
Happy Reading❣
.
.
.
.
Semoga kebaikanmu akan mendapatkan balasan yang sama pula di masa mendatang.
.
.
.
.
...“Kita tidak bisa memihak kepada siapa kita ingin jatuh cinta. Cinta itu datang dan pergi sesukanya, tanpa memperdulikan luka yang telah tercipta karena hadirnya.”...
...~MDHD~...
Setelah memarkirkan motornya di garasi, Vino segera masuk ke dalam rumah. Dia langsung pergi menuju kamar, kemudian mengganti baju dengan celana santai juga kaos hitam yang melekat di tubuhnya. Vino langsung membanting tubuhnya di atas ranjang king size yang berada di kamarnya.
Entah kenapa tiba-tiba bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Senyum yang selama ini berhasil membuat kaum hawa terhipnotis. Vino terus tersenyum sambil menatap langit-langit kamarnya, mengingat kejadian di mana dia merebahkan tubuhnya dengan paha Tasya sebagai bantalan.
Vino tak tahu kenapa dia bisa sebahagia ini. Padahal dia menjadikan Tasya sebagai kekasih karena sebuah tantangan dari Putra.
“Lo nggak boleh jatuh cinta sama dia. Lo itu cuma jadiin dia tantangan doang. Ingat, jangan jatuh cinta. Dia itu cuma mainan lo doang,” gumam Vino, memberikan peringatan pada diri sendiri lalu memejamkan matanya.
Baru saja Vino ingin memejamkan matanya, terdengar suara pintu kamarnya yang di buka dengan kasar oleh seseorang. Vino menoleh, guna melihat siapa yang memasuki kamarnya.
__ADS_1
“Ngapain lo ke sini?” tanya Vino ketus, merasa tak senang dengan kehadiran Gilang di kamarnya.
“Gue tahu lo nggak pernah cinta sama Tasya. Kenapa tiba-tiba lo jadiin Tasya sebagai pacar lo? Lo pasti punya maksud tertentu, ‘kan?” tanya Gilang to the point sambil bersandar di pintu kamar Vino.
“Apa urusannya sama lo? Emang lo siapanya Tasya?” ketus Vino melirik Gilang dengan ujung matanya.
“Gue emang bukan siapa-siapanya Tasya, tapi gue sayang sama Tasya. Gue tahu lo ada maksud lain, ‘kan? Makanya lo nembak Tasya,” ucap Gilang masih dengan posisi yang sama.
“Kalo sayang, ya perjuangin. Lagian gue kasih tahu nih, ya. Gue jadiin Tasya sebagai pacar gue karena gue dapat tantangan dari temen gue, nggak lebih dan nggak kurang,” sahut Vino santai lalu menjadikan lengannya sebagai bantalan kepalanya.
“BANGSAT!” Amarah Gilang seketika memuncak, dia segera menarik kerah baju Vino.
Bugh!
Gilang meninju rahang Vino keras. Dia sudah tersulut emosi. Gilang tak suka perasaan wanita yang dia sayangi dijadikan mainan oleh seseorang, apalagi seseorang itu adalah adiknya sendiri.
“Jangan pernah sekali-kali lo mainin perasaan perempuan. Kalau lo nggak ada rasa sama Tasya, putusin dia. Jangan lo beri harapan setinggi langit lalu lo hempaskan dengan sekeras-kerasnya. Gue nggak suka dengan keputusan lo,” gertak Gilang masih dengan tangan yang mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Gilang kembali meninju rahang Vino, kali ini lebih parah dari sebelumnya. Tiba-tiba wanita paruh baya yang sudah berumur empat puluhan berlari ke arah kamar Vino, usai mendengar keributan dari sana.
“Ya ampun, Den Vino! Udah, Den Gilang. Kasihan den Vinonya, Ya Allah.” Bi Indah menahan tubuh Gilang agar tak kembali memukuli Vino.
“Gue bilangin sekali lagi sama lo. Kalau lo nggak ada rasa sama dia, putusin! Jangan lo jadiin perasaan orang sebagai mainan!” seru Gilang memberikan ultimatum, lalu keluar dari kamar Vino, meninggalkan Vino dan Bi Indah di sana.
“Den Vino tunggu sini dulu, biar Bibi ambil es batu sama P3K buat ngobatin luka Aden,” ucap Bi Indah, lantas berlalu untuk mengambil P3K. Tak lama kemudian, beliau kembali dengan membawa handuk kecil, baskom, dan P3K.
“Stt, aw,” desis Vino saat lebamnya bersentuhan dengan kapas yang sebelumnya sudah ditetesi alkohol.
“Tahan, Den.”
“Papa ke mana, Bi?” tanya Vino saat Bi Indah sudah selesai mengobati lebam di wajahnya.
“Tuan keluar kota selama beberapa hari, Den. Kalo Tuan ada di rumah, pasti Den Vino sama Den Gilang dimarahin habis-habisan sama Tuan. Memangnya Aden sama Den Gilang ada masalah apa sih? Sampai main tonjok-tonjokan gitu?” tanya Bi Indah, tersirat nada khawatir di suaranya. Bagaimana tidak, dia sudah menganggap kedua anak tuannya ini seperti anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Hehe, biasa, Bi. Urusan anak laki-laki,” sahut Vino santai lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Ya udah, Aden istirahat. Bibi mau ke dapur dulu,” ucap Bi Indah lalu berjalan meninggalkan kamar Vino menuju dapur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Arg, sialan! Bisa-bisanya gue punya adik kayak gitu?!” Gilang terus-terusan meninju dinding kamarnya. Dia sudah tidak mempedulikan buku-buku jarinya terluka dan mengeluarkan darah segar.
“Brengsek, anjing!!” Gilang terus-terusan mengumpat dengan kata-kata kasar.
Gilang kesal bahkan sangat dengan kelakuan Vino. Kenapa harus perasaan Tasya yang dijadikan permainan. Apakah Vino tidak pernah berpikir akan adanya karma?
Gilang benar-benar bingung harus berbuat apa. Dia tak ingin wanita yang dia sayangi kecewa. Lelaki itu tak ingin wanita yang dia sayangi menangis karena bersedih. Tidak, Gilang tidak sanggup bila semua itu harus terjadi.
Gilang sangat menyayangi Tasya. Kehadiran Tasya di hidupnya membawa kebahagiaan tersendiri untuk Gilang. Gilang merasa Tasya adalah sosok yang dikirim Tuhan sebagai pengganti almarhumah mamanya.
Entah sejak kapan rasa di hatinya untuk Tasya mulai tumbuh. Yang Gilang tahu, dia sudah mencintai Tasya sejak melihat senyum manis dari gadis itu. Senyum yang menurutnya sangat menenangkan jiwanya yang sedang gundah gulana.
Natasya Quiella Natapraja, adalah cinta pertama bagi seorang Gilang Arvito Louis. Iya, Gilang baru kali ini jatuh cinta. Dan, jatuh cinta pertamanya jatuh pada Tasya.
Andaikan Gilang mengungkapkan perasaannya jauh sebelum Vino hadir di kehidupan Tasya. Pasti sekarang Tasya sudah menjadi kekasihnya, tetapi apa boleh buat? Cinta Tasya sekarang telah menjadi milik Vino, adik kandungnya sendiri.
Namun, sangat disayangkan. Vino hanya bertujuan memainkan perasaan Tasya. Bukan tulus dari hatinya. Jujur saja, dia sakit melihat senyum Tasya saat bersama dengan Vino.
Dia cemburu, dia marah, dia kesal, dia kecewa. Semua itu terjadi dalam satu waktu. Kenapa cinta pertamanya begitu menyakitkan? Kenapa cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan?
Kata orang cinta pertama itu indah. Namun, tidak untuk Gilang. Bagi Gilang, cinta pertamanya sangat menyakitkan. Namun, dia tidak ingin menyalahkan Tasya yang menjadi penyebab luka di dalam hatinya. Karena dia juga tidak bisa memaksakan Tasya agar membalas cintanya.
Jika memang mereka berdua jodoh. Sejauh apa pun mereka berpisah, maka mereka akan tetap bersatu. Entah hari ini ataupun esok. Tidak ada yang tahu. Semua itu telah menjadi rahasia Tuhan semata.
Gilang mengusap wajahnya pelan. Dia beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Laki-laki itu melaksanakan sholat maghrib sesuai kewajiban umat muslim. Dia harus menenangkan jiwanya yang sedang gundah. Dia ingin mengadu pada Sang Pencipta. Semoga dimudahkan jalannya untuk mendapatkan hati Tasya, Aamiin.
To be continue ....
__ADS_1