Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 16


__ADS_3

Happy Reading(◍•ᴗ•◍)


.


.


.


.


...“Yang hilang jangan dicari, yang pergi jangan dipaksa kembali. Karena tanpa kau sadari, Tuhan telah menyiapkan segala rencana yang terbaik untukmu.”...


...~MDHD~...


Tasya menyipitkan matanya karena silau yang disebabkan oleh sinar matahari yang menerobos lewat korden yang sengaja di sibakkan oleh bundanya. Memang kemarin Tera sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter Zakky.


“Sayang, bangun udah mau jam enam. Nanti kamu terlambat sekolahnya, loh,” ucap Tera menepuk pelan pipi putri bungsunya.


“Tasya masih ngantuk bunda, bentar lagi ya, lima menit aja, Bun,” sahut Tasya yang masih dalam keadaan setengah sadar sambil menunjukkan lima jari ke arah bundanya.


“Enggak ada lima menit, lima menitan, cepat bangun sana. Malu sama ayam tetangga yang udah berkokok dari tadi. Buruan bangun, Sya!” tegas Tera--menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh Tasya.


“Iya-iya, Bunda. Nih Tasya bangun,” sahut Tasya pasrah lalu dengan malas melenggang pergi menuju kamar mandi.


Setengah jam kemudian akhirnya Tasya telah rapi dengan seragam khas sekolah yang melekat di tubuhnya. Tasya meraih tasnya yang berada di gantungan lalu menentengnya keluar kamar.


“Nih bekalnya.” Tera menyerahkan kotak tupperware berwarna jingga kepada Tasya.


Tasya mengangguk. “Makasih, Bunda.” Lalu duduk di bangku meja makan. Dia mengambil selembar roti tawar, dan memakannya setelah diolesi dengan selai coklat kesukaannya.


“Berangkat bareng siapa, Dek?” tanya Alvan melirik Tasya menggunakan ujung matanya.


“Tasya ikut Abang aja, Tasya lagi malas nyetir,” sahut Tasya lalu meneguk susu coklat yang sudah disediakan oleh bundanya.


Alvan hanya mengangguk lalu melanjutkan aktivitas sarapannya. Beberapa menit kemudian akhirnya Alvan telah menyelesaikan ritual sarapannya, dia bangkit dari duduknya.


“Alvan sama Tasya berangkat dulu, Yah, Bun,” ucap Alvan berpamitan mencium punggung tangan orang tuanya secara bergantian di ikuti Tasya dibelakangnya.


“Hati-hati di jalan, Bang. Jangan ngebut,” ujar Tera memberikan ultimatum kepada anak-anaknya. Alvan hanya mengacungkan jari jempolnya di udara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Gue duluan, Bang,” pamit Tasya lalu duduk dari mobil Alvan.


Dia melenggang santai melewati koridor kelas yang tampak sudah ramai oleh para siswa dan siswi yang berlalu lalang. Sesekali dia tersenyum saat ada siswa yang menyapanya.


“Tasya tungguin Lala!” teriak seseorang dari belakang.


Tasya membalikkan badannya, berdiri tegak sambil menunggu sahabatnya yang tampak berusaha menghampirinya.


“Arin mana?” tanya Tasya saat Lala sudah berada di sampingnya dan masih sibuk mengatur napas.


Setelah dirasa cukup, Lala menoleh ke arah Tasya lalu menggeleng.


“Lala nggak tahu, Lala nggak bareng sama Arin, tapi kayaknya udah di kelas, deh.”

__ADS_1


Tasya hanya ber-oh ria lalu mereka berdua melanjutkan langkah menuju kelas mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya waktu istirahat telah tiba. Para siswa nampak berhamburan keluar kelas.


“Kantin yuk, lapar gue!” ajak Arin kepada kedua sahabatnya.


“Ayo.” Lala bangkit dari duduknya menyetujui ajakan Arin. Namun, berbeda dengan Tasya yang tak kunjung bangkit dari duduknya.


“Tasya nggak ikut?” tanya Lala.


Tasya menggeleng. “Kalian aja, gue mau nyari Vino. Gue bawa bekal.”


Kedua orang yang di ajak bicara itu mengangguk. “Ya udah kita duluan ya, Sya.”


Sepeninggal kedua sahabatnya, Tasya bangkit dari duduknya melangkah keluar kelas dengan tangan yang memegang paper bag yang berisi bekal buatan bundanya tadi pagi. Sepertinya dia tahu Vino di mana.


Langkah kakinya membawanya melangkah menuju rooftop. Kakinya mulai menapak pada satu per satu anak tangga yang membawanya menuju pintu rooftop.


Sesuai dugaannya, Vino sedang duduk di lantai dengan benda bernikotin yang terselip di antara dua jari. Tasya menghela napas pelan, dia mulai berjalan menghampiri Vino.


“Vin!” panggil Tasya lalu duduk di sebelah Vino.


Vino menoleh lalu kembali menghisap rokoknya.


“Kalau gue minta sesuatu sama lo, lo mau turutin, nggak?” tanya Tasya


Vino mengangkat sebelah alisnya, menatap Tasya bingung. “Apaan?”


“Udah ya, jangan ngerokok lagi, rokok itu nggak baik buat kesehatan lo,” tutur Tasya menatap Vino yang masih dengan santai menghisap rokoknya.


“Nih, makan dulu!” Tasya menyodorkan Tupperware yang telah dia keluarkan dari paper bag.


“Lo udah makan?” tanya Vino.


Tasya mengangguk. “Udah tadi pagi.”


Vino mengambil Tupperware dari Tasya lalu membukanya. Dia menyodorkan sesendok nasi goreng kepada Tasya.


Tasya mengerutkan dahinya.


“Gue udah makan, Vin.”


“Itu tadi pagi, sekarang belum, ‘kan? Makan!”


Tasya hanya pasrah menerima suapan dari Vino. Setelah menyuapi Tasya, Vino beralih menyuapinya dirinya sendiri, dengan sendok yang sama.


“Vin.”


Vino menoleh ke arah Tasya dengan alis yang terangkat sebelah seolah bertanya ‘ada apa?’


“Itu, sendoknya, kan bekas gue.”


Vino menoleh ke arah Tasya.

__ADS_1


“Emangnya kenapa?”


“Ya, nggak apa-apa sih. Tapi, kan itu bekas gue.”


“Enggak apa-apa, nih makan lagi.” Vino kembali menyodorkan sesendok nasi goreng kepada Tasya. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua telah menghabiskan bekal yang dibawa Tasya.


“Sya!” panggil Vino.


“Kenapa?”


“Kayaknya gue mau kerja deh.”


“Lo mau kerja apa?”


“Gue belum tahu juga, rencananya entar pulang sekolah gue mau nyari kerjaan, apa aja yang penting halal.”


Tasya mengangguk paham. “Sebentar.” Tasya mulai mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Dia menanyakan kepada abangnya, apakah ada lowongan pekerjaannya di kafe abangnya. Alhamdulillahnya Alvan menjawab bahwa dia masih kekurangan pelayan.


“Lo mau nggak kerja jadi pelayan kafe?” tanya Tasya lalu menaruh ponselnya di saku.


“Kafe mana?”


“Kafe Faresta. Tempatnya di sebelah sekolah SMA Harapan Nusa,” jelas Tasya.


“Punya siapa, lo kenal sama pemilik kafenya?”


Tasya mengangguk. “Kebetulan kafenya punya abang gue. Dia juga lagi butuh pelayan di sana.”


“Boleh deh, makasih, ya lo udah nyariin gue kerjaan,” ucap Vino tersenyum. Ala mak, Tasya seneng lihat senyum manis Vino.


“Iya sama-sama lagian kan gue juga pengin bantuin pacar gue. Walau nggak banyak yang bisa gue bantu.”


Vino hanya tersenyum menanggapinya. Tasya belum tahu, tujuan Vino sebenarnya memacari Tasya adalah karena sebuah tantangan dari permainan. Vino tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Dia tidak terlalu peduli, yang sekarang jalani aja dulu, yang nanti pikir nanti. Jangan sampai yang nanti mengganggu pikirannya yang sekarang.


Lagi pula dia cukup menikmati kebersamaannya bersama Tasya yang entah akan sampai mana. Ibarat kata Tasya hanyalah peran pengganti di saat peran utama pergi. Pergi yang entah akan kembali pulang atau akan berpindah haluan. Yang sedang Vino lakukan adalah menunggu seseorang yang sengaja pergi dan mengabaikan seseorang yang berusaha menetap di hati.


“Ya udah, entar pulang sekolah gue ikut ke kafenya. Sekarang ayo ke kelas. Bentar lagi bel. Jangan bolos lagi, lo udah kebanyakan bolos. Enggak naik kelas baru tahu rasa lo.”


“Tega banget doain pacar yang nggak baik, dosa tau rasa lo.”


Tasya hanya menggidikkan bahunya acuh lalu pergi meninggalkan Vino sambil menenteng paper bag miliknya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continued ....


__ADS_2