
Happy Reading❣
...“Setidaknya kita pernah mencoba untuk saling memiliki. Jika memang nantinya kita tak bisa menyatu, bukan semata-mata semesta jahat kepada kamu dan aku, tetapi karena Tuhan telah menyiapkan rencana terbaiknya untuk kita.”...
...~Natasya Quiella Natapraja~...
“Lo mau makan apa?” tawar Tasya sambil memandang ke arah Vino yang sedang duduk di hadapannya.
“Sup ayam enak kayaknya tuh,” sahut Vino.
“Oh tunggu, gue mau masak dulu. Nasinya juga belum matang,” ucap Tasya yang diangguki oleh Vino. Sebelum beres-beres, Tasya telah lebih dulu memasak nasi.
Tasya bangkit dari duduknya. Dia memakai apron dan mulai berkutat dengan segala jenis bahan makanan mentah yang akan dia pakai untuk memasak.
Mulai dari memotong wortel, kentang, kol, dan bahan lainnya. Setelah sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya Tasya telah selesai dengan ritual memasaknya. Tasya menghidangkan semangkuk sup ayam, juga nasi yang telah ditaruh ditempatnya ke atas meja.
“Enak nggak nih?” tanya Vino sangsi saat Tasya mulai mengambilkan nasi dan juga sup ke dalam piring.
“Lo nggak bakalan tahu rasanya kalo nggak lo cobain,” sahut Tasya lalu memberikan piring yang telah dia isi tadi kepada Vino.
Vino mulai menyuapkan sesendok nasi juga sup ayam ke dalam mulutnya sambil melirik Tasya menggunakan ujung matanya.
“Enak juga,” puji Vino lalu memakan lahap makanan yang berada di depannya.
“Bener, 'kan? Masakan gue itu enak, e.n.a.k,” ucap Tasya sombong sambil menekankan kata diakhir kalimatnya.
“Gue tarik kata-kata barusan. Sifat sombong lo nggak ilang-ilang, ya?” Vino menjitak pelan dahi Tasya.
Tasya mengaduh kesakitan sambil mengusap dahinya terasa sedikit sakit karena jitakan tangan Vino.
“Lo nggak makan?”
“Enggaklah, gue udah makan tadi di rumah. Kalo gue makan lagi yang ada nanti gue gendut, terus lo nggak suka lagi sama gue,” ucap Tasya sambil melipat tangannya di atas meja makan.
“Emangnya sejak kapan gue suka sama lo? Perasaan gue nggak pernah tuh suka sama lo,” ujar Vino, seakan tak sadar bahwa ucapannya itu membuat hati Tasya sakit.
Lalu, kenapa dia menjadikan Tasya sebagai kekasih bila tidak ada rasa suka didalam hati Vino untuk Tasya?
Tasya terdiam, dia meremas kesal baju yang dipakainya. Jadi begini, ya menyakiti dengan cara tersirat? Rasanya sangat sakit, tapi Tasya berusaha untuk kembali tersenyum. Mengabaikan titik luka yang mulai bersarang di hatinya.
__ADS_1
‘Jika memang tidak pernah suka, lantas apa gunanya hubungan kita? Sekedar pelampiasan atau hanya sebuah permainan? Kamu benar-benar wanita bodoh, Tasya,’ batin Tasya terus merutuki diri sendiri sambil terus menatap wajah Vino yang sedang lahap memakan masakannya.
Selama beberapa menit terjadi kecanggungan di antara mereka. Namun, tak lama kemudian ponsel Tasya berdering, tertera nama Alvan di sana.
Bang Alvan
Is calling...
“Siapa?” tanya Vino melirik ke arah ponsel yang dipegang oleh Tasya.
“Bang Alvan. Sebentar, gue angkat dulu, ya.” Tasya bangkit dari duduknya, berjalan menjauhi Vino lalu mengangkat telepon dari sang abang. “Halo Bang kenapa?” tanya Tasya setelah mengangkat teleponnya.
“Lo di mana sekarang?”
“Gue lagi sama Vino nih,” sahut Tasya sambil melirik sekilas ke arah Vino yang juga tengah menatapnya.
“Pulang sekarang, Bunda kepeleset di kamar mandi, sekarang gue sama Ayah lagi di rumah sakit punya Ayah. Lo langsung susul aja di ke sini!” perintah Alvan lalu memastikan sambungan telepon. Ayah mereka memang membangun rumah sakit sejak dua tahun yang lalu.
Tasya bergegas menghampiri Vino yang sedang menikmati makanannya
“Vin, gue pulang, ya. Bunda masuk rumah sakit, gue duluan, bye.” Tanpa menunggu persetujuan dari Vino, Tasya segera berlari secepat mungkin agar lekas sampai ke rumah sakit.
Derap langkah sepatu Tasya yang bersinggungan langsung dengan lantai membuat suara gaduh. Namun, Tasya sudah tak memperdulikannya, yang dia pedulikan hanyalah rasa khawatir terhadap bundanya. Sesekali ada pegawai rumah sakit menyapanya yang hanya dibalas anggukan oleh Tasya.
Tak jauh dari tempatnya menapakkan kaki, Tasya sudah dapat melihat abangnya yang duduk di bangku tunggu, juga ayahnya yang mondar-mandir di depan ruang UGD.
“Ayah, Bang Al, Bunda gimana?” tanya Tasya sudah berada didepan abangnya.
Alvan mendongak. “Bunda lagi diperiksa sama Dokter.”
Tasya memilih duduk di samping Alvan. Dia cemas sekaligus khawatir dengan keadaan bundanya. Tasya menggigiti kukunya untuk menghilangkan kecemasannya yang tak kunjung mereda.
Sementara Alvan, dia mengelus kedua pundak Tasya, berusaha menenangkan gadis itu.
Ceklek!
Seseorang dengan pakaian jas putihnya baru saja keluar dari ruangan.
“Bagaimana, Dok, keadaan istri saya?” tanya Rafa langsung.
__ADS_1
“Untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin hanya perlu dirawat inap selama dua hari untuk memastikan tidak ada cidera pada bagian organ dalam,” sahut dokter yang diketahui dari name tag-nya adalah Dokter Zakky.
“Apa bunda saya sudah bisa dijenguk, Dok?” tanya Tasya.
Dokter Zakky mengangguk. “Bisa, setelah beliau dipindahkan ke ruang rawat inap, tapi jangan sampai mengganggu ketenangannya. Beliau belum siuman.”
“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Rafa.” Rafa mengangguk, kemudian Dokter Zakky mulai melangkah meninggalkan mereka karena masih banyak pasien yang harus dia urus.
Setelah Dokter Zakky pergi, mereka langsung memindahkan Tera ke ruang rawat inap VIP.
Setengah jam kemudian Tera pun siuman.
“Bunda kenapa bisa kepeleset? Ada yang sakit nggak, Bun? Kalau ada yang sakit bilang sama Tasya. Mana yang sakit, Bun?” tanya Tasya bertubi-tubi saat melihat bundanya telah siuman.
“Adek, Bunda baru aja siuman udah ditanya-tanya,” tegur Rafa yang dibalas cengengesan oleh Tasya.
“Kan Tasya khawatir sama Bunda. Tasya nggak mau Bunda kenapa-napa, Yah.”
“Bunda nggak papa, Dek,” ucap Tera tersenyum.
“Bunda mau minum?” tawar Rafa yang diangguki oleh Tera.
Rafa mengambil segelas air putih di atas lemari kecil di samping brankar Tera lalu membantu istrinya itu untuk meminumkannya. Dia juga membantu perempuan itu untuk berbaring kembali. Tera sedikit menarik hijabnya ke belakang.
Tasya berjalan menghampiri abangnya yang sedang duduk di sofa lalu ikut duduk di samping abangnya.
“Kalian nggak pulang?” tanya Tera kepada kedua anaknya.
Tasya menggeleng. “Tasya di sini aja, nemenin Bunda.”
“Abang juga,” sambung Alvan.
“Ya udah, kalian belum makan, ‘kan. Sana beli di kantin rumah sakit. Bunda nggak mau kalian jadi ikutan sakit.”
Tasya dan Alvan berdiri dari duduknya, menghampiri bunda mereka.
“Iya, Bunda. Tasya sayang banget sama bunda.” Gadis itu lantas mengecup pipi bundanya.
“Alvan juga sayang sama Bunda.” Alvan juga ikut mengecup pipi Tera. Lantas, mereka berdua berjalan keluar menuju kantin rumah sakit untuk membeli makanan untuk mereka berdua dan untuk ayah mereka.
__ADS_1
...To be continue .......