Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 20


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


...“Mencintai sepihak itu menyakitkan. Ingin mengakhiri, tapi egois selalu memerangi. Aku bahkan terjatuh berkali-kali hanya karena mengharapkan kamu yang telah berpaling untuk kembali.”...


...~Natasya Quiella Natapraja~...


Setelah memarkirkan motornya di parkiran sekolah, Vino segera melangkahkan menuju kelas. Dengan baju yang dikeluarkan, dasi yang diikat asal, belum lagi rambut yang disisir tak beraturan nampaknya tak melenyapkan pesona seorang Arvino Afriza Louis.


Saat berjalan di koridor kelas, tiba-tiba seorang siswi menabrak dirinya. Vino memejamkan mata, bersiap menumpahkan amarah kepada seorang siswi yang dengan berani menabrak dirinya.


Vino mulai membuka matanya, menatap tajam seorang siswa yang sedang berdiri dari lantai lalu membersihkan roknya yang nampak sedikit kotor.


“Lo kalau jalan ....” Vino menghentikan omelannya saat melihat siapa yang sedang berdiri di depannya.


Reflek Vino menarik siswi itu ke dalam dekapannya, menghirup dalam-dalam wangi vanila yang selama ini dia rindukan.


“Lo ke mana aja selama ini, Rik? Gue pusing nyariin lo,” ucap Vino masih dalam posisi memeluk siswi itu.


“Maaf, Vin.” Hanya kata itu yang dapat Vino tangkap dari indra pendengarnya.


“Gue udah pernah bilang sama lo, kalau ada masalah sekecil apapun cerita sama gue, kita selesaikan secara baik-baik,” ucap Vino memegang kedua bahu siswi itu.


“Maafin aku, aku nggak bisa jelasin. Intinya aku lakuin ini demi kebaikan kamu, aku, ataupun kita.”


“Tapi nggak gini juga Rika. Dengan cara lo ngilang secara tiba-tiba lo berhasil buat gue merasa jadi orang gila dalam sekejap.”


Iya, siswi itu adalah Rika Okalina. Mantan ... oh ralat karena belum ada kata putus di dalam hubungan mereka.


“Maaf.” Lagi dan lagi hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulut Rika.


“Oke, nggak papa. Yang penting sekarang lo ada di sini, yang penting lo janji nggak bakalan ninggalin gue lagi, ‘kan?”


Rika hanya mengangguk lemah. Sekali lagi Vino menarik Rika ke dalam dekapannya, menyalurkan rindu yang selama ini hanya bisa dia pendam sendirian.


“Lo sekarang sekolah di sini?”


Rika mengangguk. “Iya, kata kepala sekolahnya, aku masuk kelas XI MIPA 1, tapi aku nggak tahu di mana kelasnya.”


“Lo sekelas sama gue, ayo kita ke kelas.” Vino dan Rika pun berjalan beriringan menuju kelas mereka dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain. Mengabaikan para siswi yang menatap mereka penasaran ke arah mereka.


Sementara di sisi lain, seorang gadis menatap sendu kepergian mereka. Berkali-kali gadis itu nampak mengusap air mata yang terus saja mengalir menggunakan punggung tangannya. Dia mengigit bibir bawahnya, menahan isak agar tak ada yang tahu bahwa saat ini ia sedang menangis.

__ADS_1


Gadis itu adalah Tasya, saat dia baru beberapa langkah melewati koridor, netranya menangkap sosok Vino sedang berpelukan dengan seseorang yang Tasya yakini adalah seorang gadis. Dia tak tahu siapa gadis itu, sepertinya gadis yang dipeluk Vino adalah siswi baru di sekolah mereka.


Tasya menunduk sejenak, kembali menghapus air matanya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya pelan.


Puk!


“Sya!” panggil seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya.


“Bang!” Tasya langsung memeluk Gilang. Air mata yang sempat berhenti kini mengalir lagi bahkan semakin deras.


“Kamu kenapa?” tanya Gilang menghapus air mata Tasya.


Tasya menggeleng. “Tasya nggak papa, Bang. Bang Gilang tenang aja.”


“Sya, kalau ada masalah cerita sama Abang. Jangan simpan masalah kamu sendiri,” tutur Gilang menepuk puncak kepala Tasya.


“Tasya beneran nggak papa, Banget. Kalau gitu Tasya balik ke kelas dulu ya, Bang.” Tanpa menunggu jawaban dari Gilang, Tasya segera berlari menuju kelasnya. Mengabaikan para siswa yang sedang menatapnya aneh.


Sesampainya di kelas, Tasya segera menelungkupkan wajahnya di antara lipatan tangan. Kembali menangis bahkan hingga terisak. Dia sudah tak peduli dengan keadaan kelas yang sudah nampak ramai. Yang dia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang hancur berkeping-keping.


“Sya, lo kenapa?” tanya Arin sambil meletakkan tasnya di atas meja lalu mendudukkan dirinya di samping Tasya.


Tasya mendongak menatap Arin lalu memeluknya. Sementara Arin hanya diam terpaku lalu mengelus punggung Tasya, berusaha menenangkan sahabatnya yang sedang sedih entah karena apa, dia pun tak tahu apa masalah yang menimpa sahabatnya ini.


“Gue harus apa, Rin?” tanya Tasya disela tangisannya.


“Gue nggak bisa ngasih solusi kalau gue sendiri nggak tahu masalah apa yang menimpa lo, Sya. Lo cerita dulu baru nanti kita cari solusinya sama-sama,” tutur Arin.


“Tadi gue lihat Vino pelukan sama cewek lain,” jelas Tasya sambil terisak.


Tasya menggeleng. “Gue nggak tahu, tapi yang gue tangkap dari penglihatan gue, mereka itu kayak sepasang kekasih.”


“Oke, nanti istirahat lo coba ngomongin ini sama Vino. Lo tanya siapa cewek itu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bel istirahat sudah berbunyi lima menit lalu, kini tersisa Tasya dan beberapa teman lainnya yang masih berada didalam kelas. Kedua sahabat Tasya sudah pergi ke kantin. Tasya segera meraih ponselnya dari dalam laci. Mengetikkan sebuah pesan kepada Vino.


To : Vino


Vin ada yang mau gue omongin sama lo


Gue tunggu lo di taman belakang sekolah


Setelah menekan tombol send, Tasya  segera bangkit dari duduknya, berjalan menuju taman sekolah.


Sementara di kelas Vino.


Ting


Terdengar bunyi notifikasi yang berasal dari ponsel Vino. Dia merogoh ponselnya yang berada di saku celananya. Membaca pesan yang baru saja masuk di ponselnya.


Tasya


Vin ada yang mau gue omongin sama lo

__ADS_1


Gue tunggu lo di taman belakang sekolah


“Mau ngapain sih nih anak?” gumam Vino dalam hati.


“Rik, lo di sini dulu ya. Gue ada urusan, gue janji sebentar doang,” ucap Vino kepada Rika yang duduk di sampingnya sedang memakan bekal yang di bawa Rika dari rumah.


“Kamu mau kemana?” tanya Rika.


“Sebentar aja, nggak lama kok.” Vino bangkit dari duduknya setelah mendapat anggukan dari Rika. Dia mengacak pelan rambut Rika lalu segera berjalan menuju taman belakang menghampiri Tasya yang sudah menunggunya di sana.


Sesampainya di taman, dapat dia lihat Tasya yang sedang duduk di salah satu bangku. Vino berjalan menghampirinya lalu mendudukkan dirinya di samping Tasya.


“Lo mau ngomong apa, Sya?” tanya Vino sambil menatap tanah di bawahnya.


“Cewek yang lo peluk tadi siapa?” tanya Tasya tanpa mau menatap wajah Vino yang berada di sampingnya.


“Oh, dia mantan, eh ralat karena gue sama dia belum pernah ada kata putus. Sebenarnya dia pacar gue sejak satu tahun yang lalu, terus dia ninggalin gue karena suatu hal demi kebaikan gue sama dia,” jelas Vino santai seakan tak ada yang salah dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


“Pacar?” tanya Tasya yang di balas anggukan mantap oleh Vino.


“Kalau dia pacar lo terus gue siapa lo?” lanjut Tasya kembali menangis.


“Oh iya, sepertinya ini saatnya lo tahu yang sebenarnya. Sebenarnya gue nggak pernah sayang apalagi cinta sama lo.”


“Terus tujuan lo jadiin gue pacar apa, Vin?” tanya Tasya sambil menatap tak percaya wajah Vino.


“Ini semua karena tantangan dari Putra. Gue sebenarnya nggak mau, tapi karena gue nggak pengen dicap sebagai laki-laki pecundang akhirnya gue mau jadiin lo pacar, dan satu hal yang perlu lo ingat gue nggak pernah suka sama lo. Gue udah punya cewek dan cewek yang gue peluk tadi adalah pacar gue,” jelas Vino penuh penekanan di akhir kalimatnya.


“Oke, kalo emang lo udah punya pacar, gue pengen kita putus sekarang,” ucap Tasya menghapus kasar air matanya. Dia tak ingin di anggap lemah oleh pria yang sedang duduk di sampingnya ini. Mulai detik ini juga dia akan membenci Vino, walau tak menutup kemungkinan dia masih mencintai Vino.


“Bagus, lagian dari awal gue udah ada niatan buat mutusin lo, tapi gue nggak tega lihat muka lo yang selalu senang saat berada di dekat gue dan akhirnya gue nggak tega buat mutusin lo, tapi berhubung sekarang lo udah tau semuanya dan lo juga udah mau putus sama gue, it's oke. Gue malah senang dengarnya.”


“Mulai sekarang kita akan menjadi orang asing yang nggak saling kenal,” ucap Tasya menatap tajam ke arah Vino.


“Lagian siapa juga yang mau kenal sama lo. Cewek murahan yang selalu ngejar-ngejar cowok yang bahkan nggak ngerespon dia sedikit pun, udahlah gue mau ke kantin sama pacar gue.” Baru saja Vino beranjak dari tempat duduknya, Tasya sudah menarik tangan Vino lalu melayangkan sebuah tamparan di wajah Vino.


Plak!


“Berhenti ngatain gue murahan, lo pernah lihat gue ngejalang di mana, hah?!” hardik Tasya mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan muka Vino.


“Lo, berani-beraninya lo nampar gue!” geram Vino. Jika saja yang di depannya ini adalah cowok mungkin nyawanya sudah melayang karena dengan berani melayangkan sebuah tamparan di wajahnya.


‘Mencintai sepihak itu menyakitkan. Ingin mengakhiri, tapi egois selalu memerangi. Aku bahkan terjatuh berkali-kali hanya karena mengharapkan kamu yang telah berpaling untuk kembali,’ batin Tasya.


.


.


.


To be continue...


Hiks, aku sedih.  Ibarat kata, aku sama Tasya tuh kembar, terus aku juga ikut ngerasain sama apa yang dialami sama Tasya. Jujur aja nih ya, aku nangis pas nulisnya, persetan dibilang alay.


Sesama wanita aku juga tau rasanya dikecewain sama orang yang kita sayang. Sabar Tasya, emak selalu ada untukmu(͡° ͜ʖ ͡°).

__ADS_1


__ADS_2