
Happy Reading❣
Setelah melalui perjalanan selama beberapa jam. Kini Vino dan keluarga tantenya akhirnya telah tiba di bandara Juanda daerah Surabaya. Keempatnya kini sedang berdiri di ruang tunggu. Mereka sedang menunggu orang yang diutus Bagas untuk menjemput mereka.
Hingga beberapa menit kemudian, seorang pria dengan seragam khas supir keluarga Vino pun datang menghampiri mereka.
"Den Vino!" panggil pak Bejo, supir pribadi keluarga Louis.
Vino mengangguk,
"Iya pak, ayo buruan. Vino mau lihat bagaimana keadaan bang Gilang.
Pak Bejo mengangguk, ia menggiring keluarga majikannya menuju mobil yang akan mereka gunakan sambil membantu membawa koper semampunya.
"Ini langsung ke rumah sakit atau pulang dulu, den?" tanya pak Bejo yang sedang mengemudikan mobil sambil sesekali melirik ke arah Vino yang duduk di sampingnya.
Vino melirik ke arah jam tangan mahal yang melingkar sempurna di lengan kirinya,
"Anterin Vino ke rumah sakit langsung, pak. Nanti setelah mengantar Vino baru pak Bejo antar tante Faza sekeluarga ke rumah."
"Kita ikut kamu aja, Vin. Kita juga mau tengok keadaan Gilang, iyakan ma?" ucap Farrel yang di angguki oleh anak dan isterinya.
Vino hanya mengangguk pasrah. Terserah mereka mau bagaimana. Yang ada dipikiran Vino saat ini hanya Gilang, Gilang, dan Gilang. Bagaimana keadaan Gilang? Apakah Gilang baik-baik saja? Semoga saja. Kekhawatiran terus melanda dirinya sejak berita tentang kecelakaan abang kandungnya masuk sampai ke telinganya.
Ia sejak tadi tak dapat berpikir dengan tenang. Rasa cemas selalu saja bersinggasana dihatinya. Satu yang ia takutkan, ia hanya takut Gilang kembali ke pangkuan Tuhan sebelum ia bisa melihat wajah abangnya itu. Oh Vino, hapuslah pikiran-pikiran buruk yang hinggap di kepalamu.
Bila dipikir-pikir, dengan meninggalnya Gilang ia dapat mendapatkan kembali Tasya. Namun, kembali lagi, Vino tak setega itu. Secinta apapun ia dengan Tasya, ia tak akan tega mendoakan keburukan untuk suami Tasya yang notabenenya adalah abang kandungnya. Oh no, Vino tak setega itu
Cukup melihat kedua orang yang ia sayangi bahagia, maka ia akan ikut merasakan bahagia. Yet, ia juga tak dapat membohongi hatinya. That he is hurt to see the person he cares about being happy with someone else, believe me it hurts so much.
"Vin!" Vino tersadar dari lamunan singkatnya, ia terperanjat saat mendengar suara yang menurutnya mengagetkan telinganya.
__ADS_1
"Eh iya, tan kenapa?" tanya Vino melirik ke arah tantenya yang duduk di kursi belakang.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini tante lihatin sering banget ngelamun? Kamu lagi ada masalah? Cerita aja sama tante. Tantekan udah menganggap kamu seperti anak sendiri. Atau kamu sedang memikirkan keadaan Gilang, berdoa saja kepada Allah, semoga Gilang baik-baik saja," ucap Faza, walau sebenarnya ia juga tak yakin dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Mengingat apa yang dikatakan oleh Bagas via telepon. Bagas berkata, kecelakaan ini sangat parah, bahkan Gilang harus menjalani operasi. Namun, apa salahnya berdoa dan percaya atas keajaiban sang Maha Pencipta. Tiada yang tak mungkin jika Dia berkehendak. Kita sebagai manusia, hanya bisa memohon dan berdoa mudah-mudahan dan semoga.
...🎀...
Sudah nyaris 3 jam ini Tasya duduk sendirian didepan ruang operasi. Keluarganya yang lain sedang berada di mushola masjid untuk melaksanan sholat ashar. Operasi sudah dilaksanakan sejak pukul 1 siang tadi, dan sekarang sudah pukul 3. Namun, sampai saat ini lampu tanda operasi sedang dijalankan belum juga padam.
Apa memang separah itu lukanya? Hingga menyebabkan operasi yang dijalankan bisa selama ini?
Tasya tak hentinya merapalkan doa-doa kebaikan untuk suaminya yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Untung saja, Gita yang ada di gendongannya saat ini tidak rewel, sehingga tidak menambah pikiran Tasya.
Nampaknya, bayi mungil itu paham akan apa yang dirasakan oleh sang bunda. Tangan kecil itu menggapai-gapai pipi Tasya. Bibir mungil itu menerbitkan sebuah senyuman yang menukar ke bibir Tasya. Tasya ikut tersenyum, jari telunjuknya nampak digenggam oleh anaknya.
"Doakan supaya ayah baik-baik aja ya, sayang," gumam Tasya lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi gembul Gita.
"Iya, bun. Tasya titip Gita ya," ucap Tasya yang langsung mengambil alih Gita kegendongannya.
Selepas perginya Tasya ke mushola, datanglah Vino dan keluarga Faza. Mereka nampak jalan dengan tergesa-gesa agar cepat sampai ditempat tujuan.
"Assalamualaikum!" Vino mengucapkan salam lalu mencium punggung tangan Bagas lalu Tera dan Rafa.
"Waalaikumsalam, kapan tibanya?" tanya Bagas sambil menepuk pundak Vino.
"Baru aja, mas. Ini kita langsung kesini," sahut Faza sambil tersenyum ramah ke arah Tera.
"Kenapa gak langsung pulang dulu?"
"Tuh, katanya Vino mau ngelihat keadaan abangnya, jadi kita ikut sekalian. Lagian kita juga kau tau bagaimana kondisi Gilang, mas!"
__ADS_1
Bagas mengangguk mafhum,
"Oh iya, pak, bu. Kenalkan ini Farrel, Faza, dan anaknya Febri. Mereka saudara dan keponakan saya yang tinggal di Belanda."
...🎀...
Setelah jarum jam tepat menunjukkan pukul 4 sore, akhirnya lampu tanda operasi sedang dijalankan pun padam. Mereka yang berada disitu menatap pintu ruang operasi dengan cemas dan penuh harap.
Kalian pasti tahukan apa harapan mereka? Ya, sudah pasti mereka berharap operasi ini berhasil. Namun, siapa yang tahu takdir, orang pintar sekalipun tak ada yang bisa menebak takdir. Mereka hanya bisa berdoa Tuhan mau mengabulkan doa-doa mereka tentang kesembuhan Gilang. Namun, kembali lagi, mereka hanya bisa pasrah atas kehendak Tuhan.
Seorang pria dengan setelan jas putihnya khas dokter keluar dari ruang operasi. Ia menatap satu-persatu orang yang nampak berdiri menunggu jawaban darinya. Raut wajah sang dokter nampak semakin membuat rasa khawatir mereka semakin membesar.
Hening
Beberapa menit telah mereka lalui hanya dengan diam. Juga mungkin karena mereka menunggu jawaban dari sang dokter yang tak kunjung mengeluarkan suaranya.
"Bagaimana keadaan menantu saya, dok?" Hingga suara Rafa nampak sedikit mengurangi hawa mencekam yang baru saja mereka lewati.
"Operasinya berjalan dengan lancar," balas dokter Gio dengan senyum ramahnya.
Alhamdulillah
Satu kata yang mereka ucapkan dengan bersamaan sambil mengusapkan kedua belah tangan mereka ke wajah. Puji syukur mereka panjatkan, atas kemurahan hati sang Pencipta yang telah mengabulkan doa-doa mereka. Wajah-wajah yang tadinya terlihat muram kini sudah kembali cerah.
"Sudah bisa dijenguk sekarang, dok?" tanya Tasya tak sabaran. Memang, Tasya sudah tak sabar ingin bertemu dengan suami tercinta.
"Untuk saat ini tidak bisa, bu. Saat ini pasien sedang membutuhkan istirahat untuk memulihkan tenaganya pasca operasi. Dan, sekarang pasien belum sadarkan diri karena efek dari obat bius. Mungkin setengah jam lagi pasien akan sadar, dan baru bisa dijenguk setelah dipindahkan ke ruang rawat," jelas dokter Gio yang di angguki oleh semua orang.
...\=\=\=\=\=\=\=ಠ_ಠTo_Be_Continue ಠ_ಠ\=\=\=\=\=\=\=...
Salam manis
__ADS_1
Sembuluh, 1 April 2021