Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 19


__ADS_3

Happy reading❣


“Percayalah, aku di sini menunggumu datang kembali, sampai kapanpun itu. Hatiku masih milikmu, entah sekarang, esok atau nanti. Semoga Tuhan merestui hubungan kita.”


~Arvino Afriza Louis~


“Makasih, Sya,” ucap Vino tulus.


“Iya sama-sama, lain kali kalau udah tahu mau hujan neduh dulu jangan main terobos," tutur Tasya, kembali mengulang kalimatnya. "Oh iya, hari ini lo nggak perlu kerja dulu. Gue udah bilang sama bang Al kalau lo lagi sakit. Sekarang lo tidur dulu,” lanjut Tasya.


Vino mengangguk, dia merebahkan diri di atas paha Tasya. Ini untuk kedua kalinya Vino menggunakan paha Tasya sebagai bantalan. Pertama waktu mereka berada di rooftop dan untuk kedua kalinya adalah ini.


Tasya mengusap lembut kepala Vino. Dia tersenyum menatap wajah damai Vino saat tertidur.


🍒


Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Yang artinya, teman-teman Tasya sudah pulang dari sekolah. Tasya meraih ponsel yang berdering di sampingnya. Terpampang jelas nama Arin di sana.


“Halo, Rin ada apa?” tanya Tasya setelah memencet icon hijau di layar ponselnya.


“Bukain pintu apartemen Vino dong. Ini gue, Lala, sama teman-teman Vino udah ada di depan pintu apartemen Vino.”


“Oh iya, tunggu sebentar gue ke sana.” Tasya mengakhiri teleponnya dengan Arin.


Tasya memindahkan kepala Vino dari pahanya pelan-pelan, menggantikannya dengan bantal yang berada di ranjang Vino. Setelah memastikan Vino masih tertidur, Tasya segera pergi membukakan pintu untuk teman-temannya.


“Udah lama?” tanya Tasya memandang teman-temannya satu-persatu yang masih menggunakan seragam khas sekolah mereka masih berdiri di depan pintu.


“Baru aja kok, Sya,” sahut Rangga yang dibalas anggukan oleh yang lainnya.


“Ya udah ayo masuk, Vino-nya lagi tidur.” Tasya masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Arin dan yang lainnya dibelakangnya.


“Oh iya, Sya. Lo tadi di cariin sama Bang Al,” ucap Arin sambil mendudukkan dirinya di sofa.


“Kenapa katanya?”


Arin mengangkat bahunya singkat. “I don't know, gue nggak tanya. Tadi cuma gue jawab kalau lo pergi ke apartemen Vino gitu doang, abis tuh Bang Al pergi.”


Tasya hanya mengangguk sejenak lalu ikut mendudukkan dirinya di samping Lala.


Sementara di kamar Vino. Putra sedang asik menoel-noel pipi Vino. Merasa terganggu, Vino pun mengerjapkan matanya, menatap siapa yang dengan berani menganggu waktu tidurnya.


“Ngapain kalian di sini?” tanya Vino setengah sadar dari tidurnya.

__ADS_1


“Pakai nanya lagi, kita mau jenguk lo-lah kampret,” sahut Rangga dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


Vino mengangguk paham. “Tasya ke mana?”


“Tuh, di depan sama kedua sahabatnya.”


Vino bangkit dari duduknya, menghampiri Tasya yang asik bercerita dengan kedua sahabatnya, disusul oleh Rangga dan Putra di belakangnya.


“Sya!” panggil Vino, dia ikut duduk di samping Tasya setelah Lala pindah menjadi di samping Arin.


“Lo udah bangun, Vin?”


Vino mengangguk sebagai jawaban, dia menyandarkan kepalanya di bahu Tasya lalu memejamkan matanya barang sejenak.


“Ehem, ehem. Ingat ada orang lain woe di sini!” tegur Rangga mengusap tenggorokannya sambil memandang langit-langit apartemen.


“Bacot!” seru Vino menegakkan dirinya.


“Btw lo punya makanan apa di sini, Vin? Gue lapar nih.”


“Sono lihat di kulkas ada apaan,”


“Gimana kalau kita yang perempuan masak, nanti kalau udah selesai kita baru makan bersama,” usul Tasya memandang teman-temannya satu persatu.


Putra menjentikkan jarinya. “Ide bagus, buruan masak gue udah lapar.”


🎀


"Vin, gue pulang dulu ya, ini udah sore soalnya," ucap Tasya sambil melirik jam yang melingkar di lengan kirinya.


Vino mengangguk. “Maaf ya, gue cuma bisa ngantar sampai sini soalnya gue masih pusing.”


“Ya udah nggak papa, gue pulang dulu oke.” Setelah mendapat jawaban dari Vino, Tasya segera pergi meninggalkan apartemen Vino untuk kembali ke rumah.


Baru saja hendak menutup pintu, tiba-tiba seseorang memanggil nama Vino.


“Vin!”


Suara itu sepertinya Vino kenal baik dengan pemilik suara itu, demi mengobati rasa penasarannya Vino membalikkan badannya, menoleh mencari dari mana suara itu berasal. Vino memicingkan matanya, menatap pria paruh baya yang sedang berjalan menghampirinya.


“Kenapa?” tanya Vino tanpa mau memandang seseorang yang diajaknya berbicara.


“Pulang ke rumah ya, Nak. Papa janji nggak bakalan beda-bedain kamu sama abangmu lagi.”

__ADS_1


Ya, pria paruh baya itu adalah papa Vino, Bagas. Tampaknya Bagas baru saja pulang dari kantor, dilihat dari pakaian yang dikenakannya.


“Bukannya Papa yang nyuruh Vino buat keluar dari rumah itu?”


“Papa tahu kalau Papa salah. Sekarang, kamu pulang ya, sayang,” ucap Bagas dengan tampang bersalahnya.


Jika boleh jujur, sebenarnya Vino juga rindu dengan suasana rumahnya. Dia juga ingin kembali ke rumah itu.


“Pulang ya, Nak. Papa janji tidak akan menuntut kamu menjadi seperti apa yang Papa inginkan.”


Vino memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.


Dia harus bisa memperbaiki hubungan keluarga dengan papa juga abangnya. Hanya kedua pria itu yang saat ini dia punya. Vino tak mau kehilangan dua pria yang dia sayang hanya karena keegoisannya. Vino tak sanggup melihat tatapan kecewa mamanya nanti.


“Baik, Vino akan pulang, tapi jika Papa masih saja membeda-bedakan Vino dengan Bang Gilang, maka Vino akan pergi dan tak akan pernah kembali.”


Bagas tersenyum lebar lalu mengangguk mantap. “Papa janji, Nak.”


Bagas dan Vino langsung berpelukan ala pria. Mereka saling menumpahkan air mata kerinduan antara seorang ayah dan anak.


“Vino beresin barang-barang Vino dulu, Pa,” ucap Vino melepaskan dirinya dari pelukan sang papa.


“Kamu sakit, Vin. Kenapa badan kamu hangat?” tanya Bagas menempelkan punggung tangannya di dahi Vino.


“Iya, tapi sekarang udah agak mendingan kok, Pa. Ya udah Vino mau beresin barang-barang Vino dulu.”


“Barang-barang kamu biar orang papa yang ngurus, sekarang ayo kita pulang, kamu butuh istirahat.”


Akhirnya, Vino hanya mengangguk pasrah. Mereka berdua pun pergi meninggalkan apartemen Vino, kembali menuju rumah mereka.


Setelah tiba di rumah, Vino segera melangkah memasuki kamar yang sudah satu bulan Ini tidak ditempati. Dia merebahkan dirinya di ranjang kesayangannya.


Tangannya terulur meraih bingkai foto yang dia taruh di lemari kecil dekat ranjangnya.


“Lo sekarang di mana, Rik? Kapan lo balik lagi ke sini? Gue kangen sama lo,” monolog Vino sambil mengusap bingkai foto. Di dalam bingkai foto itu terdapat dirinya dan seorang perempuan seumuran dirinya sedang tersenyum manis.


Foto itu di ambil sebulan sebelum Vino menjadikan Tasya sebagai pacaran karena tantangan dari Putra.


Vino menatap langit-langit kamarnya. Pria itu masih bingung bagaimana perasaannya terhadap Tasya. Sudah cinta atau masih pelampiasan?


Namun, jika mengingat betapa bahagianya dia berada di sisi Tasya apakah sudah bisa di sebut bila dia jatuh cinta? Ah tidak, dia hanya mencintai Rika dan Rika akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang dia cintai setelah sang mama.


“Gue berharap lo bakalan balik lagi ke sini, kitA mulai kisah yang bahkan belum pernah berakhir,” gumam Vino.

__ADS_1


“Enggak ada yang bisa gantiin posisi lo di hati gue. Lo itu cinta pertama gue dan gue harap lo juga jadi yang terakhir.” sekali lagi lalu memejamkan matanya sambil perlahan menutup matanya.


To be continue ....


__ADS_2