
Happy Reading❣
Suara mesin elektrokardiograf itu mengisi keheningan diruang rawat sebuah rumah sakit. Seorang pria berumur 22 tahun itu nampak terbaring lemah di atas brankar dengan tubuh yang di penuhi luka-luka yang cukup banyak, kepalanya pun nampak di balut dengan perban putih. Berbagai alat penunjang hidup menempel di beberapa anggota tubuhnya. Deru nafas pria itu nampak masih terdengar lemah dari bibirnya .
Tasya duduk di kursi yang berada di samping brankar Gilang. Tangannya terus menggenggam tangan Gilang yang terasa dingin. Kenapa Gilang belum sadar juga? Padahal kata dokter tak lama lagi Gilang akan sadar. Namun, sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda bahwa Gilang akan membuka matanya.
"Mas, bangun. Kamu betah banget tidur terus. Lihat, Gita kayanya nyariin kamu," celetuk Tasya sambil mencium punggung tangan Gilang.
Air mata tak hentinya mengalir dari pelupuk mata Tasya. Bahkan, sampai saat ini Tasya masih menitipkan Gita kepada bundanya.
Sementara di depan pintu ruang rawat Gilang, seorang pria sedari tadi nampak berdiri. Matanya menatap sendu ke arah Tasya yang terus menggenggam tangan Gilang seolah takut kehilangan.
Hatinya terasa sakit saat melihat wanita yang ia sayangi sungguh peduli dengan pria lain. Walau yang di lakukan wanita itu tidaklah salah, karena pria itu adalah suaminya. Namun, tetap saja ia tak dapat membohongi hatinya yang terasa semakin tercabik-cabik.
"Gue tahu lo masih sayang sama diakan? Belajar ikhlasin, Vin. Dia udah bahagia sama abang lo. Lo gak bisa terus-terusan mencintai wanita yang sudah memiliki suami. Coba lepaskan dengan ikhlas, gue yakin lo pasti bisa!" ucap Rangga sambil menepuk pelan pundak Vino.
Vino membalikkan badannya, ia menatap ke arah Rangga yang berdiri di depannya. Tanpa menjawab apa yang di katakan oleh Rangga, Vino lebih memilih mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang berada di depan ruang rawat Gilang dengan Rangga yang mengikuti apa yang di lakukan oleh Vino.
"Gue gak tahu, Ngga. Selama ini gue udah nyoba buat ngelupain dia tapi tetap saja hasilnya nol besar. Gue gak bisa bohongin hati gue kalo gue masih sayang sama dia. Dia itu ibaratkan Seseorang yang di utus sama Tuhan buat jadi penggantinya mama di hidup gue. Baru kali ini gue merasa sesayang ini sama perempuan, Ngga," jelas Vino sambil menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Tapi rasa cinta lo ini terlarang, Vin! Sampai kapanpun lo gak bakalan bisa bersatu sama Tasya. Tasya udah jadi milik orang, apalagi orang itu adalah abang lo sendiri. Gue tahu lo bisa, cuma lo aja yang masih terlalu naif buat ngeyakinin hati lo sendiri. Masih tersimpan banyak keraguan di hati lo, iyakan?"
"Tapi hati gue berkata kalau gue bakalan bisa bersatu sama Tasya, entah itu kapan akan terjadi," ucap Vino masih pada pendiriannya.
Rangga hanya bisa berdecak pelan sambil menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang ada di pikiran sahabatnya ini. Bisa-bisanya Vino berpikir ia akan bisa bersatu dengan seorang wanita yang nyatanya sudah memiliki seorang suami. Vino tidak memiliki cita-cita sebagai pebinorkan?
Tak ingin dirundung penasaran, Rangga segera menyuarakan isi hatinya,
"Lo gak ada cita-cita jadi pebinorkan, Vin?"
Secara reflek tangan Vino melayang mulus di kepala Rangga,
"Lo gila apa gak waras, hah? Lo pikir gue dengan tega ngerebut isteri abang gue sendiri? Ya gak lah, bego. Gue cuma bilang kalau gue percaya suatu saat nanti gue bakalan bisa bersama-sama dengan Tasya. Tapi gue gak ada niatan buat ngerebut Tasya."
"Ya, kali aja gitu."
...🎀...
Tasya memandang Gilang yang masih belum sadarkan diri. Tangannya terulur mengelus kepala Gilang penuh kasih sayang. Hingga suara pintu yang di buka mengalihkan perhatiannya.
Ceklek
"Gilang belum siuman juga, Sya?" Tanya Tera dengan Gita yang berada di gendongannya.
Tasya menggeleng sambil mengambil alih Gita lalu membawanya ke gendongannya,
"Belum, bun. Kira-kira kapan ya mas Gilang sadarnya, dari tadi Tasya tungguin belum sadar juga. Oh iya, bang Al sama ayah kemana?"
"Mereka lagi di mushola, Sya."
__ADS_1
Kedua wanita itu nampak terdiam sambil menatap Gilang yang masih asik dengan alam bawah sadarnya. Detik berikutnya, pria itu nampak menggerakkan jari-jarinya. Mata yang sedari tadi tertutup rapat kini mulai membuka secara perlahan.
"Bunda, mas Gilang udah sadar!" pekik Tasya dengan penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah, sebentar biar bunda panggilin dokternya dulu." Dengan gerakan secepat kilat, Tera segera keluar dari ruangan untuk mencari dokter agar bisa memeriksa keadaan menantunya.
"Alhamdulillah, sayang ayah udah sadarkan diri," ucap Tasya tersenyum sambil menatap Gilang dan Gita secara bergantian.
Tak lama kemudian, Tera dan seorang dokter datang bersama suster di belakangnya. Dokter Gio segera mengecek keadaan Gilang.
"Bagaimana, dok keadaan suami saya?" tanya Tasya tak sabaran.
"Alhamdulillah, kodisi pasien sudah pulih, doakan saja agar kondisi pasien bisa pulih sepenuhnya, kalau begitu saya permisi keluar," ucap dokter Gio sambil tersenyum lalu meninggalkan ruang rawat Gilang di ikuti oleh suster di belakangnya.
"Bunda nyari ayah sama abang kamu dulu, Sya!" Tera segera ikut keluar dari ruangan.
Selepas perginya dokter Gio, Tasya segera menghampiri Gilang yang tengah menatapnya.
"Bagaimana keadaaan, mas? Apa masih ada yang sakit?"
Bodoh sekali pertanyaan yang kamu lontarkan, Sya. Sudah jelas-jelas suaminya itu terlihat sakit, masih saja ditanyakan, Tasya merutuki kebodohannya didalam hati.
"Aku gak papa, Sya. Dengan lihat kamu senyum aja udah bikin aku sehat," balas Gilang dengan tersenyum.
Tasya mengangguk lalu kembali mendudukkan dirinya di kursi yang tadinya ia duduki,
"Tadi Vino ke sini sama keluarga adik Papa."
Tasya kembali mengangguk lalu keluar dari ruangan untuk memanggil mantan yang bernotabene adik ipar itu.
Setibanya didepan ruang rawat, Tasya mengedarkan pandangannya hingga ia menemukan Vino yang nampak memejamkan mata sambil bersandar ditembok.
"Vino!"
Vino terkesiap kaget, suara ini adalah suara yang selama ini Vino rindukan. Vino mengerjapkan matanya pelan, ia menatap Tasya yang berdiri didepannya. Apakah ini mimpi?
"Vin!" Sekali lagi panggilan ini kembali mengejutkan Vino. Vino menepuk pipinya sendiri dengan keras, ini terasa sakit. Berarti ini bukan mimpi.
"Mas Gilang nyariin kamu!" Ucap Tasya lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
Vino memantapkan hatinya, ini waktu yang tepat. Ia harus berbaikan dengan Gilang. Ia beranjak dari duduknya. Ia ikut masuk ke dalam ruangan. Setibanya di dalam ruangan, dapat ia melihat Gilang yang menatapnya dengan senyuman.
"Vin, sini ada yang mau gue omongin sama lo!" Ucap Gilang melambaikan tangannya ke arah Vino.
Vino kembali melangkahkan kakinya. Ia berdiri tepat di samping brankar Gilang,
"Lo mau ngomong apa, bang?"
"Boleh gue minta sesuatu sama lo?"
__ADS_1
Vino mengangguk,
"Lo mau minta apa sama gue? Bukannya lo udah punya segalanya?"
"Gue minta sama lo tolong jaga Tasya buat gue. Gantiin posisi gue di hidupnya, ya. Buat dia bahagia, Vin. Jangan sia-siain dia lagi, dia berhak bahagia, Vin!"
"Maksud lo apaan, bang?" Tanya Vino tak mengerti.
Gilang tak menjawab, ia melambaikan tangannya ke arah Tasya agar wanita itu mendekat. Tasya menurutinya, ia melangkah ke arah Gilang
"Sya, aku mau kamu sama Vino jadi suami isteri. Aku mau kamu bahagia sama Vino, Sya. Aku percaya kamu bisa bahagia sama Vino!"
"Maksud mas Gilang apa, kenapa ngomong kaya gitu?" Tanya Tasya yang juga tak mengerti arah pembicaraan suaminya ini.
"Waktuku udah gak lama lagi, Sya. Vin, gue tahu lo masih sayang sama Tasya dan gue mau lo ngantiin posisi gue di hidupnya. Dan kamu, Sya aku mau kamu jadi isteri yang baik untuk Vino. Aku gak rela ngelepasin kamu buat orang lain selain Vino, Sya. Kamu maukan nurutin keinginan aku?" tanya Gilang sambil menatap mata Tasya.
Tasya mengangguk ragu, jika boleh jujur, sejujurnya ia tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Gilang. Kenapa pria itu berkata seolah-olah akan pergi jauh meninggalkan Tasya.
"Vin, jaga isteri dan anak gue, ya. Gue mau lo menyayangi Gita seperti anak kandung lo sendiri. Aku mau kalian jadi keluarga bahagia, seperti impian kita, Sya." Gilang menatap Tasya dan Vino secara bergantian.
Setelahnya Gilang nampak menarik Tasya, lalu ia mencium pipi Gita,
"Jadi anak yang sholehah ya, nak. Biar bisa banggain ayah, bunda, dan ayah Vino. Jadi anak yang pandai dan berbakti sama orang tua dan orang yang lebih tua dari kamu."
Gilang menatap Vino,
"Vin, tolong gendong Gita dulu."
Vino mengambil alih Gita ke dalam gendongannya lalu menimang bayi yang nampak tertidur pulas itu.
Gilang segera menarik Tasya ke dalam pelukannya, ia mencium puncak kepala Tasya penuh kasih sayang. Lalu beralih mengecup kening isterinya itu.
"Aku sayang kamu, my wife."
Itulah kalimat yang terakhir Tasya dengar hingga mesin EKG itu bergerak lurus tanda sudah tiadanya kehidupan. Air mata yang sempat berhenti kini kembali mengalir.
"Mas Gilang jangan tinggalin aku, mas. Mas Gilang, kamu udah janji kita bakalan buat keluarga bahagia seperti impian kita, mas. Mas Gilang jangan pergi!"
Langkah beberapa orang dewasa itu nampak berbondong-bondong memasuki ruang rawat Gilang.
Dokter Gio segera mengecek keadaan Gilang,
"Innalilahi wa innalilahi rojiun, pasien telah kembali ke pangkuan Tuhan. Semoga pasien diterima disisi-Nya."
"Aminn!"
"Gak mungkin, dokter bohongkan sama Tasya, gak mungkin. Mas Gilang ayo bangun!" Tasya terus mengguncang-guncangkan lengan Gilang. Ia berharap ini hanya mimpi.
"Sya, tenangin diri kamu. Kita semua memang sayang sama Gilang tapi Tuhan lebih sayang sama Gilang. Tuhan gak mau Gilang terus ngerasain sakit disini. Ikhlasin, Sya Gilang pasti bakalan sedih di sana lihat kamu nangis kaya gini." Tera terus mengusap punggung anak perempuannya itu.
__ADS_1
Semua orang yang berada disitu nampak mengeluarkan air mata. Mereka kehilangan salah satu keluarga mereka. Mereka kehilangan Gilang, sosok pria dengan sejuta senyumannya. Sosok pria yang jarang sekali menunjukkan sisi lemahnya.
TBC...