
Happy Reading
Tasya tampak duduk berleha-leha di ruang keluarga sambil menyandarkan dirinya di sofa. Saat ini dia hanya sendirian di rumah, sementara Gilang sedang bekerja demi sesuap nasi, oke itu hanya ibarat saja. Gilang sedang di sibukkan dengan urusan kantornya, jadi Tasya hanya bisa mendukung, toh ini juga untuk mereka sekeluarga.
Mata Tasya tampak fokus menatap televisi yang sedang menayangkan film para tupai lucu yang dikenal dengan Alvin and the Chipmunks, film yang sudah menjadi favoritnya sejak masih balita. Jangan lupakan mulutnya yang tak hentinya mengunyah kue brownis yang tadi sempat dibuatnya.
Hingga sebuah deringan yang berasal dari ponsel yang dia taruh di atas meja kaca berbunyi, membuat fokusnya terganggu. Tasya menghabiskan kue di tangannya lalu mengambil ponselnya. Dia menatap layar ponsel yang menampilkan nama Arin di sana.
Tanpa banyak kata, Tasya segera menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya di telinga.
“Assalamualaikum, Rin!”
“Waalaikumsalam, lo di mana sekarang, Sya?” jawab Arin di seberang sana.
“Di rumah, kenapa memangnya?”
“Mau kumpul-kumpul, nggak? Gue sama Lala lagi kumpul di kafe Bang Alvan nih. Kita-kan udah lama nggak ngumpul bareng, anggap aja girl time, Sya. Gimana mau, nggak?”
“Iya, gue minta izin dulu sama Mas Gilang ya, takutnya nggak di izinin.”
“Iya, kabarin nanti ya.”
“Iya.” Tasya segera mematikan sambungan teleponnya kini ia beralih ikon aplikasi. Dia ingin meminta izin kepada terlebih dahulu kepada suaminya.
Setelah mendapatkan izin, Tasya segera bangkit dari duduknya. Tangannya membawa sepiring brownis yang sempat dia makan tiga potong menuju dapur lalu meletakkannya di laci penyimpan makanan.
Setengah jam kemudian, Tasya sudah terlihat cantik dengan balutan gamis berwarna biru yang dipadukan dengan khimar berwarna navi.
🎀
“Tasya!” pekik Lala saat melihat kehadiran Tasya yang baru saja membuka pintu kafe. Sahabat Tasya yang satu ini nampak antusias sekali dengan kehadirannya di sini.
Tasya tersenyum, dia segera memeluk erat sahabatnya secara bergantian. Tasya menumpahkan rindu pada sahabat yang selama ini hanya bisa mereka salurkan lewat video call.
Kesibukanlah yang membuat mereka jarang sekali berkumpul. Juga karena mereka sudah memiliki kesibukan masing-masing, dan jarak yang lumayan jauh tentunya.
Saat ini Lala sedang disibukkan dengan kuliahnya. Dia mengambil kuliah di daerah Malang yang membuat mereka terpaut jarak yang cukup jauh. Lala kuliah di Malang karena orang tuanya sedang melakukan bisnis di sana. Karena Lala anak semata wayang dan kedua orang tuanya tak mau jauh darinya, sehingga mau tak mau Lala harus ikut tinggal di sana.
Sementara Arin, dia mengambil kuliah di daerah sini saja. Namun, karena kesibukannya kuliah juga menjalin hubungan dengan pemilik kafe yang sedang mereka tempati ini, mau tak mau dia kurang memiliki waktu untuk bersama sahabatnya.
Dan, jika kalian bertanya kenapa mereka bisa berkumpul saat ini? Maka jawabannya, karena mereka sedang menikmati liburan semester, kecuali Tasya tentunya.
Sejak dia memutuskan menerima lamaran Gilang, Tasya sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dia hanya ingin fokus pada keluarganya. Apalagi tahun ini akan ada kehadiran anggota keluarga baru yang akan melengkapi keluarga kecil mereka.
“Gue kangen banget sama kalian!” pekik Tasya, matanya sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Namun, untuk saat ini dia hanya ingin meneteskan air matanya. Oke katakan dia lebay, tapi apa boleh buat, mungkin ini sudah termasuk hormon ibu hamil.
“Tasya semakin kelihatan cantik kalau pakai hijab,” puji Lala sambil tersenyum tulus.
“Aku emang cantik, La,” jawab Tasya, jemawa.
Tiba-tiba tangan Arin mendarat di perut Tasya, lalu mengelusnya pelan.
“Gue dengar dari Bang Al, ponakan gue udah ada di sini, ya?”
Tasya mengangguk lalu meminum jus yang sebelumnya telah dipesankan untuknya.
“Udah berapa bulan?”
“Udah empat bulan,” sahut Tasya sambil mengangkat empat jarinya, jangan lupakan mulutnya yang masih damai menyeruput jus alpukat miliknya. Memang, kandungan Tasya sudah berusia 4 bulan.
“Asik bentar lagi gue punya ponakan!” ucap seorang pria yang secara tiba-tiba datang lalu mendudukkan dirinya di samping Lala.
“Enggak sabar gue, lihat Bang Gilang versi junior!” Satu pria datang lalu, dia mengambil bangku dari meja lain lalu menyeretnya menjadi satu meja dengan meja para wanita.
“Enggak sabar pengen ngejailin anaknya Bang Gilang!” Oke, ternyata ada tiga pria yang tiba-tiba datang. Pria terakhir juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh pria kedua.
Ketiga pria itu memakai baju sama, khas kafe Alvan. Ketiganya adalah, Raka, Putra, dan Rangga. Memang setelah lulus SMA mereka memutuskan untuk kuliah sambil kerja. Mereka bilang, mereka ingin mandiri, walau hanya sedikit.
“La, kita kapan punya anak?” tanya Raka, menaik turunkan alisnya, menggoda Lala.
“Sembarangan kalau ngomong, lo jangan cemarin otak sahabat gue dong. Cukup otak lo doang mesum, sahabat gue jangan!” sengit Tasya sambil menepak tangan Raka yang memang duduk di antara dirinya dan Lala.
“Gue bercanda kali, tapi kalau mau beneran mau. Hayu sekarang cus gue lamar lo, La,” ucap Raka dengan nada serius. Oke, sepertinya ada yang akan patah hati.
Lala tak lagi menanggapi, dia hanya asik memakan kue yang ia pesan.
“Kasihan, dicuekin, aduh sakit hati Abang, Dek!” ejek Putra dengan wajah yang dibuat-buat.
🎀
Ceklek
Tasya membuka pintu rumahnya secara perlahan, matanya menelusuri setiap jengkal rumahnya yang terasa sangat gelap. Jujur saja, Tasya sedikit merasa takut. Seingatnya, ketika pergi tadi, lampu di ruang utama tidak dia matikan. Namun, kenapa sekarang menjadi gelap?
Tasya segera meraih ponselnya dari dalam tas. Dia menghidupkan lampu ponselnya, syukurlah ini sedikit membantunya. Tasya melangkah secara perlahan, tujuannya saat ini hanya ingin mencari sakelar lampu.
Padahal, saat ini Tasya sangat ingin bertemu dengan Gilang. Namun, sekarang di mana pria itu berada? Mobil pria itukan sudah ada di depan.
“Mas, Mas Gilang! Kamu di mana Mas? Mas Gilang?”
__ADS_1
Tasya terus memanggil nama suaminya. Tangan kanannya tetap memegang erat ponselnya. Sementara tangan kirinya tak hentinya meraba-raba dinding, mencari keberadaan sakelar lampu. Hingga detik berikutnya dia sudah menemukannya. Tak menunggu waktu lama lagi, Tasya segera menekan sakelar.
Tubuh Tasya mematung, matanya berkaca-kaca melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Ponsel yang dipegang, tanpa dia sadari sudah mendarat sempurna di lantai marmer rumahnya.
Oke, ini terdengar mistis?
“Mas?” panggil Tasya dengan suara yang gemetar.
Detik berikutnya, dia langsung berlari memeluk tubuh Gilang erat.
“Happy birthday, my wife!” ucap Gilang.
Tasya tersenyum, dia sudah tak bisa lagi berkata-kata. Mulutnya terasa terkunci secara otomatis. Sungguh, dia tak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kemudian, dia menatap Gilang yang juga tengah menatapnya.
Ruang keluarga rumah ini telah disulap sedemikian rupa, sehingga menjadi tempat untuk acara sederhana memperingati hari ulang tahun Tasya.
“Makasih, Mas. Aku senang banget!” Tasya kembali mendekap erat tubuh suaminya.
“Tiup lilinnya dulu, ya?” Tasya mengangguk, dia segera meniup api yang di hasilkan oleh lilin.
Gilang meletakkan kue yang dia pegang di atas meja. Dia menangkup kedua sisi wajah Tasya, lalu menyematkan sebuah kecupan lembut di dahinya cukup lama. Hingga sebuah suara merusak suasana romantis mereka.
Terlihatlah kedua orang tua Tasya, papa Gilang, Alvan, dan semua sahabat-sahabat Tasya. Hm, sepertinya ada yang kurang. Ah iya, adik ipar Tasya tidak hadir di sini.
“Cie, selamat ulang tahun ya, Sya!” ucap Arin, tangannya memberikan kotak kado kepada Tasya.
“Makasih teman-teman,” ujar Tasya, dia terharu. Sungguh, dia sangat merasa bahagia malam ini.
“Adik gue ulang tahun, mau kado apa dari Abang?” tanya Alvan sambil mengelus kepala Tasya yang terbalut hijab.
Tasya menggeleng.
“Hadiahnya, Tasya pengen cepat-cepat punya kakak ipar!”
“Ini lagi di usahain. Insyaallah tahun ini abangmu segera menyusul kamu, Sya!” Nah, ini dia orang yang Tasya tunggu.
Tasya segera menghampiri Rafa, lalu memeluknya erat. Jujur saja, dia sangat merindukan sang ayah. Rindunya seperti sudah tak bertemu selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Oke, itu sungguh berlebihan.
“Tasya kangen sama Ayah. Terakhir Tasya ke rumah, Ayah lagi nggak ada,” keluh Tasya sambil mencibikkan bibirnya.
“Maafin Ayah ya, sayang. Sekarangkan Ayah udah ada di sini, Ayah mau lihat putri ayah yang udah nambah umur. Doa Ayah cuma satu, semoga kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan oleh-Nya.”
“Makasih semuanya yang udah nyempatin waktu untuk datang ke acara sederhana ulang tahun istri saya. Ayo silahkan dinikmati hidangannya!” ucap Gilang, tangannya sudah bertengger posesif di pinggang Tasya.
“Kamu, yang sehat di sana ya, sayang. Ayah sama mama menunggu kehadiran kamu di sini!” Gilang mencium perut Tasya tanpa memperdulikan orang-orang yang berada di sekitar mereka.
__ADS_1
ಥ⌣ಥto be continue ಥ⌣ಥ