kali, Rin. Semoga lo juga cepat dapatin sosok yang bakalan menjadi teman hidup lo, ya!”


“Ya ampun, Sya. Gue mah nggak mau mikirin tentang cinta-cintaan, gue capek dikhianati mulu. Lagian, gue masih pengen nikmatin masa-masa remaja gue. Masih banyak hal yang belum gue selesaikan, Sya,” sahut Arin, senyum yang tadinya memancarkan kebahagiaan kini terasa hambar.


Arin selalu berusaha menutupi luka yang dia rasa di depan teman-temannya. Arin adalah wanita yang tidak suka dikasihani. Cukup sudah penghianatan yang pernah dia rasakan, dia sudah tak ingin lagi berteman dengan yang namanya cinta.


“Oh iya, Lala ke mana?” tanya Tasya, mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sahabatnya yang satu itu.


“Tadi sih di ajak keluar sama Rangga, nggak tahu deh pada ngapain mereka.”


Merasa tak dihiraukan, pria yang berdiri di samping Tasya itu berdeham sedikit keras.

__ADS_1


“Eh iya, sampai lupa kalau di sini ada Bang Gilang. Selamat ya untuk kalian berdua, semoga menjadi keluarga sakinah, mawardah, dan warohmah. Kalau gitu gue turun dulu, masih banyak tamu yang ngantri mau ngucapin selamat sama lo pada!” Arin segera turun dari panggung kecil tempat di mana Tasya dan Gilang berada.


“Memangnya Arin pernah punya trauma sama cinta?” tanya Gilang kepada Tasya.


“Iya, Bang, tapi ya sudahlah. Biarkan luka itu menjadi rahasia hidupnya.”


“Sekarang manggilnya jangan abang lagi, kita udah sah jadi pasangan suami istri loh, sayang,” goda Gilang yang membuat wajah Tasya memanas.


“Apaan sih, M—Mas?!” Tasya menunduk malu, baginya panggilan seperti ini terlalu asing di telinganya dan juga dia belum terbiasa. Sedangkan Gilang, dia sudah menampakkan senyum lebarnya, sembari membawa Tasya ke dalam dekapan hangatnya.


“Tetap jadi istri dan ibu untuk anak-anakku, sayang,” ucap Gilang sembari menciumi puncak kepala Tasya yang terbalut hijab senada dengan gaun yang Tasya pakai.


“Uhuk, uhuk!!” Suara batuk yang dibuat-buat itu membuat pasutri baru ini melepaskan pelukannya. Mereka segera menatap siapa orang yang dengan lancang merusak momen romantis mereka.


“Udah-udah jangan lihatin gue kayak gitu, Sya. Takutnya nanti lo berpaling dari suami lo jadi ke gue, kan berabe nanti urusannya,” ucap Raka, ya yang menjadi biang masalahnya adalah sahabat kecil Tasya yang satu ini.


Tasya memutar bola matanya malas, bersiap menumpahkan pidato panjang yang akan dia layangkan kepada Raka. Namun, semua itu terhenti saat tangan Gilang dengan lembut mengusap lengannya.


Tasya memandang Gilang yang memberikannya isyarat untuk sabar. Akhirnya mau tak mau, Tasya mengurungkan niatnya untuk memberikan Raka omelan panjang.


“Ngapain lo?” ketus Tasya tanpa mau memandang wajah Raka. Jujur saja dia masih kesal dengan kehadiran Raka yang bak jelangkung.


Tasya segera menghambur ke pelukan Raka dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia menatap haru Raka yang sangat peduli kepadanya. Tasya sayang Raka, sebagai abang, tak lebih jika kurang mungkin bisa jadi.


“Oh iya, sampai lupa. Cepat-cepat kasih gue keponakan, ya? Karena mungkin gue sama Tasya nggak bakalan bisa sering bareng kayak dulu lagi. Jadi, untuk mengobati rasa kehilangan gue. Gue mau kalian menggantinya dengan memberikan gue keponakan yang lucu, laki atau perempuan atau nggak kembar aja. Pokoknya cepat-cepat kasih gue keponakan!” Raka menepuk pundak Gilang dan Tasya sebelum benar-benar turun dari panggung kecil itu.


🎀


Tepat pada pukul sebelas malam, resepsi acara pernikahan Gilang dan Tasya telah usai. Kini keduanya sedang berada di salah satu kamar yang berada di hotel tempat di mana mereka mengadakan acara ini.


“Mas, mandi dulu sana gih!” perintah Tasya yang sedang berdiri di depan cermin.


Dia berhenti sejenak dari aktivitasnya mencabuti jarum pentul yang berada di atas kepalanya untuk menyodorkan sebuah handuk kepada Gilang.


Gilang segera bangkit dari duduknya, mengambil handuk yang disodorkan Tasya kepadanya, lalu mulai memasuki kamar mandi hotel.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, kini Gilang selesai membersihkan diri. Dia keluar dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang.


“Sana gantian, kamu mandi dulu!” ucap Gilang, berusaha menahan tawa kala melihat Tasya yang menutup matanya dengan telapak tangan dengan wajah memerah melihatnya dengan keadaan setengah telanjang.


Tanpa banyak membantah, Tasya segera berlalu dari hadapan Gilang, masih dengan menutup matanya menggunakan sebelah tangan.


Gilang hanya menggelengkan kepala, menatap punggung Tasya yang hilang ditelan dinding kamar mandi. Dia segera mengambil bajunya di dalam koper, lalu memakainya.


Setelah selesai, Gilang berjalan menuju dapur mini yang juga terletak di dalam kamar hotel. Dia membuat satu gelas white coffee untuk dirinya dan satu gelas susu cokelat untuk istri tercintanya.


Suara pintu kamar mandi yang dibuka mengalihkan perhatiannya. Gilang menatap wajah Tasya yang tampak lebih segar dari sebelumnya. Dia menghampiri Tasya dengan membawa minuman hangat yang baru saja selesai dia buat.


“Nih minum, biar nggak masuk angin gara-gara mandinya kemalaman!” Gilang menyodorkan segelas susu cokelat yang diterima baik oleh Tasya.


“Makasih, Mas!” sahut Tasya lalu mendudukkan dirinya di atas ranjang diikuti oleh Gilang yang juga mendudukkan diri di sampingnya.


“Mas!” Panggilan dari Tasya membuat Gilang menghentikan aktivitas menyesap white coffee-nya. Dia menoleh ke arah Tasya, menunggu istrinya itu melanjutkan kalimatnya.


“Em, kalau aku memutuskan untuk berhijab. Bagaimana, Mas?”


Sebelum menjawab, Gilang terlebih dahulu menaruh cangkir kopinya di atas nakas lalu kembali menatap Tasya yang tampak diam sambil menunggu jawaban darinya.


“Sayang, apa pun keputusan kamu selagi itu baik dan tidak merugikan siapa pun, Mas pasti bakalan dukung. Memangnya kenapa kamu mau pakai hijab?” tanya Gilang.


Bukannya dia tak suka, bahkan dia sangat bahagia saat mendengar keinginan yang disampaikan oleh Tasya. Gilang hanya ingin bertanya apa alasannya hingga istrinya itu memutuskan untuk berhijab.


“Aku ingin menjadi seperti Bunda yang menutup auratnya, Mas. Lagi pula, Islam menyuruh umat wanitanya untuk berhijab, 'kan? Aku ingin menjalankan apa yang selama ini aku inginkan dan aku ingin auratku hanya dilihat oleh suami dan mahramku,” jelas Tasya sambil menaruh gelas susu cokelatnya di samping cangkir kopi milik Gilang.


Senyum yang semula hanya samar, kini semakin melebar. Gilang sudah tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya lagi. Dia segera menarik Tasya ke dalam dekapannya. Menghujani puncak kepala Tasya dengan kecupan ringan.


‘Mama, aku sudah mendapatkan wanita yang aku inginkan. Semoga Tuhan mengizinkan aku dan istrinya bersama hingga akhir hayat. Semoga Tuhan mengaruniakan keluargaku kebahagiaan yang tiada habisnya, amin,’ batin Gilang.


“Besok anterin aku ke butiknya Tante Cikka, ya, Mas?” pinta Tasya setelah melepaskan diri dari pelukan Gilang.


Gilang mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


“Iya, kan tadi Mas sudah bilang. Mas akan selalu dukung apapun keputusan kamu, Sayang. Mas senang banget saat kamu mengutarakan niat kamu untuk berhijab.”


To be continue ....


__ADS_2