
Happy Reading❣
...“Jangan pernah menyerah jika kamu mengalami kegagalan. Tanpa kau sadari, kegagalan adalah teman yang akan mengantarkanmu menuju kesuksesan.”...
...~MDHD~...
Setelah selesai makan malam, Tasya berpamitan kepada keluarganya bahwa dia ingin ke kamar. Dan, sekarang Tasya sudah berada di kamar. Dia duduk di kursi tunggal yang berada di balkon kamar dengan tangan yang memegang makanan ringan.
Tasya memandangi langit yang tampak cerah malam ini. Dengan sesekali memasukkan cemilan ke dalam mulutnya. Tasya memang suka ngemil, di mana pun berada, kecuali toilet.
Drt-drt!
Ponsel yang dia taruh di atas meja kecil di dekat kursi yang dia duduki bergetar, bertanda bahwa ada notifikasi dari suatu aplikasi yang berada di ponselnya.
Tasya menaruh cemilan yang berada di pangkuannya ke atas meja lalu mengambil ponselnya. Ternyata ada sebuah chat dari Gilang
Bang Gilang
Sya?
Iya bang, ada apa? (read)
Gapapa, hehe
Telepon yuk
Tumben Bang Gilang kayak gini? Dia kenapa, ya? batin Tasya. Tak lama kemudian, ponselnya pun berdering, dan tertera nama Gilang di sana.
“Selamat malam!” sapa Gilang di seberang sana, saat Tasya sudah mengangkat teleponnya.
“Malam juga, Bang.”
“Kamu lagi ngapain, Sya?”
“Nih, lagi makan cemilan, sama duduk-duduk di dekat balkon.”
“Ngapain di sana? Ini udah malam, udaranya dingin
Enggak takut masuk angin apa?”
“Lagi mandangin langit, Bang. Enggak apa-apa kalo masuk angin, yang penting apotek masih tetap buka, hehe.”
“Kamu ini, ada-ada aja.”
“Kalau Bang Gilang lagi ngapain nih?”
“Sama kayak kamu, Abang juga lagi duduk di balkon.”
“Enggak jalan?”
“Enggak ah, malas. Nggak ada yang nemenin.”
“Sana minta temenin Mbak baju putih yang sering duduk di pohon pas malam-malam, kayaknya rame tuh, Bang. Xixi.”
“Kamu ini, kalau ada wanita cantik ngapain harus sama Mbak Kunti coba?”
“Ya, kan. Mbak Kunti juga wanita cantik.”
“Kamu nggak ngantuk?”
“Nanti, Bang. Baru juga jam setengah sembilan. Tasya mah kalo tidur lewat jam sepuluh.”
“Enggak baik tahu, Sya, tidur terlalu larut. Nanti kamu sakit.”
“Cie perhatian.”
“Abang serius, Sya.”
“Enggak bisa, Bang.”
“Lah?”
“Soalnya Tasya udah ada pacar, jadi nggak bisa diseriusin sama Bang Gilang, hehe.”
“Kamu udah punya pacar, ya?” tanya Gilang di seberang sana pura-pura tidak tahu.
“Hehe iya, Bang. Baru beberapa hari ini aja sih, belum lama.”
__ADS_1
“Sama Vino?”
Tasya menganggukkan kepala, walau dia juga tahu bahwa Gilang tak bisa melihatnya.
“Iya, Bang. Abang tahu dari mana? Pasti dikasih tau sama Bang Alvan, ‘kan?”
“Iya, Sya. Kamu bahagia sama Vino?”
“Bahagia nggak bahagia sih, Bang. Bahagianya Kemarin Vino cerita masalah pribadinya ke Tasya. Terus nggak bahagianya sikap Vino ke Tasya masih sering cuek. Terus pas Tasya ngajak pulang bareng pasti Vino punya seribu alasan buat nolak. Bilangnya ada latihan basketlah, mau kumpul bareng temanlah, ada urusanlah, pokoknya banyak deh alasannya.” Tasya menceritakan semua yang dia alami selama berpacaran dengan Vino selama beberapa hari ini kepada Gilang.
“Sya!”
“Iya Bang, kenapa?”
“Kalo Vino nyakitin kamu, bilang, ya sama Abang. Biar Abang yang bahagiain Tasya. Tasya percayakan sama Abang?”
Jujur, perkataan Gilang membuat Tasya terharu. Bahkan, air mata haru lolos meluncur bebas di pipi Tasya. Gilang selalu saja bersikap baik kepada Tasya. Gilang juga selalu ada untuk Tasya, baik saat Tasya susah maupun saat Tasya senang.
Tak dapat dipungkiri, ada sepercik rasa yang membuncah di dalam hati Tasya. Namun, Tasya selalu berusaha menyakinkan dirinya, bahwa perasaaan itu hanyalah perasaan sebagai adik kepada abangnya.
Tasya yakin sangat-sangat yakin, perasaannya kepada Gilang sudah musnah sejak kehadiran Vino di hidupnya. Ah ralat, Vino, kan tidak pernah hadir di kehidupan Tasya, hanya Tasya saja yang terlalu berekspektasi bahwa lambat laun dia akan berhasil membawa Vino ke dalam kehidupan abadinya. Namun, sekali lagi, Tasya hanya bisa berekspektasi tinggi.
“Hehe, iya, Bang. Tasya percaya sama Abang.”
“Masuk gih. Udah malam.” Tasya segera bangkit dari duduknya membawa cemilannya masuk ke dalam kamar lalu menutup tirai kamarnya.
“Iya, Bang. Ini Tasya udah masuk kamar,” sahut Tasya lalu duduk di atas ranjangnya.
“Mau nggak Abang nyanyiin?”
“Emangnya Abang bisa nyanyi?”
“Wah, ngeremehin banget nih, mau dinyanyiin nggak nih?”
“Boleh.” Tasya mulai memposisikan dirinya tidur di ranjang. Tasya menaruh ponselnya bersandar pada guling. Lalu menarik selimutnya sebatas dada.
“Bentar, ya. Abang ambil gitar dulu.”
Grusak-grusuk-gdubrak!
Tasya hanya tertawa mendengar suara ribut barang-barang dari tempat Gilang.
Terdengar oleh Tasya, Gilang mulai memetik sinar gitarnya.
“Di mana bisa aku temukan
Kenyamanan rindu yang dulu kauberi
Andaikan kautahu di siniku rindu
Akan semua kenangan kita.
Kuharap di sana kaubahagia
Kuharap kamu tak lupakanku
Andaikanku bisa mengulang kembali
Masa indah bersamamu
Aku merindukanmu
Masih merindukanmu
Meski kini telah jauh
Hatiku tetap untukmu
Aku rindu perhatianmu
Ketulusan dalam hatimu
Meski jarak memisahkan
Hatiku tetap untukmu
Di mana bisa aku temukan
__ADS_1
Kenyamanan rindu yang dulu kauberi
Andaikankau tahu di siniku rindu
Akan semua kenangan kita
Kuharap di sana kaubahagia
Kuharap kamu tak lupakanku
Andaikanku bisa mengulang kembali
Masa indah bersamamu
Aku merindukanmu
Masih merindukanmu
Meski kini telah jauh
Hatiku tetap untukmu
Aku rindu perhatianmu
Ketulusan dalam hatimu
Meski jarak memisahkan
Aku merindukanmu
Masih merindukanmu
Meski kini telah jauh
Hatiku tetap untukmu
Aku rindu perhatianmu
Ketulusan dalam hatimu
Meski jarak memisahkan
Hatiku tetap untukmu
Meski kaukini jauh
Di saat tiada pembeda
Hatiku 'kan selalu
Tetap untukmu, untukmu
Meski jarak memisahkan
Hatiku tetap untukmu ....”
Tetap untukmu, by Anneth
Tasya tersenyum mendengar Gilang sudah menyelesaikan lagunya. Dia tak menyangka suara Gilang bisa sebagus ini, karena baru kali ini gadis itu mendengar suara Gilang saat menyanyi.
“Udah, ya, Sya. Kamu tidur yang nyenyak malam ini. Bermimpilah bahwa kamu adalah orang paling bahagia di dunia ini. Buang segala kenyataan pahit di dalam hidupmu. Jangan biarkan kenyataan pahit merenggut kebahagiaan yang kamu punya. Jalani hidupmu dengan senyum yang terus mengembang di bibirmu. Selamat malam, Natasya.”
“Malam juga, Bang. Makasih lagunya, suara Abang bagus
Kapan-kapan nyanyiin lagi, ya?” sahut Tasya masih dengan senyum di bibirnya.
Andai saja Vino yang menyanyikan lagu seromantis ini untuk Tasya, mungkin saat ini Tasya sudah mimisan, kejang-kejang, terus pingsan, karena saking bapernya.
“Iya, ya udah gih tidur, Abang matiin, ya teleponnya.”
“Iya, Bang matiin aja. Tasya juga udah ngantuk.”
Tut-tut-tut!
Setelah Gilang memutuskan sambungan telepon, Tasya menaruh ponselnya di atas nakas lalu memejamkan matanya menyusul alam mimpinya. Semoga saja kenyataan akan seindah dalam mimpinya.
.
__ADS_1
To be continue ....