Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 43


__ADS_3

Happy Reading❣


Suara tapak langkah lebih dari sepasang kaki itu menggema secara bersahutan di koridor sebuah rumah sakit. Tak hentinya air mata mengalir dari pelupuk mata mereka. Bagai air sungai yang terus mengalir tanpa akhir.


"Sus, ruangan atas nama pasien Gilang Arvito Louis di mana?" tanya Alvan kepada seorang suster yang menjaga meja informasi.


"Sebentar, pak!" Dengan kelincahan yang di miliki, suster itu mulai berselancar di atas layar monitor.


"Pasien atas nama Gilang Arvito Louis yang baru saja mengalami kecelakaan sedang di tangani, dan berada di ruang UGD!"


Alvan mengangguk sambil mengucapkan terimakasih. Mereka semua mulai kembali melangkah menari keberadaan ruang UGD.


Sedari tadi, Tasya tiada hentinya menangis. Tubuhnya terasa sangat lemas. Bahkan, untuk membawa Gita saja ia tak sanggup, sehingga Arin-lah yang turun tangan untuk menggendong Gita.


"Bunda, gimana keadaan mas Gilang, bun. Aku takut mas Gilang kenapa-napa," adu Tasya kepada bundanya.


Tera mengangguk lalu membawa Tasya kedalam pelukannya,


"Gilang gak papa, Sya. Berdoa saja semoga Gilang gak papa."


Tasya semakin terisak di pelukan bundanya. Rasanya saat ini ia menjadi wanita paling lemah. Yang ia inginkan saat ini hanya ingin melihat Gilang dalam keadaan baik-baik saja. Ia takut akan terjadi apa-apa dengan suaminya.


Hingga 2 jam kemudian, keluarlah seseorang dengan jas putih khas dokter dari dalam ruang UGD.


Tasya langsung bangkit dari duduknya, ia menghampiri dokter yang baru saja menutup pintu ruang UGD.


"Dengan keluarga pak Gilang?"


"Saya isterinya, bagaimana keadaan suami saya, dok?"


"Kita bicarakan di ruangan saya saja, silahkan ikuti saya!"


Tasya mengangguk lalu menatap ayah dan bundanya, seolah mengisyaratkan ia ingin ditemani oleh orang tuanya. Keduanya mengangguk seolah memahami isyarat yang diberikan lewat tatapan mata. Ketiga melangkah meninggalkan Alvan, Arin, dan Gita.


Mereka mengikuti langkah dokter Zakky dari belakang. Sesampainya di ruangan dokter Zakky.


"Jadi, bagaimana keadaan suami saya, dok?" tanya Tasya tak sabaran.


Ia terus berharap agar keadaan Gilang baik-baik saha. Hanya itu, semoga saja Tuhan mengabulkan keinginannya.


"Jadi saat ini suami kamu dalam keadaan kritis!"

__ADS_1


Namun, ternyata harapan hanya tinggal harapan. Mungkin, saat ini keluarga kecil Tasya sedang diuji.


"Benturan keras menyebabkan sistem saraf di kepalanya mengalami kerusakan. Semua itu akan berakibat fatal jika tidak segera di laksanakan operasi. Dan, kami tak bisa melaksanakan operasi jika tidak ada persetujuan dari keluarga korban," jelas dokter Zakky, menatap satu-persatu orang yang hadir di ruangannya.


Air mata yang sempat berhenti kembali menetes, bahkan semakin deras. Tubuh Tasya terasa semakin lemas. Tera yang duduk di sebelah Tasya pun mengusap punggungnya.


Ia turut merasa bersedih atas apa yang terjadi dengan menantunya itu. Satu harapannya, ia hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia.


"Lakukan apapun yang dapat menyembuhkan menantu saya, dok!" ucap Rafa tegas. Ia memegang pundak kedua wanita yang berharga di hidupnya. Sama seperti harapan isterinya. Ia ingin anak-anaknya bahagia.


Dokter Zakky mengangguk,


"Baik, pak. Operasi akan segera di laksanakan 1 jam lagi. Lebih cepat lebih baik."


Mereka semua mengangguk lalu keluar dari ruangan dokter Zakky. Ketiganya kembali ketempat semula, menghampiri Alvan, Arin dan Gita.


Dengan langkah gontai, Tasya melangkah mendahului orang tuanya. Saat ini ia ingin melihat Gita. Ia sadar ia salah, karena kesedihannya, hingga ia mengabaikan anaknya yang masih membutuhkan dirinya.


"Sini Gita-nya, Rin. Aku mau gendong!"


Arin segera bangkit dari duduknya lalu memberikan Gita kepada ibundanya.


"Anak bunda, maaf ya bunda mengabaikan kamu seharian ini. Doakan biar operasi ayah berjalan lancar dan berhasil ya, sayang. Biar kita nanti bisa jalan-jalan bertiga sama ayah!" ucap Tasya kepada anaknya.


Siapa yang tidak sedih saat orang yang kita sayangi mengalami kecelakaan? Dan parahnya harus sampai di operasi? Jika ada yang tidak sedih, maka kesinilah, beri aku teori agar tak sedih saat orang yang kita sayangi sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Firasat buruk yang sedari tadi Tasya rasakan semenjak kepergian Gilang dari rumah telah membuahkan jawaban. Inilah jawabannya, firasat itu menandakan akan terjadi hal buruk kepada suaminya.


Sekali lagi, takdir tiada yang tahu. Tasya hanya bisa pasrah, walau tak menutup keinginannya. Ia hanya ingin Gilang kembali sehat seperti semula. Ia tak ingin kehilangan Gilang. Ia sangat ingin membesarkan Gita bersama-sama dengan Gilang.


Ia ingin menjadi wanita dengan keluarga yang bahagia di dunia ini. Ia ingin kehidupan pernikahannya bahagia seperti keluarga bundanya. Ya, semoga saja, kita doakan yang terbaik untuk keluarga Tasya.


Tak terasa 10 menit lagi operasi Gilang akan di laksanakan. Menit demi menit semakin berlalu dan saatnya telah tiba. Lampu yang menandakan operasi akan segera di mulai pun menyala.


Semua keluarga yang berada disitu tak hentinya merapalkan doa didalam hati. Mereka semua berdoa yang terbaik untuk keluarga mereka yang sedang berjuang dengan alat-alat yang dokter gunakan.


...🎀...


Vino duduk termenung di gazebo rumah tantenya. Entah kenapa ia merasa seperti banyak pikiran. Padahal, ia pun tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Rasa khawatir dan cemas menjalar dihatinya.


Tiba-tiba bayangan sosok Gilang terlintas di kepalanya. Kenapa tiba-tiba ia memikirkan abangnya itu? Apa saat ini ia memang sedang merindukan sosok Gilang?

__ADS_1


Pikiran-pikiran negatif mulai kembali berkecamuk di otaknya. Vino mengacak kasar di kepalanya.


"Gue kenapa, sih?" monolog Vino sambil mengusap wajahnya kasar.


Hingga sebuah langkah yang terdengar tergesa-gesa nampak melangkah mendekatinya.


"Bang, Vin!" panggil Febri, ia menghampiri Vino dengan nafas tersengkal-sengkal. Jangan lupakan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya.


"Bang Gilang, bang Gilang!" Ucapan Febri terucap di situ-situ saja.


"Iya, bang Gilang kenapa?" tanya Vino berusaha tenang, walau tak menutup kemungkinan bahwa ia juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan Gilang hingga membuat Febri menangis hingga terisak seperti ini.


"Kata om Bagas, hiks ... ba ... ng Gi ... lang mengalami kecela ... kaan, bang!"


Deg


Sejenak Vino mematung di tempatnya. Otaknya sedang bekerja keras untuk mencerna apa yang baru saja di sampaikan oleh sepupunya itu. Hingga menit berikutnya, runtuh sudah pertahanan Vino. Dari mata pria itu mulai menetes air mata.


Vino mengerjapkan matanya, tangannya menghapus kasar air matanya. Vino berlalu meninggalkan Febri yang masih berusaha mengatur nafasnya. Vino bergegas mencari ponselnya yang ia letakkan di atas ranjang. Tangannya yang bergetar terus berusaha mengetikkan pesan kepada orang terpercayanya untuk memesankan tiket pesawat tujuan Surabaya.


Usai mengirim pesan, Vino kembali sibuk memasukkan pakaiannya kedalam koper secara asal dan acak-acakan. Ia sedang tidak dapat berpikir jernih. Yang ia inginkan saat ini hanyalah melihat keadaan abang kandungnya itu.


Sejenak Vino mendudukkan diri di atas ranjangnya. Pikirannya kembali tertuju di mana mamanya menemuinya di mimpi. Benar kata mamanya, ia harus berdamai dengan Gilang.


"Vino akan mewujudkan keinginan mama untuk berdamai dengan bang Gilang, ma. Vino gak mau bikin mama sedih disana. Doakan supaya bang Gilang baik-baik aja ya, ma!" ucap Vino seolah mamanya ada disekitarnya.


Vino kembali bangkit dari duduknya. Ia mengambil jaketnya lalu memakainya. Vino turun dari kamarnya sambil menyeret kopernya. Saat tiba di ruang utama, dapat ia lihat om, tante, dan Febri yang menunggunya dengan koper yang juga terletak disisi mereka.


"Ayo kita segera berangkat, om sudah memesankan tiket pesawat untuk kita semua. Pesawatnya akan take off setengah jam lagi," jelas suami Faza.


Vino hanya mengangguk lalu mengirimkan pesan kepada orang terpercayanya untuk memakai saja tiket yang di belinya tadi. Sangat di sayangkan jika tiket itu tidak di gunakan. Keempat orang itu mulai memasuki perjalanan menuju bandara setempat.


Gue selalu berdoa untuk kebaikan lo, bang. Walaupun gue masih marah sama lo, tapi semarah apapun gue sama lo gak akan merubah takdir lo bakalan tetap jadi abang kandung gue. Lo tetap abang kesayangan gue. Gue berharap, saat gue tiba di sana, gue bisa lihat lo dalam keadaan baik-baik saja, bang. Gue sayang sama lo, bang. Batin Vino mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya lalu mengalihkan pandangannya ke jendela mobil yang menampilkan keindahan kota Amsterdam.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=To be continue\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Ada yang ingin disampaikan? Untuk para tokoh atau untuk author bocil?


Silahkan jika ingin bertanya, saya tidak melarang. By by, sebentar lagi kita akan berpisah(○゜ε^○)


^^^Salam manis^^^

__ADS_1


^^^Sembuluh, 1 April 2021^^^


__ADS_2