Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 41


__ADS_3

Happy Reading!!


“Ketika penyesalan tak lagi berharga, maka diam dalam kekosongan adalah jalan satu-satunya.”


~Arvino Afriza Louis~


Seperginya Febri dari kamarnya, Vino segera membanting tubuhnya di atas ranjang. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Entah kenapa rasanya dia berteriak sekencang-kencangnya. Dia ingin meluapkan segala rasa amarah, sakit hati, dan kecewa yang dia rasakan. Ah ya, sekarang dia punya satu cara yang bisa mewujudkan semua keinginannya saat ini.


Vino meraih bantal yang tidak dia pakai di sampingnya, lalu menggunakan bantal itu untuk menutup wajahnya dan dia pun mulai berteriak sesuai keinginannya.


“AAAAAAAAAA!” Walau suara teriakannya teredam oleh bantal yang menutup wajahnya, tetapi itu semua dapat melegakan perasaannya.


Itu memang kelakuan yang konyol, tapi hanya dengan begitu dia dapat memperbaiki suasana hatinya.


Tetes demi tetes air mulai meluncur deras. Bukan air hujan, melainkan air mata yang turun dari pelupuk matanya.


Sudah-sudah pernyataan dua paragraf di atas ini hanyalah alibinya. Buktinya suasana hatinya malah semakin buruk. Dia sudah tak dapat lagi menahan sakit hatinya. Sebesar apa dosanya dulu, hingga Tuhan memberikan rasa sakit sebesar ini?


“Sakit, Tuhan.”


Kenapa bumi seolah mendukung rasa sakitnya, kenapa semuanya sama? Sama-sama ingin memberikan karma padanya?


Vino terisak pelan dalam tangisnya. Namun, suara isakannya teredam oleh derasnya air hujan di luar. Vino tak sanggup, Vino ingin bertemu mamanya.


“Mama, Vino rindu.”


Di sini, dia sendiri, tak ada yang menemani. Dulu, saat mamanya masih ada di dunia ini. Saat Vino dalam keadaan rapuh, maka mamanya akan selalu ada menemaninya.


Suara lembut menenangkan milik mamanya membuatnya tenang. Namun, sekarang Vino hanya bisa memendamnya sendiri. Tak ada yang bisa mengerti dia apalagi sampai membuatnya tenang. Semuanya sama, mereka hanya penasaran, bukan benar-benar peduli.


Lama menangis membuatnya mengantuk, tak terasa dia mulai memejamkan matanya dan memasuki alam mimpinya. Vino berharap, setelah bangun dia tak lagi merasakan sakit yang mendera hatinya.


🎀

__ADS_1


Vino memandang area sekitarnya. Dia tak tahu saat ini sedang berada di mana. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan rumput jepang yang bergoyang juga beberapa bunga liar. Matanya kembali menelisik, tak jauh dari tempatnya berdiri, dia menangkap bayangan sosok yang sangat dia kenali dan sangat dirindukan sedang duduk di bawah pohon.


Kakinya membawanya melangkah menghampiri sosok itu.


“Mama!” panggil Vino sambil berlari kecil. Dia hanya takut sosok yang dilihatnya saat ini kembali menghilang.


Sosok itu menoleh, dia merentangkan tangannya mengisyaratkan bahwa dia ingin memeluk Vino. Vino segera mempercepat langkahnya, menghampiri sosok itu lalu memeluknya erat.


“Mama, Vino kangen sama Mama,” lirih Vino seiring dengan air mata yang semakin terasa deras mengalir.


Arina—bunda Vino dan Gilang—mengusap kepala Vino penuh kasih sayang.


“Mama juga kangen sama anak-anak Mama. Vino jangan sedih lagi ya, percaya sama Mama, suatu saat nanti Vino bakalan bisa bersama dengan wanita yang Vino sayangi.”


Vino mendongak, menatap wajah mamanya yang juga tengah menatapnya lalu merebahkan diri di pangkuan sang bunda.


“Siapa wanita itu, Ma?” tanya Vino penasaran.


Arina menggeleng.


Vino mengangguk.


“Vino percaya. Vino percaya kalau apa yang dikatakan oleh mama memang selalu benar."


“Jadi, jangan sedih lagi, ya?”


“Tapi, Vino tetap sedih, Ma, saat mendengar wanita yang Vino cintai saat ini sedang mengandung anak pria lain, Ma. Vino memang pengen lihat Tasya bahagia, tapi Vino juga nggak bisa bohongin perasaan Vino kalau Vino kecewa sama diri Vino sendiri karena nggak bisa konsisten sama keinginan Vino,” curhat Vino.


“Vino nggak boleh gitu, bagaimanapun juga ayah dari anak yang dikandung Tasya adalah abang kandungmu.”


“Ma, boleh nggak kalau Vino masih sayang sama dia?”


“Semua orang berhak mencintai dan menyayangi. Namun, jangan sampai cinta membuatmu buta hingga menghancurkan tali persaudaraan. Cinta itu fitrah, maka hadirnya bukanlah suatu hal yang dapat dianggap hal yang main-main,” ucap Arina sambil mengelus rambut hitam legam Vino.


Vino bergeming, pikirannya masih sibuk mencerna makna dari ungkapan sang mama. Jadi, boleh atau tidak Vino mencintai Tasya?

__ADS_1


“Mama boleh minta satu hal sama Vino?”


Vino mengangguk mantap.


“Mama mau minta apa sama Vino?”


“Mama pengen, Vino sama Bang Gilang baikan. Mama pengen lihat kalian akur lagi seperti dulu saat Mama masih berada di samping kalian. Jujur saja, Mama sedih lihat kalian seperti menjaga jarak. Vino dengerin Mama, apapun masalah yang menimpa kalian berdua, kalian tetap menjadi saudara. Kalian harus saling mendukung, bukan menjaga jarak seperti ini. Apalagi sampai saling pukul, Mama nggak suka lihatnya. Mama pengen anak-anak itu saling menjaga dan menyayangi,” tutur Arina dengan wajah sedihnya, bahkan air mata nampak menetes di pipinya.


Tangan Vino terulur menghapus air mata mamanya. Hatinya berdenyut sakit saat melihat mamanya menangis. Ya ampun, apalagi ini. Bukan hanya Tasya dan Rika yang dia buat menangis. Bahkan, mamanya juga. Apakah benar, Vino laki-laki terjahat di dunia?


“Maafin Vino yang udah bikin mama sedih ya. Vino nggak bermaksud, Ma. Kalau akur dengan Bang Gilang bisa membuat Mama bahagia, maka Vino akan melakukannya. Vino sayang sama mama, Vino nggak mau bikin mama sedih.”


“Mama senang dengar kalau Vino mau nurutin keinginan Mama. Berdamai dengan keadaan tidaklah buruk, Vino. Ingat, Tuhan telah menyiapkan kebahagiaanmu. Entah sekarang, esok atau nanti. Jadi jangan sedih lagi. Sekarang Mama harus pergi.” Tangan Arina mulai mengangkat kepala Vino agar bangun dari pangkuannya.


“Mama mau kemana? Vino masih pengen sama Mama, Vino masih kangen sama Mama. Mama jangan pergi dulu!” teriak Vino histeris sambil menahan lengan Arina agar tidak berdiri meninggalkannya.


Arina tersenyum, dengan gerakan lembut dia melepaskan pegangan erat Vino pada lengannya.


“Mama harus pergi, sayang. Ingat pesan Mama tadi, ya.”


Perlahan tapi pasti, Arina mulai melangkah pergi meninggalkan Vino. Vino ikut beranjak, berusaha mengejar Arina yang terasa semakin tak bisa dia gapai. Apa-apaan ini, kenapa tubuhnya terasa seperti lari ditempat?


“Mama jangan tinggalin Vino, Ma!”


“MAMA!”


Vino terduduk di atas ranjangnya. Dia melihat area sekitarnya, ternyata dia masih di dalam kamarnya. Apa tadi itu mimpi? Iya sepertinya memang benar mimpi. Apa mamanya kecewa dengan kelakuan Vino selama ini, hingga mendatanginya di alam mimpi.


Vino mengusap wajahnya frustasi.


“Vino akan berusaha wujudin keinginan mama. Vino sayang sama Mama.”


Vino bertekad, dia tidak ingin membuat mamanya sedih lagi.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2