
Happy Readingā£
Sejauh mata memandang, hanya ada luka yang mendalam. Sejauh mata memandang, banyak hati yang terluka akibat di tinggalkan. Dan sejauh mata memandang, banyak tangisan air mata yang tak rela saat melihat orang yang mereka sayang harus di kebumikan.
Di sinilah mereka berada sekarang. Di tempat yang penuh dengan gundukan dan batu nisan. Tempat peristirahatan terakhir manusia. Raut wajah mereka tampak suram, dengan pakaian yang serba hitam.
Satu persatu orang-orang mulai pergi meninggalkan mereka. Meninggalkan anggota keluarga yang masih di liputi oleh duka.
Tiada senyuman yang menghiasi wajah-wajah mereka. Mereka terdiam, dengan air mata dan hati yang masih basah oleh kehilangan. Mereka berdiri di depan sebuah makam baru. Makan seseorang yang baru saja meninggalkan mereka dan kehidupannya.
Kehilangan adalah hal yang biasa. Namun, kehilangan memiliki seribu luka. Kehilangan meninggalkan segala kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kehilangan dapat menorehkan luka yang mendalam. Dan kehilangan dapat merubah hidup seseorang.
Namun, satu hal yang perlu di ingat. Kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Terkadang, di balik kehilangan pasti ada hikmah dari dalamnya.
Air mata menghiasi, bagai hujan yang tiada henti. Tasya menangis hingga terisak. Hingga hijab yang ia kenakan basah akibat air matanya. Tangan kanannya bergerak menaburkan bunga di atas makam Gilang. Sementara tangan kirinya memegang baru nisan Gilang. Kehilangan ini membuat setengah jiwanya seolah pergi meninggalkannya. Pria yang ia cinta kini telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta.
Kehilangan ini menyakitkan. Namun, mau tak mau Tasya harus belajar mengikhlaskan yang telah pergi. Tasya harus belajar mengikhlaskan Gilang, agar suaminya itu tenang di alam sana. Ia tak ingin suaminya sedih melihat dirinya yang menangisi kepergiannya.
"Ya Allah, ikhlaskan hatiku atas kehilangan ini. Tabahkan hatiku agar aku tak mengalahkan takdir dari-Mu. Jadikan aku termasuk orang-orang yang ikhlas dalam menerima cobaan dari-Mu," batin Tasya, masih memeluk batu nisan suaminya.
Vino yang berdiri di samping Tasya menatap sendu makan abangnya. Ia pun turut merasakan kehilangan ini. Ia kehilangan sosok abang yang terasa begitu berarti untuknya, walau ia sempat merasakan benci.
Memang, benar kata orang 'semuanya akan terasa lebih berarti saat mereka sudah pergi'. Vino akui, jujur saja ia merasakan dua sakit sekaligus. Sakit karena kehilangan abangnya dan sakit karena melihat wanita yang ia sayangi menangis.
Vino mendudukkan dirinya di samping Tasya. Tangannya bergerak merangkul bahu Tasya lalu mengelusnya pelan. Hanya ini yang dapat ia lakukan, ia ingin sedikit menghibur wanita yang berstatus sebagai kakak iparnya ini.
"Sya, udah jangan nangis. Bang Gilang pasti sedih di sana kalo lihat lo belum ikhlasin kepergiannya," ucap Vino masih terus mengusap pundak Tasya.
__ADS_1
Tasya terdiam, ia mulai mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya. Benar yang di katakan oleh Vino, ia harus mengikhlaskan kepergian Gilang. Ia tak mau melihat Gilang-nya sedih. Namun, ia juga tak dapat membohongi hatinya, bahwa hatinya belum mengikhlaskan kepergian Gilang.
Tera melangkah menuju Tasya lalu berdiri di antara Vino dan Tasya. Vino berdiri, ia memberikan ruang untuk ibu dan anak itu. Sebagai ibu, ia dapat merasakan apa yang di alami oleh anak perempuannya. Ia tahu, Tasya begitu terpukul dengan kepergian Gilang.
Semua orang juga begitu, mereka sama-sama merasakan kehilangan ini. Namun, Tasya-lah yang merasakan kesakitan terdalam. Selama setahun lebih ini, Tasya telah menghabiskan waktunya bersama Gilang.
"Sya?"
Tasya mengangkat wajahnya. Ia menatap bundanya yang sedang memandang makam Gilang dengan air mata yang masih mengalir deras dari matanya.
"Kamu gak sendirian di sini. Kamu punya bunda, ayah, bang Al, Arin, kamu punya orang-orang yang sayang sama kamu, yang akan selalu ada di samping kamu. Kamu juga punya Gita yang masih membutuhkan kamu di sampingnya."
Tasya kembali terdiam sambil menunduk, benar kata bundanya. Ia tak sendirian di sini, ia masih punya mereka. Tasya mendongak, ia menatap bundanya.
"Bunda, aku mau ketemu Gita!"
"Kita berdoa dulu, setelah itu kita temui Gita."
Tasya mulai mengangkat kedua belah tangannya. Ia mulai memohon kepada Yang Maha Kuasa agar memberikan tempat terbaik untuk suaminya. Setelahnya, Tasya mengusapkan telapak tangannya ke wajah lalu kembali menatap bundanya.
Tera mulai bangkit dari duduknya, ia merangkul bahu Tasya. Menggiringnya keluar dari area pemakaman di ikuti oleh anggota keluarga yang masih berdiri di sana.
Langkah demi langkah, mereka mulai keluar dari gerbang TPU menuju kendaraan mereka. Tasya membalikkan badannya, ia menatap bayangan sosok Gilang yang melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Tasya ikut tersenyum lalu kembali melangkah memasuki mobil orang tuanya.
Selama perjalanan, Tasya memandang kosong ke arah jendela. Tangannya bergerak mengusap embun yang menempel di kaca mobil. Pikirannya melayang kembali kepada kehidupannya saat bersama Gilang.
Sesampainya di rumah Tasya. Rafa menghentikan mobilnya. Berbagai karangan bunga bela sungkawa nampak berjajar di depan rumah Tasya membuat ia kembali merasakan sedih. Hingga sebuah rangkulan hinggap di pundaknya.
__ADS_1
Tasya menoleh, ia menatap ayahnya yang tersenyum sambil mengangguk mengisyaratkan agar ia kuat menghadapi ini semua. Namun, Tasya tahu, di balik senyuman itu juga tersimpan kesedihan seperti apa yang ia rasakan.
Tasya mulai meyakinkan hatinya bahwa ia kuat menghadapi ini semua. Tasya mulai kembali melangkah, dengan ayah dan bunda di sampingnya yang juga melangkah seiring dengan langkahnya.
Tasya menghentikan langkahnya di ruang utama, ia menatap anaknya yang nampak menangis dalam gendongan Arin. Tasya berbalik, ia menuju kamar mandi kamarnya untuk membersihkan diri sebentar sebelum menemui anaknya, agar anaknya tak terkena sawan.
Usai membersihkan diri, Tasya mulai kembali melangkah menghampiri anaknya yang masih menangis. Ia mengambil alih Gita ke dalam gendongannya. Tasya mulai menimang-nimang Gita.
"Cup, cup, cup anak bunda gak boleh nangis. Anak bunda harus jadi anak yang kuat ya," ucap Tasya lalu mengecup wajah Gita setelah Gita tak lagi menangis.
Tasya yakin, ia dan Gita pasti akan merelakan kepergian kepala keluarga mereka, amin.
^^^Pada akhirnya, kehilangan adalah jawaban atas semua permintaan. Pada akhirnya, Tuhan kembali memisahkan aku dengan orang yangku sayang.^^^
^^^Meski tiada yang indah dari kehilangan. Namun, aku tidak ingin berburuk sangka pada Tuhan. Aku percaya apapun yang pergi pasti akan kembali, meski dalam wujud yang berbeda.^^^
^^^Terimakasih atas bahagia yang selama ini kamu lukiskan dihidupku, suamiku. Kehilangan ini memang terasa sangat menyakitkan, namun lebih menyakitkan saat melihat dirimu kesakitan.^^^
^^^Yang datang akan pergi, entah sekarang, esok atau nanti. Tinggal menunggu Tuhan berkata waktunya pulang. Sejauh apapun engkau pergi, engkau akan selalu memiliki tempat tersendiri di hatiku, engkau akan selalu menjadi yang pertama.^^^
^^^Meski ragamu tak lagi terbentuk, namun cinta kita akan selalu menyatu di jalan-Nya. ^^^
^^^Selamat jalan, suamiku. Tenanglah di alam sana. Aku selalu berdoa, semoga Tuhan memberikan tempat yang terindah untukmu. Semoga Tuhan memberikan ketabahan hati kepada orang-orang yang engkau tinggalkan, tak terkecuali aku. Aku percaya rencana Tuhan pasti ada hikmahnya.^^^
^^^Aku mencintaimu, suamiku selamanya.^^^
^^^Natasya Quiella Natapraja^^^
__ADS_1
^^^Surabaya, 15 Maret 2021^^^