Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 40


__ADS_3

Happy Reading❣


Happy Reading!!


“Tiada yang salah dari mencintai, hanya saja tempatmu jatuh cinta yang salah tempatnya.”


~Febri Ilya Tityana~


Tetes demi tetes hujan mulai menyapa. Menjatuhkan setiap airnya untuk membasahi sebagian belahan bumi. Mengisyaratkan bahwa saat ini langit sedang berduka.


Sama seperti seorang pria berusia 19 tahun ini. Matanya memandang kosong ke arah jendela tembus pandang di kamarnya yang menampilkan setiap tetesan air hujan yang sudah sedari tadi mulai berjatuhan.


Akhir-akhir dia sulit sekali untuk fokus. Bahkan, saat ini tumpukan buku-buku tugas kuliah diabaikannya. Otaknya tak bisa diajak kerja sama saat hatinya dalam suasana yang dapat dikatakan tidak baik.


Tubuhnya memang terdiam, tetapi berbeda dengan pikirannya yang mulai berkelana dan hanya tertuju pada satu titik. Dan titik itu adalah dia, wanita yang sampai saat ini dicintainya. Hatinya enggan melepaskan, melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milik orang. Namun, ingin memiliki pun rasanya mustahil.


Seumur hidup dia tak pernah mereka sekosong ini hanya karena wanita. Ya, Tuhan telah memberinya karma. Terkadang memang benar, memilih menjauh mungkin lebih baik dari pada mendekat, tapi menyakiti.


Namun, sampai saat ini hatinya tak dapat berbohong, dia rindu sangat rindu dengan wanita itu. Bahkan kehadiran wanita lain di sekitarnya tak dapat membuatnya berpaling.


Keindahan kota Amsterdam yang saat ini dia tinggali tak dapat mengalihkan pikirannya barang sedikit pun dari gadis itu. Sejauh mata memandang, hanya ada kekosongan yang menyelinap dalam hati dan pikirannya.


Puk


Seseorang menepuk pundaknya pelan, membuatnya mengalihkan perhatiannya dari suasana di luar kaca jendela ke arah seseorang yang menepuk pundaknya.


Seorang wanita yang berumur 1 tahun di bawahnya tampak sedang berdiri di belakangnya, masih dengan tangan yang setia bertengger di pundaknya.


“Bang Vino kenapa? Ngelamun mulu! Kesambet baru tahu rasa,” ucap Febri, sepupu Vino.


Gadis dengan rambut sepinggang itu adalah anak semata wayang Faza. Dan Faza adalah adik kandung Bagas. Jadi kesimpulannya, Faza adalah tante Vino.

__ADS_1


Menghembuskan napas pelan, Vino kembali menatap jendela.


“Salah nggak sih kalau gue masih sayang sama dia?”


Febri tak menjawab. Dia lebih memilih mendudukkan dirinya di samping Vino, ikut memandang sesuatu yang sedang menjadi objek yang Vino pandang.


“Mencintai itu nggak ada salahnya, Bang. Yang salah, tempat di mana lo harus jatuh cinta. Lo jatuh cinta sama istri orang, ‘kan?” Febri menghentikan pendapatnya lalu bertanya dan dibalas anggukan oleh Vino. “Kalau lo tanya sama semua orang di dunia ini tentang lo yang masih cinta sama seorang wanita yang sudah punya suami otomatis jawabannya adalah salah, bahkan salah besar. Apalagi wanita itu sudah menjadi kakak ipar lo, Bang. Ikhlasin, Bang, bahagia nggak akan salah alamat.”


Febri memang sudah tahu semua tentang kisah asmara Vino. Jujur saja dia tak tega melihat abang sepupunya ini, tapi ya sudahlah, mungkin ini karma. Karma memang tak semanis buah kurma.


Kak Tasya kamu sangat hebat bisa memenangkan hati dua manusia yang sulit tuk jatuh cinta, batin Febri.


Vino termenung, memikirkan pendapat dari adik sepupunya ini. Apa yang dikatakan Febri memang benar. Dia salah, sangat salah. Namun, mau bagaimana lagi, hatinya tak kunjung bisa melupakan wanita itu.


Ada yang tahu wanita itu siapa?


Jika kalian menjawab wanita itu adalah Tasya, maka seratus, kalian benar.


Vino menggeleng.


“Gue udah putus sama dia sejak gue mutusin buat kuliah di sini.”


“Hah, siapa yang mutusin duluan?” tanya Febri, jiwa penasarannya sudah meronta-ronta meminta jawaban.


“Gue yang mutusin dia. Gue tahu dia kecewa karena dia tahu gue rela kuliah di luar karena kecewa lihat Tasya nikah sama abang gue, tapi apa boleh buat, hati gue lebih memilih suka sama wanita yang pernah gue sia-siain yang sialnya malah lebih memilih bersama pria lain daripada suka sama cewek yang sudah jelas sayang sama gue. Gue nggak bisa terus-terusan bohong kalau gue masih sayang sama Rika. Karena melepaskan lebih baik daripada pura-pura sayang tapi kenyataannya malah nol besar.”


Febri mengangguk paham. Bahkan, dia paham betul bagaimana rasanya di tinggal kawin, maaf nikah dengan orang yang dia sayang. Karena dia juga pernah mengalaminya, di dalam mimpi.


Febri merangkul pundak Vino, seolah menyalurkan aliran kekuatan sihir tak kasat mata ke dalam tubuh Vino.


“Gue tahu lo kuat, Bang. Gue tahu lo bisa menghadapi semua ini. Kalau memang lo dan Kak Tasya itu berjodoh, apapun rintangannya Tuhan pasti bakalan menyatukan kalian berdua, tapi kalau malah sebaliknya, ya sudah terima nasib aja. Mungkin, lo bakalan gila karena lihat keluarga mereka yang bahagia.”

__ADS_1


Ingin rasanya Vino mengarahkan sebuah bogem mentah pada gadis yang sedang duduk di sampingnya ini, saat ini juga. Sebenarnya, Febri berniat memberi solusi atau hanya ingin membuat suasana hati Vino semakin buruk.


Drt drt


Ponsel yang Vino taruh di pembatas jendela tampak berdering. Dia melirik ke layar ponselnya, tertera nama papanya di sana. Menghela napas pelan, Vino segera meraih ponselnya lalu berjalan sedikit menjauh dari Febri.


“Halo, Pa. Kenapa?” tanya Vino to the point.


Dengan suasana hati yang semakin buruk ini tak dapat membuatnya sedikit berbasa-basi. Dia sangat malas melakukan apapun saat ini. Namun, panggilan dari bapak negara membuatnya mau tak mau harus mengangkat panggilan negara ini.


“Papa cuma mau ngasih tahu kamu berita bahagia,” sahut Bagas di seberang sana.


“Berita apa, Pa?” tanya Vino sedikit malas, walau tak dapat dia pungkiri bahwa dia sedikit penasaran, catat hanya sedikit.


“Kakak ipar kamu sedang mengandung keponakan kamu, Vin. Saat ini usia kandungannya sudah 2 bulan.”


Deg


Berita bahagia macam apa ini yang disampaikan oleh Bagas. Ini bukan berita bahagia, melainkan berita paling buruk yang pernah Bagas sampaikan kepadanya setelah berita tentang Gilang yang akan menikahi Tasya.


Moodnya sudah buruk semakin terasa buruk. Hatinya terasa ditimpakan oleh berbagai bebatuan besar. Rasanya sakit, sesak, dan pastinya dia kecewa. Bukannya dia tak bahagia melihat Tasya bahagia.


Namun, dia hanya ingin Tasya karenanya. Bukan karena orang lain, apalagi itu abang kandungnya. Pikirannya memang masih seperti kekanak-kanakan, tapi, apakah kalian percaya, bahwa cinta dapat merubah jiwa seseorang?


Febri yang melihat perubahan di wajah Vino langsung melangkah menghampirinya. Dia tak tahu apa yang membuat wajah Vino terlihat lebih muram dari pada sebelumnya, tapi dia yakin, semua ini karena berita yang disampaikan oleh pamannya.


Vino masih berdiri termenung di tempatnya berpijak sedari tadi. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata pria itu. Febri menatap sendu abang sepupunya yang menangis.


“Bang, gue memang nggak tahu apa yang bikin suasana hati lo sedih, tapi kalau memang ini membuat lo pengen nangis, maka nangislah sepuasnya. Menangis bukan berarti tanda bahwa pria itu lemah, rapi tanda bahwa pria itu benar-benar berada pada titik terapuhnya,” tutur Febri lalu keluar meninggalkan Vino sendiri di kamarnya.


Dia hanya ingin memberikan waktu Vino untuk sendiri. Febri tahu Vino membutuhkan ketenangan, demi memperbaiki suasana hatinya.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2