Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 44


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


Sedari tadi Vino hanya mengaduk-aduk makanan yang tersedia di hadapannya tanpa minat. Jiwanya seolah berkelana ke negeri seberang yang entah dia sendiri pun tak tahu tempatnya. Tatapan matanya terasa sangat kosong.


“Vin?” Panggilan dari seorang wanita paruh baya itu membuat Vino terkesiap. Bahkan, sendok yang sedari tadi dia buat untuk mengaduk makanan terjatuh begitu saja di atas lantai.


Vino mengedipkan matanya lalu menatap ke arah semua orang yang menatap aneh ke arahnya.


“Kamu kenapa, Vin?” tanya Faza sambil menepuk pelan pundak keponakannya itu.


Vino menggeleng.


“Vino nggak papa, Tan. Vino cuma lagi mikirin tugas kuliah aja.”


“Enggak usah di pikirin dulu, Vin. Sekarang waktunya kamu makan, jangan pikirin tugas dulu,” tutur Farrel, suami Faza.


Vino hanya menganggukkan kepala tanpa mau membantah. Dia mulai menyantap makannya, walaupun makanan itu terasa sangat hambar di mulutnya.


“Oh iya, Vin. Kamu nggak mau jenguk keponakan kamu yang baru lahir?” tanya Faza.


“Vino nggak bisa, Tan. Soalnya sekarang Vino lagi banyak tugas. Nggak tahu kalau besok-besok.” Oke, ini hanya alasannya saja.


Sebenarnya bukan tugas kuliah yang membebani pikirannya saat ini. Hanya saja, dia tak memiliki alasan lain selain itu. Tak mungkin kan dia berkata bahwa sampai saat ini dia masih mencintai ibu dari keponakannya dan dia pun masih tak rela melihat wajah bahagia abang dan wanita yang ia cinta.


Kata orang, “Kalau kamu mencintai seseorang maka kamu hanya ingin melihatnya bahagia, walau bahagianya bukan bersamamu.” Namun, Vino tak sanggup melakukan itu.


Hatinya masih terpaku pada satu nama. Bahkan, selama beberapa bulan ini jauh dari Tasya tak dapat membuat rasa cinta pada gadis itu berkurang barang sedikit pun.


Nama gadis itu sudah terpatri di hatinya. Kehadiran gadis lain tak dapat menggantikan sosok Tasya di hatinya. Oke, katakan ini konyol. Namun, mau bagaimana lagi cinta tak bisa dipaksakan.


Seberapa banyak apapun gadis yang jatuh hati padanya di sini, tak dapat membuat nama Tasya luntur. Bahkan, rasa cinta itu membuncah semakin besar. Rasa rindu pun sama seperti itu. Keduanya terus semakin bertambah dari hari ke hari.


“Vin!” Sebuah panggilan membuat Vino kembali terkesiap. Dia hanya menatap malu ke arah semua orang yang berada di meja makan.

__ADS_1


Faza hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tak mengerti apa yang mengganggu pikiran Vino. Faza pun tak percaya jika hanya karena tugas kuliah Vino sampai melamun bagai banyak pikiran seperti ini.


“Maaf, Tan. Vino lagi nggak fokus. Vino udah selesai makan, Vino ke kamar dulu, Tan, Om, Feb.”


Vino langsung beranjak dari duduknya. Bohong jika dia berkata sudah selesai makan. Padahal hanya beberapa suap makanan masuk ke dalam mulutnya sejak tadi.


“Feb, susul Vino sana. Kalian-kan sama-sama muda, siapa tahu dengan begitu Vino bisa terbuka dan menceritakan masalahnya sama kamu!”


Febri mengangguk, dia ikut bangkit dari duduknya lalu menyusul Vino ke kamarnya.


Sementara di kamar, Vino duduk terdiam sambil memandangi pemandangan diluar jendela, seperti kebiasaanya ketika suasana hatinya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja.


Berita yang dia terima tadi pagi membuat moodnya seketika langsung terasa buruk. Ini sulit untuk ia terima. Namun, dia pun tak dapat menyalahkan takdir. Yang patut disalahkan di sini hanya dirinya dan selamanya dirinya akan tetap salah.


Penyesalan itu selalu datang di akhir cerita. Dia menyesal, kenapa dia bisa mempermainkan perasaan seorang wanita. Dia menyesal dan akan terus menyesal. Namun, bagaimana jika cerita itu belum berakhir, dan masih akan terus berlanjut? Akankah cerita itu kembali menyangkut-pautkan dirinya di dalamnya? Atau dia hanya akan menjadi tokoh antagonis yang hanya bisa memainkan perasaan wanita saja?


Vino mengacak rambutnya frustasi. Dia menggelengkan kepala guna mengusir pikiran-pikiran tak masuk akal yang masuk ke dalam otaknya.


Ceklek


Hingga suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Dia hanya menatap tanpa minat ke arah gadis yang sedang melangkah ke arahnya.


“...” Vino tak menjawab, dia hanya diam lalu kembali menatap pemandangan yang mungkin lebih indah dari pada mendengarkan apa yang diucapkan oleh Febri yang bisa membuat suasana hatinya semakin memburuk.


“Gue-kan udah pernah bilang sama lo, Bang. Ikhlasin, semuanya akan indah pada akhirnya. Kalau belum indah, berarti itu belum berakhir. Kalau lo sama Kak Tasya memang berjodoh, Tuhan pasti akan menyatukan kalian apapun dan bagaimana pun kondisinya, tapi kalau memang lo sama Kak Tasya nggak jodoh, ya udah ikhlasin, lupain. Cowok sebrengsek lo nggak cocok bersanding sama cewek sebaik Kak Tasya!”


Oke, pengen gampar adik sepupu ini dosa nggak, sih? Setiap saran yang diucapkan oleh Febri maka akan ada hinaan yang terselip di dalamnya. Kasihan malaikat yang mau mencatat amalmu, Feb. Mereka bingung. Kau melakukan kebaikan sekaligus keburukan dalam satu waktu.


Vino menatap datar ke arah Febri. Kemudian dia mendengus pelan. Namun, jika dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh Febri benar adanya. Andaikan Vino bukan orang yang mudah tersulut emosi. Mungkin dia akan menganggap apa yang dikatakan oleh Febri adalah sebuah realita yang memang benar adanya.


🎀


Tasya mengerjapkan matanya perlahan saat mendengar suara isak tangis seorang bayi yang tak lain adalah anaknya. Tasya menundukkan kepalanya, guna melihat wajah anaknya yang terlihat semakin semakin memerah karena menangis.


“Anak bunda haus, ya?”


Makan sagu, minum soya. Sudah tahu, pakai nanya. Tasya celingukan mencari suaminya, tetapi dia tak menemukannya di dalam ruangan rawat inap itu.


“Loh, Gita kenapa nangis, Sya?” tanya Gilang sambil menutup kembali pintu yang baru saja di bukanya.


“Gita haus, Mas. Bisa tolong buatkan susu formula. Tadi udah di ajarin kan sama Bunda?“

__ADS_1


Gilang mengangguk, ia meletakkan barang yang dia bawa di atas meja di samping brankar Tasya lalu mulai berkutat membuat susu formula untuk anaknya.


Beberapa menit kemudian, susu yang dia buat pun telah siap. Gilang segera memberikan botol susu yang ia pegang kepada Tasya.


Akhirnya, suara isak tangis itu sudah tak terdengar karena teredam oleh mulut bayi itu yang asik meminum susunya.


“Kamu dari mana, Mas?” tanya Tasya sambil melirik ke arah Gilang yang sedang mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping brankar Tasya.


“Oh, ini aku tadi beliin kamu makanan, Sya. Nih, kamu makan dulu, kamu dari tadikan belum sempat makan,” ucap Gilang sambil membuka bungkus nasi goreng yang baru saja ia beli tadi.


“Tapi, kayaknya Gita nggak mau tidur lagi, Mas. Tuh, lihat matanya aja kelihatan segar.”


Gilang ikut melirik ke arah anaknya lalu menggendongnya.


“Gita biar sama aku aja, Sya. Kamu makan dulu!”


Tasya hanya mengangguk lalu mulai menyantap nasi goreng yang Gilang berikan padanya tadi. Dia tersenyum melihat wajah bahagia suaminya saat menimang buah hati mereka.


Ternyata, hadirnya Gita di dunia ini menambah kebahagiaan yang tak ternilai harganya di keluarganya. Benar kata Gilang, hadirnya Gita menjadi pelengkap di keluarga kecilnya. Semoga, apa yang mereka harapkan bisa terwujudkan.


“Anak ayah cantik, kayak Bunda,” celetuk Gilang sambil mengusap pipi Gita dengan sangat lembut.


Lagi-lagi Tasya tersenyum melihat keantusiasan Gilang. Semoga saja, dia dan Gilang dapat melihat dan ikut andil dalam membesarkan Gita.


“Kalau nanti kamu sudah besar, Ayah yakin kamu bisa menjadi putri kebanggaan Ayah, Nak. Jika pun nanti Ayah tak bisa berada di sampingmu dan ikut membesarkanmu, Ayah hanya berharap kamu selalu bahagia ya, Nak.”


Entah, apa yang dipikirkan oleh Gilang hingga berucap seperti apa itu. Dia pun tak tahu sebabnya, tapi dia merasa seolah ada yang mengendalikan mulutnya untuk mengucapkan kalimat itu. Bahkan, dia tak memiliki maksud untuk berkata seperti itu.


“Mas, kamu kenapa ngomong seperti itu?” tanya Tasya yang menghentikan aktivitas makannya.


Tasya menatap Gilang dengan tatapan penuh tanda tanyanya. Jujur saja, dia tak menyukai kalimat yang baru saja Gilang ucapkan. Kalimat itu seolah memiliki arti tersendiri di dalamnya.


Gilang menggeleng.


“Eh, memang aku tadi ngomong apa? Aku nggak ngomong apa-apa, Sya. Kamu salah dengar kali!”


Tasya hanya mengangguk sambil pura-pura percaya mungkin lebih baik. Jika apa yang dikatakan oleh Gilang bahwa dia salah dengar memang benar adanya, ya sudah mungkin hanya perasannya saja. Namun, jika apa yang didengar oleh telinganya memang benar, maka yang bisa dia lakukan adalah berdoa agar apa yang diucapkan oleh Gilang hanya kalimat candaan.


Walau sejujurnya dia pun tak yakin akan itu semua.


📸to be continue📸

__ADS_1


__ADS_2