Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 42


__ADS_3

Happy Reading


Saat ini Gilang dan keluarga kecilnya nampak asik bersantai diruang keluarga. Sedari tadi Gilang tiada hentinya ingin bermanja dengan isterinya yang sedang menggendong Gita.


"Mas, udah dulu ya. Kamu lagi kenapa sih, tumben manja banget hari ini?" tanya Tasya penasaran.


Gilang hanya menggeleng, lalu mengeratkan pelukannya di pinggang Tasya. Ia juga menyandarkan kepalanya di bahu isterinya.


Gilang pun tak tahu, entah kenapa hari ini ia selalu ingin bermanja dengan Tasya. Ia hanya ingin berdekatan dengan Tasya dan menghirup aroma vanila yang mengguar dari tubuh Tasya.


Mungkin karena esok ia harus terbang menuju Singapura guna mengurus perjalanan bisnis perusahaan mereka. Sehingga mengharuskannya meninggalkan isteri dan anaknya di rumah sendirian. Walau sebenarnya, jika Tasya mau Tasya bisa terlebih dahulu tinggal bersama dengan orang tua wanita itu sampai Gilang menyelesaikan bisnisnya di Singapura.


Namun, karena sangking keras kepalanya, isterinya itu tidak mau menginap kemanapun, ia hanya ingin di rumah. Entahlah, padahal ia hanya tak ingin Tasya merasa kesepian, ya walaupun sekarang sudah ada anak mereka yang menemaninya. Namun, tetap saja Gilang masih terus mengkhawatirkan keadaan keduanya nantinya.


"Yang, besok nginep tempat bunda aja ya sampai aku pulang. Aku cuma takut ninggalin kamu di rumah sendirian. Apalagi sekarang kamu harus ngurusin Gita yang baru berumur 2 bulan," tutur Gilang.


Seiring berjalannya waktu, tak terasa kini usia anak mereka sudah berusia 2 bulan.


Tasya menggeleng lalu tersenyum,


"Gak papa mas, ih. Kanmas cuma 2 hari di sana, gak lama. Jadi gak papa, nanti sesekali aku main ke rumah bunda kalau aku bosen di rumah."


Gilang hanya bisa menghela nafas. Gilang hanya takut akan apa yang terjadi besok. Entah kenapa rasa takut terus menjalar di hatinya sejak bangun tidur tadi. Ia hanya takut jika besok, ah sudahlah. Gilang menggelengkan kepala guna mengusir pikiran-pikiran negatif yang sedari tadi hinggap di kepalanya.


"Kamu kenapa, mas geleng-geleng gitu?" tanya Tasya melirik sekilas ke arah Gilang lalu kembali menyusui Gita.


Gilang menggeleng,


"Aku gak habis pikir aja sama kamu. Keras kepala banget kamu tuh, Sya. Akukan cuma gak mau kamu nanti kerepotan sendirian di rumah?"


"Terus kalau aku di rumah bunda sama aja kan ngerepotin bunda?"


Gilang terdiam, apa yang di katakan oleh Tasya memang benar. Tapikan tetap saja, ia tak dapat meninggalkan Tasya sendirian. Ini kali pertamanya ia meninggalkan Tasya untuk perjalanan bisnis keluar negara selama pernikahan mereka.


Biasanya, jika ada bisnis keluar negeri maka ia akan meminta asistennya untuk mengurusnya. Namun, karena asistennya tidak dapat menggantikannya yang di sebabkan oleh kendala, hingga mau tak mau Gilang-lah yang harus turun tangan.


...🎀...


"Sya, tinggal di rumah bunda dulu ya?" Entah sudah berapa kali Gilang mengatakan hal ini kepada Tasya pagi ini.

__ADS_1


Tasya menghela nafas pelan lalu meletakkan Gita di atas ranjang mereka. Ia memegang kedua pundak Gilang lalu menatap mata suaminya itu.


"Mas, tenang aja. Aku gak papa tinggal di sini selama kamu di luar. Lagiankan, udah ada Gita jadi aku gak kesepian lagi. Udah ya, kamu gak usah khawatir. Lebih baik sekarang kamu bawa barang kamu ke mobil, bentar lagi kamu bakalan take off, mas!"


Gilang hanya mengangguk pasrah. Ia bangkit dari duduknya lalu menarik kopernya keluar kamar. Di ikuti oleh Tasya di belakangnya sambil menggendong Gita.


"Kamu beneran gak papa aku tinggal sendirian? Apa kamu mau tinggal di rumah bunda, biar aku anterin dulu?"


Tasya menggeleng,


"Gak usah, mas. Kamu hati-hati di sana ya, jangan lupa kabarin kalau udah mau take off  terus jangan lupa juga kalau udah sampai. Terus jangan lupa makan, pokoknya kamu harus jaga kesehatan terus."


"Kamu juga jaga kesehatan ya, Sya. Istirahat ya cukup, kalau kamu bosen di rumah sendirian kamu boleh minta Arin temenin kamu di rumah. Jaga rumah ya. Doakan pekerjaan aku cepat selesai." Gilang mengecup kening Tasya lama, mencoba menghilangkan kekhawatirannya.


Kemudian, ia beralih mencium pipi anak gadisnya,


"Jaga bunda ya, Git. Jangan nakal ya, sayang!"


"Aku berangkat dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" Tasya melambaikan tangannya ke arah Gilang. Ia masih berdiri di depan gerbang rumahnya, menunggu taksi yang dikendarai Gilang tak terlihat oleh matanya.


...🎀...


Ya, kakak ipar Tasya adalah Arin. Arin dan Alvan telah menikah sejak dulu saat usia kandungan Tasya masih 7 bulan.


"Sya, lo bisa duduk gak, sih? Pusing sendiri gue lihatin lo mondar-mandir gak jelas kaya setrikaan. Lo kenapa, sih?" tanya Arin dengan nada kesal.


Tasya menggeleng,


"Gue gak papa, Rin. Tapi entah kenapa gue kepikiran terus sama bang Gilang. Gue lagi khawatir sama suami gue, Rin. Kenapa sampai saat ini belum ngabarin gue juga, harusnya"


Tasya kembali memandang layar ponselnya yang sedari tadi ia pegang. Ia berharap Gilang mengabarinya sekarang. Jika di lihat dari jadwal, harusnya pesawat yang akan Gilang tumpangi akan take off  beberapa menit lagi. Namun, sampai saat ini Gilang belum juga memberinya kabar.


Tiba-tiba ponsel Tasya menyala. Tasya memandang layar ponselnya yang menampilkan nomor tak dikenal sedang menelponnya. Tasya melirik sekilas ke arah Arin sebelum mengangkat teleponnya.


"Halo, siapa ya?"


"Halo, dengan keluarga pak Gilang Arvito Louis?" tanya seseorang wanita di seberang sana.

__ADS_1


"Iya, saya isteri dari Gilang. Ada apa ya?" tanya Tasya sambil melirik Arin yang nampak penasaran.


"Begini, bu. Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa suami ibu mengalami kecelakaan sekitar setengah jam yang lalu. Saat ini suami ibu sudah ditangani di rumah sakit Bakal Sehat."


Deg


Tasya menjatuhkan ponsel yang ia pegang di atas marmer rumahnya. Untung saja ponselnya bukan ponsel murahan, sehingga tahan banting. Oke, lupakan ini bukan saatnya untuk mengurus harga ponsel yang Tasya pakai, ada yang lebih penting untuk di bahas.


Tubuh Tasya seketika terasa lemas hingga ia terduduk di atas sofa masih dengan wajah cengonya. Air matanya mengalir secara tiba-tiba.


Kejutan apa lagi ini Ya Allah? Batin Tasya.


"Kenapa, Sya?" tanya Arin, ia memandang ke arah Tasya dengan raut wajah khawatir.


"Suami gue, Rin. Mas Gilang!"


"Iya, bang Gilang kenapa?"


"Mas Gilang kecelakaan, Rin!" Tasya semakin terisak.


Untuk beberapa saat Arin terdiam, ia sedang mencerna apa yang baru saja ia dengar. Hingga detik berikutnya, tangisan Gita terdengar nyaring. Mungkin, bayi mungil itu ikut bersedih atas apa yang menimpa ayahnya.


Dengan cepat Arin menenangkan Gita, setelah Gita tenang ia mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi suami dan mertua serta sahabat-sahabatnya.


Selesai dengan kegiatannya, Arin segera merangkul bahu adik iparnya mencoba menyalurkan kekuatan tak kasat mata. Sejujurnya, ia ingin memeluk Tasya. Namun, keadaan tak memungkinkan, karena saat ini masih ada Gita di gendongannya.


Arin segera memesan taksi online. Lalu membawa Tasya menunggu di depan rumah. Jujur saja, ia ikut bersedih atas kejadian yang menimpa adik ipar sekaligus sahabatnya ini. Bagaimana pun juga, sesama wanita pasti tahu rasanya saat mendengar orang yang kita sayangi mengalami musibah.


Namun, kembali lagi. Mungkin ini sudah jalan takdir yang Tuhan berikan. Mungkin juga, ini ujian untuk Tasya sekeluarga. Semoga Tasya sekeluarga diberikan kelapangan hati dalam menerima cobaan yang Tuhan berikan kepada keluarga mereka, amin.


...(个_个)To_Be_Continue(个_个)...


Hiks, ada yang nangis gak? Sedih tahu rasanya. Sebentar lagi cerita ini bakalan tamat. Pokoknya, Ikuti terus Matahari Ditengah Hujan Deras. Agar kalian tidak ketinggalan bagaimana kisah perjalanan cinta seorang Natasya Quiella😉.


Yang tabah ya, Sya! Aku suka melihat air matamu. Dasar psyco, wkwk bercanda kawan.


^^^Salam sayang^^^


^^^Dari Author Bocil^^^

__ADS_1


^^^Salam manis^^^


^^^Sembuluh, 1 April 20211^^^


__ADS_2