Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Extra Part


__ADS_3

Happy Reading❣


“Bunda!” teriak seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang tengah memandang kesal ke arah balita laki-laki berumur lima tahun yang duduk di hadapannya dengan wajah imutnya.


Balita itu sungguh terlihat tak peduli dengan teriakan menggema kakaknya yang memanggil sang bunda. Seolah tak bersalah, dia malah tampak makin asik mencoret-coret kertas dengan crayon milik kakaknya.


Tak lama kemudian, wanita berumur kepala tiga itu datang dengan dua gelas susu di atas nampan di tangannya sambil melangkah menghampiri mereka.


“Kenapa sih, Kak?” tanya wanita itu sambil meletakkan nampan yang  dibawanya di atas meja kaca.


Wanita itu mendudukkan dirinya di antara anak-anaknya yang tengah duduk di atas karpet bulu di ruang keluarga.


“Kenapa, Kak?” tanya wanita itu mengulangi pertanyaannya.


Gadis yang ditanya itu segera menatap wanita itu, dia bergeser mendekati bundanya lalu bergelayut di lengan bundanya dengan wajah cemberut.


“Gino nakal, Bun!” adu gadis itu sambil menunjuk ke arah adiknya yang menatap polos ke arah mereka. “Dia ganggu aku, Bun!”


Wanita itu menoleh ke anak gadisnya, dia mengelus puncak kepala gadis itu.


“Memangnya adik gangguin kamu apa, Git?”


Gadis yang dipanggil Gita itu merebut kasar kertas yang masih dicoret-coret oleh sang adik lalu menunjukkannya kepada sang bunda.


“Lihat, Bun. Gambaran aku dicoret-coret sama Gino. Padahalkan ini tugas yang harus di kumpulkan besok,” ucap gadis itu, menjelaskan masalahnya dengan raut wajah yang semakin terlihat kesal.


Tiba-tiba seorang pria yang seumuran dengan wanita yang mereka panggil bunda datang menghampiri mereka, masih dengan pakaian kantor yang melekat di tubuhnya, juga tas kerja yang dia tenteng di tangannya. Pria itu baru saja pulang dari kantornya.


“Assalamualaikum!” sapa pria itu, ikut mendudukkan dirinya di antara keluarga kecilnya.


Rasa lelahnya terasa lenyap saat melihat keluarga sedang berkumpul seperti ini. Juga rasa bahagia yang terus meluap-luap melihat wajah-wajah keluarga yang dia sayangi. Tak lupa, puji syukur terus dipanjatkan kepada Sang Pencipta, yang telah memberinya keluarga seharmonis ini.


“Wa'alaikumsalam, Mas!” Wanita itu bergeser dari duduknya, dia mendekati suaminya itu sambil mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan suaminya, diikuti oleh kedua anaknya. Lalu beranjak dari duduknya, melangkah menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk suaminya.


Ada yang tahu mereka siapa? Yups, benar tebakan kalian. Mereka adalah Tasya, Vino dan kedua anak mereka. Tiga bulan setelah kepergian Gilang, mereka melangsungkan pernikahan seperti apa yang diwasiatkan oleh Gilang.


Perusahaan yang sempat dipegang Gilang, kini mulai diambil alih oleh Vino sebagai anak kedua dari keluarga Louis. Selama pernikahan, mereka dikarunia anak laki-laki tampan—ketika Gita sudah berumur 4 tahun—yang mereka beri nama Argino Afzino Louis, atau akrab disapa Gino.


“Kakak kenapa nih, kok mukanya cemberut sih?” tanya Vino sambil menjawil gemas hidung Gita.


“Gino nama, Pa. Dia gangguin aku menggambar, lihat." Gita mengulurkan lembar kertas yang sempat dia lihatkan kepada sang bunda kepada papanya lalu melanjutkan kalimatnya. Gambaran aku dicoret, Pa. Padahal besok harus dikumpul!”


Vino tersenyum, dia mengalihkan pandangannya ke arah Gino yang menunduk takut. Bocah itu tak berani menatap papanya.


“Gino!” panggil Vino dengan pelan namun terdengar tegas.


Dengan perlahan, Gino mulai mengangkat wajahnya. Mata kecilnya menatap sang papa dengan mata berkaca-kaca.


“Gino sayang. Papa mau tanya. Boleh ‘kan?” tanya Vino sambil mengangkat Gino ke pangkuannya. Gino mengangguk pelan.


“Kenapa, Gino coretin gambar Kak Gita?”


Gino semakin menundukkan wajahnya. Papanya memang tidak menghukumnya, tapi entah kenapa setiap dihadapkan dengan sang papa dalam keadaan dirinya yang bersalah, nyalinya pasti mendadak menciut.


Vino mengulurkan tangannya, mengangkat dagu anaknya itu agar menatap matanya,


“Gino, jawab Papa!”

__ADS_1


Mata yang tadinya berkaca-kaca kini dengan perlahan mulai menumpahkan air matanya. Gino menatap takut-takut ke arah Vino yang memasang wajah tegasnya.


“Maaf, P—pa. Gino cu ... cuma nggak suka diabaikan. Kakak lebih fokus sama gambarannya dari pada Gino. Gino panggil aja, kakak nggak mau nyahut,” sahut Gino diselingi dengan isakannya.


“Tapi ....”


Vino segera mengarahkan jari telunjuk ke bibirnya sambil menatap anak perempuannya saat mendengar Gita mulai menyuarakan protesnya, seolah mengisyaratkan agar Gita untuk diam terlebih dahulu.


“Gino, dengerin Papa. Kakak bukan mengabaikan kamu, Kakak cuma lagi menyelesaikan tugasnya. Gino nggak mau ‘kan kakak dihukum gara-gara nggak ngerjain tugas?”


Gino menggeleng pelan.


“Gino nggak mau kakak dihukum, Pa.”


Vino mengangguk.


“Nah, makanya kalau Kakak lagi ngerjain tugas jangan diganggu lagi, ya. Kamu bisa main sama Kakak kalau Kakak sudah menyelesaikan tugas sekolahnya. Atau nggak, selagi menunggu kakak selesai, kamu bisa main robot-robotan atau mobil-mobilan, atau kalau lebih bagusnya, Gino ikut belajar.”


Tasya yang baru saja datang dengan secangkir kopi di tangannya tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan suaminya itu. Tasya tak menyangka, Vino yang dulunya bodo amat dengan keadaan sekitar kini setelah berkeluarga dia bisa menjadi lebih dewasa dan menjadi panutan untuk anak-anak mereka dan dirinya.


Tasya melanjutkan langkahnya, masih dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Dia mengulurkan cangkir kopi yang dia bawa ke arah suaminya. Vino tersenyum sambil menerimanya, menyesap kopinya lalu memberikannya kembali kepada Tasya.


“Gino, mending ikut Bunda, yuk. Bunda punya kue brownis, Kakak biar di sini menyelesaikan tugas menggambarnya,” ucap Tasya sambil tersenyum, dia mengulurkan tangannya ke arah Gino yang disambut dengan baik oleh anak itu. Keduanya mulai melangkah menjauhi mereka.


Vino mengamati punggung istri dan anaknya yang semakin tak terlihat di balik dinding yang menjadi pembatas antara dapur dan ruang keluarga. Vino mengalihkan agensinya pada anak perempuannyayang sesungguhnya adalah keponakannyayang mulai kembali asik menggoreskan pensil di atas kertas baru.


“Papa mandi dulu, ya. Nanti Papa temenin kamu,” ucap Vino, menyempatkan diri mencium kening Gita lalu menepuk pelan kepalanya.


Gita hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Seperginya sang papa, Gita mulai kembali sibuk dengan kegiatannya.


...🎀...


Merasa tak menemukan keberadaannya, Vino mendudukkan dirinya di atas ranjang, masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang berceceran entah di mana. Setelah cukup, Vino mulai membersihkan diri.


Tak butuh waktu lama, kini Vino telah merasa lebih segar dari sebelumnya. Saat ini, dia hanya menggunakan kaos berwarna army dengan celana rumahan. Langkah kakinya membawa Vino keluar dari kamarnya. Perlahan, dia mulai menutup pintu kamar lalu melanjutkan langkahnya. Vino menghampiri sang Istri yang tampak sibuk dengan aktivitasnya di dapur. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman.


Sementara Tasya, dia sedang disibukkan menyeduh dua gelas susu hangat juga kopi untuk anak dan suaminya. Tiba-tiba, Tasya tersentak saat mendapati sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Aroma ini, aroma yang sudah sangat dia hapal. Tanpa membalikkan badan pun, Tasya sudah tahu siapa pria yang sedang memeluknya dari belakang dengan kepala yang di taruh di pundak Tasya yang terhalang khimar berwarna silver ini. Siapa lagi kalau bukan suaminya?


Tasya tersenyum, mengelus lembut tangan Vino yang melingkar di perutnya. Vino ikut tersenyum, dia semakin mengeratkan pelukannya tak lupa menyematkan sebuah kecupan ringan di pipi Tasya.


“Mas, panggil anak-anak sana, suruh mereka turun kita sarapan,” suruh Tasya sambil berusaha melepaskan tangan Vino dari pinggangnya.


Vino mengangguk, tak membantah. Walau sejujurnya, keinginannya berbanding terbalik dengan kelakuannya. Dia masih ingin lebih lama memeluk istrinya. Namun, apa boleh buat, Vino tak dapat membantah perintah sang istri. Dia merasa cintanya terlalu besar untuk Tasya. Jujur saja, Vino bahkan sempat menyesal karena dulu pernah menyia-nyiakan wanita sebaik Tasya. Wanita yang sekarang menjadi cinta matinya.


Tak hentinya, Vino menyuarakan isi hatinya. Tuhan itu baik, bahkan saat dirinya terus melakukan kesalahan, Tuhan tak ragu memberinya cobaan yang membuatnya bisa belajar untuk lebih bersyukur dengan apa dimiliki. Seperti saat ini, dia bersyukur, Tuhan menyatukan dirinya dan Tasya dalam ikatan yang sah di mata agama dan negara.


Vino menghentikan batinnya saat dirinya sudah berdiri di depan pintu kamar berwarna cokelat tua. Dengan perlahan, tangannya mulai mengetuk pintu itu.


“Gino, Bunda sudah panggil!”


Beberapa menit kemudian, Gino muncul sambil memegang kusen pintu lalu mengangguk singkat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gino berlalu dari hadapan Vino. Melenggang santai dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana.


Vino hanya mampu menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan kelakuan anak berusia lima tahun itu. Ada-ada saja kelakuannya. Bertingkah sok coll layaknya pria dewasa. Sebenarnya, kelakuan siapa yang ditiru oleh anak kecil itu?


Vino kembali melangkah ke kamar sebelah, tepat di depan sebuah kamar dengan pintu berwarna cokelat muda lalu mengetuknya.


“Gita, Bunda udah manggil!” Suara Vino sedikit keras.

__ADS_1


Tak lama kemudian, gadis yang dipanggilnya itu membuka pintu. Dia tersenyum manis ke arah Vino.


“Selamat pagi, Papa!” sapa gadis itu sambil tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya.


“Selamat pagi juga, sayang. Turun yuk, Bunda sama adik udah nungguin di meja makan,” ucap Vino membalas senyum anak gadisnya itu.


Gita mengangguk, dia mengapit lengan sang papa. Keduanya mulai melangkah menuruni tangga dengan diselingi candaan atau sekadar Vino yang bertanya soal sekolah Gita.


Di meja makan, sudah ada Tasya yang nampak mengacak pelan rambut si bungsu. Gita mulai mendudukkan dirinya di depan Gino dengan tatapan tajamnya. Aura permusuhan masih kentara diperlihatkan oleh Gita. Namun, Gino tak acuh dan malah memilih asik bercerita dengan sang bunda, mengabaikan tatapan tajam yang dilayangkan sang kakak kepadanya.


Tasya terdiam, menatap bergantian anak-anaknya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan keduanya.


“Kalian masih berantem?” tanya Tasya memandang anak-anaknya yang seketika menunduk dalam


“Kalian masih marahan, gara-gara kemarin?” Kini sang kepala keluarga mulai bersuara.


Kedua orang dewasa itu menghela nafas saat kedua anaknya hanya diam tak menyahut.


Tasya berdiri dari duduknya, dia meraih tangan Gino dan tangan Gita lalu mengaitkannya.


“Mama nggak bakalan kasih kalian uang jajan kalo kalian nggak mau saling memaafkan!” ancam Tasya, aura khas galak keibuan mulai terlihat.


Gita dan Gino mengerjapkan mata, lalu menggeleng cepat secara bersamaan.


“Jangan, Bunda!”


“Makanya saling memaafkan!” ulang Tasya.


Kedua bocah itu sebelum saling mengangguk.


“Maafin Gino ya, Kak!”


Gita mengangguk.


“Kakak juga minta maaf.” Kedua tersenyum lalu mulai melakukan tos ala-ala mereka.


“Nah, mumpung hari ini hari libur. Nanti kita main ke rumah Oma dan Opa,” celetuk Vino yang dihadiahi senyum sumringah dari kedua anak itu.


Usai sarapan, keluarga kecil itu mulai melangkah menaiki mobil, tujuan mereka saat ini adalah rumah orang tua Tasya. Selama perjalanan di isi dengan ocehan Gita dan Gino.


Tasya menatap keluarganya secara bergantian dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Semuanya kesedihan sudah berlalu, luka yang sempat hadir kini telah digantikan dengan senyum yang tiada habisnya.


Segala bentuk kehancuran kini perlahan mulai tergantikan dengan rasa kebahagiaan yang tiada henti. Benar, semua ada hikmahnya. Dibalik ujian yang Tuhan berikan, tersimpan berjuta makna yang begitu berharga tanpa sering mereka sadari. Juga luka yang mengajarkan apa itu arti kebahagiaan yang sesungguhnya.


Semua akan terasa ringan, tergantung bagaimana cara kita menanggapinya. Semuanya ada timbal baliknya.


Semoga saja, keluarga ini akan selalu di limpahkan segala kebahagiaan, rahmat, nikmat dan karunia dari-Nya, aamiin.


Mas Gilang, aku sudah bahagia. Janjiku sudah terpenuhi. Kuharap, kamu di sana ikut bahagia seperti apa yang aku rasa. Kuucapkan terima kasih pada Tuhan, terima kasih pada dunia, dan semua orang yang selalu ada untukku selama ini. Berkat kalian, aku menjadi lebih tahu bagaimana cara mensyukuri sekecil apa pun hal yang kita miliki.


Tuhan pasti memiliki rencana untuk membuat umatnya bahagia. Tuhan itu baik, meski sebanyak apapun kamu melakukan kesalahan, pintu maaf dan pintu taubat tak pernah tertutup untuk semua umatnya.


Kebahagiaan itu hadir kala kita benar-benar bisa bersyukur dengan apapun hal yang kita miliki. Tidak perlu mencari hal yang mewah, jika hal sederhana bisa membuat kita bahagia.


Terima kasih kepada kalian semua yang telah menyempatkan waktu untuk membaca kisah hidupku.


Dari Natasya Quiella Natapraja

__ADS_1


Untuk kalian semua


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=(⊙☁Selesai☁☉)\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_2