Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 15


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


...“Bukan harta yang aku inginkan, bukan pula ketenaran yang aku impikan. Satu hal yang selalu menjadi angan, ialah memiliki keluarga yang selalu menjadi alasan kenapa hariku terasa menyenangkan.”...


...~Arvino Afriza Louis~...


Gilang baru saja tiba di rumah setelah pergi jalan-jalan untuk menenangkan pikirannya. Seperti biasa, dia akan memarkirkan mobilnya di garasi samping rumahnya. Namun, kali ini terasa ada yang berbeda, dia merasa seolah ada yang hilang.


Matanya memandang ke sekeliling garasi, pantas saja dia merasa ada yang hilang, ternyata motor milik adiknya tidak ada di sana.


Apa mungkin Vino sedang pergi? Tapi ke mana? Ini sudah malam, sedangkan Vino jarang sekali keluar bila malam sudah tiba. Tak ingin dihantui rasa penasaran, Gilang segera saja melangkah menuju ke dalam rumah. Setibanya di dalam rumah, dapat dia lihat papanya sedang duduk di sofa dengan koran yang berada di pangkuannya.


“Pa?” panggil Gilang lalu duduk di samping papanya.


Bagas menghentikan aktivitas membaca korannya. Dia menoleh ke arah Gilang tanpa mengucap sepatah kata pun.


“Vino ada di rumah, nggak? Soalnya motornya nggak ada di garasi. Biasanya, kan dia jarang banget keluar kalo udah malam. Papa tahu di mana Vino?” tanya Gilang panjang lebar sambil menatap papanya.


Bagas meletakkan koran yang dia baca di atas meja, lalu menatap putra sulungnya.


“Mungkin Vino ke apartemen Mama, soalnya tadi Papa suruh Vino keluar dari rumah ini.”


Gilang terkesiap, dia sangat terkejut dengan jawaban yang papanya berikan, Gilang langsung bangkit dari duduknya.


“Papa ngusir Vino?”


“Papa nggak ngusir, Papa cuma nyuruh Vino buat pergi dari rumah ini. Papa capek ngurusin adikmu yang nggak pernah nurut apa yang Papa katakan.” Wajah Bagas tampak tenang seakan tak terjadi apa-apa, tetapi siapa yang tahu perasaan dalam hatinya yang sesungguhnya? Bagas mulai mengambil korannya kembali lalu membacanya.


“Pa, Papa ini apa-apain sih? Vino juga anak Papa, kenapa Papa tega usir Vino dari rumah ini, Pa? Vino juga berhak tinggal di sini, Pa!” Napas Gilang tampak menggebu-gebu. Dia kesal dengan keputusan papanya ini.


Gilang berbalik, dia melangkah keluar rumah menuju garasi. Laki-laki itu mengambil mobilnya dan pergi menuju apartemen mamanya, mencari sang adik di sana.


Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tak mengacuhkan keselamatannya, yang dia pedulikan adalah keadaan adiknya.


Setelah perjalanan selama sepuluh menit, akhirnya dia telah sampai di parkiran apartemen. Gilang memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong. Lantas bergegas menuju lift, menekan tombol lantai empat.

__ADS_1


Ting!


Pintu lift terbuka, Gilang kembali mempercepat langkahnya menuju kamar apartemen mamanya. Setelah sampai di depan pintu kamar Vino, dia segera memencet tombol bel yang tersedia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Vino tampak sedang bersantai-santai di sofa sambil memainkan game di ponselnya.


Ting-tong!


“Siapa sih malam-malam bertamu? Ganggu orang aja!” gerutu Vino. Pria itu mematikan ponselnya lalu meletakkan di atas meja.


Vino segera membuka pintu apartemennya, dapat dia lihat Gilang yang tengah memunggunginya.


“Maaf lagi nggak menerima tamu!” ketus Vino yang berdiri sambil bersandar di kusen pintu.


Gilang membalikkan badannya, menghadap Vino yang sedang menatapnya.


“Vin, pulang ke rumah,” ucap Gilang.


“Rumah yang mana, ya? Gue belum punya rumah soalnya.”


“Vin, ayo pulang ke rumah. Papa nggak bermaksud buat ngusir lo dari rumah. Papa tadi cuma lagi emosi. Pulang ya, Vin,” bujuk Gilang menatap lekat adiknya.


“Hah, lagi emosi lo bilang.?! Papa itu selalu emosi kalau udah urusan gue. Papa selalu marah-marah terus sama gue. Apa sebenarnya gue anak pungut, ya? Makanya gue selalu salah di mata Papa?”


“Vin, jaga mulut lo, ya! Lo itu anak Papa sama Mama. Lo itu adik gue!” gertak Gilang, tak terima dengan ucapan yang baru saja Vino lontarkan.


“Bodo amat, gue mau tidur. Mau sampai kapan pun lo di situ, gue nggak bakal peduli,” monolog Vino mengambil ponselnya yang berada di atas meja lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Assalamualaikum, Bunda!” sapa Tasya saat memasuki ruang rawat inap bundanya dengan menenteng paper bag di tangannya.


“Waalaikumussalam, Sya. Abang mana?” tanya Tera sambil menatap gerak-gerik putri bungsunya.


“Enggak tahu, Bun. Katanya tadi ada urusan sebentar. Palingan bentar lagi ke sini,” sahut Tasya lalu duduk di bangku sebelah brankar bundanya. “Ayah ke.mana, Bun?” Kini bergantian Tasya yang menanyakan keberadaan ayahnya.


“Tadi ke kantin. Kasihan Ayah, pola makannya jadi nggak teratur gara-gara kecapekan jagain Bunda,” ucap Tera sambil membenarkan hijabnya.


“Bunda apaan sih? Bunda nggak boleh ngomong gitu. Mending Bunda makan, Tasya udah masakin sup ayam nih. Tasya tahu bunda pasti nggak suka sama makanan rumah sakit, makanya Tasya masakin ini.” Tasya mulai mengambil rantang dari dalam paper bag, kemudian menghidangkan semangkuk sup untuk bundanya.


“Makasih, Dek. Kamu perhatian banget sih sama Bunda.” Tangan Tera mencubit hidung Tasya gemas.


“Iya dong Tasya, kan putri kesayangan Bunda. Tasya pengen Bunda cepat sembuh, Tasya nggak suka lihat Bunda sakit. Tasya bahagia kalau lihat Bunda sehat,” tutur Tasya tersenyum hangat ke arah bundanya.


“Makasih, Sayang. Bunda beruntung punya anak kayak Tasya,” tutur Tera ikut tersenyum. Dia bahagia karena Allah mengaruniakannya anak yang bisa membuatnya bahagia. Dia bahagia, kebahagiaannya bahkan tidak bisa diukur oleh apa pun.


“Ya udah, Bunda makan dulu ya.” Tasya membantu bundanya duduk. Dia mengambil bantal lalu meletakkan di belakang punggung bundanya. Tangannya mulai menyodorkan sesendok sup ayam ke mulut bundanya.

__ADS_1


Ceklek!


Perhatian keduanya teralihkan oleh suara pintu yang dibuka oleh seseorang. Ternyata Rafa yang baru saja datang dengan satu kotak styrofoam di tangannya. Dia mengambil duduk di sisi brankar istrinya.


“Makan apa, Bun?” Tanya Rafa mulai membuka styrofoam-nya.


“Ini, Yah, tadi Adek masakin Bunda sup ayam,” sahut Tera setelah menelan kunyahannya.


“Wah, anak Ayah udah pintar masak nih sekarang. Oh iya, Abang ke mana, Dek?”


“Enggak tahu, tadi katanya ada urusan sebentar, Yah,” sahut Tasya lalu kembali menyuapi bundanya.


“Abangmu itu.” Rafa geleng-geleng tak habis pikir. Namun, tak lama kemudian pintu kamar rawat inap Tera kembali terbuka.


“Assalamualaikum semuanya!” sapa Alvan yang baru saja tiba lalu menutup kembali pintu yang baru saja ia buka.


“Dari mana aja, Van?” tanya Rafa dengan tatapan mengintimidasi.


Alvan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali sambil tersenyum kikuk.


“Ada urusan tadi, Yah.”


“Urusan apa sih? Setiap hari kok ada urusan mulu. Kamu juga sering absen ke sekolah karena urusan terus, Bang. Ingat kamu ini udah kelas dua belas, Bang, jangan keseringan absen. Memangnya kamu mau apa nggak lulus sekolah?”


Alvan menggeleng cepat. “Enggak maulah, Yah. Siapa coba yang mau nggak lulus. Orang bodoh sekalipun pasti pengen lulus lah, Yah.”


“Ya udah mulai sekarang jangan keseringan absen,” ucap Rafa lalu mulai memakan makanannya.


“Sebenarnya ada urusan apa sih, Bang? Bunda lihat kamu sibuk terus akhir-akhir ini.” Kini gantian Tera yang melontarkan pertanyaan kepada Alvan.


“Sebenarnya selama ini Alvan lagi ngurus kafe, Yah, Bun,” ucap Alvan. Semua orang yang berada disitu menatap lekat ke arah Alvan.


“Sejak kapan? Kok nggak pernah kasih tau Ayah?” tanya Rafa yang menghentikan aktivitas makannya.


“Sudah sekitar lima bulan yang lalu, yah. Nama kafenya, kafe Faresta. Tempatnya di sebelah sekolah SMA Harapan Nusa, Yah,” jelas Alvan.


“Ayah suka kamu udah belajar mandiri. Dananya ada yang kurang nggak? Kalau kurang, bilang sama Ayah, biar Ayah yang tambahin,” tutur Rafa yang membuat senyum di bibir Tera mengembang. Dia bangga kepada anggota keluarganya.


Alvan menggeleng. “Untuk saat ini dananya aman, Yah. Tapi nanti kalau Alvan butuh dana dari ayah Alvan pasti bakalan cepat bilang sama Ayah. Siap-siap aja uang Ayah bakalan Alvan habisin.”


Rafa terkekeh, lalu mengusap kepala putra sulungnya.


“Ayah bakalan lakuin apa aja buat anak Ayah bahagia. Bunda, kamu, sama Tasya itu sumber kebahagiaan ayah. Ayah bahagia kalau kalian juga bahagia.”


Tasya segera menghambur kedalam pelukan hangat ayahnya.


“Tasya sayang sama Ayah. Tasya juga bahagia kalau lihat Ayah sama Bunda sama Kak Alvan bahagia.”


‘Ya Allah, terima kasih engkau telah mengaruniakan hamba keluarga yang harmonis. Mengaruniakan suami yang cinta kepada anak dan istrinya. Mengaruniakan anak-anak yang Baik hati dan berbakti kepada kedua orang tua. Terima kasih ya Allah, limpahkanlah segala nikmat, taufik dan hidayah-Mu kepada keluarga hamba, aamiin,’ batin Tera sambil tersenyum bahagia melihat senyum bahagia dari anggota keluarganya.

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2