Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 45


__ADS_3

Happy Reading!


“Sya!”


Panggilan dari sang suami tercinta membuat Tasya yang semula sedang menyusui Gita pun menoleh, menatap suaminya.


“Kenapa, Mas?” tanyanya, sambil kembali berfokus menyusui Gita.


“Mau main ke mana gitu, nggak?” tawar Gilang, pria dengan baju kaos polo berwarna biru dengan celana rumahan itu mendudukkan diri di samping sang istri.


“Memangnya Mas lagi nggak sibuk?” tanya Tasya, merapikan kembali bajunya karena telah selesai menyusui sang buah hati.


Gilang menggeleng sambil berkata,


“Hari ini kerjaan di kantor nggak terlalu padat, sayang. Jadi, masih bisa di handle sama asisten Mas. Hari ini, Mas pengen meluangkan waktu buat kalian berdua. Kalian pasti bosan, beberapa bulan ini di rumah terus, ‘kan?” Gilang mengambil alih Gita, membawanya ke gendongannya.


Tasya tak menjawab, dia hanya cengengesan sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.


“Hehe iya, Mas. Ta-tapi, kalau Mas Gilang masih sibuk Tasya bisa ngertiin kok. Lagiankan tugas istri itu di rumah, nungguin suami pulang kerja.”


Gilang mengangguk kecil, bibirnya menerbitkan sebuah senyuman. Pria itu segera mencium kening Tasya. Sungguh, dia sangat bersyukur Tuhan memberikannya istri pengertian seperti Tasya.


“Terimakasih, sayang. Kamu sudah mau menjadi istri Mas, semoga kita akan terus bersama di dunia hingga di surga kelak,” ucap Gilang tulus, mencium kembali kening sang istri lalu berganti mencium kening Gita yang sedari tadi menatap kedua orang tuanya dalam diam.


“Memangnya kita mau ke mana, Mas?” tanya Tasya, menatap suaminya yang asik menghujani wajah Gita dengan ciuman.


Gilang mendongak—menatap Tasya, tangannya terulur mengelus kepala Tasya yang terbalut hijab berwarna silver.


“Bagaimana kalau kita ke rumah Bunda. Kita sudah lama tidak ke sana sejak lahirnya Gita dua bulan lalu, ‘kan?”


Tasya menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Iya juga sih, Mas. Lagian Tasya juga kangen banget sama Bunda. Mungkin sampai sana Tasya pasti kena omelan karena lama tidak berkunjung.” Tasya terkekeh pelan saat membayangkan dirinya yang akan kena omelan panjang dari Nyonya Besar ketika sampai rumah keluarganya nanti.


“Tak apa, ya sudah mari bersiap, biar nanti pulangnya nggak kelamaan, Gita biar sama Mas dulu,” tutur Gilang, menyematkan sebuah kecupan ringan di dahi sang istri.


“Aku ganti baju dulu ya, Mas. Nanti gantian jagain Gita-nya.” Tasya segera beranjak dari duduknya, gadis eh ralat wanita itu melangkah menuju kamarnya dan Gilang yang berada di lantai satu.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, kini Tasya sudah kembali. Wanita muda yang kini memakai gamis berwarna hitam dipadukan dengan hijab berwarna merah muda itu kembali melangkah mendekati sang suami dengan membawa tas yang berisi keperluan Gita di dalamnya juga baju yang akan dipakai oleh bayi itu di tangannya.


“Sudah, Mas. Sini biar Gita-nya sama aku. Sekalian aku mau gantiin bajunya Gita.” Tasya meletakkan tas yang dibawanya di atas sofa tunggal—mengambil alih Gita dari gendongan sang suami.


Gilang segera menuju kamar untuk mengganti pakaiannya. Usai kepergian Gilang, Tasya pun meletakkan Gita di atas sofa. Wanita itu mulai membuka pakaian sang bayi.


“Kita mau ke rumah Nenek, Dek,” ucap Tasya, mengajak Gita bicara, meski hanya gumaman tak jelas yang keluar dari mulut mungil bayi itu, tapi itu sudah membuat Tasya bahagia.


Tangan Tasya mulai sibuk membaluri tubuh Gita dengan minyak telon lalu menaburkan bedak bayi di tubuh Gita. Selesai dengan itu, Tasya meraih baju Gita yang dia taruh di atas meja lalu memakaikannya pada bocah bayi itu.


“Sekarang anak bunda kelihatan sangat cantik ....” Tasya menjeda ucapannya, dia terlebih dahulu mencium pipi Gita. “... dan harum bayi,” lanjutnya, kembali menciumi wajah imut dan gembil milik sang buah hati.


Tasya menghentikan kegiatannya saat melihat sang suami sudah melangkah menuju ke arahnya.


“Sudah selesai?” tanya Gilang, memandang anak dan istrinya.


Tasya mengangguk.


“Sudah, Mas. Sebentar ya, aku mau taruh baju kotor Gita di keranjang pakaian kotor dulu.” Tasya berniat melangkah, tapi terhenti karena instruksi dari sang suami.


Tasya mengangguk, Gilang pun pergi menuju dapur meletakkan pakaian kotor milik Gita ke dalam mesin cuci


🎀


Gilang memperlambat laju mobilnya saat tiba di depan gerbang rumah keluarga Natapraja. Dia membunyikan klakson, hingga tak lama Pak Mugi pun datang membukakan gerbang.


Gilang kembali melajukan mobilnya, memasuki pekarangan rumah. Pria itu menghentikan mobilnya di depan rumah. Dia segera turun, membukakan pintu untuk Tasya lalu mengambil tas yang berisi keperluan Gita di kursi belakang.


“Assalamu'alaikum!” ucap Gilang dan Tasya bersamaan seiring dengan langkah kaki mereka memasuki rumah.


“Wa'alaikumsalam,” jawab Tera yang baru saja datang dari dapur.


Matanya menyorot tajam ke arah Tasya, tak lupa tangannya yang berkacak di pinggang. Tahu jika bundanya sedang dalam keadaan marah, Tasya segera memberikan Gita kepada Gilang, lalu meraih tangan Tera—mencium punggung tangan juga pipi Tera.


“Pintar, ya. Kamu sekarang nggak pernah berkunjung ke sini lagi!” ucap Tera dengan nada sarkas, matanya masih menatap tajam Tasya.

__ADS_1


Tasya menggaruk pelipisnya, meringis sambil menatap bundanya.


“Maafin Tasya, Bunda. Tasya bukannya nggak mau berkunjung, Tasya cuma nunggu Mas Gilang nggak sibuk aja, supaya bisa ke sini bareng,” elak Tasya, mencium berkali-kali punggung tangan sang Bunda.


Tera menghela napas pelan, tangannya terulur mengelus kepala Tasya lembut.


“Iya, Bunda maafkan. Bunda bukannya memaksa kamu untuk ke sini, tapi Bunda cuma kangen sama putri bungsu Bunda ini,” ucap Tera, dia segera merengkuh tubuh Tasya ke dalam dekapannya.


“Maafin Tasya, Bunda. Tasya janji nanti bakalan sering main ke sini,” ujar Tasya—membalas pelukan bundanya tak kalah erat.


“Ya sudah, sana makan dulu. Tadi Bunda baru aja selesai masak udang krispi kesukaan kamu.” Tera berujar sambil mengambil alih Gita dari gendongan Gilang. “Cucu nenek makin kelihatan gembil ya, jadi makin gemas lihatnya.” Tera segera menghujani wajah Gita dengan kecupan.


“Bang Al masih kuliah, Bun?” tanya Tasya, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah.


Tera menggeleng, dia mencium pipi Gita sekali lagi lalu menatap Tasya.


“Katanya hari ini lagi nggak ada jam kuliah, makanya Abang ke kafe, mau ngecek data.”


Tasya mengangguk paham, dia meletakkan tas bawaannya di atas sofa ruang keluarga. Dia melangkah menuju dapur—berniat membuat minuman untuk suaminya.


Tak lama kemudian, dia kembali sambil membawa nampan berisi tiga gelas jus jeruk. Tasya memberikan segelas jus kepada Gilang.


“Minum dulu, Mas.” Gilang meraih gelas dari Tasya—meminum jusnya hingga tersisa setengah.


“Mau makan sekarang sekalian?” tawar Tasya.


“Boleh deh, kamu sekalian makan juga, ya? Mumpung Gita lagi digendong sama neneknya,” ucap Gilang, ia menatap ibu mertuanya yang sedang asik bermain dengan Gita. “Bunda, kita titip Gita, ya? Gilang sama Tasya mau makan dulu.”


Setelah mendapatkan anggukan dari Tera. Gilang dan Tasya segera melangkah menuju dapur.


...To be continue...


Kasih kabar, bentar lagi Matahari di tengah Hujan Deras bakalan tamat.


Tim Happy Ending angkat tangan!!

__ADS_1


Sad Ending juga angkat tangan!!


__ADS_2