Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 28


__ADS_3

Happy Reading ❣


.


.


.


.


.


.


.


“Tanpa sengaja, rindu ini selalu menyebut namamu. Walau kusadari semuanya telah terlambat. Dan kini, aku hanya bisa melihat senyum bahagiamu bersama pria lain.”


~Arvino Afriza Louis~


Bel pulang berbunyi nyaring seantero sekolah. Membangkitkan kembali semangat para siswa yang sempat hilang karena dipaksa untuk mengikuti kegiatan belajar -mengajar.


“Kita jadi ke rumah Tasya, ‘kan?” tanya Lala sambil memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas berwarna baby pink miliknya.


Arin mengangguk. “Iya, tadi Rangga udah line gue. Jadi, kita langsung ke parkiran aja. Kemungkinan mereka udah nunggu kita di sana.”


Lala mengangguk paham. Setelah keduanya telah selesai membereskan alat tulis, mereka segera melangkahkan kaki keluar kelas. Setibanya di parkiran Arin dan langsung menaiki mobil milik Rangga.


Selama perjalanan tak ada percakapan yang mereka lontarkan. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka telah tiba di depan gerbang rumah besar milik Tasya.


Tin tin


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pak Mugisatpam yang bertugas menjaga keamanan rumah milik keluarga Tasya.


“Kita teman sekolahnya Tasya, Pakai. Boleh, kami masuk?”


Pak Mugi mengangguk, kemudian beliau mulai membukakan gerbang, memberikan akses untuk mobil Rangga agar bisa ke dalam pekarangan rumah Tasya.


“Tasya, Lala kangen sama Tasya!” Teriakan Lala menggelegar di ruang tamu Tasya.

__ADS_1


Lala segera berlari menghampiri sahabatnya itu. Memeluknya erat bahkan sangat erat.


“Tasya apa kabar? Tasya baik-baik ajakan?” tanya Lala bertubi-tubi.


Tasya tersenyum lalu mengangguk.


“Gue baik-baik aja, La." Tasya mengalihkan pandangannya, menatap satu-persatu teman-temannya yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. "Tumben kalian pada ke sini rame-rame? Ada apa?”


“Kita semua mau jengukin lo, Sya. Sorry baru sempat sekarang. Kemarin-kemarin gue sibuk, masih banyak urusan,” ucap Rangga, mengambil duduk di sebelah Lala.


“Eh, Banget Gilang. Kok udah di sini aja. Enggak sekolah apa?” tanya Rangga lagi saat melihat Gilang yang baru saja hadir menghampiri mereka dari arah dapur sambil membawa segelas air putih.


“Iya, gue tadi ada urusan jadi bolos sehari.” Gilang memberikan gelas berisi air putih yang diabawa kepada Tasya.


“Sya, lo nggak ada niatan buat sekolah bareng kita lagi?” tanya Arin, diamendudukkan diri di samping Rangga.


“Gue nggak tahu, Rin. Gue juga lagi bingung. Di sisi lain gue sebenarnya juga pengen balik lagi sekolah di tempat umum seperti sebelum-sebelumnya, tapi di sisi lain, gue takut kalau gue kembali sekolah lagi gue bakalan ingat sama kejadian itu. Mungkin, sebagian atau bahkan semua orang bakalan menganggap ini semua hanyalah hal sepele, tapi nggak bagi gue, Rin. Bagi gue ini sakit.” Tasya kembali meneteskan air matanya.


Gilang yang duduk di samping Tasya mengusap punggung gadis itu lembut.


“Udah, nggak usah dilanjutin kalau cuma bikin kamu sedih.”


“Btw, kenapa lo diam aja dari tadi, Put. Sariawan lo?” tanya Arin, memandang freak ke arah Putra.


“Emm, Sya, gu ... gue mau minta maaf sama lo,” ucap Putra mengangkat wajahnya menghadap ke arah Tasya.


Sementara Tasya hanya mengerutkan dahinya, tak paham dengan topik yang sedang dibicarakan oleh Putra.


“Gue, gue mau minta maaf. Sebenarnya yang ngasih tantangan Vino buat pacarin lo itu gue. Gue nggak tau kalau akhirnya bakalan jadi begini. Sekali lagi gue minta maaf, i'm sorry, Sya,” ucap Putra menundukkan kepalanya.


Bahkan Putra tak berani menatap Tasya. Dia sadar dia salah dan dia siap jika Tasya akan marah lalu membencinya.


Tasya tersenyum tulus. “Udah nggak usah dibahas. Semuanya juga udah berlalu, Put. Anggap aja nggak pernah terjadi.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di depan gerbang rumah Tasya, terdapat seorang pria seumuran dengannya duduk di atas motor dengan mata yang terus menatap ke dalam rumah Tasya.


“Aden nggak masuk aja? Teman-temannya Non Tasya juga ada di dalam?” Ini sudah kesekian kalinya Pak Mugi menawarkan laki-laki untuk masuk ke dalam, tetapi selalu ditolak oleh lelaki ini.

__ADS_1


“Enggak usah, Pak. Saya di sini aja. Saya nggak lama kok.”


Setelah kembali mengucapkan kalimat itu, dia kembali menatap sendu ke dalam rumah. Menyaksikan canda dan tawa teman-temannya.


Senyum wanita itu yang selama ini dia rindukan. Diam-diam rasa itu mulai memberontak di dalam hatinya. Namun, sampai detik ini lelaki itu enggan untuk memahami perasannya sendiri.


‘Kenapa setelah kamu pergi aku malah mengharapkan kamu kembali? Apa ini yang disebut karma? Baru merasa menyesal setelah semuanya telah hilang?’ batin pria itu.


Jika kalian bertanya siapa pria itu, maka jawabannya dia adalah Vino. Ya, Vino sudah sedari tadi terus saja duduk di atas motornya. Em, sudah sejak berhentinya mobil Rangga di depan rumah Tasya. Bahkan ini sudah terhitung dua jam sejak tadi. Sudah lama, bukan?


Namun, waktu selama itu nampaknya tak membuat Vino beranjak dari tempatnya. Dia masih ingin memandangi wajah gadis yang dia rindukan secara diam-diam.


‘Kenapa, saat dia pergi justru rasa ini hadir? Tolong pergilah rasa, gue nggak pantas ada di sisi dia. Bahkan, untuk dapat maaf dari lo aja gue nggak pantas. Maaf, maafin gue, Sya. Gara-gara gue lo kehilangan dunia lo yang sebelumnya. Gue jahat, Sya gue memang laki-laki brengsek. Gue udah tega ngucapin kata-kata yang sama sekali nggak menggambarkan diri lo. Lo terlalu baik buat gue, Sya. Gue malu sama diri gue sendiri, gue malu karena bisanya cuma buat wanita menangis. Maafin gue, Sya,’ batin Vino.


Sekali lagi matanya menatap ke arah rumah. Detik berikutnya, Vino mulai memacu kecepatan motornya, meninggalkan pekarangan rumah Tasya. Entah kenapa tujuannya sekarang, yang pasti dia tak ingin kembali ke rumah dulu. Dia masih ingin berada di luar.


Vino memberhentikan motornya di area taman, tempat yang selalu dia hadiri saat dia sedang merindukan wanita itu. Merindukan? Entahlah, antara merindukan atau hanya sekadar rasa bersalah saja, Vino pun tak tahu.


Vino ini sosok pria yang sangat sulit untuk bisa memahami perasannya sendiri. Jangankan memahami perasaan orang lain, memahami perasannya saja ia sulit. This is foolish.


Vino menyugar rambutnya frustasi. Menyandarkan kepalanya di sandaran bangku yang sedang dia duduki. Suara dering yang berasal dari ponselnya menyadarkan Vino dari lamunannya. Dia meraih ponsel dari saku celananya. Menatap layar ponsel yang menampilkan nama wanita yang berstatus sebagai pacarnya.


“Halo, ada apa, Rik?” tanya Vino setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


“Kamu sedang berada di mana, Vin?”


“Ini, gue lagi di taman. Ada apa?”


“Aku cuma mau bilang, kalau aku besok mau ke Kediri ada urusan keluarga, jadi besok aku nggak sekolah.”


“Hm, berapa lama?”


“Kemungkinan tiga hari. Udah dulu ya, aku mau packing pakaian dulu. Nanti, aku kabarin lagi, see you Vin.”


Tut-tut-tut!


Vino mematikan sambungan teleponnya, memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Ia kembali menancap gasnya menuju rumah.


‘Mom, i'm tired. Bring along leave me.’

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2