
Happy Reading
“Takdir itu hebat. Ia mampu membuat manusia menjadi menyedihkan sekaligus kuat.”
~MDHD~
Saat ini Gilang dan keluarga kecilnya nampak asik bersantai di ruang keluarga. Sedari tadi Gilang tiada hentinya ingin bermanja dengan istrinya yang sedang menggendong Gita.
“Mas, udah dulu, ya. Kamu lagi kenapa sih, tumben manja banget hari ini?” tanya Tasya penasaran.
Gilang hanya menggeleng, lalu semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Tasya. Dia juga menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
Gilang pun tak tahu, entah kenapa hari ini dia selalu ingin bermanja dengan Tasya. Gilang hanya ingin berdekatan dengan Tasya dan menghirup aroma vanila yang mengguar dari tubuh Tasya.
Mungkin, karena esok dia harus terbang menuju Singapura guna mengurus perjalanan bisnis perusahaan mereka. Sehingga mengharuskannya meninggalkan istri dan anaknya di rumah sendirian. Walau sebenarnya, jika Tasya mau Tasya bisa terlebih dahulu tinggal bersama dengan orang tua wanita itu sampai Gilang menyelesaikan bisnisnya di Singapura.
Namun, karena saking keras kepalanya, istrinya itu tidak mau menginap di mana pun, dia hanya ingin di rumah. Entahlah, padahal Gilang hanya tak ingin Tasya merasa kesepian, ya walaupun sekarang sudah ada anak mereka yang menemaninya. Namun, tetap saja Gilang masih terus mengkhawatirkan keadaan keduanya nantinya.
“Yang, besok nginep tempat Bunda aja ya sampai aku pulang. Aku cuma takut ninggalin kamu di rumah sendirian. Apalagi sekarang kamu harus ngurusin Gita yang baru berumur dua bulan,” tutur Gilang.
Seiring berjalannya waktu, tak terasa kini usia anak mereka sudah berusia 2 bulan.
Tasya menggeleng lalu tersenyum.
“Enggak papa Mas, ih. Kan Mas cuma dua hari di sana, nggak lama. Jadi nggak papa. Nanti sesekali aku main ke rumah Bunda, kalau aku bosen di rumah.”
Gilang hanya bisa menghela nafas. Gilang hanya takut akan apa yang terjadi besok. Entah kenapa rasa takut terus menjalar di hatinya sejak bangun tidur tadi. Dia hanya takut jika besok ... ah sudahlah. Gilang menggelengkan kepala guna mengusir pikiran-pikiran negatif yang sedari tadi hinggap di kepalanya.
“Kamu kenapa, Mas. Kok geleng-geleng gitu?” tanya Tasya melirik sekilas ke arah Gilang lalu kembali menyusui Gita.
Gilang menggeleng.
“Aku nggak habis pikir aja sama kamu. Keras kepala banget kamu tuh, Sya. Aku kan cuma nggak mau kamu nanti kerepotan sendirian di rumah?”
“Terus kalau aku di rumah Bunda sama aja ngerepotin Bunda, ‘kan?”
Gilang terdiam, apa yang dikatakan oleh Tasya memang benar. Namun, tetap saja, dia tak dapat meninggalkan Tasya sendirian. Ini kali pertamanya Gilang meninggalkan Tasya untuk perjalanan bisnis keluar negara selama pernikahan mereka.
Biasanya, jika ada bisnis keluar negeri maka dia akan meminta asistennya untuk mengurusnya. Namun, karena asistennya tidak dapat menggantikannya yang disebabkan oleh kendala, hingga mau tak mau Gilang-lah yang harus turun tangan.
__ADS_1
🎀
“Sya, tinggal di rumah Bunda dulu, ya?” Entah sudah berapa kali Gilang mengatakan hal ini kepada Tasya pagi ini.
Tasya menghela nafas pelan lalu meletakkan Gita di atas ranjang mereka. Dia memegang kedua pundak Gilang lalu menatap mata suaminya itu.
“Mas, tenang aja. Aku nggak papa tinggal di sini selama kamu di luar. Lagiankan, udah ada Gita jadi aku nggak kesepian lagi. Udah ya, kamu nggak usah khawatir. Lebih baik sekarang kamu bawa barang kamu ke mobil, bentar lagi kamu bakalan take off, Mas!”
Gilang hanya mengangguk pasrah. Dia bangkit dari duduknya lalu menarik kopernya keluar kamar. Diikuti oleh Tasya di belakangnya sambil menggendong Gita.
“Kamu beneran nggak papa aku tinggal sendirian? Apa kamu mau tinggal di rumah Bunda, biar aku anterin dulu?”
Tasya menggeleng.
“Enggak usah, Mas. Kamu hati-hati di sana ya, jangan lupa kabarin kalau udah mau take off terus jangan lupa juga kalau udah sampai. Terus jangan lupa makan, pokoknya kamu harus jaga kesehatan terus.”
“Kamu juga jaga kesehatan ya, Sya. Istirahat ya cukup, kalau kamu bosen di rumah sendirian kamu boleh minta Arin temenin kamu di rumah. Jaga rumah ya. Doakan pekerjaan aku cepat selesai.” Gilang mengecup kening Tasya lama, mencoba menghilangkan kekhawatirannya.
Kemudian, dia beralih mencium pipi anak perempuannya.
“Jaga Bunda ya, Git. Jangan nakal ya, sayang!”
“Wa'alaikumsalam!” Tasya melambaikan tangannya ke arah Gilang. Dia masih berdiri di depan gerbang rumahnya, menunggu taksi yang ditumpangi Gilang tak terlihat oleh matanya.
🎀
Tasya sedari tadi tiada hentinya mondar-mandir di ruang keluarga sambil menggigit bibir bawahnya. Kelakuan yang Tasya lakukan sedari tadi tak lepas dari pandangan kakak iparnya yang tengah duduk di sofa sambil menggendong Gita.
Ya, kakak ipar Tasya adalah Arin. Arin dan Alvan telah menikah sejak dulu saat usia kandungan Tasya masih 7 bulan.
“Sya, lo bisa duduk nggak, sih? Pusing sendiri gue lihatin lo mondar-mandir nggak jelas kayak setrikaan. Lo kenapa, sih?” tanya Arin dengan nada kesal.
Tasya menggeleng.
“Gue nggak papa, Rin, tapi entah kenapa gue kepikiran terus sama bang Gilang. Gue lagi khawatir sama suami gue, Rin. Kenapa sampai saat ini belum ngabarin gue juga, harusnya sekarang udah sampai.”
Tasya kembali memandang layar ponselnya yang sedari tadi dipegangnya. Dia berharap Gilang mengabarinya sekarang. Jika dilihat dari jadwal, harusnya pesawat yang akan Gilang tumpangi akan take off beberapa menit lagi. Namun, sampai saat ini Gilang belum juga memberinya kabar.
Tiba-tiba ponsel Tasya menyala. Tasya memandang layar ponselnya yang menampilkan nomor tak dikenal sedang menelponnya. Tasya melirik sekilas ke arah Arin sebelum mengangkat teleponnya.
__ADS_1
“Halo, siapa ya?”
“Halo, dengan keluarga Pak Gilang Arvito Louis?” tanya seseorang wanita di seberang sana.
“Iya, saya istri dari Gilang. Ada apa ya?” tanya Tasya sambil melirik Arin yang nampak penasaran.
“Begini, Bu. Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa suami ibu mengalami kecelakaan sekitar setengah jam yang lalu. Saat ini suami ibu sudah ditangani di rumah sakit Bakal Sehat.”
Deg
Tasya menjatuhkan ponsel yang ia pegang di atas marmer rumahnya. Untung saja ponselnya bukan ponsel murahan, sehingga tahan banting. Oke, lupakan ini bukan saatnya untuk mengurus harga ponsel yang Tasya pakai, ada yang lebih penting untuk dibahas.
Tubuh Tasya seketika terasa lemas hingga dia terduduk di atas sofa masih dengan wajah cengonya. Air matanya mengalir secara tiba-tiba.
‘Kejutan apa lagi ini, Ya Allah?’ Batin Tasya.
“Kenapa, Sya?” tanya Arin, ia memandang ke arah Tasya dengan raut wajah khawatir.
“Suami gue, Rin. Mas Gilang!”
“Iya, Bang Gilang kenapa?”
“Mas Gilang kecelakaan, Rin!” Tasya semakin terisak.
Untuk beberapa saat Arin terdiam, dia sedang mencerna apa yang baru saja didengarnya. Hingga detik berikutnya, tangisan Gita terdengar nyaring. Mungkin, bayi mungil itu ikut bersedih atas apa yang menimpa ayahnya.
Dengan cepat Arin menenangkan Gita, setelah Gita tenang dia mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi suami dan mertua serta sahabat-sahabatnya.
Selesai dengan kegiatannya, Arin segera merangkul bahu adik iparnya mencoba menyalurkan kekuatan tak kasat mata. Sejujurnya, dia ingin memeluk Tasya. Namun, keadaan tak memungkinkan, karena saat ini masih ada Gita di gendongannya.
Arin segera memesan taksi online. Lalu membawa Tasya menunggu di depan rumah. Jujur saja, dia ikut bersedih atas kejadian yang menimpa adik ipar sekaligus sahabatnya ini. Bagaimana pun juga, sesama wanita pasti tahu rasanya saat mendengar orang yang kita sayangi mengalami musibah.
Namun, kembali lagi. Mungkin ini sudah jalan takdir yang Tuhan berikan. Mungkin juga, ini ujian untuk Tasya sekeluarga. Semoga Tasya sekeluarga diberikan kelapangan hati dalam menerima cobaan yang Tuhan berikan kepada keluarga mereka, aamiin.
(个_个)To_Be_Continue(个_个)
Hiks, ada yang nangis, nggak? Sedih tahu rasanya. Perkiraanku cerita Matahari Ditengah Hujan Deras akan tamat di chapter 49, ditambah epilog satu. Pokoknya, Ikuti terus Matahari Ditengah Hujan Deras. Agar kalian tidak ketinggalan bagaimana kisah perjalanan cinta seorang Natasya Quiella😉.
Yang tabah ya, Sya! Aku suka melihat air matamu. Dasar psyco, wkwk canda psyco.
__ADS_1