Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 38


__ADS_3

Happy Reading❣


Kehidupan rumah tangga yang selalu dalam keadaan baik-baik saja adalah impian semua orang. Termasuk dua orang berbeda genre yang tampak saling bercanda ini.


Jika kalian bertanya mereka siapa? Maka, jawabannya mereka adalah Gilang dan Tasya. Pasangan yang baru menikah empat bulan yang lalu.


Saling mengisi, mempercayai, dan menyayangi adalah sesuatu yang sangat di perlukan dalam kehidupan rumah tangga. Tanpa itu semua, kehidupan rumah tangga akan ... err hancur, mungkin?


“Sebentar ya, Mas. Aku mau ke kamar sebentar aja, Mas tunggu di sini dulu,” ucap  Tasya.


Wanita berumur 19 tahun ini, nampak semakin cantik dengan balutan hijab berwarna cokelat pastel di kepalanya dan gamis berwarna maroon yang melekat di tubuhnya.


Setelah mendapat anggukan dari suaminya, Tasya segera melangkah menuju kamar mereka dengan sedikit berlari. Dia tak sabar memberitahukan berita baik kepada pria yang sangat dia cintai saat ini.


Usai mengambil sesuatu yang menjadi tujuan awalnya. Tasya membalikkan badannya, dia kembali melangkah menghampiri suaminya yang nampak sedang menunggunya.


Kedua lengannya dia letakkan di belakang, menyembunyikan sesuatu yang baru saja dia ambil beberapa menit lalu. Bibirnya tak henti menyunggingkan sebuah senyuman, membuat aura kecantikannya mengguar berkali-kali lipat, ini terdengar sedikit berlebihan, ah sudahlah biarkan saja.


“Kenapa sih, sayang. Kok senyum-senyum terus?” tanya Gilang heran, pasalnya dia perhatikan istrinya ini nampak terus tersenyum sejak tadi pagi.


Walau tak dapat dia pungkiri, bahwa dia ikut bahagia saat melihat istrinya bahagia. Apalagi jika alasan istrinya bahagia adalah karenanya.


“Itu juga kenapa, tangan kamu di taruh belakang, kaya lagi menyembunyikan sesuatu?” lanjutnya, penasaran.


“Mas, aku punya berita bagus!” pekik Tasya, mendudukkan dirinya di tempatnya tadi, masih dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


“Berita bagus apa sih, sampai buat kamu sebahagia ini?” Tangan Gilang terulur membelai kepala Tasya yang berbalut hijab.


Dengan perlahan, Tasya mengulurkan tangannya ke arah Gilang. Dia memperlihatkan sesuatu yang sedari tadi menjadi alasannya tersenyum.


Untuk beberapa saat Gilang nampak terdiam melihat apa yang ditunjukkan Tasya kepadanya. Otaknya masih belum koneksi dengan sebuah benda kecil yang ada di tangan Tasya.

__ADS_1


Hingga beberapa detik kemudian, dia mulai tersadar dari lamunan singkatnya. Matanya bergantian menatap istrinya lalu benda yang  berada di tangan istrinya lalu menatap istrinya kembali, sampai kekehan Tasya menghentikan aktivitas unfaedahnya.


“Kamu kenapa, Mas?” tanya Tasya, masih diiringi tawa kecil dari mulutnya.


“Kamu, hamil?” Bukannya menjawab, Gilang malah kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Gilang merutuki kebodohannya, sudah tahu jawabannya masih nanya lagi.


Tasya mengangguk, membenarkan tebakan dari Gilang. Detik berikutnya dia dibuat terkejut dengan kelakuan Gilang yang memeluknya secara tiba-tiba. Untung saja dia tak memiliki riwayat jantung, entah apa jadinya jika Tasya pernah mengidap penyakit jantung. Mungkin saat ini, Tasya akan mengalami stroke, yang menyebabkannya harus tinggal di rumah sakit. Ah, kenapa jadi membahas penyakit jantung? Sudah mari kita tinggalkan saja.


“Akhirnya yang ditunggu-tunggu akan hadir juga.” Sejenak Gilang menghentikan kalimatnya. Tangannya terulur mengusap lembut perut datar isterinya. “Adek baik-baik di sana ya, jangan nyusahin Bunda. Kami di sini menanti kehadiran kamu, sayang.”


Gilang sudah tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya. Jujur saja dia bahagia, ralat dia sangat bahagia. Gilang tak sabar menantikan kehadiran pangeran tampan atau putri cantik yang akan menambah kebahagiaan di hidupnya. Perempuan ataupun laki-laki, yang penting dia tak sabar menantikan kehadiran anak pertamanya.


Tak dia sangka, dia akan menjadi seorang ayah dalam waktu dekat. Gilang sangat bersyukur, Tuhan melimpahkan nikmat dan rahmatnya untuk Gilang sekeluarga. Memiliki Tasya dalam kehidupannya saja sudah membuatnya bahagia, apalagi jika ditambah dengan anak-anak yang menggemaskan. Ah, membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia, apalagi jika semua itu sudah terwujud. Mungkin, dia akan ikut jajaran pria paling bahagia di dunia ini.


“Oh, iya kamu pengen apa, sayang? Mau rujak, mangga muda, sate, atau mau apa?” tanya Gilang bertubi-tubi.


Tasya menggeleng. “Aku lagi nggak pengen apa-apa, Mas. Aku cuma lagi pengen berada di dekat kamu, udah itu aja.” Dengan perlahan Tasya menyenderkan kepalanya di bahu Gilang, sementara Gilang mengelus kepala Tasya dengan sayang.


Ya memang benar, Tasya tak sedang menginginkan apapun. Dia hanya ingin berada di dekat Gilang, sambil bermanja ria. Mungkin ini semua hormon kehamilannya atau memang karena Tasya yang tak ingin jauh dari suami tercintanya. Ah, biarkan saja, sudah halal ini.


Tasya hanya mengangguk tanpa mau membantah. Saat ini dia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan suami tercinta. Walau tak jarang dia menghabiskan waktu dengan Gilang selama seharian dengan Gilang akhir-akhir ini. Saking ingin dekatnya dengan Gilang, bahkan ia sampai rela menyusul Gilang di kantor.


Oh iya sampai lupa, kini Gilang telah bekerja di perusahaan Bagas, papa Gilang dan Vino jika kalian lupa. Dia menggantikan posisi papanya sebagai CEO di perusahaan keluarganya yang bernama Louis's Group itu, di sela-sela kesibukan kuliahnya.


Untuk Tasya, dia memutuskan untuk tidak kuliah. Tasya lebih memilih mengabdi kepada suaminya dan menjadi ibu rumah tangga di rumah.


Gilang kembali mendekap tubuh isterinya. Dia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kepala isterinya. Dia sangat menyayangi wanita yang telah sah menjadi istrinya sejak 4 bulan ini.


🎀


Sesuai rencana mereka tadi malam. Kini Gilang dan Tasya nampak sibuk bersiap-siap akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Tasya. Kemungkinan mereka juga akan mampir ke rumah orang tua Tasya sepulang dari rumah sakit nanti.

__ADS_1


“Ayo, Sya!” Gilang segera mengambil tangan Tasya lalu menggenggamnya. Tangan Tasya sangat pas di genggamannya.


Gilang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana mobil itu pun ikut diliputi oleh rasa bahagia yang terpancar dari pasangan muda yang sedang mengendarainya.


Tak butuh waktu lama, Gilang segera memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersedia di rumah sakit. Dia turun dari mobilnya lalu melangkah menuju pintu samping, membukanya mempersilahkan Tasya untuk keluar.


Gilang kembali menggenggam tangan Tasya. Lalu membawanya masuk ke dalam area rumah sakit. Dia melangkah menemui tantenya, yang memang bekerja sebagai dokter kandungan di rumah sakit ini.


“Assalamu'alaikum, Tante!” sapa Gilang setelah mendudukkan dirinya di depan seorang wanita paruh baya dengan jas putih khas dokter yang melekat di tubuhnya.


“Wa'alaikumsalam, kalian berdua apa kabar?” sahut Tante Anisa dengan ramah.


“Alhamdulillah baik, Tan. Oh iya, di sini Gilang mau ngecek kandungan istri Gilang.”


Tante Anisa mengangguk paham. Dia segera mempersilahkan Tasya untuk membaringkan diri di atas brankar yang tersedia di ruangan tante Anisa.


Setelah Tasya mengikuti apa yang instruksikan oleh Tante Anisa, Tante Anisa segera melakukan tugasnya. Usai memeriksa Tante Anisa kembali mempersilahkan Gilang dan Tasya untuk kembali duduk di tempat mereka tadi.


“Jadi bagaimana kondisi kandungan istri Gilang, Tan?” tanya Gilang tak sabaran. Maklumlah, ini kehamilan anak pertama mereka.


“Alhamdulillah, kondisi kandungan Tasya sangat baik. Saat ini umur kandungan Tasya adalah 2 bulan. Harap dijaga baik-baik ya kandungan kamu, Sya. Karena umur kandungan kamu saat ini rentan keguguran. Kamu juga jangan sampai kelelahan, hindari hal-hal yang bisa membuat kamu stress, karena itu akan berdampak buruk bagi janin yang ada di rahim kamu. Ini Tante kasih resep vitamin yang harus kamu konsumsi rajin untuk menjaga kesehatan janin kamu. Nanti Gilang, kamu tebus saja vitaminnya di apotek, ya. Juga jangan lupa minum susu hamil.” Tante Anisa memberikan selembar kertas yang berisi resep vitamin kepada Gilang.


Gilang menerimanya lalu mengangguk yang berarti dia paham dengan apa yang disampaikan oleh tantenya ini.


“Kalau gitu Gilang sama Tasya pamit dulu, ya, Tan.”


Tante Anisa mengangguk.


“Kamu juga jangan sering tinggalin istri kamu. Kamu harus selalu ada untuk istri kamu. Karena, semasa hamil Tasya sangat membutuhkan kehadiran kamu yang notabenenya adalah suaminya.”


“Iya, Tante. Terima kasih atas sarannya. Kalau gitu Gilang pamit. Assalamualaikum, Tante.” Gilang mencium punggung tangan tante Anisa yang sudah dia anggap seperti mama sendiri diikuti oleh Tasya yang juga melakukan hal sama. Kemudian keduanya melangkah keluar dari ruangan Tante Anisa.

__ADS_1


‘Semoga kebahagiaan selalu hadir di keluarga kalian, Lang. Sudah cukup kamu merasakan luka atas meninggalnya Kak Arina dulu. Tante percaya, kamu bisa menemukan kebahagiaanmu beserta keluarga kamu.’


🌾To Be continued🌾


__ADS_2