Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 29


__ADS_3

Happy Reading


.


.


.


.


.


.


.


“Mencintaimu itu menyakitkan. Bagai ribuan belati beracun yang terus saja menikam. Aku menyerah, hatiku telah patah. Kupersilahlan kau untuk melangkah, biarkan di sini aku yang mengalah.” 


~Natasya Quiella Natapraja~


Tasya duduk termenung di atas ranjangnya, ditemani lagu yang berjudul Luka Disini by Ungu.


Dulu pernah ada cinta


Dulu pernah ada sayang


Namun kini tiada lagi perasaan


Seperti dulu...


Ingatannya berputar kembali saat-saat di mana dulu dia masih bersama Vino. Tasya tersenyum samar, kebahagiaan yang dia rasakan bersama Vino memanglah sangat singkat. Namun, dia bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk merasakan yang namanya kebahagiaan bersama orang yang dia sayang.


Perlu dia ingat kembali, Vino bukanlah takdirnya. Vino hanyalah sosok yang sekedar singgah. Seolah tamu yang numpang mampir. Mereka hanya sekedar menanyakan kabar atau hanya mencicipi makanan.


Tasya POV


Boleh tidak aku meminta kepada Tuhan agar mengizinkan aku untuk kembali bersama dia?


Perasaan ini belum berubah. Perasaan ini masih tetaplah sama. Walau tak dapatku pungkiri, ada sepercik rasa yang menggebu saat aku dekat dengan seorang pria yang baru-baru ini kuketahui bahwa dia adalah kakak kandung dari dia.


Boleh aku menyebutnya mantan terindah? Kata orang, ‘tidak ada yang namanya mantan terindah, kalau indah tidak mungkin jadi mantan.’ Namun, bagiku, dia adalah mantan terindahku. Vino telah berhasil melukiskan kebahagiaan di dalam hidupku meski hanya sesaat.


Entah kenapa perasaan ini belum juga menghilang. Padahal aku juga tahu, bahwa Vino tak pernah benar-benar mencintaiku. Aku yakin, pasti saat ini Vino sudah bahagia bersama kekasih yang saat ini bersama dengan dirinya. Ah, memikirkannya saja sudah membuatku kembali merasa terluka.


Namun, aku juga tak dapat membohongi perasaanku sendiri. Ada rasa aman dan nyaman saat pria yang notabenenya adalah cinta pertamaku berada di dekatku. Dia Bang Gilang, cinta pertamaku setelah ayah. Dia bahkan berhasil mencuri perhatian sejak aku masih duduk di bangku SMP.

__ADS_1


Drt-drt!


Bunyi nada notifikasi dari ponsel yang terletak di sampingku berhasil mengalihkan perhatianku. Aku menatap layar ponsel yang menampilkan notifikasi dari aplikasi Instagram milikku. Aku pun meraihnya, membuka lock screen lalu tanganku mulai berselancar di atas layar. Membuka notifikasi apa yang baru saja muncul.


Deg!


Rasa sakit dan kecewa kembali muncul di permukaan hatiku. Aku menatap nanar foto yang baru saja di unggah oleh mantanku.


Arvino.AL05


Sensor picture


❤ 💭📤


199 love


New ago


Arvino.AL05 mine❤️


300 commentary


View all  commentary


Terpampang jelas wajah Vino dengan kekasihnya di foto yang baru saja Vino unggah. Aku menatap nanar ke arah layar ponsel yang aku pegang. Kenapa rasanya masih sesakit ini?


Tak dapat aku bendung lagi air mata yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk matanya, ya sesuai dugaan kalian, aku kembali menangis. Aku menepuk-nepuk dadaku, berharap rasa sakit yang aku rasakan dapat lenyap. Namun, itu hanyalah semu.


Tuhan, hilangkan rasa cinta ini. Aku tak mau terus sakit hati karenanya. Aku juga ingin bahagia, Tuhan. Batinku terus berteriak.


Aku menggigit bibir bawahku, menahan Isak tangis yang seakan ingin meledak keluar. Aku hanya tak ingin membuat anggota keluarga khawatir kepadaku. Aku tak ingin membuat mereka sedih karena diriku.


Tok-tok-tok!


Bunyi ketukan pintu kamarku membuatku mengusap kasar air mataku. Aku mengambil gelas di atas nakas lalu meminum airnya hingga tandas. Aku melangkah menuju kamar mandi, mencuci muka agar tak terlihat sembab karena sehabis menangis. Setelah selesai, aku kembali melangkah, membuka pintu kamarku untuk melihat siapa yang sedari tadi mengetuknya.


“Kenapa, Bang?” tanyaku saat aku sudah membuka pintu.


“Gilang nyariin lo di bawah.” Aku mengangguk kemudian mengikuti langkah abangku dari belakang.


Sesampai di ruang tamu dapat aku lihat Bang Gilang yang sedang berbincang hangat dengan ayahku.


“Nah ini Tasya-nya, kalau gitu ayah ke kamar dulu ya,” ucap ayahku setelah menatapku sebentar. Beliau berdiri, menepuk pelan puncak kepalaku lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.


“Kamu habis nangis?” tanya Bang Gilang setelah aku mendudukkan diri di sebelahnya.

__ADS_1


Aku menggeleng pelan. “Kata siapa? Aku nggak nangis kok.”


“Jangan bohong, Sya. Abang tahu kamu habis nangis, ‘kan? Vino lagi?” tanyanya seakan mengerti penyebab aku menangis.


Aku hanya diam tak mengangguk maupun menggeleng. Aku menyodorkan ponsel yang sedari tadi aku pegang ke arahnya. Dia menerima melihat sekilas ke arah layar yang masih menyala lalu kembali menatapku.


“Udah, kamu nggak usah pikirin dia lagi. Kamu berhak bahagia, Sya. Biarkan dia menikmati kebahagiaannya, percaya atau tidak suatu saat nanti dia juga akan mendapat karma atas apa yang telah dia lakukan.”


Reflek, aku menatap ke arahnya. Entah kenapa, Bang Gilang berucap seperti itu, padahal Vino-kan adiknya. Namun, entahlah semakin aku memikirkannya maka semakin pusing yang aku rasa.


“Dari pada kamu sedih terus mending sekarang kita jalan-jalan cari angin. Siapa tahu dengan begitu kamu akan melupakan kesedihan kamu.”


Aku tersenyum lalu mengangguk. Ide bagus, pikirku. Aku segera berlari menuju kamarnya, mengambil hoodie berwarna abu-abu lalu memakainya.


“Ayo, Bang!”


Aku segera menarik lengan bang Gilang agar bergegas mengikutiku. Dia hanya terkekeh pelan sambil mengacak rambutku, emm gemas mungkin.


Tak butuh waktu lama, bang Gilang sudah menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia membukakan pintu untukku, mempersilahkan aku untuk turun.


Kami berdua berjalan menuju salah satu penjual nasi goreng. Bang Gilang memesan dua porsi nasi goreng, salah satunya adalah nasi goreng super pedas. Entah untuk siapa, aku atau dirinya. Yang pasti aku tidak mau jika itu untukku, hehe aku tidak suka makanan terlalu pedas, btw.


Tak butuh waktu lama, penjual nasi goreng itu pun menghidangkan pesanan kami di depan meja tempat kami duduk. Ternyata nasi goreng super pedas itu untuk Bang Gilang.


Kami memulainya dengan membaca doa makan lalu mulai melahap makanan masing-masing.


“Hah ... hah, pedas, pedas.”


Aku terkekeh pelan melihat wajah Bang Gilang yang memerah karena kepedasan. Jujur saja, aku sedikit ... ah tidak-tidak aku sangat terhibur dengan kejadian sepele karena ulah Bang Gilang. Sedikit aku bisa melupakan masalah yang sedang melanda pikiranku. Aku segera menyodorkan sebotol air mineral ke arahnya, dia segera menerimanya lalu meminumnya hingga tersisa setengah. Wow, benar-benar pedas rupanya.


“Mau?” tawarnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng miliknya.


Aku hanya bergidik, sampai kapanpun aku tidak akan pernah suka memakan makanan pedas, walau banyak orang berkata bahwa makanan pedas bisa membuat mood kembali.


Bang Gilang hanya mengangguk kemudian kembali melahap nasi goreng miliknya yang hanya tersisa beberapa sendok. Aku terdiam, samar-samar aku tersenyum menatap wajah lucu pria di depanku ini. Ah, rasanya aku ingin memilikinya, eh aku tadi bicara apa, lupakan, aku hanya bercanda. Tapi kalo itu jadi kenyataan juga gak papa, lumayan nggak dapat adiknya, abangnya pun jadi, eh.


Tasya POV end


To be continue ....


Jika kalian jadi Tasya ... apa yang akan kalian lakukan?


Memilih pergi dan melupakan atau berjuang hingga titik darah penghabisan?


Selamat hari ulang tahun, buat yang lagi ulang tahun.

__ADS_1


Sudah besar, berdoa sendiri, ya. Aku di sini akan mengaminkan doamu🍀


__ADS_2