Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 27


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


“Bagian tersulit dalam hidupku adalah harus berpura-pura baik-baik saja, padahal dalam hati berteriak karena tersiksa.”


~Natasya Quiella Natapraja~


Tasya sibuk dengan pikiran kalutnya. Sedari tadi tangannya tak henti mengaduk puding di dalam mangkok hingga hancur lebur bagaikan bubur.


“Sya, lihatin pudingnya sampai hancur gara-gara kamu aduk terus,” tegur Tera yang melintasi ruang keluarga sambil membawa tentengan plastik berukuran sedang di tangannya.


Tasya mengerjapkan matanya, menoleh kepada bundanya.


“Maaf, Bun.”


“Ya udah Bunda ke dapur dulu, ya. Jangan keseringan ngelamun, nggak baik, Sya.” Tera segera berlalu dari ruang keluarga.


Tak menghiraukan teguran dari bundanya, Tasya kembali melamun. Namun, bedanya dia sudah tak lagi mengaduk pudingnya.


‘Mengikhlaskanmu bahagia dengan wanita lain itu sulit. Namun, apakah aku bisa bersifat egois untuk memilikimu?’ batin Tasya.


Seburuk apapun perlakuan Vino kepadanya, tak pernah sedikit pun terbesit rasa benci di hatinya. Yang Tasya rasakan hanya kecewa, tak lebih.


Namun, walaupun begitu, tetap saja perlakuan Vino kepadanya tak bisa dibenarkan. Bahkan, hingga saat ini Tasya masih saja trauma jika mendengar kata itu.


Tasya diam, menatap ke arah televisi yang sudah menayangkan begitu banyak iklan.


Kenapa sampai saat ini rasanya sangat sulit untuk menghapus perasaannya kepada Vino. Lelaki itu, walaupun bukan cinta pertamanya, tetapi Tasya bahagia karena pernah diizinkan untuk bersama dengannya. Walaupun dia tahu, kebersamaan itu tak lain hanyalah semu.


Tasya bangkit dari duduknya. Langkah kecilnya membawa tubuhnya melangkah keluar rumah. Kakinya sibuk berjalan tak tentu arah, tetapi masih di dalam lingkungan rumah.


Tasya mendudukkan dirinya di gazebo yang terletak di samping rumahnya. Kakinya sengaja dia masukkan ke dalam kolam kecil yang berada di sana. Mata Tasya terpejam, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, menerbangkan rambutnya yang sengaja dia digerai.

__ADS_1


‘Kenapa rasanya masih sesakit ini, Tuhan? Kenapa sampai saat ini aku belum rela melepaskannya? Caramu mendewasakan amatlah sakit,’ batin Tasya.


“Sya!” Suara seorang pria berhasil menganggu ketenangan yang sedang Tasya nikmati. Tasya menoleh ke sana kemari—mencari seseorang yang memanggilnya.


“Aku di sini,” ucap pria itu yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Tasya.


“Udah nggak usah dipikirin terus. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan terlalu memikirkannya. Anggap semua itu hanya pelajaran semata. Jangan terus dipikirkan, nanti kamu sakit. Berdamai dengan keadaan itu tidak buruk, ‘kan?” lanjut pria itu.


Tasya menunduk, hatinya membenarkan apa yang pria itu katakan. Namun, egonya selalu saja berkata bahwa ini sulit, sangat sulit, atau bahkan lebih sangat sulit.


“Dengerin kata Abang, ini memang bukanlah hal yang mudah. Namun, jika kamu ikhlas dalam menjalaninya maka Allah akan mempermudah jalannya. Ingat, Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umat-Nya. Abang yakin kamu bisa dan satu lagi yang harus kamu ingat, Abang selalu ada di sini, menemanimu apapun dan bagaimana pun keadaannya.”


Tasya terdiam seribu bahasa, tetapi berbanding terbalik dengan otak dan hatinya yang terus berperang kata. Bisakah dia melakukan apa yang telah disarankan Gilang kepadanya? Memaafkan memanglah hal mudah bagi Tasya, tetapi yang sulit adalah bagaimana caranya agar dia melupakan kejadian yang membuat dirinya trauma.


Tasya bukanlah orang yang suka menyimpan dendam. Tasya adalah seorang wanita yang mudah memaafkan, selagi kesalahan itu masih di dalam batas wajar.


“Ini sulit, Bang. Tasya nggak tahu Tasya bisa apa nggak,” cicit Tasya pelan.


“Kamu nggak akan bisa kalau kamu nggak mau mencoba. Bangkit Tasya, anggap semuanya tak pernah terjadi. Namun, jika kamu tak bisa, maka anggap saja yang pernah terjadi adalah mimpi buruk yang pernah kamu alami. Jangan pernah berpikir bahwa kamu sendiri. Di sini ada banyak orang yang peduli sama kamu. Banyak orang yang sayang sama kamu, Sya.”


Benar, apa yang diucapkan oleh Gilang memang benar. Tasya harus bangkit, dia tak ingin membuat orang-orang yang berada di sekitarnya sedih. Dia harus bangkit, Tasya kamu bisa.


Tasya mendongak, menatap manik mata pria yang berusia satu tahun di atasnya ini lalu tersenyum setulus mungkin sambil menganggukkan kepala mantap.


“Bang Gilang nggak sekolah?”


Tasya hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, detik berikutnya senyum lebar tercetak di bibir Tasya, hingga menampilkan deretan gigi putihnya.


“Aku akan selalu ada di sisi kamu, apapun keadaannya.”


Tasya kembali mengangguk, dia mendekatkan tubuhnya dan langsung memeluk Gilang erat.


Deg-deg!


Perasaan lama itu timbul kembali. Tasya kembali merasakan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat saat berada di dekat Gilang. Begitu pun dengan Gilang, dia juga merasa jantungnya sedang berdetak lebih cepat dari pada biasanya.


“Aku sayang kamu, Sya,” ucap Gilang lirih, nyaris tak terdengar. Namun, samar-samar Tasya hanya dapat mendengar ‘kamu, Sya.’


Tasya melepaskan dirinya dari pelukan Gilang.


“Abang tadi ngomong apa?”


Gilang gelagapan sendiri.


“Eng ... nggak, aku nggak ngomong apa-apa kok, Sya. Kamu salah dengar kali.”

__ADS_1


‘Bang Gilang tadi bilang apa ya, masa iya gue salah denger. Jelas-jelas gue tadi denger Bang Gilang nyebut nama gue. Ah, tahu ah pusing gue lama-lama mikirannya.’


Tak mau ambil pusing masalah tadi, Tasya kembali masuk ke dalam dekapan hangat Gilang. Menghirup dalam-dalam aroma Casablanca yang mengguar dari tubuh Gilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arin dan kawan-kawan tengah duduk bersama di salah satu meja yang tersedia di kantin. Mereka tampak asik dengan makanan yang mereka pesan beberapa menit lalu.


“Gimana keadaannya Tasya?” tanya Rangga membuka pembicaraan.


Arin menggeleng pelan. “Masih sama. Bahkan terakhir gue denger dari Bang Al, kalau sekarang Tasya sering banget ngelamun terus kadang-kadang malah nangis sendirian.”


“Ini semua nggak masuk dalam perkiraan gue, sekali lagi gue minta maaf. Gue kira kisah mereka bakalan kayak kisah di novel-novel yang sering adik gue ceritain. Di mana tokoh utamanya pacaran bermula dari tantangan tapi lama-kelamaan jadi sayang, tapi nyatanya, itu semua hanya fiksi. Gue minta maaf sama kalian semua,” ucap Putra penuh penyesalan.


Bagaimanapun semua ini bermula dari pemikiran konyolnya. Bermula dari tantangan yang dia berikan kepada Vino. Dia tak tahu ke depannya akan jadi seperti ini.


Menyesal pun rasanya percuma. Nasi sudah menjadi bubur, yang tersisa sekarang adalah penyesalan ataupun kekecewaan, antara pihak utama maupun pihak yang berada di sekitarnya.


Arin menepuk pundak Putra pelan. Dia tersenyum berusaha—menenangkan pria itu.


“Udah nggak apa-apa. Semuanya udah berlalu. Mungkin ini semua udah jadi takdir yang diharuskan Tuhan untuk Tasya. Tugas kita sekarang adalah bagaimana caranya agar kita bisa membuat Tasya kembali menjadi seperti sedia kala.”


“Lala sedih lihat keadaan Tasya sekarang. Bagaimanapun Tasya udah kayak kakak buat Lala.” Lala yang sedari tadi diam kini mulai menyerukan suara hatinya.


“Lala tenang aja. Kita pasti bisa bikin Tasya kembali menjadi Tasya yang dulu,” ucap Rangga sambil tersenyum tulus ke arah Lala.


Lala hanya mengangguk lesu. Sudah beberapa hari ini Lala tak melihat wajah damai sahabatnya itu. Ingin video call, tetapi Tasya selalu saja tak mengangkatnya.


To be continue ....


Rindu nggak?


Cie yang nggak rindu.


Hay mina, arigato.


Punya pantun nih, baca ya...


Ke Inggris bawa panci


Pancinya warna biru


Jika kamu merasa sakit hati


Maka berhentilah mencari tahu

__ADS_1


Eaa, ingat ya. Kalau udah tahu sakit, maka lupakan. Jangan sibuk kepoin sana-sini, yang ujungnya buat sakit hati.


Dahlah, cukup sekian, terima gaji.


__ADS_2