Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 33


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


“Pria pengecut ialah pria yang hanya bisa menyakiti perasaan seorang wanita tanpa alasan yang dapat diterima akal.”


~Raka Alfarasya Ramenson~


Suara derit kursi yang diduduki Tasya membuat Gilang yang semula sedang sibuk memakan soto menoleh. Dia menatap Tasya dengan dahi berkerut.


“Mau kemana, Sya?” tanya Gilang.


“Tasya izin ke toilet dulu, Bang,” pamit Tasya. Gadis itu segera melangkah menuju toilet setelah mendapat anggukan dari Gilang.


Di sisi lain, Rika yang tak sengaja melihat Tasya melangkah keluar kantin segera beranjak.


“Vino, aku ke kantor dulu, ya. Aku lupa, kalau tadi aku dipanggil sama Bu Hilda.”


Vino hanya mengangguk tanpa suara. Menurut Rika, ini adalah saatnya berbicara dengan gadis yang hanya dia kenal nama itu. Rika hanya ingin kejelasan. Jika keduanya sama-sama ingin kembali, maka Rika akan dengan perlahan mundur, agar tidak menjadi alasan kenapa keduanya tak dapat bersatu. Meski Rika tahu, hatinya tidak setabah itu.


Kembali lagi pada Tasya yang melangkah perlahan melewati koridor. Dia menghentikan langkah tepat di depan wastafel yang terdapat di toilet. Gadis itu menatap cermin di hadapannya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman, lalu kembali membentuk datar.


Tasya menggeleng. “Ternyata susah ya, bersikap baik-baik saja padahal hati sedang terluka?” monolog Tasya. Gadis itu menghembuskan napas pelan.


Jujur saja, sedari tadi matanya tak henti melirik kecil ke arah dua orang yang sedang makan bersama. Entah apa yang dia rasa, yang Tasya tahu dia hanya ... ah, sudahlah lupakan.


Padahal sebelum melihat Vino hari ini, Tasya sudah benar-benar yakin bahwa dia memang sudah melupakan Vino. Namun, kenapa setelah bertemu, rasa sakit yang sudah terpendam jauh itu muncul kembali ke permukaan.


Entah sudah keberapa kali Tasya menghembuskan napas kali ini. Kegiatan menenangkan diri itu terhenti saat seorang gadis menyapanya.


“Kamu Tasya, ‘kan?”

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Tasya menoleh, dia menatap gadis yang berdiri di depan wastafel sampingnya. Sepertinya dia pernah melihat gadis ini, tapi di mana?


Tasya mengangguk. “Lo ....” Tasya menghentikan ucapannya, mencoba mengajak pikirannya untuk berdiskusi. “ ... Pacarnya Vino?”


Gadis itu mengangguk, dia mengulurkan tangannya ke arah Tasya.


“Kenalin namaku, Rika.”


“Gue yakin lo pasti udah kenal gue,” jawab Tasya—menerima uluran tangan Rika sambil tersenyum tipis.


“Boleh aku bertanya?” tanya Rika—memandang ragu ke arah Tasya.


Tasya mengangkat sebelah alisnya, dia menatap Rika bingung. Namun, gadis itu masih sibuk mencuci tangannya. Tasya menunggu sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding wastafel.


“Kamu masih cinta sama Vino?” tanya Rika hati-hati. Dia hanya takut menyinggung perasaan Tasya. Rika tahu, ini termasuk pertanyaan sensitif.


“Mau jawaban jujur atau bohong?” Bukannya menjawab, Tasya malah melempar kembali pertanyaan.


Rika berbalik, dia ikut menghadap ke arah Tasya sambil mengelap tangannya menggunakan sapu tangan yang dia bawa.


“Kalau bisa sih jujur.”


Tasya mengangguk paham. “Bohongnya gue nggak pernah suka sama Vino. Kalau jujurnya, hm gue rasa lo tahu sendiri.” Tasya berniat melangkah meninggalkan toilet juga Rika di sana. Namun, langkahnya terhenti saat Rika memegang lengannya.


“Tunggu!”


“Why?”


“Jadi, kamu masih sayang sama Vino?”


Anggukan dari Tasya itu membuat mata Rika memanas. Rika menatap Tasya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Kenapa lo, mau nangis?” Tasya tertawa remeh. “Dengar ini ya, gadis cengeng. Gue memang masih sayang sama Vino, tapi gue juga nggak bakalan ganggu hubungan kalian berdua. Karena gue tahu bagaimana rasanya orang yang kita sayang diambil orang,” ucap Tasya tenang. Detik berikutnya dia menepuk pundak Rika beberapa kali.


“Kalau kamu memang masih sayang sama Vino, aku rela kok melepaskan dia buat kamu,” ucap Rika.


Tasya berhenti, dia memutar tubuhnya.


“Sayangnya gue nggak minat ngambil pacar lo. Masih banyak pria baik di dunia ini yang mau jadi pasangan gue.”


Tasya melanjutkan niatnya yang sempat tertunda. Ah, rasanya sangat sedikit menghibur, ternyata menjadi antagonis tidak seburuk yang dia pikirkan. Eits, tapi Tasya tidak ingin menjadi antagonis. Baginya, antagonis adalah tokoh paling menyebalkan yang patut dimusnahkan dari bumi.


Tasya meraih ponsel dari saku roknya, dia mengirimkan sebuah pesan kepada Gilang bahwa tidak dapat kembali ke kantin karena harus kembali ke kelas.

__ADS_1


Namun, sebenarnya itu hanya alibinya saja. Tasya mempercepat langkahnya, dia berhenti di taman samping sekolah.


Tasya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Runtuh sudah tangisannya, hilang pula wajah sok tegar miliknya. Dia kembali menangis, di tempat yang sama dengan waktu yang berbeda.


Tasya merasa familier saat seseorang menepuk pundaknya, persis seperti apa yang dia alami dulu.


“Cantik-cantik, tapi cengeng. Apa jadinya Indonesia kalau ceweknya pada gampang nangis semua?” celetuk Raka, dia mendudukkan diri tepat di samping Tasya.


Tasya mengangkat wajahnya, dia menatap Raka dengan cemberut.


“Dengar, ya. Yang menangis bukan berarti lemah. Terkadang air mata dapat menjadi penenang disaat yang dibutuhkan tidak datang.”


Raka menggerakkan mulutnya mengejek. Detik berikutnya, pria itu mulai menampakkan wajah seriusnya.


“Siapa yang buat lo nangis?” tanya Raka—dengan nada datar.


Raka tak suka air mata Tasya. Dia tak suka melihat Tasya sedih. Sebagai sahabat, dia juga harus ikut berperan dalam membentuk kebahagiaan Tasya.


“Nggak ada, gue Cuma lagi kepikiran sama ....” Ucapan Tasya terhenti saat Raka dengan seenak jidat memotong ucapannya.


“Mantan? Yaelah, ngapain mikirin mantan. Yang ada, lo sedih mikirin dia, dianya sedang tertawa bahagia,” ucap Raka. Pria itu menatap Tasya. “Udahlah, nggak usah pikirin mantan mulu. Lo harus lupain. Ingat, Sya, dia udah ada yang punya. Udah nggak jomblo!” tekan Raka.


Dia harus bisa menyadarkan Tasya dari perasaan semunya. Raka tak mau Tasya terus memikirkan pria yang jelas-jelas hanya bisa menyakitinya. Ah, memikirkannya saja sudah membuat Raka darah tinggi. Ingin sekali rasanya dia menghajar pria itu hingga mampus, agar rasa sakit Tasya terbayarkan.


Namun, itu hanya sekedar keinginannya yang bersifat fatamorgana. Bukan Raka tak berani, hanya saja dia tak ingin membuat Tasya marah karena membuat wajah pria itu babak belur.


Raka mengepalkan tangannya erat, sepertinya benih-benih dendam kepada Vino mulai benar-benar tumbuh di dalam hatinya. Pria macam apa yang tega menyakiti hati seorang perempuan?


“Weh, cowok dan cewek berduaan di tempat sepi itu nggak baik!” Seseorang yang baru saja datang menghampiri mereka itu segera mengambil duduk di antara Tasya dan Raka lalu merangkul pundak keduanya.


“Ye, Bang Al. Gue itu cuma menasihati adik lo yang galaunya berkepanjangan,” jawab Raka—tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Alvan.


Alvan segera menatap Tasya. “Kenapa lagi lo? Galau mulu perasaan. Begini ya, cinta kalau semakin lo ratapi bakalan menyakitkan, tapi kalau lo bodo amat pasti akan terasa menyenangkan.”


“Apaan sih, Bang? Gue nggak galau, kok,” elak Tasya.


Seketika suara decakan terdengar dari mulut Raka.


“Iya nggak galau, cuma nangis karena cowok aja.”


“Terserah apa kata kalian aja.” Tasya segera bangkit dari duduknya, melangkah—meninggalkan dua pria yang tengah menatap punggungnya.


Sungguh, kedua pria itu jika dikumpulkan akan sangat berperan besar dalam membuat Tasya kesal. Suasana hati Tasya saat ini sungguh tidak baik. Ingin rasanya Tasya menenggelamkan Raka dan Alvan di dasar laut, tapi this is foolish.

__ADS_1


Namun, Tasya juga bersyukur memiliki mereka. Mereka yang selalu ada untuk Tasya. Mereka yang selalu menjaga dan mengantisipasi agar Tasya tak salah langkah. Dan, dia yakin mereka juga menyayangi Tasya.


To be continue ....


__ADS_2