
Happy Reading❣
.
.
.
.
.
.
.
“Nikmati hari bahagiamu, sebelum nantinya hari-hari buruk akan mendominasi hidupmu. Bukan mendoakan kejelekkan, aku hanya tak terima kamu menyakiti orang yang kusayang.”
~Airin Aulia Putri~
Arin dan Lala tengah melangkah bersamaan menuju kantin. Biasanya, ada Tasya yang hadir di antara mereka. Namun, setelah insiden putusnya Vino dengan Tasya, Tasya belum juga kembali hadir ke sekolah.
“Sepi ya nggak ada Tasya,” ucap Lala—memasang wajah lesunya.
Lala sayang Tasya, Lala kangen Tasya, dan Lala sudah menganggap Tasya seperti kakaknya sendiri. Dengan ketidak hadirkan Tasya saja sudah membuat hanya terasa suram, apalagi jika nanti mereka harus berpisah lama.
Arin mengangguk setuju. “Iya, nggak ada yang bakalan jailin apalagi sampai buat gue marah.”
Kedua gadis itu menghela napas pelan, hingga tanpa terasa keduanya telah tiba di kantin. Arin mengedarkan matanya, menatap seisi kantin—seolah sedang mencari sesuatu. Hingga, apa yang dicarinya sudah terlihat. Dia segera menarik lengan Lala—menghampiri apa yang ditujunya.
Dengan tangan terlipat di dada, Arin menghentikan langkahnya tepat di depan meja yang ditempati oleh Vino dan Rika. Gadis itu mengambil duduk tepat di depan Rika—diikuti oleh Lala yang duduk di sampingnya.
“Hey, lama tak jumpa,” sapa Arin dengan nada sok akrab.
Vino mengerutkan keningnya. “Ngapain lo di sini?” tanya Vino—menatap tak suka ke arah Arin.
Arin mengangkat sudut bibir kirinya. “Gue mau ngucapin selamat! Sekarang lo udah puas, ‘kan?!”
Rika yang sedari tadi hanya menjadi pendengar pun menatap ke arah Vino dan Arin bergantian. Gadis itu merasa ... seperti ada yang disembunyikan Vino darinya. Memilih diam, Rika kembali menyimak obrolan mereka.
__ADS_1
Tangan Arin terulur mengambil satu buah garpu dari tempat garpu di atas meja. Dia menunjuk Rika dari atas hingga ke bawah menggunakan garpu di tangannya. Sementara itu, Rika menahan napas, takut-takut jika Arin akan mencoloknya dengan garpu itu
“Lo cantik, murid baru, ya? Gue baru lihat lo,” ucap Arin, tersenyum penuh arti.
Rika mengangguk pelan, dia masih menegakkan badan karena garpu itu masih berada tepat di depan mukanya.
Arin terkekeh pelan saat melihat raut wajah Rika yang terlihat waspada. Gadis itu kembali mengangkat sudut bibirnya lalu menurunkan garpunya.
“Udah, gue cuma mau nyapa doang.”
Arin beranjak dari duduknya. Saat akan melewati Vino, dia menghentikan langkah. Gadis itu membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Selamat lo berhasil buat jiwa sahabat gue terguncang. Selamat menikmati hari bahagia lo sama si cewek pelakor itu, tapi jangan sampai lupa kalau karma sedang menunggu lo di depan sana,” bisik Arin lalu melayangkan tatapan tajamnya ke arah Vino dan Rika yang sedang menunduk.
Arin kembali melanjutkan langkahnya di sebelah Lala menuju meja tempat Rangga dan Putra berada.
“Lo ngapain samperin mereka?” tanya Rangga—penasaran.
“Cuma ngucapin selamat aja,” sahut Arin, dia meraih jus yang sudah dipesankan oleh Rangga untuknya.
Sementara di sisi lain, Rika terus mengaduk-aduk mie ayamnya tanpa minat. Napsu makannya seakan lenyap setelah Arin membisikkan sesuatu di telinga Vino. Bukan cemburu, dia hanya tak suka Vino menyembunyikan sesuatu darinya.
“Kenapa?” tanya Vino—merasa heran dengan sikap Rika kali ini.
Rika semakin dibuat kesal saat pria itu tak juga menyadari kesalahannya. Tak bisakah Vino peka, sedikit saja? Ah, sudahlah.
“Nggak papa,” sahut Rika, sungguh dia sedang malas berdebat.
Vino menghela napas pelan, dia memutar tubuhnya menjadi menghadap ke arah Rika.
“Kalau ada masalah cerita aja, kita cari solusinya bersama.”
“Cerita, ya?” tanya Rika pelan, dia ikut menghadap ke arah Vino. “Kamu aja ada masalah nggak mau cerita, Bagaimana bisa aku diharuskan untuk cerita?”
“Bukannya aku nggak mau cerita, Rik. Aku rasa nggak ada yang perlu diceritain. Itu cuma masalah sepele doang,” ucap Vino—berusaha memberikan pengertian.
Sepele, ya? Jika hanya sepele kenapa gadis tadi menatap Rika tajam tak lupa aura permusuhan yang dikeluarkannya? Sebenarnya, apa yang terjadi? Rasanya kepala Rika seakan pecah saat itu juga hanya karena memikirkan masalah yang tidak dia ketahui penyebabnya itu.
Gadis itu tersentak saat Vino tiba-tiba mengelus rambutnya.
__ADS_1
“Kamu beneran mau tahu masalah ini?” tanya Vino yang langsung mendapat anggukan antusias dari Rika.
Vino menarik napas panjang, sebelum menghembuskannya secara perlahan.
“Gadis yang tadi ke sini itu Arin dan Lala. Mereka sahabat dari mantan aku.”
“Pacarannya kapan?” tanya Rika.
“Maaf, Rik. Sebelum lo kembali ke sini, gue sempat jalin hubungan sama sahabat mereka, namanya Tasya.”
Rika segera menoleh, menatap Vino dengan kecewa. Tanpa banyak kata, dia segera bangkit dari duduknya—berlari menuju taman sekolah. Kenapa harus selingkuh? Tak cukupkah hanya Rika saja yang berada di hati Vino? Rika mendudukkan dirinya di bangku taman sambil menutup wajahnya dengan kedua belah tangan.
“Rika, dengerin penjelasanku dulu,” ucap Vino, mendudukkan diri di sebelah gadis itu.
Rika mengangkat kepalanya, dia menatap Vino dengan wajah berurai air mata.
“Penjelasan apalagi, Vin?”
“Aku nggak pernah suka sama dia, aku pacaran sama dia cuma karena tantangan dari Putra doang,” jelas Vino.
Rika segera menatap Vino tajam. “Kamu kira perasaan seseorang itu cuma buat mainan? Cuma buat menuhin tantangan? Iya?!” Rika menghentikan ucapannya, dia mengusap kasar air matanya. “Enggak, Vin. Perasaan itu fitrah dari Tuhan. Kamu nggak bisa seenaknya mainin perasaaan, apalagi itu cewek. Aku kecewa sama kamu, Vin!”
Rika segera beranjak dari duduknya, meninggalkan Vino yang mengusap wajahnya frustasi.
🎀
Vino menghentikan motornya tepat di pinggir jalan. Hari ini, dia berniat berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir sang mama. Vino melepas helmnya—menggantungkannya ke spion motor. Dengan wajah datar, Vino melangkah memasuki lebih dalam area pemakaman umum sambil membawa setangkai mawar.
Dia kembali menghentikan langkah tepat di depan makam sang mama. Vino berjongkok, dia meletakkan bunga yang dia bawa di atas makam.
“Assalamu'alaikum, Mama. Vino datang lagi. Vino mau cerita sama mama.” Vino menarik napas pelan. “Maafin Vino, Ma. Vino udah nyakitin dua gadis yang pernah melukis kebahagiaan di hidup Vino. Maafin Vino, Ma. Vino tahu Vino salah, tapi Vino juga nggak tahu akhirnya bakalan jadi begini,” lirih Vino.
Wajah yang tadinya datar kini dengan perlahan mulai meneteskan air mata. Vino tak dapat berpura-pura kuat di hadapan sang Mama. Dia akan menampilkan juga bercerita apapun apa yang dia rasa, meski hal kecil sekalipun.
Vino memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Angin itu seolah mengisyaratkan bahwa sang mama ada di sampingnya—mendengar segala keluh kesahnya.
“Maafin Vino, Ma,” ucap Vino sekali lagi sambil mengusap nisan sang mama. Pria itu mulai mengangkat kedua belah tangannya di depan dada dan mulai membaca doa untuk kebahagiaan mamanya di sana.
To be continue ....
__ADS_1