Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 34


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


“Tak ada yang perlu ditangisi dari perpisahan ini. Kita berpisah untuk menentukan bagaimana jalan kita kedepannya, hingga nanti kita bisa kembali bersama saat telah berhasil meraih kesuksesan.”


~MDHD~


Waktu semakin berlalu, detik berganti menit, hari berganti minggu, bulan berganti tahun.


Setelah bisa melawan trauma yang pernah dideritanya, kini Tasya kembali menjadi pribadi seperti sedia kala. Tasya kembali menjadi gadis yang ceria seperti dulu, semua berkat seorang pria yang terus ada di sampingnya, kapanpun dan di mana pun untuk Tasya. Walau tak menutup kemungkinan bahwa Tasya belum melupakan rasa sakit yang pernah digoreskan oleh seseorang itu.


Tak terasa, Tasya telah menyelesaikan pendidikan SMA. Dia telah melepas masa abu-abunya dan memulai kejenjang yang lebih tinggi.


“Tasya!”


Tasya tersenyum sambil menatap ke arah seorang pria yang memakai baju batik berwarna cokelat yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Tasya menghampiri pria itu dengan langkah sedikit berlari. Dia sudah tak sabar menghampiri pria itu.


“Akhirnya Tasya lulus juga, Bang!”


Senyum sumringah terus menghiasi bibir gadis itu. Wajahnya tampak berseri-seri, bertanda bahwa dia sedang sangat bahagia.


“Selamat, Sya. Abang dengar-dengar kamu dapat nilai tertinggi di angkatan kamu, ya?”


Tasya mengangguk, kembali tersenyum hingga menampilkan deretan gigi putihnya. Dia bahagia, semua ini berkat pria ini yang selalu membantunya dalam belajar.


Ya, pria itu adalah Gilang Arvito Louis. Sosok yang selalu menemani Tasya dari dulu, sekarang, nanti ... hingga selamanya?


Gilang telah lulus tahun lalu, saat ini dia tengah kuliah di salah satu universitas terbaik di pulau Jawa. Dia satu universitas dengan Alvan, abang kandung Tasya.


“Selamat ya putri kesayangan ayah dapat nilai tertinggi!” ucap Rafa, pria paruh baya itu segera mendekap tubuh sang putri erat.


Tasya terus tersenyum, dia sungguh bahagia. Rasanya, ini adalah hari terbahagianya, apalagi acara lulusan kali ini ditemani oleh orang-orang terdekatnya.


"Tasya, ayo ikut! Kita coret-coret baju buat kenang-kenangan!" pekik Arin sambil menarik lengan Tasya—menjauh dari anggota keluarga Tasya.


Tasya hanya bisa pasrah, dia melambaikan tangan kepada keluarganya dan juga Gilang.


Hiruk-pikuk terdengar menggema seantero lapangan SMA PELITA BANGSA. Tawa ceria terlukis indah di bibir seluruh siswa—menutupi kesedihan yang sebentar lagi akan mereka rasa.

__ADS_1


Bunyi musik yang memang sengaja dikeraskan menambah kesan bahagia di SMA itu. Mereka tak boleh menangis, ini hari bahagia mereka.


Namun, tanpa dapat ditahan, air mata mereka menetes saat mendengar lagu perpisahan yang dinyanyikan oleh sebagian teman mereka. Para siswa yang sedang bersenang-senang pun menghentikan aktivitasnya.


Mata mereka berfokus pada sebagian siswa yang sedang menyanyikan lagu perpisahan di atas panggung. Tawa yang tadinya menggema, kini telah digantikan dengan tangis pilu yang menyesakkan hati.


Berpisah dengan teman bukanlah hal indah yang pernah mereka rasakan. Rasanya sangat sulit, berpisah dengan orang-orang yang sudah menemani mereka sejak tiga tahun yang lalu. Ya, teman sekelas.


Mereka adalah keluarga, saling menyayangi satu sama lain, saling mendukung, dan saling menghibur.


“Gue, nggak mau pisah sama kalian!” pekik Septa, sambil memeluk teman-teman sekelasnya.


“Gue juga, kita udah bersama-sama sejak tiga tahun yang lalu. Kalian keluarga kedua gue!”


Mereka kembali berpelukan, mengabaikan tatapan aneh dari siswa lain. Mereka keluarga, selamanya akan tetap begitu.


“Kalau kita udah nggak sama-sama, jangan pernah lupain gue, ya?” ucap Raka, menatap satu-persatu teman-teman sekelasnya.


Mereka mengangguk, detik berikutnya, ritual yang biasa dilaksanakan oleh para siswa saat lulus pun di mulai. Mereka tampak asik melemparkan boom smoke ke udara. Menimbulkan asap warna-warni di sekitarnya. Mereka tertawa dan mereka bahagia.


🎀


Tasya mendudukkan dirinya di samping ayahnya. Dia tampak bermanja-manja dengan sang ayah.


“Dek!”


Tasya mendongak, menatap Rafa yang juga tengah menatapnya.


“Kenapa, Yah?”


Tasya hanya mengangguk, walau sejujurnya tanda tanya besar sedang menghinggapi dirinya. Dia sedang berpikir, siapa yang akan datang, kenapa dirinya disuruh memakai pakaian yang bagus? Ah entahlah, Tasya tak ingin ambil pusing memikirkannya.


Tak terasa, malam telah tiba. Tasya telah rapi dengan dress berwarna peach miliknya. Dia tampak asik memoleskan liptint di bibir tipisnya.


Ceklek


Tasya menoleh, menatap datar pria yang bersandar di ambang pintu kamarnya.


“Ngapain lo?” tanya Tasya, kembali berfokus pada make up di tangannya.


“Kepo lo, kayak dora!” sahut Raka. Ya, pria itu adalah Raka.


“Rak!”


“Hm?”


“Kata Ayah nanti bakalan ada yang ke sini? Kira-kira siapa ya, sampai gue harus pakai baju bagus begini?”


“Ngapain lo nungguin? Gue-kan udah ada di sini!”


Tasya menatap malas pria yang duduk santai di atas ranjangnya. Dia tahu Raka hanya bercanda, tapi tidak seperti itu juga kali.

__ADS_1


“Mbohlah, sekarepmu ae, Rak!”


Tak berapa lama, bunda Tasya menghampirinya.


“Dek, udah siap?”


Tasya mengangguk. “Iya, Bunda. Memangnya mau ada apa sih, Bun?”


Tera tak menjawab, dia hanya tersenyum menanggapinya, dia memberikan kode lewat mata pada pria yang duduk di atas ranjang putrinya. Raka mengangguk paham, detik berikutnya Tera keluar dari kamar Tasya.


“Udah selesai dandannya?” Tasya mengangguk. “Ayo keluar, tamunya udah nungguin di bawah!”


Raka segera menarik lengan Tasya tak sabaran, mengabaikan pekikan kesal dari gadis itu.


Sesampainya di depan kamar, dia dapat melihat seorang pria paruh baya sedang berbincang hangat dengan ayahnya dan siapa pria itu? Tasya memicingkan matanya, sepertinya dia kenal dengan punggung itu, tapi siapa ya?


Tak mau dihantui rasa penasaran, Tasya kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Raka yang hanya menatap malas gadis itu.


Setelah berada di anak tangga kedua dari bawah, Tasya baru bisa melihat dengan jelas siapa pria yang sempat membuatnya penasaran tadi, ternyata dia ....


“Bang Gilang, ngapain ke sini?” tanya Tasya mendudukkan dirinya di samping ayahnya.


Belum sempat Gilang menjawab, Tera sudah hadir dengan membawa nampan berisi beberapa gelas minuman dan berbagai makanan lalu meletakkannya di atas meja kaca yang terletak di ruang tamu.


“Silahkan dinikmati hidangannya,” ucap Tera lalu mendudukkan dirinya di samping Tasya. Sedangkan Alvan dan Raka mendudukkan dirinya di samping Gilang.


“Nah, sekarang sudah berkumpul semuanya,” ucap pria paruh baya yang tak lain adalah papa Gilang—Bagas.


“Jadi, maksud kedatangan kami ke sini. Saya bermaksud meminang putri Pak Rafa untuk diperistri oleh anak saya ... Gilang,” lanjut Bagas.


Tasya tampak terkejut mendengar penuturan dari papa Bang Gilang. Apakah saat ini dia sedang bermimpi, jika benar ini mimpi, tolong jangan bangunkan dia lagi.


“Om, Tante, Gilang di sini ingin meminta izin untuk menjadikan Tasya sebagai istri Gilang. Saat ini Gilang memang tak sesukses Om atau pun Papa, tapi Gilang janji akan menafkahi Tasya lahir dan batin.” Gilang menggigit bibir bawahnya gugup. Sudah, dia paling tidak bisa jika disuruh merangkai kata. Tangannya sudah berkeringat sejak tadi, tubuhnya pun ikut panas dingin.


Rafa tersenyum, dia menatap anggota keluarganya sejenak lalu memfokuskan pandangannya kepada Gilang yang tampak menunduk. Dia tahu, pasti saat ini Gilang tengah di landa gugup.


“Saya terima dengan baik niat kalian untuk menjalankan sunnah rasul kita. Ayah berikan restu untuk kalian berdua, tapi semuanya Ayah kembalikan kepada Tasya. Di terima atau tidaknya semuanya tergantung dengan Tasya.”


Setelah Rafa menyelesaikan ucapannya, semua mata memandang tampak Tasya. Jujur sejak Bagas menyuarakan niatnya, Tasya ikut dilanda gugup seperti Gilang. Tasya menatap ayah dan bundanya yang mengangguk lalu memandang Alvan dan Raka yang juga ikut mengangguk.


Tasya menarik napas pelan, lalu menghembuskannya secara perlahan.


“Tasya terima lamaran Bang Gilang. Tasya sudah siap untuk menjadi istri bang Gilang. Tasya terima apa adanya keadaan Bang Gilang.”


Gilang mengangkat wajahnya. Wajah gugup yang sedari tadi melandanya kini digantikan dengan wajah sumringah.


‘Terima kasih Ya Allah, semoga keputusan hamba untuk menjalankan ibadahmu adalah keputusan yang benar. Semoga engkau menjadikan hamba dan Tasya adalah jodoh sehidup semati,’ batin Gilang.


Setelahnya, para orang tua tampak sibuk membahas tentang pernikahan Gilang dan Tasya.


“Jadi, fiks ya? akad dan resepsinya barengan dan akan dilaksanakan satu bulan lagi,” ucap Bagas yang diangguki oleh semua orang yang berada di situ.

__ADS_1


‘Semoga kebahagiaanku berawal dari sini. Jadikan aku istri yang diinginkan oleh Bang Gilang, Ya Allah. Semoga Bang Gilang adalah orang yang tepat yang engkau kirimkan untukku, Ya Allah, aamiin.’


...To be continue .......


__ADS_2