
Happy Reading❣
Suara tapak langkah lebih dari sepasang kaki itu menggema secara bersahutan di koridor sebuah rumah sakit. Tak hentinya air mata mengalir dari pelupuk mata mereka. Bagai air sungai yang terus mengalir tanpa akhir.
“Sus, ruangan atas nama pasien Gilang Arvito Louis di mana?” tanya Alvan kepada seorang suster yang tengah menjaga meja informasi.
“Sebentar, Pak!” Dengan kelincahan yang dimiliki, suster itu mulai berselancar di atas layar monitor.
“Pasien atas nama Gilang Arvito Louis yang baru saja mengalami kecelakaan sedang ditangani, dan berada di ruang UGD!”
Alvan mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Mereka semua mulai kembali melangkah mencari keberadaan ruang UGD.
Sedari tadi, Tasya tiada hentinya menangis. Tubuhnya terasa sangat lemas. Bahkan, untuk membawa Gita saja dia tak sanggup, sehingga Arin-lah yang turun tangan untuk menggendong Gita.
“Bunda, bagaimana keadaan Mas Gilang, Bun? Aku takut Mas Gilang kenapa-napa,” adu Tasya kepada bundanya.
Tera mengangguk pelan lalu membawa Tasya kedalam pelukannya.
“Berdoa saja semoga Gilang nggak papa.”
Tasya semakin terisak di pelukan bundanya. Rasanya saat ini dia menjadi wanita paling lemah. Yang dia inginkan saat ini hanya ingin melihat Gilang dalam keadaan baik-baik saja. Tasya takut akan terjadi sesuatu yang serius dengan suaminya.
Hingga 2 jam kemudian, keluarlah seseorang dengan jas putih khas dokter dari dalam ruang UGD.
Tasya langsung bangkit dari duduknya, dia menghampiri dokter yang baru saja menutup pintu ruang UGD.
“Dengan keluarga Pak Gilang?”
“Saya istrinya, bagaimana keadaan suami saya, Dok?”
“Kita bicarakan di ruangan saya saja, silahkan ikuti saya!”
Tasya mengangguk lalu menatap ayah dan bundanya, seolah mengisyaratkan bahwa dia ingin ditemani oleh orang tuanya. Keduanya mengangguk, memahami isyarat yang diberikan lewat tatapan mata. Ketiganya melangkah meninggalkan Alvan, Arin, dan Gita.
Mereka mengikuti langkah Dokter Zakky dari belakang. Sesampainya di ruangan Dokter Zakky.
“Jadi, bagaimana keadaan suami saya, Dok?” tanya Tasya tak sabaran.
Dia terus berharap agar keadaan Gilang baik-baik saja. Hanya itu, semoga saja Tuhan mengabulkan keinginannya.
__ADS_1
“Jadi, saat ini keadaan suami kamu dalam keadaan kritis!”
Namun, ternyata harapan hanya tinggal harapan. Mungkin, saat ini keluarga kecil Tasya sedang diuji.
“Benturan keras di kepala Gilang menyebabkan sistem saraf di kepalanya mengalami kerusakan. Semua itu akan berakibat fatal jika tidak segera dilaksanakan operasi. Dan, kami tak bisa melaksanakan operasi jika tidak ada persetujuan dari keluarga korban,” jelas Dokter Zakky, menatap satu-persatu orang yang hadir di ruangannya.
Air mata yang sempat berhenti kembali menetes, bahkan semakin deras. Tubuh Tasya terasa semakin lemas. Tera yang duduk di sebelah Tasya pun mengusap punggungnya.
Dia turut merasa bersedih atas apa yang terjadi dengan menantunya itu. Satu harapannya, dia hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia.
“Lakukan apapun yang dapat menyembuhkan menantu saya, Dok!” ucap Rafa tegas. Dia memegang pundak kedua wanita yang berharga di hidupnya. Sama seperti harapan istrinya, dia ingin anak-anaknya bahagia.
Dokter Zakky mengangguk.
“Baik, Pak. Operasi akan segera dilaksanakan 1 jam lagi. Lebih cepat lebih baik.”
Mereka semua mengangguk lalu keluar dari ruangan Dokter Zakky. Ketiganya kembali ketempat semula, menghampiri Alvan, Arin dan Gita.
Dengan langkah gontai, Tasya melangkah mendahului orang tuanya. Saat ini dia ingin melihat Gita. Tasya sadar dia salah, karena kesedihannya, dia mengabaikan anaknya yang masih membutuhkan dirinya.
“Sini Gita-nya, Rin. Aku mau gendong!”
Arin segera bangkit dari duduknya lalu memberikan Gita kepada ibundanya.
Seolah-olah Gita memahami apa yang diucapkan oleh bundanya. Tangan mungil bayi kecil itu terulur menyentuh pipi Tasya. Bibir kecil itu mulai menerbitkan senyuman yang menular di bibir Tasya. Keduanya tersenyum, tetapi siapa sangka senyum yang Tasya terbitkan adalah sebuah senyuman penuh luka.
Siapa yang tidak sedih saat orang yang kita sayangi mengalami kecelakaan? Dan parahnya harus sampai dioperasi? Jika ada yang tidak sedih, maka kesinilah, beri aku teori agar tak sedih saat orang yang kita sayangi sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Firasat buruk yang sedari tadi Tasya rasakan semenjak kepergian Gilang dari rumah telah membuahkan jawaban. Inilah jawabannya, firasat itu menandakan akan terjadi hal buruk kepada suaminya.
Sekali lagi, takdir tiada yang tahu. Tasya hanya bisa pasrah, walau tak menutup keinginannya. Dia hanya ingin Gilang kembali sehat seperti semula. Tasya tak ingin kehilangan Gilang. Dia sangat ingin membesarkan Gita bersama-sama dengan Gilang.
Tasya ingin menjadi wanita dengan keluarga yang bahagia di dunia ini. Dia ingin kehidupan pernikahannya bahagia seperti keluarga bundanya. Ya, semoga saja, kita doakan yang terbaik untuk keluarga Tasya.
Tak terasa 10 menit lagi operasi Gilang akan dilaksanakan. Menit demi menit semakin berlalu dan saatnya telah tiba. Lampu yang menandakan operasi dimulai pun menyala.
Semua keluarga yang berada disitu tak hentinya merapalkan doa di dalam hati. Mereka semua berdoa yang terbaik untuk keluarga mereka yang sedang berjuang dengan alat-alat yang dokter gunakan.
🎀
__ADS_1
Vino duduk termenung di gazebo rumah tantenya. Entah kenapa, dia merasa seperti banyak pikiran. Padahal, Vino pun tak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Rasa khawatir dan cemas menjalar dihatinya.
Tiba-tiba bayangan sosok Gilang terlintas di kepalanya. Kenapa tiba-tiba dia memikirkan abangnya itu? Apa saat ini dia memang sedang merindukan sosok Gilang?
Pikiran-pikiran negatif mulai kembali berkecamuk di otaknya. Vino mengacak kasar di kepalanya.
“Gue kenapa, sih?” monolog Vino sambil mengusap wajahnya kasar.
Hingga sebuah langkah yang terdengar tergesa-gesa nampak melangkah mendekatinya.
“Bang, Vin!” panggil Febri, dia menghampiri Vino dengan nafas tersengkal-sengkal. Jangan lupakan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya.
“Bang Gilang, Bang Gilang!” Ucapan Febri terucap di situ-situ saja.
“Iya, Bang Gilang kenapa?” tanya Vino berusaha tenang, walau tak menutup kemungkinan bahwa dia juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan Gilang hingga membuat Febri menangis hingga terisak seperti ini.
“Kata Om Bagas, hiks ... Ba ... ng Gi ... lang mengalami kecela ... kaan, Bang!”
Deg
Sejenak Vino mematung di tempatnya. Otaknya sedang bekerja keras untuk mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh sepupunya itu. Hingga menit berikutnya, runtuh sudah pertahanan Vino. Dari mata pria itu mulai menetes air mata.
Vino mengerjapkan matanya, tangannya menghapus kasar air matanya. Vino berlalu meninggalkan Febri yang masih berusaha mengatur nafasnya. Vino bergegas mencari ponselnya yang dia letakkan di atas ranjang. Tangannya yang bergetar terus berusaha mengetikkan pesan kepada orang terpercayanya untuk memesankan tiket pesawat tujuan Surabaya.
Usai mengirim pesan, Vino kembali sibuk memasukkan pakaiannya kedalam koper secara asal dan acak-acakan. Dia sedang tidak dapat berpikir jernih. Yang Vino inginkan saat ini hanyalah melihat keadaan abang kandungnya itu.
Sejenak Vino mendudukkan diri di atas ranjangnya. Pikirannya kembali tertuju di mana mamanya menemuinya di mimpi. Benar kata mamanya, dia harus berdamai dengan Gilang.
“Vino akan mewujudkan keinginan Mama untuk berdamai dengan Bang Gilang, Ma. Vino nggak mau bikin Mama sedih di sana. Doakan supaya Bang Gilang baik-baik aja ya, Ma!” ucap Vino seolah-olah mamanya ada disekitarnya.
Vino kembali bangkit dari duduknya. Dia mengambil jaketnya lalu memakainya. Vino turun dari kamarnya sambil menyeret kopernya. Saat tiba di ruang utama, dapat dia lihat Om, Tante, dan Febri yang menunggunya dengan koper yang juga terletak disisi mereka.
“Ayo kita segera berangkat, Om sudah memesankan tiket pesawat untuk kita semua. Pesawatnya akan take off setengah jam lagi,” jelas suami Faza.
Vino hanya mengangguk lalu mengirimkan pesan kepada orang terpercayanya untuk memakai saja tiket yang di belinya tadi. Sangat disayangkan jika tiket itu tidak digunakan. Keempat orang itu mulai memasuki perjalanan menuju bandara setempat.
‘Gue selalu berdoa untuk kebaikan lo, Bang. Walaupun gue masih marah sama lo, tapi semarah apapun gue sama lo nggak akan merubah takdir. Lo bakalan tetap jadi abang kandung gue. Lo tetap abang kesayangan gue. Gue berharap, saat gue tiba di sana, gue bisa lihat lo dalam keadaan baik-baik saja, Bang. Gue sayang sama lo, Bang,’ batin Vino mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya lalu mengalihkan pandangannya ke jendela mobil yang menampilkan keindahan kota Amsterdam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=To be continue\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ada yang ingin disampaikan? Untuk para tokoh atau untuk author bocil?
Silahkan jika ingin bertanya, saya tidak melarang. By by, sebentar lagi kita akan berpisah(○゜ε^○)