
Happy Reading❣
Satu bulan kemudian...
Sebuah hotel besar di wilayah Surabaya tampak ramai dengan beribu manusia di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang menjadi tamu undangan untuk pasangan pengantin yang akan menikah setengah jam lagi.
Menunggu selama itu tak memutuskan niat para tamu undangan untuk berlomba-lomba melihat mempelai pengantinnya, baik pria maupun wanita. Sayangnya, saat ini pengantin wanita belum muncul.
Sementara di sisi lain, salah satu pria yang berada di sana tampak diam di tempatnya, tak menghiraukan berbagai suara yang merasuk ke dalam telinganya. Dia bergeming, duduk diam di tempat mungkin lebih baik, pikirnya.
Dia menatap sendu ke arah meja yang terdapat mempelai pria sudah stay duduk di depan penghulu dan ayah dari mempelai wanita.
🎀
Tasya terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih pernikahan, pilihan sang bunda. Bahkan, dia terlihat bukan seperti Tasya yang biasanya. Wajah Tasya telah disulap oleh seorang MUA dengan make up tak terlalu tebal, tapi terkesan memukau. Wajahnya terlihat berkali-kali lebih bersinar. Saat ini, dia sedang berada di salah satu kamar yang berada di hotel itu.
“Cie, anak bunda udah mau nikah!” celetuk Tera, berjalan menghampiri Tasya yang menoleh menghadap ke arah Tera.
“Bunda, maafin Tasya ya selama ini Tasya banyak salah sama Bunda. Maafin Tasya karena sering ngelawan setiap nasihat Bunda. Maafin Tasya ya, Bunda. Tasya banyak salah sama Bunda,” ucap Tasya, matanya sudah berkaca-kaca menatap bundanya.
“Sayang, seorang ibu pasti akan selalu memaafkan kesalahan putra dan putrinya. Jadi istri yang baik ya, sayang. Jangan pernah ngelawan omongan suami. Ingat, surgamu telah berpindah kepada suamimu. Turuti segala perintahnya, selagi itu kamu anggap benar. Udah jangan nangis, kasihan mbak Lina udah make up-in kamu capek-capek malah hancur gara-gara kamu nangis. Ini hari bahagia kamu, Sya. Jadi jangan nangis, senyum, ya?”
Tasya mengangguk, dia tersenyum, lalu memeluk bundanya erat.
Ceklek!
“Cie, udah mau jadi bini orang, ya? Enggak ada lagi yang bakalan gue jailin lagi di rumah, nih!” celetuk Alvan yang baru saja memasuki salah satu kamar di mana bunda dan adiknya berada.
“Abang, maafin Tasya ya kalau Tasya banyak salah sama Bang Al, eh ralat maksudnya maafin semua kesalahan yang pernah Tasya perbuat selama ini sama Abang.” Tasya beralih memeluk tubuh Alvan erat.
“Iya, Tasya sayang. Kamu akan selalu menjadi adik Abang yang paling Abang sayangi. Abang juga minta maaf karena selama ini abang sering banget jailin Tasya, ya? Abang lakuin itu semua biar bisa bercanda sama kamu, Dek. Selamat menempuh kehidupan baru ya, Dek!” Alvan tersenyum, dia mencium puncak kepala Tasya yang terbalut hijab berwarna senada dengan gaunnya.
“Oh iya sampai lupa, disuruh turun. Karena sebentar lagi akadnya akan dimulai. Abang doakan yang terbaik di hari bahagia kamu ini, Sya,” lanjutnya.
Mereka semua keluar kamar. Alvan dan Tera berada di sisi kanan dan kiri Tasya, sedangkan di belakang ada Arin dan Lala yang membantu mengangkat sedikit gaun bagian belakang Tasya agar memudahkan Tasya untuk berjalan.
__ADS_1
🎀
Tak terasa setengah jam sudah berlalu, mempelai pria itu tampak gusar di tempat duduknya, gugup mungkin. Kini kedua mempelai pria dan wanita itu sudah duduk bersebelahan, dengan penghulu dan wali nikah yang berada didepan mereka.
“Baiklah, mari kita mulai sekarang akadnya,” ucap Pak Penghulu.
“Biar saya saja yang akan menikahkan putri saya, Pak!” ujar ayah dari mempelai wanita.
Penghulu itu mengangguk lalu bertukar tempat duduk dengan ayah mempelai wanita itu.
“Baiklah, saya mulai sekarang!” ucap Rafa, ayah dari mempelai wanita sambil memegang microphone.
Ya, hari ini Gilang dan Tasya akan melangsungkan pernikahan mereka di sebuah hotel besar milik Rafa, ayahnya Tasya.
“Ananda Gilang Arvito Louis binti Bagas Pratama Louis, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Natasya Quiella Natapraja binti Rafa Pramuga Natapraja, dengan mas kawin perhiasan sebanyak 20 gram, sepasang cincin berlian, dan seperangkat alat sholat di bawah tunai!”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Natasya Quiella Natapraja binti Rafa Pramuga Natapraja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” Gilang mengucapkan kalimat itu dengan cepat, tepat, dan lantang. Akhirnya, dia bisa mengalahkan rasa gugup yang sejak tadi terus melanda dirinya.
“Bagaimana para saksi, sah?” tanya Pak Penghulu mengedarkan pandangannya kepada para tamu undangan.
“Alhamdulillahirombilalamin ....” Dilanjutkan dengan doa-doa yang dibacakan oleh sang ustaz yang turut hadir di sana.
Gilang mengusap wajahnya dengan tangan dinginnya, akhirnya dia bisa bernafas lega. Wanita yang menjadi cinta pertamanya kini telah sah menjadi istrinya.
“Silahkan saling bertukar cincin,” titah Pak Penghulu sambil tersenyum menatap kedua pengantin yang baru saja sah beberapa menit lalu.
Gilang mulai mengambil salah satu cincin lalu mulai memasangkannya dijari manis Tasya begitu pun sebaliknya. Setelah selesai, Tasya mencium punggung tangan Gilang, sebagai tanpa hormatnya kepada sang suami. Sedangkan Gilang, mencium lembut kening Tasya.
Pria yang sejak tadi menatap sendu abangnya kini mulai meneteskan air matanya. Bukan tangis bahagia, melainkan sebaliknya.
Hatinya hancur saat tahu wanita yang pernah disia-siakannya dan sialnya saat ini dia mencintai wanita itu bahwa wanita itu sudah sah menikah dengan abang kandungnya sendiri.
Menyesal? Sudah pasti. Bahkan rasa penyesalannya bertambah menjadi berkali-kali lipat sejak beberapa menit lalu wanita itu telah resmi menjadi kakak iparnya.
(Jika aku seorang sutradara film, maka akan ku buat film dengan judul Wanita Yang Kucinta Telah Menjadi Kakak Iparku Sendiri><)
__ADS_1
Tak sanggup menerima semua ini, pria itu segera pergi—keluar dari gedung. Kakinya membawanya melangkah ke taman yang terletak di samping gedung. Dia mendudukkan diri di kursi, lantas mengacak rambutnya frustasi.
‘Rasanya sakit Tuhan, kenapa karma yang engkau berikan sangatlah sakit?’
Ya, jika kalian menebak bahwa pria itu adalah Vino? Seratus, kalian sangat benar.
Tanpa Vino sadari, Bagas ternyata mengikutinya sejak dia keluar dari gedung. Bagas sudah tahu semua kisah tentang mereka karena Gilang telah menceritakan itu semua kepadanya.
“Nak!” panggil Bagas lembut lalu mendudukkan dirinya di samping Vino.
Vino mendongak menatap papanya, kemudian menghapus air mata yang dengan nakalnya terjun bebas dari matanya.
“Papa tahu apa yang kamu rasakan, tapi Papa tahu kamu bisa mengikhlaskan semua ini. Papa tidak bisa melarang abangmu untuk tidak menikah dengan Tasya. Karena Papa tidak bisa menghalangi niat baik Gilang, Vin. Papa tahu kamu masih cinta sama Tasya, ‘kan? Belajar untuk mengikhlaskan, anggap aja semua yang telah adalah pelajaran hidup, supaya kamu tidak lagi menyia-nyiakan seseorang yang dengan tulus mencintai kamu. Mungkin kamu dan Tasya bukan jodoh, mungkin saja Allah sudah menyiapkan jodohmu di masa dengan," tutur Bagas, memeluk tubuh Vino sambil menepuk-nepuk punggung Vino pelan.
“Papa tahu kamu bisa, Vin!” lanjutnya.
“Kalau Vino mau kuliah di luar negeri boleh nggak, Pa?” tanya Vino setelah melepaskan pelukannya.
Bagas mengangguk. “Kamu boleh kuliah di mana pun, Papa tidak akan menuntut kamu harus kuliah di mana, asal bisa membuat kamu bahagia, asal kamu nyaman untuk kuliah di sana. Memangnya kamu berniat kuliah di mana, Vin?”
“Vino pengen kuliah di Belanda, Pa. Vino bakalan di sana sama Tante Faza. Kalau Vino terus-terusan berada di sini, yang ada Vino nggak bakalan bisa move on, Pa. Vino masih sayang sama dia, Pa. Mungkin dengan kuliah di sana sedikit demi sedikit bisa membuat Vino melupakan dia, Pa.”
Bagas kembali mengangguk.
“Ya sudah, nanti biar Papa bilangin sama Faza biar daftarin kamu kuliah yang satu universitas dengan Febri.”
“Makasih, Pa. Maaf Vino jadi ngerepotin.” Vino memeluk tubuh papanya erat.
“Kamu nggak ngerepotin, Vin. Sebagai ayah, tugas Papa adalah membuat anak-anaknya bahagia. Maafin dulu Papa buat kamu tertekan, ya?”
“Yang lalu biarlah berlalu, Pa.”
“Ya sudah yuk masuk. Kasihan abangmu nikah tapi kita malah ngobrol di sini.”
Vino mengangguk, dia berjalan disebelah Bagas memasuki kembali gedung itu.
__ADS_1
To be continue ....