Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 43


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


Pagi yang cerah untuk memulai kehidupan bahagia yang telah tertutup hari kemarin. Pagi yang cerah ini nampaknya akan menjadi pagi terbaik di bulan ini yang sebelumnya terus diguyur hujan tanpa tahu waktu.


“Sudah siap, Sya?” tanya Gilang sambil menatap ke arah istrinya yang tampak sibuk memasang kaus kaki juga sepatu ketsnya sedari beberapa menit yang lalu.


Pagi ini, mereka berencana akan melakukan olahraga pagi, yaitu jogging. Hitung-hitung untuk merefresing otak dari kesibukan yang bejibun parahnya.


Tasya mengikat asal tali sepatunya lalu mengangguk ke arah Gilang yang berdiri tak jauh darinya.


Gilang hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu berlutut di hadapan Tasya. Dia membenarkan ikatan tali sepatu Tasya.


“Mengikatnya jangan asal. Nanti kalau lepas kamu nggak tahu, terus kamu jatuh, gimana?” tanya Gilang lembut sambil mengelus kepala Tasya yang terbalut hijab berwarna baby pink.


Tasya hanya menganggukkan kepala tanpa ada niatan untuk membantah, dia hanya ingin menjadi istri sholehah di akhir zaman. Keduanya segera keluar rumah dengan berlari-lari kecil.


“Mas, capek!” keluh Tasya, mengusap peluh di dahinya menggunakan handuk yang di gantungkan di leher setelah memutari taman sebanyak 2 kali.


Gilang menghentikan langkahnya lalu berbalik ke belakang. Dia menghampiri istrinya lalu mengulurkan sebuah botol yang sengaja dia bawa dari rumah kepada Tasya.


“Mau langsung pulang?”


Tasya mengangguk, dia merentangkan tangannya meminta untuk digendong.


“Enggak bisa, Sya. Perut kamu-kan udah besar, nanti kasihan dedeknya tertekan kalau kamu minta gendong,” tutur Gilang lembut.


Memang semakin hari perut Tasya semakin membesar. Bahkan tak terasa kandungannya kini sudah berusia 9 bulan, itu artinya tak lama lagi dia akan menjadi seorang ibu dan Gilang akan menjadi seorang ayah.


Tasya cemberut, dia mencibikkan bibirnya lalu berjalan mendahului Gilang.


“Hey, jangan ngambek dong, sayang. Kasihan kan dedeknya, kamu mau dedeknya tertekan karena kamu minta gendong?”


Tasya menggeleng.


“Ya udah, nggak jadi. Ayo kita pulang, aku udah capek.”


🎀

__ADS_1


“MAS!” pekik Tasya sambil menahan sakitnya.


Perutnya semakin terasa sakit. Bahkan, dia sudah tak lagi duduk di sofa, melainkan merosot hingga ke lantai. Tasya menggigit bibirnya menahan sakit sambil memejamkan matanya erat.


“Mas!”


Suaranya hanya terdengar seperti rintihan pelan. Bahkan, nyaris tak terdengar. Hingga tak lama kemudian, Gilang datang tergesa-gesa menghampiri Tasya yang sudah nampak kesakitan.


“Ya ampun, Sya. Ayo kita segera ke rumah sakit! Pak Joko, siapkan mobil, kita akan ke rumah sakit sekarang!”


Gilang segera mengangkat tubuh istrinya, memasukkannya ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit dan dikendarai oleh supir pribadi mereka.


Tak butuh waktu lama, kini mereka telah sampai di rumah sakit. Gilang kembali mengangkat tubuh Tasya, membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


“Suster-suster, tolong istri saya hendak melahirkan!”


“Baringkan di brankar ini, Pak!”


Suara tapak kaki beberapa orang dewasa yang saling bersahutan itu nampak menggema di koridor rumah sakit. Hingga langkah cepat itu terdengar memelan saat sudah memasuki ruang bersalin.


Gilang nampak cemas menunggu di depan ruang bersalin. Dia tak hentinya berjalan mondar-mandir di depan pintu. Rasa khawatir menyelinap masuk ke dalam hatinya sejak dia melihat Tasya yang terlihat kesakitan.


Jujur saja, dia tak tega melihat wajah istrinya yang nampak menahan sakit. Bahkan, air matanya nyaris menetes begitu saja.


Bukannya dia tak ingin menemani istrinya di dalam. Hanya saja, sedari kecil Gilang sudah menderita blood phobia. Jadi, lebih baik dia di sini dari pada di dalam, dia hanya akan menyusahkan tanpa bisa membantu.


Gilang menatap ke arah Tera, Rafa, Raka, Alvan, dan sahabat-sahabat Tasya yang sedang menghampiri dirinya. Raut wajah cemas dan khawatir terlihat jelas di wajah mereka.


“Tasya udah di dalam?” tanya Tera.


“Iya, Bun.”


“Kalau gitu biar Bunda saja yang menemani,” ucap Tera yang seakan sudah mengerti apa yang menantunya itu pikirkan.


Memang seluruh keluarga Tasya sudah tahu dengan phobia yang dialami oleh Gilang. Mereka hanya bisa memaklumi, toh mau bagaimana lagi. Phobiakan datang sendiri, tanpa ada kemauan dari orang yang akan menderitanya.


Gilang hanya bisa mengangguk lalu mendudukkan dirinya di samping Rafa.


“Berdoa saja, semoga Tasya dan bayi kalian selamat,” ucap Rafa sambil menepuk pelan pundak Gilang lalu mengelus punggung menantunya itu.


‘Ya Allah Ya Rabb, Engkaulah maha penyelamat. Selamatkanlah istri dan anakku Ya Allah, aamiin.’


Gilang terus merapalkan doa-doa, memohon kepada sang Ilahi agar menyelamatkan nyawa istri dan juga anak pertamanya. Tak lupa dia juga merapalkan doa agar dia bisa menenangkan hatinya.


Hingga tak lama kemudian, tangisan seorang bayi yang menggema nampak membuat wajah-wajah yang tadinya terlihat cemas kini merekahkan senyum kebahagiaan.


Gilang segera bangkit dari duduknya saat melihat Tera yang keluar dari yang persalinan.

__ADS_1


“Alhamdulillah, anak kalian perempuan. Cantik banget,” ucap Tera sambil tersenyum lebar. “Ayo, kamu harus azanin anak kamu dulu!”


Gilang mengangguk lalu berjalan mengikuti Tera di belakangnya, disusul oleh semua orang yang berada di situ.


Senyuman Gilang semakin merekah saat melihat anak perempuannya yang sudah berada di gendongannya. Tak mau menunggu lebih lama, Gilang segera melantunkan azan yang terdengar merdu di telinga anak pertamanya.


“Sya, anak kita cantik. Kayak kamu!” puji Gilang, dia meletakkan pelan-pelan anaknya agar tertidur di samping Tasya.


Tasya tersenyum menatap wajah anaknya sambil mengusap pipinya lalu mengangguk.


“Mas udah punya nama buat baby?”


Gilang mengangguk.


“Nama anak kita, Argita Analisa Louis. Gi, diambil dari kata Gilang. Na, diambil dari kata Natasya. Terus nama panggilan bisa di panggil Gita bisa dipanggil Lisa, tergantung kalian mau manggilnya apa.”


“Wah, Gita nama yang bagus,” puji Bagas yang baru saja hadir.


“Selamat, Sya atas kelahiran anak pertama kalian.”


“Wah, akhirnya ponakan gue udah lahir. Nggak sabar gue ajak main perang-perangan!” seru Raka, dia mendekat ke arah baby Gita, lalu menguyel-uyel pipi bayi tersebut.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat mulus di punggung tangan pria itu. Sang pelaku nampak menatap tajam ke arah Raka.


“Anak gue jangan lo kayak gituin. Dia masih kecil, kalau pipinya sakit gimana? Lo mau tanggung jawab, hah?!”


Raka meringis pelan sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


“Kok lo setelah melahirkan jadi tambah galak begini ya, Sya? Nggak mau deh gue punya calon mertua kayak lo, bisa-bisa gue mati stress karena tiap hari kena marah sama mertua kayak lo!”


Mata Tasya tampak mendelik.


“Heh, lagian gue nggak mau kali punya menantu kayak lo. Yang ada lo malah kelihatan kayak pedofil, tahu nggak?”


“Udah, Sya. Nggak baik marah-marah. Kasihan tuh, Gita-nya ngelihat bundanya marah-marah,” tutur Gilang sambil mengusap lengan Tasya lembut.


“Kalo gitu kita pulang dulu, ya, Sya. Sekali lagi selamat,” ucap Arin dan Lala berpamitan lalu keluar dari ruang rawat inap Tasya. Memang, kini Tasya telah dipindahkan ke ruang rawat inap.


“Terima kasih, sayang udah ngasih aku anak yang cantik. Kini dengan hadirnya baby Gita, melengkapi keluarga kecil kita. Semoga Gita menjadi anak yang sholehah dan baik hati seperti kamu, sayang,” tutur Gilang sambil mengecup lembut kening Tasya lalu beralih ke baby Gita dan mengecup lembut pipi tembam baby itu.


♡...To Be Continue...♡


Wah, udah lahiran aja, wkwk. Pendek ya? Sorry ya, aku lagi mengalami stuck ide, terus juga anemia aku kambuh, huhu. Padahal cerita ini nggak lama lagi akan tamat.


Ada yang ingin di sampaikan untuk baby Argita Analisa Louis? Salam sayang gitu?

__ADS_1


__ADS_2