Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 39


__ADS_3

Happy Reading!


“Harapanku, semoga Allah terus menyatukan kita hingga kita tutup usia.”


~Gilang Arvito Louis~


Sepulang dari rumah sakit, kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Tasya. Tangan Gilang tampak terus mengusap perut Tasya. Bibirnya tak henti tersenyum, bahkan matanya sampai menyipit karena senyum yang terlalu lebar.


“Aku senang dengar kabar ini, sayang. Aku nggak sabar menantikan jagoan kita. Pokoknya aku nggak sabar!”


Entah sudah ke berapa kali Gilang melontarkan kalimat yang sama. Kebahagiaannya tak dapat digambarkan hanya dengan kata-kata. Bahkan, sedalam lautan, setinggi gunung, selebar gurun pasir, dan sedingin es di kutub utara pun tak dapat menggambarkan kebahagiaannya saat ini.


Kebahagiaan tidak selamanya harus dengan hal yang mewah atau wah. Bahkan hal sederhana saja bisa membuat seseorang bahagia dan melupakan segala masalahnya.


Tasya tersenyum, dia ikut bahagia. Tasya tak menyangka Tuhan menyatukannya dengan cinta pertamanya dalam ikatan pernikahan. Dulu, dia kira dia akan menikah dan membina mahligai cinta bersama Vino. Namun, nyatanya, semua itu hanya tersisa angan tak berwujud kenyataan.


Tasya bersyukur, Tuhan memberikannya pengganti Vino. Tasya juga bersyukur disatukan dengan pria yang sempat dia cintai. Dahulu, Tasya kira cinta yang pernah hadir hanyalah cinta monyet yang biasa dialami oleh kaum remaja yang sedang pubertas.


Namun, nyatanya cinta itu adalah cinta yang membawanya ke jenjang yang lebih serius. Cinta yang memberikannya sebuah kebahagiaan yang tiada habisnya. Cinta yang memberikannya sebuah senyuman di setiap detik yang dia lalui di dunia ini.


Tak terasa, kini keduanya telah sampai di depan gerbang rumah orang tua Tasya. Gilang membunyikan klakson mobilnya, tak lama kemudian Pak Mugi datang membukakan gerbang untuk anak sang majikan.


Sesampainya di depan pintu, seperti kebiasaannya sewaktu remaja, Tasya mulai mengeluarkan suaranya yang membahana, merdu, dan pasti membuat semua orang terpesona. Aku melantur, oke lupakan.


“BUNDA, ANAKMU YANG CANTIK INI DATANG MENGUNJUNGI KASTIL KERAJAAN NATAPRAJA, YUHUU BUNDA!!”


Sementara Gilang, hanya bisa tersenyum melihat kelakuan konyol istrinya. Dia tak peduli apapun yang dilakukan Tasya selagi masih dalam batas wajar. Yang dia pedulikan hanyalah kebahagiaan Tasya, wanita yang dia cintai, sekarang, esok, dan selamanya.


Tera hanya menatap malas ke arah anak gadisnya, hah masih pantaskah wanita yang sudah menikah disebut anak gadis?


Bukan dia tak bahagia dengan kehadiran putrinya. Namun, yang membuatnya malas adalah teriakan sang putri yang dapat membuatnya gangguan telinga.


Melihat wujud sang bunda yang berdiri tak jauh darinya, Tasya segera menghampiri bundanya dengan sedikit berlari, ah jangan lupakan tangannya yang sudah dia rentangkan.


Tasya sudah bersiap menumpahkan rindu terdalam, sedalam cintanya ke mantan. Aku bercanda, lupakan saja.


“Bunda, hiks. Tasya kangen sama Bunda, hiks. Kenapa Bunda nggak pernah mengunjungi Tasya?!” Tasya menumpahkan air matanya di dalam pelukan Tera yang membuat jilbab Tera sedikit basah karena ulahnya.


Sudahlah dia tak peduli, mau basah atau tidak, nantikan bisa kering. Yang Tasya inginkan saat ini hanyalah memeluk erat sang bunda dan menumpahkan segala kerinduan yang selama ini dia pendam sendirian.


Tera membalas pelukan Tasya, dia mengecup puncak kepala sang putri.

__ADS_1


“Bunda juga kangen sama kamu, Sya. Nggak kebalik, ya? Harusnya kan anak yang mengunjungi orang tua, bukan malah sebaliknya.”


Tasya mengerucutkan bibirnya, memandang sebal ke arah sang bunda.


“Tasya nggak boleh kemana-mana sama dia, Bun!” Tasya menunjuk Gilang yang berdiri beberapa langkah darinya lalu mengelus perutnya yang masih terlihat rata. “Soalnya di sini ada anak, dia!”


Tera tampak terdiam, dia sedang berusaha memutar otaknya untuk memahami maksud sang putri. Hingga panggilan dari Tasya menyadarkan dari lamunan singkatnya.


“Bunda kenapa diam? Bunda nggak suka Tasya hamil?” tanya Tasya, dia memandang sang bunda dengan mata yang sudah berkaca-kaca, mungkin ini hormon dari kehamilannya


“Kamu hamil, Sya?”


Tasya mengangguk pelan sambil menunduk. Dia takut bundanya marah dan tak terima atas kehamilan Tasya dengan alasan ‘Kamu masih terlalu muda untuk hamil, Sya!’ atau ‘Bunda nggak mau jadi nenek sekarang, usia bunda masih kepala tiga, Sya. Pokoknya bunda nggak mau kamu hamil sekarang!’ atau ‘kamu hamil anak siapa, Sya? Ya ampun anak gadisku!’


Oke, pertanyaan ketiga itu tidak masuk akal dan patut dipertanyakan jika memang Tera melontarkan kalimat itu. Oke, imajinasi Tasya terlalu tinggi, hingga melayang-layang di atas kepalanya.


Namun, ternyata dugaan yang sempat terlintas di pikirannya itu salah besar. Ternyata Tera menyambut kehamilan Tasya dengan senyuman lebar.


“Ya ampun, sebentar lagi Bunda jadi oma. Bunda nggak sabar, Sya. Kamu kapan melahirkan, Sya?”


Oke, pertanyaan konyol, jelas-jelas Tasya baru hamil. Bagaimana mungkin bisa langsung melahirkan sekarang?


Keantusiasan Tera tampaknya membuat seseorang yang menyodorkan tangan ke arahnya terabaikan. Gilang sedari tadi sudah menyodorkan tangannya, mengisyaratkan bahwa dia ingin mencium punggung tangan sang mertua. Namun, sekarang tampaknya sang mertua menganggapnya sebagai makhluk tak kasat mata.


“Eh!” Tera segera menyodorkan tangannya ke arah Gilang sambil tersenyum kikuk.


“Bunda ... eh, ada adik kesayangan Abang!” Kedatangan Alvan merusak suasana.


Alvan segera menghampiri sang adik lalu memeluknya. Jujur saja, rumah ini sepi tanpa kehadiran Tasya. Tiada lagi Tasya yang sering dia jaili dulu, tiada lagi wajah imut Tasya yang kesal karena ulahnya.


Setelah puas memeluk sang adik, Alvan mengalihkan pandangannya ke arah Gilang lalu memeluknya ala laki-laki.


“Kalian apa kabar?” Oke sekedar berbasa-basi itu perlu.


"Baik, Van. Lo juga apa kabar?” tanya Gilang balik


“Seperti yang lo lihat. Gue baik, sangat baik dan terlalu baik hingga banyak wanita mengantri menjadi pasangan sang pengusaha muda Alvan Faresta Natapraja yang tampan, mapan, dan tidak sombong ini, tapi hati gue sudah terpatri hanya untuk Arin seorang,” ucap Alvan membanggakan diri sendiri, jangan lupakan tangannya yang sudah menepuk dadanya dan senyum songong yang terlihat di wajahnya.


Sekedar info, Alvan dan Arin sudah menjalin hubungan sejak pernikahan Tasya berlangsung. Tenyata keduanya sama-sama penyimpan rasa.


“Oh iya, mana ponakan gue?” Alvan menghentikan kegiatan tak bermaknanya. Dia menatap curiga ke arah Gilang dan Tasya. ”Atau jangan-jangan kalian belum pernah tekdung jadi ponakan gue belum jadi. Atau kalian kawin kontrak kaya di film-film?”

__ADS_1


Plak


Sebuah tamparan mendarat di bibirnya.


“Sembarangan kalau ngomong. Calon ponakan Abang ada di sini, nih!” Tasya menunjuk perutnya sambil memandang sinis ke arah sang abang.


Untung saja pembicaraan yang mengarah dewasa ini tidak didengar oleh sang bunda. Jika Tera mendengar, mungkin saat ini Alvan akan mendapatkan double tamparan di bibirnya. Sudah-sudah, cukup tamparan dari Tasya saja yang membuat bibirnya sedikit membengkak, tamparan dari sang bunda jangan. Karena Tera tak akan main-main untuk urusan tampar-menampar dan Alvan sudah pernah menjadi korbannya.


Ingin tahu rasanya bagaimana? Coba aja, bibir lo pada dijepit sama pintu? Sakit nggak, nggaklah. Enggak bikin ketagihan maksudnya.


🎀


Tasya terbangun dari tidurnya. Dia melirik jam yang terpajang di dinding, ternyata masih pukul 3 dini hari. Tasya mengelus perut ratanya, entah kenapa sekarang dia ingin sekali meminum jus alpukat.


Sebenarnya dia bisa sendiri, tapi entah kenapa dia sangat ingin ditemani oleh Gilang. Tasya melirik ke arah Gilang, suaminya itu tampak tenang dengan alam bawah sadarnya. Dengkuran halus terdengar hingga ke telinganya.


Tak tega mengganggu tidur nyenyak suaminya, Tasya turun dari ranjang. Dia melangkah keluar kamar tanpa menggunakan khimar. Tasya melangkahkan kakinya menuju dapur.


Tangannya mulai mengambil buah alpukat yang dia inginkan dari kulkas yang terletak di dapur. Tasya mulai menyiapkan segala keperluan membuat jus.


Tak butuh waktu lama, kini jus alpukat yang dia buat siap dinikmati, tinggal menuangkannya ke dalam gelas saja.


Saat dia ingin menaruhnya di gelas, sebuah lengan kekar membalut pinggangnya. Tasya menoleh, hanya sekedar ingin melihat wajah bantal suaminya.


“Kenapa nyusul ke sini, Mas?” tanya Tasya sambil menuangkan jus buatannya ke dalam gelas.


“Aku nyariin kamu, ternyata kamu ada di sini. Kamu lagi buat apa?”


Tasya menunjukkan gelas yang dipegangnya kepada Gilang.


“Nih, aku lagi buat jus alpukat. Soalnya aku lagi pengen minum ini.”


“Kenapa nggak bangunin aku? Selagi masih ada aku, kamu nggak perlu repot-repot bikin jus. Nanti kamu kecapean, sayang.” Tangan Gilang terulur mengelus rambut istrinya lalu menyematkan kecupan di keningnya.


“Kamu kelihatan pules banget tadi, Mas. Aku nggak tega bangunin kamu,” sahut Tasya, dia mendudukkan dirinya di bangku meja makan, diikuti oleh Gilang yang juga mendudukkan diri di samping Tasya.


Gilang hanya bisa menghela napas. Istrinya ini tipikal wanita keras kepala. Tak ingin perdebatan terus berlanjut, Gilang lebih memilih melihat wajah istrinya yang sedang menikmati minumannya.


...(⊙_☉) To be continue(⊙_☉)...


...A/n: Terlalu percaya hingga jatuhnya menjadi kecewa! Terlalu ingin hingga terlihat seperti manusia egois. Dunia keras bro, sekali salah langkah maka kau akan terjebak di Dalam kesulitan yang tak pernah kau inginkan. Pilihlah apa yang kau perlukan baru yang engkau inginkan, niscaya engkau akan bahagia....

__ADS_1


...Jika kau tidak bahagia, maka itu bukan porsimu....


__ADS_2