
Happy Reading❣
.
.
.
.
.
.
.
“Jangan datang hanya untuk pergi. Aku sudah tak sanggup jika harus merasakan perasaan yang sulit kumengerti hingga membuatku merasakan luka lagi.”
~MDHD~
Alvan segera membopong tubuh adiknya menuju UKS. Saat di tengah perjalanan, dia di hadang oleh Arin dan juga Lala.
“Tasya kenapa, Bang?” tanya Arin dengan wajah khawatirnya.
“Dia pingsan, udah jangan halangin gue. Gue mau bawa Tasya ke UKS dulu.” Setelah Arin menyingkir dari hadapannya, Alvan segera melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Sementara Arin dan Lala mengikutinya dari belakang. Sesampainya di UKS, Arin segera membuka pintu lalu Alvan pun masuk ke dalam, membaringkan Tasya di atas ranjang kecil yang berada di UKS.
“Rin, tolong beliin Tasya bubur di kantin, tadi pagi dia belum sempat sarapan.” Arin mengangguk, menerima uang berwarna hijau yang disodorkan Alvan kepadanya lalu pergi melangkah menuju kantin.
“La, tolong ambilin minyak kayu putih di sana,” ucap Alvan menunjuk ke arah ujung UKS, tempat di mana tersedia berbagai obat-obatan, P3K, minyak kayu putih, dan bermacam-macam sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan.
“Nih, Bang.” Lala menyodorkan minyak kayu putih yang baru saja dia ambil.
Alvan mengoleskan sedikit minta kayu putih di bawah hidung di atas bibir Tasya. Tak berapa lama usahanya telah membuahkan hasil. Tasya tampak mengerjapkan matanya perlahan, dia melihat sekeliling sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Mungkin ini efek karena sedari tadi pagi dia belum memakan apapun selain selembar roti tawar tanpa selai.
“Dek, makan dulu,” ucap Alvan, mengaduk bubur di mangkuk yang baru saja dibelikan oleh Arin.
Alvan menyodorkan sesendok bubur ke mulut Tasya. Tasya melirik abangnya sebelum menerima suapan yang diberikan oleh Alvan.
“Lo kenapa bisa sampai pingsan, Sya?” tanya Arin yang duduk di sisi ranjang yang ditiduri oleh Tasya.
“Iya, Tasya kenapa sampai pingsan?” sambung Lala dengan pertanyaan yang sama.
Tasya hanya menggeleng pelan tanpa mau menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh kedua sahabatnya.
__ADS_1
“Sya!” Panggilan dari Arin membuat Tasya menoleh menatap Arin, menunggunya melanjutkan kalimatnya.
“Dengerin gue. Jangan karena luka yang diberikan Vino membuat lo merubah dunia lo. Ada dan tidaknya Vino bukan jaminan buat lo bahagia. Anggap aja Vino itu angin lalu. Apapun yang diucapkan Vino yang ngebuat lo sakit hati, abaikan. Jangan malah lo pikirin. Gue nggak mau sahabat gue sampai sakit karena ini. Jadikan semua ini pelajaran, lo harus bisa mengabaikan luka yang sedang lo rasakan,” tutur Arin tulus.
Dia tidak tega melihat sahabatnya yang berubah menjadi pendiam seperti ini. Jujur saja, dia lebih suka melihat tingkah konyol Tasya yang menjengkelkan dari pada melihat Tasya terpuruk karena Vino.
Vino, hm siapa yang patut disalahkan? Putra yang memberikan tantangan konyol? atau Vino yang menjadikan Tasya sebagai kekasih dengan embel-embel tantangan itu?
Semuanya patut disalahkan, bahkan dirinya juga patut disalahkan. Salahkan dirinya yang tidak bisa melarang Tasya untuk tidak berpacaran dengan Vino. Bagaimanapun, dia ingin melihat sahabatnya bahagia, walau dia pun tahu bahwa kebahagiaan itu hanya semu.
‘Tasya, maafin gue. Coba aja dari awal gue ngelarang lo buat nggak pacaran sama Vino. Mungkin, saat ini lo nggak bakalan ngerasain luka dengan cinta pertama lo. Gue nggak pecus jadi sahabat lo,’ batin Arin.
Dia menunduk, mengusap sudut matanya yang berair. Dia ikut merasakan sakit yang Tasya rasakan. Secuek apapun dirinya dengan keadaan sekitar, tapi jika sudah menyangkut sahabatnya dia tak akan tinggal diam. Baginya sahabat adalah keluarganya.
Di rumah, dia sudah seperti tidak memiliki keluarga. Kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka hingga mereka melupakan buah hati yang menunggu kehadiran mereka di rumah.
Saat ini, yang dia miliki hanyalah Arin dan Lala. Walaupun dia memiliki Rangga sebagai sepupu dan adik papanya, yang tak lain adalah mama Rangga, namun dia juga tak terlalu dekat dengan keluarga Rangga.
Dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil. Namun, seketika dunianya berubah, sejak dia mengenal Tasya dan Lala yang kini telah menjabat sebagai sahabatnya. Namun, Arin tak pernah menganggap keduanya sahabat. Bagi Arin, Tasya dan Lala adalah saudaranya.
“Lo jangan sedih lagi, Sya. Ada banyak orang di sekitar lo yang siap dengerin semua curhatan lo. Ada gue, Lala, bang Al, Bang Gilang, kedua orang tua lo, dan masih banyak lagi orang yang peduli sama lo.” Tasya tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Arin.
“Terimakasih.”
Tasya sedang duduk di balkon kamarnya. Kakinya digantung—menjuntai ke bawah balkon. Dia menikmati semilir angin malam.
Pernah aku jatuh hati
Padamu sepenuh hati
Hidup pun akan kuberi
Apapun kan kulakui
Tapi tak pernah kubermimpi
Kau tinggalkan aku pergi
Tanpa tahu rasa ini
Ingin rasa kumembenci
Tasya tampak asik mendengarkan lagu yang mengalun dari ponselnya yang berjudul Pura-pura lupa by Mahen.
Lagu kali ini tampak cocok dengan apa yang Tasya rasakan sekarang. Dia rela melakukan apapun untuk Vino, tapi tak melupakan batasannya. Tasya menatap langit yang gelap gulita, tak ada satupun bintang yang terlihat lalu tersenyum samar. Dia kembali mengingat hal-hal indah yang pernah dia rasakan bersama Vino.
__ADS_1
Tiba-tiba suara-suara aneh memenuhi otak dan pikiran Tasya.
Lo terkesan kek murahan!
Terkesan kek murahan!
Kek murahan!
Murahan!
Lagi-lagi, kalimat yang pernah dilontarkan Vino menggema di indera pendengarnya. Tasya menutup telinganya rapat-rapat.
“STOP NGATAIN GUE MURAHAN. GUE BUKAN MURAHAN!” seru Tasya terus menutup telinganya erat sambil menggelengkan kepalanya.
Karena suara teriakan yang berasal dari kamar Tasya, Alvan, ayah dan bundanya yang sedang bersantai di ruang keluarga menjadi terkejut.
“Tasya kenapa, Bun?” tanya Rafa menatap pintu kamar Tasya dari tempat di mana dia duduk.
“Lebih baik kita cek sekarang, Yah,” usul Alvan. Mereka bertiga pun beramai-ramai menuju kamar Tasya.
Tok-tok-tok!
“Sya, buka pintunya, Sya!” seru Alvan. Tangan kirinya terus menggedor pintu kamar Tasya, sementara tangan kanannya terus berusaha memutar knop pintu.
Karena tak ada jawaban dari Tasya, Alvan memandang ayah dan bundanya secara bergantian.
“Bunda sama Ayah minggir dulu. Alvan mau dobrak pintunya aja, Alvan takut terjadi apa-apa sama Tasya.”
“Biar Ayah bantu, Bang.” Alvan mengangguk. Anak dan ayah itu mundur beberapa langkah ke belakang, lalu maju mendorongkan tubuh mereka ke arah pintu. Hingga dorongan ketiga mereka telah berhasil membuka pintu kamar Tasya.
Tera segera memasuki kamar Tasya, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari keberadaan putri bungsunya. Netranya menangkap sosok Tasya yang sudah tak sadarkan diri di balkon.
“Ya ampun, Tasya!” seru Tera bergegas menghampiri Tasya dengan langkah cepat.
“Ayah, Abang, angkat Tasya ke ranjang sekarang!” perintah Tera.
Alvan mengangguk, mengangkat tubuh lemas adiknya membawanya ke atas ranjang yang berada di kamar Tasya.
“Ya ampun, Adek kenapa bisa sampai pingsan begini?” tanya Tera mengusap lembut rambut Tasya dengan mata berkaca-kaca.
“Tadi waktu di sekolahan, Tasya juga pingsan Bunda,” ucap Alvan ikut mendudukkan dirinya di samping bundanya.
“Ya ampun, Nak. Apa yang sebenarnya kamu alami?” gumam Rafa menatap wajah putri kesayangannya.
To be continue ....
__ADS_1