Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 13


__ADS_3

Happy Reading❣


...“Aku akan terus ada di sini bersamamu, meskipun kamu tak pernah menganggap kehadiranku. Karena hadirku di sini hanya ingin membuatmu tahu, bahwa perasaanku kepadamu bukanlah hal semu.”...


...~Natasya Quiella Natapraja~...


Seminggu telah berlalu, yang artinya hubungan Tasya dan Vino sudah berumur satu minggu lebih beberapa hari. Tasya sangat perhatian dengan Vino. Tasya juga selalu ada saat Vino susah maupun senang.


Seperti saat ini, mereka berdua tengah berada di taman kota sejak beberapa menit lalu. Vino terlihat sedang berantakan. Iya, Vino baru saja pergi dari rumahnya setelah pertengkaran hebat dengan papanya.


Flashback on.


Vino baru saja memasuki rumahnya dengan tas yang tersampir di bahu kanannya. Dia melenggang santai hendak masuk ke dalam kamar, tetapi terhenti karena suara sang papa yang memanggilnya.


“Vino!” panggil Bagas dengan nada tak keras.


Vino membalikkan badannya lalu berjalan menghampiri papanya yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang di dekat sofa ruang tamu.


“Kenapa?” tanya Vino malas.


“Kenapa kamu buat masalah lagi di sekolah? Kamu selalu saja membuat Papa malu dengan kelakuanmu. Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan apa kata Papa? Papa cuma pengen kamu jadi anak baik kayak abang kamu itu!” bentak Bagas, masih dengan posisi yang sama.


“Pa, Vino capek selalu nurutin keinginan Papa.”


“Apa pernah kamu nurutin keinginan Papa selama ini, hah?!”


“Enggak, karena Papa juga nggak pernah mau ngertiin Vino. Papa selalu aja nuntut Vino biar jadi seperti anak kebanggaan Papa itu. Vino muak, Pa!”


“Berani kamu sama Papa?! Di mana letak sopan santunmu terhadap orang tua. Papa ini papa kamu, tanpa Papa mau jadi apa kamu, hah?!”


“Vino punya sopan santun, tapi tidak dengan Papa yang selalu buat Vino tertekan!”


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Vino. Bau anyir tercium di indra pencium Vino. Dia mengusap kasar sudut bibirnya yang terluka karena tamparan keras dari papanya.


“Keluar kamu dari rumah saya! Beresin semua barang-barang kamu! Dan angkat kaki kamu dari rumah saya!” bentak Bagas, matanya menatap nyalang ke arah Vino.

__ADS_1


Dengan perasaan yang sulit dijelaskan Vino segera naik ke kamarnya, membereskan semua barang-barangnya lalu pergi meninggalkan rumah yang sudah seperti neraka menurutnya. Dia benci rumah ini, dia benci penghuni rumah ini.


Flashback off


“Setelah ini lo mau tinggal di mana, Vin?” tanya Tasya, turut prihatin dengan masalah yang menimpa Vino yang notabenenya adalah kekasihnya.


“Gue bakalan tinggal di apartemen peninggalan Mama. Cuma di sana tujuan gue sekarang. Gue nggak mungkin ke rumah Oma. Karena kalau gue ke sana, sama aja ngebiarin Papa dimarahin sama Oma. Bagaimanapun juga, Papa masih orang tua gue dan gue nggak punya orang tua lain selain Papa,” jelas Vino lalu menyandarkan kepalanya di bahu Tasya.


“Lo mau gue antar? Kebetulan gue bawa mobil, tuh,” ucap Tasya sambil menunjuk mobil yang terparkir di pinggir taman dengan dagunya.


“Terus motor gue gimana?”


“Biar nanti dibawa sama sopir gue,” sahut Tasya, “ayo, sekarang aja. Biar nanti lo bisa istirahat,” ajaknya lalu menarik pergelangan tangan Vino agar berdiri.


Vino pun berdiri lalu menggeret kopernya, mendekat ke mobil Tasya, lalu memasukkannya ke bagasi mobil Tasya.


Tasya mendekati sopirnya yang berada di dalam mobil. Dia berbincang sebentar lalu sopirnya turun dan memberikan kunci mobil pada Tasya.


“Mana kunci motor lo? Kasihkan ke Pak Agung aja, biar Pak Agung yang bawa.”


Vino menyerahkan kunci motornya kepada Pak Agung.


“Gue aja, sini kuncinya.”


Tasya memberikan kunci mobilnya kepada Vino. Dia segera masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi depan sebelah pengemudi.


Saat di tengah perjalanan, Tasya menyuruh Vino berhenti sebentar. Tasya turun dari mobil diikuti Vino di belakangnya. Ternyata Tasya mampir ke mini market.


“Lo mau beli apa?” tanya Vino saat mereka sudah berada di depan pintu mini market.


“Mau beli perlengkapan apa saja yang lo butuhin di apartemen. Oh ya, wama mau beli bahan makanan siapa tahu lo mau masak selama di apartemen,” sahut Tasya sambil menyusuri setiap rak mengambil barang-barang yang sekiranya dibutuhkan oleh Vino, lalu memasukkan ke dalam troli yang didorong oleh Vino.


“Ini udah, ini juga udah ... oh ini belum.” Tangan Tasya mengambil dua botol shampo beraroma menthol dan memasukkannya ke dalam troli.


“Udah, Sya. Ini kebanyakan, duit gue juga nggak banyak, tinggal sedikit. Belum lagi beli bahan makanannya,” ucap Vino seraya menahan tangan Tasya yang ingin memasukkan beberapa barang lagi ke dalam troli.


“Vino, kali ini biar gue yang bayarin. Lo diam aja, oke?”

__ADS_1


“Tapi, Sya. Gue cowok apaan? Belanja kayak gini dibayarin cewek?” ucap Vino tak terima dibayarin. Padahal enak gratis, ‘kan?


“Kalo lo nggak mau, anggap aja utang. Nanti kalau udah ada uang, boleh lo ganti,” sahut Tasya, paham akan apa yang dipikirkan oleh Vino.


“Okelah.” putus Vino. Mereka berdua pun melanjutkan berjalan ke arah bahan makanan lalu membeli beberapa sayuran, buah-buahan, dan daging. Oh ya, mereka juga mengambil telur untuk persediaan.


“Udah selesai. Ayo, dorong lagi ke kasir,” ajak Tasya yang diangguki oleh Vino.


Setelah selesai membayar semua belanjaan, mereka segera keluar dari minimarket. Vino dan Tasya menenteng beberapa plastik besar lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke apartemen milik almarhumah mama Vino, yang akan ditinggali oleh Vino mulai hari ini dan ke depannya, atau bahkan selamanya.


Singkat waktu, akhirnya mereka telah sampai di depan sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi. Vino dan Tasya berjalan beriringan menuju kamar apartemen Vino dengan berbagai macam barang-barang yang berada di tangan kanan dan kiri mereka.


“Huh, lelah banget sumpah,” keluh Tasya sambil membanting tubuhnya di atas sofa setelah menaruh semua barang-barang yang ada di tangannya di atas lantai. “Udah berapa lama nggak ditinggali ini?” tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah di dalam ruangan.


“Ya sekitar satu tahun yang lalu, setelah Mama meninggal, apartemen ini jarang di tinggali. Tapi kalau gue lagi rindu sama Mama, gue pasti ke sini. Terakhir gue ke sini kira-kira beberapa bulan yang lalu, itu pun cuma sebentar karena ada barang gue yang ketinggalan. Kenapa, kotor, ya?”


Tumben nih Vino banyak omong.


Tasya mengangguk. “Memangnya kalo lo ke sini nggak pernah lo bersihin apa?”


Vino menggeleng. “Malas gue, capek.”


“Ya udah, ayo kita beresin ini semua. Kalau udah selesai beres-beres gue mau masak.”


“Memangnya lo bisa masak?”


“Wah, ngeremehin nih. Oke, sekarang kita beres-beres. Terus gue masak. Biar lo tahu seberapa enak masakan ala chef Natasya,” ucap Tasya sambil mengibaskan rambutnya kebelakang dengan wajah sok angkuhnya.


“Iya-iya.”


Mereka berdua mulai bekerja. Vino mendapatkan bagian menyapu, mengepel, dan mengelap kaca. Sedangkan Tasya membersihkan meja yang berdebu dan mencuci peralatan masak dan perlengkapan makan yang juga berdebu karena lama tidak dipakai.


“Huh, akhirnya selesai,” gumam Tasya setelah menghabiskan segelas air putih sambil duduk di bangku meja makan.


“Vin, lo udah selesai belum?” tanya Tasya kepada Vino.


“Udah beres semua,” sahut Vino lalu meletakkan pel di kamar mandi.

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2