
Happy Reading❣
...“Kalo lo merasa capek sama kehidupan ini, itu semua adalah hal wajar. Lo hanya perlu rehat, sebelum mempersiapkan diri buat menghadapi peristiwa yang mungkin bakalan lebih menguras banyak energi yang lo miliki.”...
...~Natasya Quiella Natapraja~...
Vino baru saja turun dari kamarnya, matanya menatap ke arah papa dan juga abangnya yang sedang melakukan rutinitas sarapan di meja makan.
“Vino, sini sarapan dulu!” ajak Bagas sembari melambaikan tangannya ke arah Vino.
Untuk menghormati Bagas sebagai papanya, Vino mengangguk. Kakinya mulai melangkah menghampiri mereka lalu duduk di bangku tepat di hadapan Gilang. Dia mulai memakan nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Bi Indah untuk mereka.
“Kamu harus rajin belajar, biar bisa pintar kayak abangmu,” ucap Bagas lalu memakan kembali makanannya.
“Pa!” tegur Gilang, Dia kesal bila papanya ini selalu saja memerintah Vino untuk menjadi seperti dirinya. Gilang tak mau Vino tertekan. Bagaimana pun juga, Vino adalah adik kandungnya.
Prang!
Vino membanting sendok yang dia gunakan di atas piring. Dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah, kedua tangan Vino terkepal erat di antara dua sisi tubuhnya.
“Cukup, Pa. Kenapa Papa nggak pernah ngertiin Vino? Sudah berapa kali Vino bilang sama Papa? Ini Vino, bukan Bang Gilang. Mau sekeras apa pun Vino berusaha, sampai kapan pun Vino nggak akan bisa seperti Bang Gilang. Vino sama Bang Gilang itu beda, Pa. Terus-terusan aja Papa beda-bedain Vino sama Bang Gilang. Vino capek, Pa. Papa nggak pernah ngertiin keinginan Vino!”
Cukup sudah Vino memendam semua yang sering menjadi alasan hatinya tertekan. Dia juga ingin dipedulikan, ingin dihargai. Tak cukupkah Bagas selalu menyuruhnya agar sama seperti Gilang? Vino tak akan sanggup, sebab Gilang terlalu jauh untuk dia kejar.
Brak!
Bagas mengebrak meja dengan keras, lalu berdiri dari duduknya.
“Berani kamu ngelawan Papa, hah?! Masih segini aja kamu sudah berani ngelawan Papa, besar nanti mau jadi apa kamu?!” bentaknya yang ikut tersulut emosi.
“Pa, Vin, udah. Ini masih pagi. Kalian jangan berantem terus!” tukas Gilang, sudah cukup. Dia sudah lelah melihat perdebatan antara papa dan adiknya itu.
“Udahlah, Vino berangkat, assalamualaikum.” Vino mengambil tasnya yang berada di kursi sebelahnya lalu pergi meninggalkan rumah. Semarah apa pun, seemosi apa pun, dia selalu ingat pesan dari almarhumah bundanya yang mengatakan agar selalu mengucapkan salam sebelum pergi atau sebelum masuk rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Pagi, Tasya!” seru Lala sambil berjalan riang, menghampiri Tasya yang sedang duduk anteng di bangkunya.
“Pagi juga, Lala!” Tasya tersenyum manis.
“Arin belum datang?” tanya Lala saat tak melihat keberadaan sahabat bar-barnya itu.
__ADS_1
Tasya menggidikkan bahunya. “Enggak tahu.”
Tak lama kemudian, Arin datang memasuki kelas. Dia menghampiri kedua temannya lalu duduk di sebelah Tasya, ya karena memang bangku berada di sebelah gadis itu.
“Pagi, Arin!” Lala kembali menyapa Arin.
Arin hanya tersenyum tipis sambil mengangguk lalu meletakkan tasnya di atas meja.
Beberapa menit kemudian bel masuk pun mulai berbunyi. Setelah tiga jam lamanya mengikuti kegiatan belajar mengajar, akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Iya, tepat sesuai dugaan kalian, bel istirahat.
“Tasya, Arin ayo buruan kita ke kantin. Lala udah lapar ini!” ajak Lala sambil menarik paksa lengan kedua sahabatnya itu, membawanya menuju kantin yang sudah tampak ramai dengan ocehan para siswa dan siswi SMA Pelita Bangsa.
“Duh, penuh kita duduk mana, nih?” tanya Tasya, matanya berkeliling mencari tempat duduk yang kosong untuk mereka.
“Kita ke sana aja, Sya, La!” ajak Arin seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah kedua teman Vino, siapa lagi kalo bukan Putra dan Rangga.
Tasya mengangguk. “Ya udah, ayo.”
“Tasya sama Arin duluan aja, biar Lala yang pesan makanan buat kita,” ucap Lala yang diangguki oleh kedua sahabatnya itu.
Tasya dan Arin pun mulai berjalan menghampiri Rangga dan Putra.
Rangga mengangguk. “Duduk aja, nggak apa-apa kali. Lagian kantin ini tempat umum. Jadi santai aja.”
Sambil menunggu Lala yang sedang memesan makanan, Tasya tampak menoleh mencari keberadaan Vino yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.
“Nyari Vino?” tanya Putra, seakan paham apa yang sedang dicari oleh Tasya.
Tasya mengangguk, membenarkan pertanyaan Putra. “Iya, kemana ya Vinonya? Kalian tahu Vino di mana?”
“Dia lagi di rooftop. Kayaknya lagi ada masalah deh, samperin gih,” sahut Putra.
“Kalau begitu, gue susulin dulu, ya.” Tasya beranjak dari duduknya setelah mendapat anggukan dari semua orang yang berada di situ.
Sepeninggal Tasya, Arin segera menghadiahi Putra dengan tatapan intimidasinya.
“Gue tahu, lo, kan yang ngasih tantangan Vino buat nembak Tasya.”
Putra tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Ya gimana, ya, lagian maksud gue baik kok.”
“Baik dari mananya, dodol?”
__ADS_1
“Kalian nggak pada tahu, 'kan? Selama ini tuh Vino sering ngepoin Instagramnya Tasya, asal kalian tahu.” Wajah Putra tampak serius.
“Hah, sejak kapan?” tanya Arin terkejut.
“Enggak lama sih, baru sekitar satu bulanan ini. Setelah Vino putus sama mantannya, yang katanya pindah ke luar negeri itu,” jelas Putra lalu menyeruput jus jeruknya.
“Oh, si Rika, ya?” tanya Rangga sangsi, yang dibalas anggukan oleh Putra.
“Tapi, kalau Vino cuma mau jadiin Tasya sebagai pelarian gimana?”
Putra mengangkat bahunya acuh. “Mana saya tahu, saya, kan ikan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di sisi lain, Tasya tampak sedang berjalan seorang diri. Dia sedang berpikir, Vino memiliki masalah apa.
Setelah menaiki anak tangga yang lumayan banyak, akhirnya Tasya sudah sampai di rooftop. Perlahan-lahan dia mulai membuka pintu di hadapannya dengan pelan. Terlihatlah Vino yang sedang duduk di lantai dengan kedua jari yang mengapit sebuah benda bernikotin.
“Vin!” panggil Tasya.
Vino menoleh sebentar lalu kembali menghadap ke arah sebelumnya. Dia menghisap rokoknya sekali lagi, lalu membuang di bawahnya dan menginjak rokok itu dengan alas kakinya.
Tasya mulai berjalan menghampiri Vino lalu duduk di sampingnya.
“Ngapain ke sini?” 5anya Vino, tanpa menoleh ke arah Tasya yang duduk di sisinya.
“Lo lagi ada masalah?” Tasya balik bertanya.
“Peduli apa lo sama gue?”
“Vin, kalau lo ada masalah cerita aja sama gue. Walaupun nantinya gue nggak bisa bantu, setidaknya lo bisa berbagi cerita sama gue. Gue siap kok dengerin keluh kesah lo,” tutur Tasya lembut lalu memandang wajah tampan Vino.
Entah dorongan dari mana, Vino mulai menyandarkan kepalanya di bahu Tasya. Tangan Tasya terulur mengelus rambut Vino dengan lembut. Beberapa menit terjadi keheningan di antara mereka.
“Kalau lo belum siap cerita nggak apa-apa, tapi nanti kalau lo udah Siap, bilang sama gue. Gue selalu siap dengerin semua keluh kesah lo. Jangan sungkan-sungkan buat berbagi keluh-kesah sama orang di sekitar lo, selagi mereka masih bisa lo percaya.” Tangan Tasya masih mengelus rambut Vino.
“Gue capek, Sya. Gue capek ngadepin ini semua,” ucap Vino mulai membuka suara.
“Kalo lo merasa capek sama kehidupan ini, itu semua adalah hal wajar. Lo hanya perlu rehat, sebelum mempersiapkan diri buat menghadapi peristiwa yang mungkin bakalan lebih menguras banyak energi yang lo miliki,” tutur Tasya, berusaha memberikan dukungan untuk Vino.
To be continue ....
__ADS_1