
Bantu support 2k pembaca🐟
❣
“Kecewa dan luka itu selalu ada. Bahkan dalam tawa, dia selalu datang menghancurkannya. Dia tak pernah pergi, hanya saja dia sedang sembunyi.”
~Natasya Quiella Natapraja ~
“Sya!” Panggilan dari Arin menyadarkan Tasya dari lamunan panjangnya.
Tasya menatap Arin dalam diam, menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya.
“Lo masih kecewa sama Vino, ya?” tanya Arin hati-hati, dia hanya takut menyinggung kembali perasaan sahabatnya ini.
Tasya tersenyum hambar. “Kalau dibilang kecewa sih iya, tapi apa boleh buat? Tak ada yang perlu ditangisi, sebab yang menjadi alasan lebih memilih pergi. Ya meski kadang gue sering menangis diam-diam, merutuki kebodohan gue sekarang dan gue selalu berharap supaya hal itu tidak kembali terulang.” Detik berikutnya dia menunduk.
Apa yang dikatakan oleh Tasya memang benar adanya. Tawa yang mungkin terdengar hambar itu hanya topeng menutup luka yang masih basah di hatinya. Dia hanya berharap, Tuhan berbaik hati kepadanya dengan memberikan sosok pengganti yang lebih baik dari Vino untuknya.
Berbicara tentang Vino, entah apa kabar Vino saat ini, Tasya pun tak tahu. Karena jika berada di dekatnya, tidak ada orang yang membahas tentang Vino.
“Vino apa kabar, Bang?”
Gilang mengalihkan pandangannya, menatap gadis yang baru saja menanyakan keadaan adik semata wayangnya.
“Lo, masih peduli sama dia, setelah apa yang dia lakuin ke lo?” Arin kembali bersuara, gadis itu menatap kesal ke arah Tasya yang tak menghiraukan tatapannya.
“Dia baik-baik aja, Sya. Kenapa, tumben nanyain dia? Kamu rindu?” tanya Gilang balik, dari nadanya terdengar sedikit ... cemburu?
Reflek Tasya menggelengkan kepalanya.
“Enggak, Bang. Tasya nanyain kabarnya bukan berarti Tasya rindu. Tasya cuma—”
“Enggak rindu, cuma kangen, iya, ‘kan?” tuding Arin.
“Aku ke toilet dulu.” Gilang beranjak dari duduknya, menuju toilet yang tersedia di kafe tempat mereka nongkrong saat ini.
“Arin, kamu kenapa sih negatif thinking mulu sama Tasya?” Lala yang sedari tadi hanya menyimak, kini mulai menyuarakan pendapatnya.
“Gue nggak suka aja, Tasya masih memperdulikan orang yang udah bikin dia kecewa. Sebagai sahabat, gue nggak mau kejadian yang sama bakal terulang kembali!” sahut Arin penuh penekanan.
__ADS_1
Dia tak peduli tentang pendapat orang lain yang mengatakan bahwa dia terlalu ikut campur tentang hubungan Tasya dan Vino. Bahkan, ada saja orang yang menyebutnya menyukai Vino, sehingga dia sangat tak menyetujui hubungan Vino dan Tasya.
Hey, itu salah besar. Arin tak pernah suka apalagi sampai cinta dengan pria yang telah menyakiti hati sahabatnya ini. Dan apa yang dikatakannya tadi memang sesuai apa yang menjadi alasannya. Dia tak ingin sahabatnya merasakan kecewa lagi, camkan itu!
Arin tak pernah mengindahkan ucapan-ucapan yang menurutnya hanya mengganggu ketenangannya. Arin hanya akan menganggap itu semua hanya angin lalu.
“Gue tahu, lo nggak seperti apa yang mereka bicarakan. Gue tahu, maksud lo nggak menyetujui hubungan gue sama Vino. Terima kasih, Rin. Lo selalu peduli sama gue, gue beruntung banget punya sahabat kayak lo. Enggak semua orang bisa seberuntung gue, punya teman yang selalu ada buat gue.” Tasya tersenyum tulus lalu memeluk Arin erat diikuti Lala yang juga memeluk mereka berdua.
“Gue semakin sadar bahwa gue membutuhkan seseorang yang bersyukur memiliki gue, bukan seseorang yang mampu bilang sayang namun tidak takut kehilangan,” lanjut Tasya setelah melepaskan pelukannya.
“Seperti Bang Gilang yang sangat bersyukur karena bisa dapetin hati lo!“ celetuk Arin lalu mereka tertawa bersama.
“Apaan sih lo!“ elak Tasya dengan pipi yang sudah bersemu.
“Cie, ada yang salting,” goda Arin.
“Sya, pulang yuk. Udah jam setengah empat nih,” ucap Gilang melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.
Tasya mengangguk. “Gue duluan ya, tenang aja udah gue bayarin kok.”
Setelah mendapat anggukan dari kedua sahabatnya, Tasya dan Gilang meninggalkan area kafe.
“Enggak bicarain apa-apa kok, Bang.”
Gilang hanya mengangguk percaya. Setelah itu, hanya keheningan yang menghiasi mobil yang mereka tumpangi, mereka tampak asik dengan pikiran masing-masing.
“Sya!”
Tasya menoleh. “Kenapa, Bang?”
“Kamu nggak ada niatan buat kembali ke sekolah umum?”
“Tasya nggak tahu, Bang, tapi Tasya udah ada niatan buat balik sekolah lagi, walau Tasya juga nggak tahu kapan pastinya.”
“Gimana, kalau mulai besok aja. Besok senin, ‘kan?”
Tasya tampak berpikir, apa dia harus menuruti saran dari Gilang?
“Sya, dengerin Abang. Ketika kamu terus menghindari masalah, maka kamu akan sulit menemukan jalan keluarnya, tapi ketika kamu lawan masalah itu, maka kamu akan semakin dipermudah untuk menemukan jalan keluarnya. Kamu ingat, kan. Abang pernah bilang, berdamai dengan keadaan itu bukan hal yang buruk, Sya. Abang akan selalu ada di samping kamu, buat dukung apapun keputusan kamu, selagi itu tidak merugikan diri dan orang di sekitar kamu.”
__ADS_1
Tasya terdiam, entah kenapa setiap dia diberikan nasihat oleh Gilang rasanya keputusan yang saat ini dia ambil pasti selalu salah dan apa yang dikatakan oleh Gilang pasti benar. Entahlah, bagaimana itu semua bisa terjadi.
“Udah, nggak usah terlalu dipikirin. Intinya, kalau kamu udah ada niatan buat sekolah kamu hubungin Abang aja, biar Abang yang antar jemput kamu,” lanjut Gilang, mengelus rambut Tasya lembut dengan tangan sebelah kirinya.
“Tapikan ada Bang Al, Bang.”
“Udah sama Abang aja, memangnya kamu mau sama Alvan mulu?”
Tasya menggeleng. “Enggak juga sih, Bang. Soalnya kadang Bang Al orangnya ngeselin.”
“Asal kamu tahu, Sya. Terkadang sebagian orang menyampaikan kasih sayangnya dengan cara membuat orang yang dia sayangi kesal. Namun, di sisi lain, dia akan menjadi seekor singa yang mengamuk, saat tahu orang yang dia sayang dibuat kecewa oleh seseorang.” Sebuah garis membentuk sebuah senyuman tergambar di wajah Gilang.
Senyuman Gilang bersifat menular. Tasya ikut tersenyum memandang wajah pria disebelahnya ini. Sifatnya yang dewasa membuat Tasya betah berlama-lama di sisinya. Tasya juga dengan leluasa menyampaikan masalahnya kepada Gilang dari pada dengan abang kandungnya sendiri. Karena Tasya yakin, Gilang pasti akan memberikannya solusi terbaik di setiap masalah yang sedang dia hadapi.
Tiba-tiba tangan Gilang meraup wajah Tasya.
“Udah, nggak usah pandangin mulu, Abang tau Abang tuh emang ganteng dan rupawan sehingga membuatmu terpesona.”
Sejak kapan Gilang menjadi narsis seperti ini? Kemana sifat dewasa yang tadi Tasya banggakan? Entahlah, cepat sekali lenyap. Tasya menggidikkan bahu.
“Mampir dulu, Bang?” tawar Tasya sambil melepas seal belt-nya.
Gilang menggeleng. “Enggak deh, Sya. Udah sore, Abang langsung pulang aja lagi ada urusan sama Papa setelah ini, jadi harus cepat-cepat.”
“Oh ya udah kalau gitu, hati-hati di jalan, Bang. Jangan ngebut-ngebut, oke?”
Gilang mengacungkan jempolnya lalu Kembali menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Tasya.
Setelah mobil Gilang tak terlihat lagi dari pandangannya, Tasya pun membalikkan badannya dan dikejutkan oleh hadirnya sosok manusia di belakangnya.
“Astagfirullah, Bang Al. Ngagetin aja.” Tasya mengusap dadanya pelan.
“Ngelihatin siapa sih? Dari tadi dipanggilin nggak ngejawab.”
“Bang Al mah orangnya suka kepo,” sahut Tasya segera berlalu dari hadapan manusia dengan sejuta rasa penasarannya ini.
“Heh, kalau ditanya tuh dijawab bukan main pergi aja!” ucap Alvan sedikit berteriak karena jaraknya dengan Tasya yang sudah lumayan jauh.
“BODO!”
__ADS_1
To be continue ....