Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 49


__ADS_3

Happy Reading❣


Suara mesin elektrokardiograf itu mengisi keheningan diruang rawat sebuah rumah sakit. Seorang pria berumur 22 tahun itu tampak terbaring lemah di atas brankar dengan tubuh yang dipenuhi luka-luka yang cukup banyak, kepalanya pun nampak dibalut dengan perban putih dengan cairan merah yang menghiasi beberapa bagian perban tersebut. Berbagai alat penunjang hidup menempel pada anggota tubuhnya. Deru nafas pria itu masih terdengar lemah, bibirnya terlihat pucat pasi.


Tasya duduk di kursi yang berada di samping brankar Gilang. Tangannya terus menggenggam tangan Gilang yang terasa dingin. Kenapa Gilang belum sadar juga? Padahal kata dokter, tak lama lagi Gilang akan sadar. Namun, sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda bahwa Gilang akan membuka matanya.


“Mas, bangun. Kamu betah banget tidur terus. Lihat, Gita kayaknya nyariin kamu,” celetuk Tasya sambil mencium punggung  tangan Gilang.


Air mata tak hentinya mengalir dari pelupuk mata Tasya. Bahkan, sampai saat ini Tasya masih menitipkan Gita kepada bundanya.


Sementara di depan pintu ruang rawat Gilang, seorang pria sedari tadi nampak berdiri sambil menempelkan tangannya di kaca. Matanya menatap sendu ke arah Tasya yang terus menggenggam tangan Gilang seolah takut kehilangan.


Hatinya terasa sakit saat melihat wanita yang dia sayangi sungguh peduli dengan pria lain. Walau yang dilakukan wanita itu tidaklah salah, karena pria itu adalah suaminya. Namun, tetap saja dia tak dapat membohongi hatinya yang terasa semakin tercabik-cabik.


“Gue tahu lo masih sayang sama dia, ‘kan? Belajar ikhlasin, Vin. Dia udah bahagia sama abang lo. Lo nggak bisa terus-terusan mencintai wanita yang sudah memiliki suami. Coba lepaskan dengan ikhlas, gue yakin lo pasti bisa!” ucap Rangga sambil menepuk pelan pundak Vino.


Vino membalikkan badan, dia menatap ke arah Rangga yang berdiri di depannya. Tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh Rangga, Vino lebih memilih mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang berada di depan ruang rawat Gilang dengan Rangga yang mengikuti apa yang dilakukan oleh Vino.


“Gue nggak tahu, Ngga. Selama ini gue udah nyoba buat ngelupain dia, tapi tetap saja hasilnya nol besar. Gue nggak bisa bohongin hati gue, kalau gue masih sayang sama dia. Dia itu ibaratkan seseorang yang diutus sama Tuhan buat jadi penggantinya mama di hidup gue. Baru kali ini gue merasa sesayang ini sama perempuan, Ngga,” jelas Vino sambil menyandarkan tubuhnya di tembok.


“Tapi rasa cinta lo ini terlarang, Vin! Sampai kapanpun, lo nggak bakalan bisa bersatu sama Tasya. Tasya udah jadi milik orang, apalagi orang itu adalah abang lo sendiri. Gue tahu lo bisa, cuma lo aja yang masih terlalu naif buat ngeyakinin hati lo sendiri. Masih tersimpan banyak keraguan di hati lo, iya ‘kan?”


“Tapi hati gue berkata kalau gue bakalan bisa bersatu sama Tasya, entah itu kapan akan terjadi,” ucap Vino masih pada pendiriannya.


Rangga hanya bisa berdecak pelan sambil menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang ada dipikiran sahabatnya ini. Bisa-bisanya Vino berpikir bahwa  dia akan bisa bersatu dengan seorang wanita yang nyatanya sudah memiliki seorang suami. Vino tidak memiliki cita-cita sebagai pebinor, ‘kan?


Tak ingin dirundung penasaran, Rangga segera menyuarakan isi hatinya.


“Lo nggak ada cita-cita jadi pebinor ‘kan, Vin?”


Secara reflek tangan Vino melayang mulus di kepala Rangga.


“Lo gila apa nggak waras, hah? Lo pikir gue dengan tega ngerebut istri abang gue sendiri? Ya nggaklah, bego. Gue cuma bilang kalau gue percaya suatu saat nanti gue bakalan bisa bersama-sama dengan Tasya, tapi gue nggak ada niatan buat ngerebut Tasya.”


“Ya, kali aja gitu.”


🎀


Tasya memandang Gilang yang masih belum sadarkan diri. Tangannya terulur mengelus kepala Gilang penuh kasih sayang. Hingga suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatiannya.


Ceklek


“Gilang belum siuman juga, Sya?” tanya Tera dengan Gita yang berada di gendongannya.


Tasya menggeleng sambil mengambil alih Gita lalu membawanya ke gendongannya.

__ADS_1


“Belum, Bun. Kira-kira kapan ya, Mas Gilang sadarnya? Dari tadi Tasya tungguin belum sadar juga. Oh iya, Bang Al sama Ayah kemana?”


“Mereka lagi di mushola, Sya.”


Kedua wanita itu nampak terdiam sambil menatap Gilang yang masih asik dengan alam bawah sadarnya. Detik berikutnya, pria itu nampak menggerakkan jari-jarinya. Mata yang sedari tadi tertutup rapat kini mulai membuka secara perlahan.


“Bunda, Mas Gilang udah sadar!” pekik Tasya dengan penuh rasa syukur.


“Alhamdulillah, sebentar biar Bunda panggilin dokternya dulu.” Dengan gerakan secepat kilat, Tera segera keluar dari ruangan untuk mencari dokter agar bisa memeriksa keadaan menantunya.


“Alhamdulillah, sayang ... Ayah sudah sadarkan diri,” ucap Tasya tersenyum sambil menatap Gilang dan Gita secara bergantian.


Tak lama kemudian, Tera dan seorang dokter datang bersama suster dibelakangnya. Dokter Gio segera mengecek keadaan Gilang.


“Bagaimana, Dok keadaan suami saya?” tanya Tasya tak sabaran.


“Alhamdulillah, kodisi pasien sudah pulih, doakan saja agar kondisi pasien bisa pulih sepenuhnya, kalau begitu saya permisi keluar,” ucap Dokter Gio sambil tersenyum lalu meninggalkan ruang rawat Gilang diikuti oleh suster dibelakangnya.


“Bunda nyari Ayah sama abang kamu dulu, Sya!” Tera segera ikut keluar dari ruangan.


Selepas perginya dokter Gio, Tasya segera menghampiri Gilang yang tengah menatapnya.


“Bagaimana keadaaan, Mas? Apa masih ada yang sakit?”


“Mas nggak papa, Sya. Dengan lihat kamu senyum aja udah bikin Mas sehat,” balas Gilang dengan tersenyum.


Tasya mengangguk lalu kembali mendudukkan dirinya di kursi yang tadinya dia duduki.


“Tadi Vino ke sini sama keluarga adik papa.”


“Oh iya?” Tasya mengangguk. “Boleh panggilin suruh kesini?”


Tasya kembali mengangguk lalu keluar dari ruangan untuk memanggil mantan yang bernotabene adik ipar itu.


Setibanya didepan ruang rawat, Tasya mengedarkan pandangannya hingga dia menemukan Vino yang nampak memejamkan mata sambil bersandar ditembok.


“Vino!”


Vino terkesiap, suara ini adalah suara yang selama ini Vino rindukan. Vino mengerjapkan matanya pelan, dia menatap Tasya yang berdiri didepannya. Apakah ini mimpi?


“Vin!” Sekali lagi panggilan ini kembali mengejutkan Vino. Vino menepuk pipinya sendiri dengan keras, ini terasa sakit. Berarti ini bukan mimpi.


“Mas Gilang nyariin kamu!” ucap Tasya lalu kembali masuk ke dalam ruangan.


Vino memantapkan hatinya, ini waktu yang tepat. Dia harus berbaikan dengan Gilang. Vino beranjak dari duduknya. Dia ikut masuk ke dalam ruangan. Setibanya di dalam ruangan, dapat Vino lihat Gilang yang menatapnya dengan senyuman.

__ADS_1


“Vin!” Vino segera memeluk erat abangnya. Jujur saja, dia merindukan Gilang.


“Maafin gue selama ini banyak salah sama lo, Bang. Maafin semua kesalahan gue,” ucap Vino dengan bahu yang bergetar, menandakan bahwa ia menangis.


Gilang menepuk pundak Vino.


“Gue juga minta maaf udah banyak salah sama, lo. Gue minta maaf belum bisa jadi abang yang baik buat, lo.”


“Kalo gue udah nggak ada, jagain Papa ya, Vin,” lanjutnya.


Setelahnya Gilang nampak menarik Tasya, lalu ia mencium pipi Gita.


“Jadi anak yang sholehah ya, Nak. Biar bisa banggain Ayah, Bunda, dan Papa Vino. Jadi anak yang pandai dan berbakti sama orang tua dan orang yang lebih tua dari kamu.”


Gilang menatap Vino.


“Vin, tolong gendong Gita dulu.”


Vino mengambil alih Gita ke dalam gendongannya lalu menimang bayi yang nampak tertidur pulas itu.


Gilang segera menarik Tasya ke dalam pelukannya, ia mencium puncak kepala Tasya penuh kasih sayang. Lalu beralih mengecup kening isterinya itu.


“Aku sayang kamu, my wife.”


Itulah kalimat yang terakhir Tasya dengar, hingga suara dari mesin EKG bergerak lurus tanda sudah tiadanya kehidupan itu berbunyi nyaring. Air mata yang sempat berhenti kini kembali mengalir.


“Mas Gilang jangan tinggalin aku, Mas. Mas Gilang, kamu udah janji kita bakalan buat keluarga bahagia seperti impian kita, Mas. Mas Gilang jangan pergi!”


Langkah beberapa orang dewasa itu nampak berbondong-bondong memasuki ruang rawat Gilang.


Dokter Gio segera mengecek keadaan Gilang. Ada yang aneh, padahal waktu dia periksa kondisi Gilang sudah dapat dinyatakan pulih. Ternyata, Tuhan punya cara tersendiri untuk membawa Gilang pulang. Gilang orang baik, maka Tuhan juga mengakhiri hidup Gilang dengan cara yang baik pula.


“Innalilahi wa innalilahi rojiun, pasien telah kembali ke pangkuan Tuhan. Semoga pasien diterima disisi-Nya.”


“Aamiin!”


“Enggak mungkin! Dokter bohong ‘kan sama Tasya?! Nggak mungkin. Mas Gilang ayo bangun!” Tasya terus mengguncang-guncangkan lengan Gilang. Dia berharap ini hanya mimpi.


“Sya, tenangin diri kamu. Kita semua memang sayang sama Gilang, tapi Tuhan lebih sayang sama Gilang. Tuhan nggak mau Gilang terus ngerasain sakit di sini. Ikhlasin, Sya. Gilang pasti bakalan sedih di sana lihat kamu nangis kayak gini.” Tera terus mengusap punggung anak perempuannya itu.


Semua orang yang berada disitu nampak mengeluarkan air mata. Mereka kehilangan salah satu keluarga mereka. Mereka kehilangan Gilang, sosok pria dengan sejuta senyumannya. Sosok pria yang jarang sekali menunjukkan sisi lemahnya.


...Tamat...


Yes, sesuai target. Cerita ini akan tamat pada part 50. Satu part lagi epilog btw, hihi

__ADS_1


__ADS_2