Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 25


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


...“Ingatlah, perempuan juga manusia. Jangan seenaknya kalian mempermainkan perasaannya, apalagi sampai mempermainkan harga dirinya.” ...


...~MDHD~...


Hari telah berlalu, waktu kian berganti. Kini Tasya menjadi sosok yang lebih pendiam dari sebelumnya. Dia menjadi gadis pemurung dan sering sekali melamun. Bahkan acap kali dia mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Jika ditanya dia hanya menjawab dengan anggukan atau hanya dengan gelengan saja.


Sudah satu minggu ini Tasya absen sekolah. Dia terus mengurung diri di dalam kamar. Makanan yang sering disiapkan oleh bundanya di kamarnya pun sering kali tak disentuhnya.


Untung saja Tasya tak mengunci pintu kamarnya, jika itu dilakukannya entahlah apa yang akan terjadi. Mungkin, Rafa akan mencabut pintu kamar gadis itu dan tak akan memasangnya kembali.


Tasya menatap kosong ke arah bawah. Saat ini dia sedang duduk di sofa tunggal yang berada di balkon kamarnya.


Tok-tok-tok!


“Tasya, ini Bunda. Bunda masuk ya sayang?” Merasa tak mendapat jawaban, Tera memilih untuk langsung membuka pintu kamar Tasya.


Ceklek!


Tera membuka knop pintu kamar putrinya, dia melangkah menghampiri Tasya yang sepertinya mengabaikan atau memang tak menyadari kehadirannya?


“Sya, makan dulu, yuk. Kamu belum makan dari tadi pagi loh,” ucap Tera, matanya melirik ke arah sepiring nasi yang masih utuh di atas meja.


Tasya hanya menggeleng, dia menatap bundanya sebentar lalu kembali menatap ke arah bawah.


“Sayang, kamu harus makan. Setidaknya tiga sendok saja, biar perut kamu terisi, nanti kamu sakit loh. Nanti, setelah kamu selesai makan, ada yang ingin ayah sama bunda bicarain sama kamu, Sayang.”

__ADS_1


🎀


Saat ini seluruh keluarga Natapraja sedang berkumpul di ruang keluarga.


“Tasya, kamu mau sekolah lagi?” tanya Rafa kepada Tasya yang hanya dijawab gelengan oleh gadis itu.


“Tapi kenapa? Kamu ada masalah apa? Kenapa kamu sampai nggak mau sekolah lagi?” Lagi-lagi Tasya hanya menggeleng tanpa mau memberi jawaban.


“Ya sudah, kalau kamu nggak mau sekolah, bagaimana kalau kamu homeschooling saja, sayang? Kamu masih muda, banyak cita-cita yang harus kamu wujudkan, banyak mimpi-mimpi yang harus kamu raih. Kalau kamu nggak mau sekolah di sekolah umum, kamu homeschooling saja. Ayah akan mencarikan guru terbaik buat kamu,” tawar Rafa.


“Terserah Ayah sama Bunda saja.” Setelah seminggu ini Tasya mogok bicara, akhirnya hari ini Tasya kembali mengeluarkan suaranya. Membuat keluarganya menghela napas lega, setidaknya ada perubahan, meski hanya sedikit.


“Baiklah, mulai hari Senin kamu akan homeschooling,” ucap Rafa tersenyum menatap satu per satu anggota keluarganya.


“Kalau gitu, Bunda sama Ayah istirahat dulu ya,” ucap Tera lalu beranjak dari duduknya bersama Rafa.


“Dek!” panggil Alvan, dia mengambil duduk di samping adiknya.


Tasya menoleh, menunggu Alvan melanjutkan kalimatnya.


Tasya menggeleng pelan, lalu menunduk. Suara-suara itu kembali bermunculan, seakan menyerang indera pendengarnya. Tasya menutup rapat-rapat kedua telinganya.


“GUE BUKAN MURAHAN!”


“Dek, tenangin diri lo.” Alvan menarik tubuh lemah adiknya kedalam pelukannya. Dia mengusap punggung adiknya, berusaha menenangkannya.


“Dek, jangan pedulikan suara itu. Suara itu nggak bener, Dek,” ucap Alvan lirih.


🎀


Tok tok tok


Ceklek


Tera melangkahkan kakinya, memasuki kamar bercat biru itu. Dia menghampiri putrinya yang sedang duduk di atas ranjang sambil menatap kosong ke depan.


“Sya!”

__ADS_1


Tasya menoleh, menatap bundanya yang berdiri tak jauh dari duduknya. Entah sejak kapan bundanya itu masuk kamarnya, yang dia tahu, bundanya sekarang sudah ada di hadapannya.


“Turun yuk, ada Gilang di bawah, dia nyariin kamu.”


Tasya mengangguk, dia menuruni ranjang, mengikuti bundanya dari belakang. Setelah sampai di ruang tamu, dapat dia lihat Gilang yang sedang ngobrol ala anak muda dengan abangnya.


“Sini, Sya duduk sini,” ucap Gilang saat melihat Tasya berdiri dengan jarak beberapa langkah dari dirinya.


Tasya kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti, dia mendudukkan dirinya disebelah Gilang.


“Bagaimana keadaan kamu, Sya? Maaf baru sempat jenguk, soalnya Abang sibuk banget,” kata Gilang sambil mengusap kepala Tasya lembut.


“Tasya baik-baik aja, Bang. Nggak papa, Bang. Bang Gilang sempat main ke sini aja Tasya udah senang banget.”


Alvan melongo sambil menatap adiknya. Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Alvan dengar setelah kejadian itu. Biasanya Tasya hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata saja. Kenapa hanya kepada Gilang, Tasya mengeluarkan kalimat panjangnya?


Namun, disisi lain Alvan bersyukur. Setidaknya dengan hadirnya Gilang di hadapan adiknya, bisa membuat adiknya senyum, contohnya sekarang ini. Tasya yang biasanya hanya menampilkan wajah datar, kini di hadapan Gilang dia bisa tersenyum bahkan hingga tertawa.


“Gue ke kamar dulu, ya. Masih ada tugas yang belum gue kerjain.” Alvan pamit undur diri. Dia ingin memberikan ruang berbicara untuk adik dan kakak dari mantan calon adik iparnya.


“Kamu nggak mau sekolah lagi, Sya?” tanya Gilang.


Tasya menggeleng. “Tasya nggak mau sekolah, Bang. Kalau Tasya kembali sekolah, Tasya bakalan susah ngelupain kejadian itu. Mungkin beberapa ah ralat mungkin semua orang berkata ini hanya masalah sepele. Tapi bagi Tasya nggak, Bang. Bagi Tasya ini ah entahlah, intinya Tasya nggak suka ada yang bilang diri Tasya murahan. Tasya selalu berusaha menjaga harga diri Tasya, tapi seseorang menyebut bahwa diri Tasya ini murahan, hati Tasya sakit, bang dengarnya. Apalagi yang nyebut murahan itu adalah orang yang Tasya sayang. Sakit, Bang, hati Tasya sakit.”


Tasya terus mengeluarkan unek-unek yang dia rasakan. Persetan dianggap alay, rapi wanita mana yang tidak sakit hati saat dirinya disebut murahan? Jika memang ada, aku salut, berarti dirinya memang wanita yang kuat atau bahkan sangat kuat.


Hati Gilang sakit saat melihat Tasya terus mengeluarkan air matanya. Dan semua ini Vino-lah penyebabnya. Adik satu-satunya yang sangat dia sayangi. Vino telah menciptakan luka yang mendalam untuk perempuan sebaik Tasya. Kalau tidak sayang setidaknya jangan pernah sebut perempuan itu murahan.


Ingatlah, perempuan juga punya perasaan. Jangan kalian seenaknya mempermainkan perasaannya. Apalagi sampai mempermainkan harga dirinya.


“Menangislah sepuasnya, setelah ini jangan pernah ada air mata kesedihan yang kamu keluarkan karena pria yang tak tahu cara menghargai seperti dia. Pria seperti itu tak pantas kamu tangisi, Sya. Bukalah lembaran baru, lupakan yang telah menyakiti. Karena, semakin kamu mengingatnya, maka kamu akan semakin merasa sakit. Jika hatimu banyak merasakan sakit, maka belajarlah dari rasa sakit itu untuk tidak memberikan rasa sakit pada orang lain. Aku yakin, setelah ini kamu akan menjadi wanita yang lebih kuat lagi.”


Tasya mendongak menatap Gilang yang juga tengah menatapnya, dia menghapus air mata yang teruS mengalir dari sudut matanya. Tasya tersenyum dan detik berikutnya dia langsung memeluk Gilang erat. Gadis itu kembali menumpahkan air mata yang sempat berhenti beberapa detik lalu.


“Udah jangan nangis, di sini ada yang sakit saat Abang ngelihat kamu nangis. Abang lebih suka lihat kamu tersenyum, tapi senyum asli, bukan senyum palsu yang kamu gunakan untuk menyembunyikan kesedihan,” ucap Gilang menunjuk dadanya.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2