
Happy Reading❣
...“Terserah saja, mempermainkan perasaan seseorang itu hakmu. Namun, jangan sampai keputusanmu menyakitinya itu justru akan menjadi senjata makan tuan.”...
...~MDHD~...
Bel yang menandakan bahwa jam pelajaran akan segera dimulai telah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Namun, ketiga laki-laki yang masih berstatus sebagai siswa itu justru memilih untuk berdiam diri di rooftop, sekadar untuk duduk santai menikmati sejuknya angin pagi. Mereka adalah Vino dan kedua temannya yang senantiasa mengikuti ke mana pun Vino pergi.
Semuanya berkat hasutan setan yang menjelma menjadi manusia, yaitu Rangga. Dia mengatakan kepada kedua temannya bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Kemudian, berakhirlah mereka yang duduk-duduk santai di atap sekolah ini.
“Alah, lo ini, Ngga. Kalo mau bolos bilang aja, jangan sok-sok bilang ada yang mau dibicarain,” celetuk Putra, tatapannya mengarah pada Rangga yang justru cengengesan dengan wajah tanpa dosa.
“Iya, ini yang mau gue bicarain. Gue pengin bolos.”
Vino hanya bisa menghela napas pelan, kesal dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini. Namun, di lain sisi, sebenarnya dia juga sedang malas masuk kelas, sebab pelajaran pagi ini adalah Fisika, pelajaran yang paling dia benci seumur hidupnya.
“Biar nggak bosen, gimana kalau kita main truth or dare aja?” tawar Rangga sambil menaik-turunkan alisnya jemawa.
“Hm, boleh sih. Lagian mengisi waktu luang sebelum istirahat.” Putra mengangguk, menyetujui saran dari salah satu karibnya itu. Lantas, pandangannya beralih pada Vino. “Lo ikutan, ‘kan, Vin?” Lelaki yang ditanya hanya bergumam sebagai jawaban.
Rangga mengangguk puas. Kemudian, dia berdiri dan mengambil botol bekas minuman yang berada di lantai rooftop.
“Siapa yang mau muter duluan nih?” tanya Rangga, memandang Putra dan Vino secara bergantian.
“Gue aja,” sahut Vino. Laki-laki itu mengambil alih botol yang disodorkan Rangga padanya lalu memutarnya.
Ketiga pasang mata itu tampak memandang botol yang tengah berputar tanpa berkedip, menunggu botol itu berhenti. Beberapa detik setelahnya, botol itu berhenti tepat mengarah pada Putra.
“Yah, kok gue sih? Botol sialan lo!” umpat Putra, matanya melotot ke arah botol yang tidak berdosa itu.
“Oke, truth or dare?” Rangga mengarahkan telunjuknya ke arah Putra.
“Oke, truth aja,” sahut Putra pasrah.
“Apaan lo, cowok takut sama tantangan,” cibir Rangga, meremehkan.
Putra mengangkat bahunya tak peduli. “Terserah gue dong. Buruan, kasih pertanyaannya.”
“Oke, cewek yang paling lo sayang siapa?”
“Emak gue,” sahut Putra enteng.
__ADS_1
“Enggak-nggak, selain emak lo, Dodol,” ucap Rangga, tak terima dengan jawaban dari Putra yang tak memuaskan.
“Apaan? Nanyanya cuma sekali, ya! Kan udah gue jawab juga tadi,” sahut Putra dan hanya dibalas anggukan oleh Rangga. Untung saja rahasianya tidak terbongkar, jika rahasianya terbongkar, bisa gawat. Dia sudah mati-matian menyembunyikan rasanya, bagaimana mungkin harus terbongkar begitu saja.
“Oke, sekarang gue yang muter!” Putra mengambil alih botol itu lalu memutarnya.
Botol kembali berhenti dan mengarah kepada Vino.
“Yap! Tepat sasaran!” pekik Putra bangga.
“Oke, truth or dare?” tanya Rangga pada Vino.
“Apaan? Gue lagi, woi! Lo mulu dah, gantian, Nyet,” cetus Putra.
“Oke-oke gue ngalah sama adik angkat.” Rangga pasrah menyerahkan pada Putra.
Putra mencibir, tetapi tak lama, sebab pandangan laki-laki itu kemudian mengarah pada Vino.
“Truth or dare?” Putra mengarahkan telunjuknya ke arah Vino yang tampak santai duduk bersandar pada pembatas atap dengan tangan yang berada di belakang kepalanya.
“Dare,” jawab Vino santai.
“Oke, tembak Tasya nanti pas jam istirahat di kantin.”
Dengan santainya Vino menjawab,
“Oke, tunggu jam istirahat.”
“Lo yakin, Vin?” tanya Rangga, menatap Vino sangsi. Tak lama, tatapannya mengarah kesal pada Putra. “Lo apaan ngasih tantangan begituan sih, Nyet!” ucapnya, seperti tak terima.
Bukan, bukan karena dia suka atau memiliki rasa pada Tasya. Hanya saja, Rangga tak suka jika perasaan seseorang dijadikan mainan. Rangga memang tidak pernah merasakannya, tetapi Rangga jelas tahu bagaimana sakitnya dipermainkan. Bukan alay, hanya saja memang benar itu kenyatannya.
“Terserah gue dong, Vino aja kagak marah. Ya nggak, Vin?” sahut Putra. Vino hanya kembali berdeham sebagai jawaban.
Tet-tet-tet!
Akhirnya bel istirahat pun telah berbunyi.
“Ayo, buruan. pasti Tasya udah stay di sana sama dua sahabatnya,” ucap Putra.
Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju kantin. Baru saja berada di pintu masuk kantin, mereka sudah disuguhi dengan tatapan memuja dari para kaum hawa.
__ADS_1
Dengan jahil Putra mengedipkan sebelah matanya genit ke arah sekumpulan para kaum hawa, yang jelas saja membuat mereka langsung tampak histeris.
“Caper aja lo sama cewek!” hardik Rangga menepak kepala Putra.
Putra hanya menggidikkan bahunya acuh sambil terus berjalan.
Mereka bertiga berhenti di depan meja yang terisi tiga orang gadis, yang tampak sedang menikmati makanan masing-masing.
Salah satu gaids mendongakkan kepala.
“Eh calon suami. Mau ngapel, ya? Sini-sini duduk.”
Mereka adalah Tasya, Arin dan Lala.
“Mulai sekarang lo jadi pacar gue!” Setelah mengucapkan kalimat itu, Vino dan kedua temannya segera membalikkan badannya. Lantas, berjalan menjauhi Tasya yang sedang melongo, bagai orang bego.
“Tasya jangan bengong, nanti mulutnya dimasukin lalat,” ucap Lala, menyadarkan Tasya dari lamunannya.
“Gue nggak lagi mimpikan? Tampar gue, Rin! Tampar Gue!” ujar Tasya sambil mengerjapkan matanya.
Plak!
“Sakit bego!” umpat Tasya. Pasalnya, Arin menamparnya tak ada santai-santainya, justru terkesan seperti orang yang sedang marah lalu menampar.
“Lagian lo sendiri yang nyuruh gue buat nampar lo,” sahut Arin santai tanpa rasa bersalah.
“Ya nggak gitu juga kali, Rin, tapi kalau sakit, berarti gue nggak mimpi dong. Wah, akhirnya penantian gue nggak sia-sia,” ucap Tasya, merentangkan tangannya dengan senyum lebar di bibirnya.
Tasya senang, bahkan sangat. Baru saja tadi pagi dia berhalusinasi menjadi pacar Vino, sekarang sudah menjadi kenyataan saja. Ternyata Tuhan sangat baik kepadanya. Tahu gitu, kenapa tidak dari dulu saja dia mengucapkan kata itu ya! Agar dari dulu juga dia pacaran dengan Vinonya. Ini dia contoh manusia yang patut dimusnahkan dari bumi, tidak tahu bersyukur.
“Sumpah demi apa pun, gue senang banget. Akhirnya Vino jadi pacar gue juga.” Tasya merentangkan tangannya lalu memeluk Lala yang duduk di sampingnya dengan erat.
“Tasya boleh bahagia, tapi nggak gini juga. Lala nggak bisa napas, Sya.” Lala berusaha melepaskan pelukan Tasya.
“Hehe maaf, La, gue bahagia banget soalnya,” ucap Tasya setelah melepas pelukannya. Suasana hatinya sedang cerah, dia tidak ingin menghancurkannya hanya karena perdebatan tiada guna ini. “Oke, karena gue lagi bahagia kalian berdua gue traktir,” ucapnya, masih mempertahankan senyum semringahnya.
“Yah, apaan lo? Traktir kok di kantin, di kafe dong, biar afdal,” sahut Arin lalu menyeruput jus jeruknya.
“Gini nih orang yang nggak tahu bersyukur, dikasih hati minta jantung. Oke, karena gue baik nanti pulang sekolah gue traktir di kafe biasa. Gimana, kurang baik apa coba gue?” ucap Tasya menaik turunkan alisnya sombong.
“Songong nih anak,” ujar Arin memutar bola matanya malas.
__ADS_1
To be continue ....