Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 7


__ADS_3

Happy Reading❣


...“Jangan terlalu dalam mencintai seseorang hingga kamu melupakan Tuhanmu. Ingat, kalau Tuhan cemburu, kamu bisa saja diberi luka.”...


...~Tera Faradina Natapraja~...


Sesuai janji Tasya pada dua sahabatnya untuk memberikan traktiran, kini mereka pun berada di sebuah kafe langganan mereka.


“Sya!” panggil Arin, membuat Tasya menghentikan aktivitasnya yang tengah menonton pertunjukan musik seseorang di panggung kafe. Gadis itu lalu menoleh ke arah Arin.


“Kenapa?”


“Lo nggak merasa aneh apa?” tanya Arin.


Tasya mengerutkan alisnya. “Aneh apanya coba?”


“Ya aneh aja gitu, secara tiba-tiba Vino nembak lo, ‘kan? Lo nggak curiga gitu Vino punya maksud terselubung? Ya nggak, La?” Arin meminta persetujuan dari Lala.


“Eum, Lala nggak tahu,” jawab Lala, mengangkat kedua bahunya lalu memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya.


“Gimana ya, gue terbawa seneng sampai nggak mikirin ke situ, tapi kalau dipikir-pikir bener juga sih apa yang lo bilang. Ah, masa bodohlah, yang penting sekarang Vino jadi pacar gue. Ah senangnya hatiku,” ucap Tasya sambil meletakkan tangannya di atas meja untuk menumpu dagunya. Tatapan gadis itu mengarah pada langit-langit kafe.


Sejujurnya, dia juga sangsi jika Vino tak memiliki maksud lain. Menjadi penguntit Vino sejak kurang lebih setahun lalu membuat Tasya mengenal Vino sedikit demi sedikit. Dia tahu, Vino tak akan begitu mudah memiliki perasaan dengannya. Apalagi jika dilihat dari perlakuan Vino selama ini ke padanya.


Namun, apa pun itu, Tasya tak akan memedulikannya. Masalah “maksud tertentu Vino” itu biar jadi urusan belakangan. Tasya tak ingin menghancurkan rasa bahagia yang saat ini dia rasakan. Sebab hal itu sangatlah jarang hadir, apalagi ini bahagia karena seorang Vino.


“Buset dah, Sya. Lo udah dibutakan sama cinta!” Arin berdecak pelan.


“Emang cinta punya mata, ya? Kok Bisa buta segala?” tanya Lala polos.


Arin dan Tasya hanya bisa menepuk dahi pelan.


“Ya nggak gitu juga kali, La. Lo polos apa bego sih?” tanya Tasya sambil mengusap wajahnya kasar. Gemas sekali rasanya dengan temannya ini.


“Polos sama bego itu beda tipis, Tasya sayang,” sahut Arin yang membuat mereka tertawa LOL. Lala hanya bisa menatap kedua sahabatnya ini bingung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selesai makan di kafe, Arin tak langsung pulang. Dia memutuskan untuk mampir ke rumah seseorang, yang tak lain adalah sepupunya.


“Assalamualaikum, Tante. Anak Tante yang katanya ganteng se rumah itu udah di rumah, Tan?” tanya Arin saat sudah memasuki rumah tantenya.


“Oh, Arin. Tuh ada di kamar, datangin aja.” sahut Antika, tantenya Arin.


“Kalau gitu Arin langsung masuk aja ya, Tan.”


Antika hanya mengangguk karena sedang fokus pada layar televisi yang menyiarkan sinetron kesukaannya.

__ADS_1


Arin segera berjalan menuju kamar sepupunya dan memasuki ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Sepupunya menoleh. “Kebiasaan lo, Rin. Kalo mau masuk kamar orang tuh ketuk dulu. Kalau gue belum pakai baju gimana? Kan bisa gawat darurat.”


Arin tak mengindahkan gerutuan itu. Dia justru berjalan menghampiri sepupunya lalu duduk di sisi ranjang. “Berisik lo. Ada yang mau gue tanyain, awas aja lo nggak jawab jujur.”


“Ck, iya, apaan? Serius amat muka lo.”


“Lo, kan temennya Vino, nih?”


Sepupunya menoleh ke arah Arin sambil mengangguk. “Ya terus?”


“Gue mau tanya, pokoknya lo harus jawab jujur. Kalau lo bohong, gue kirim lo ke Antartika,” ancam Arin yang terkesan seperti candaan menurut sepupunya itu.


Seketika tawa sepupu Arin pun pecah. “Hahaha, muka lo kalo serius jadi kayak monyet tetangga.”


“Gue serius, Rangga!”


Rangga menghentikan tawanya, dia kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi bersandar pada headboard.


“Iya-iya, buruan mau tanya apa?” tanya Rangga, kemudian fokus pada layar ponselnya yang baru saja dia ambil dari atass nakas.


“Kenapa Vino tiba-tiba nembak Tasya?”


“Kenapa emangnya? Lo cemburu?” Tawa Rangga kembali pecah.


“Sembarangan lo. Lagian nih, ya, gue kalau suka sama cowok ya pilih-pilihlah. Enggak mungkinkan gue nikung sahabat gue sendiri.”


“Ya kali aja gitu.”


“Back to topic, kenapa Vino tiba-tiba nembak Tasya?” Arin mengulang pertanyaannya tadi.


“Putra yang nantangin.” sahut Rangga santai.


“Gimana sih maksudnya, ceritain yang bener,” suruh Arin sebab tak mengerti dengan jawaban dari Rangga.


“Jadi gini, tadi, kan gue bolos sama Vino juga Putra ....” Ucapan Rangga terpotong oleh Arin.


“Apaan sih, ceritain kejadian intinya aja. Enggak usah berbelit-belit,” potong Arin.


“Oke-oke, jadi gini ....” Rangga pun menceritakan kejadian kenapa Vino bisa menembak Tasya secara tiba-tiba.


“Buset dah, benci gue sama Putra. Kenapa coba ngasih tantangan kayak gitu. Emang perasaan orang buat mainan apa?” Arin berapi-api setelah mendengar penjelasan dari Rangga.


“Ya mau gimana lagi, semuanya udah terlanjur. Tadinya gue mau ngelarang, tapi ya Vinonya kelihatan santai aja gitu,” sahut Rangga, teringat jelas bagaimana tadi bingungnya dia.


“Ya nggak gitu juga kali bangsat. Perasaan seseorang bukan untuk dijadikan bahan permainan, bikin darah tinggi aja sih.” Arin menepuk dahinya pelan. Kenapa nasib sahabat kesayangannya harus begini. “Gue mau minta saran dari lo!” lanjut Arin sambil menatap ke arah Rangga.

__ADS_1


Rangga mengangkat sebelah alisnya.


“Apaan?”


“Hm, menurut lo baiknya gue kasih tahu ke Tasya sekarang apa, nggak?”


“Lo mau bikin Tasya sakit hati, hah?! Dia baru aja seneng bisa pacaran sama Vino, terus dia bakalan sedih, kecewa karena tiba-tiba lo bawa kabar yang nggak mengenakkan hati. Dia pasti bakalan kecewa besar dodol!” Rangga menepak kepala Arin geram. Pusing sudah dibuatnya.


“Ya gue nggak bermaksud bikin Tasya kecewa, tapi ini nggak bisa di biarin, gue nggak bisa ngebiarin sahabat gue ... ah pusing gue lama-lama.” Arin mengacak rambutnya frustasi.


“Nih ya, gue kasih saran, sebagai sahabat yang baik, lo harus ingetin supaya dia nggak terlalu mencintai Vino, supaya nanti kalau Vino mutusin, dia juga nggak bakalan jatuh terlalu dalam,” tutur Rangga.


“Heran gue sama pemikiran Putra, bisa-bisanya dia ngasih tantangan konyol kayak gitu, di mana coba otak di?”


“Lo tanya gue, gue tanya siapa dodol?! Dahlah, hus-hus, sana pergi. Gue mau tidur dulu. Lo mah seneng banget gangguin orang istirahat,” usir Rangga sambil menggerakkan tangan, menyuruh Arin Arin.


“Sepupu tidak berakhlak lo!” umpat Arin lalu keluar dari kamar Rangga


🎀


Dengan senyum semringah yang menghiasi wajah cantiknya, gadis cantik ini mulai memasuki ruang utama di rumahnya setelah pulang dari kafe.


“Assalamualaikum, Bunda. Adek pulang!” Tasya mengucapkan salam, lantas menghampiri bundanya yang tampak sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan majalah fashion di pangkuannya. Dia kemudian mencium punggung tangan bunda tercintanya itu.


“Waalaikumussalam, tumben adek baru pulang?” sahut Tera sambil meletakkan majalah yang dipegangnya di atas sofa.


“Hehe, tadi Tasya mampir ke kafe sama teman-teman, Bun,” jawab Tasya. Gadis itu mengambil duduk, lalu bersandar di bahu bundanya, masih mempertahankan senyum manisnya.


“Adek lagi bahagia banget kelihatannya. Bahagia kenapa, nih?” tanya Tera yang heran melihat anak bungsunya ini terus tersenyum.


“Hmm, bunda marah nggak kalau Adek pacaran?” Bukannya menjawab pertanyaan dari bundanya, Tasya justru balik bertanya.


“Anak bunda udah dewasa ternyata,” goda Tera sambil tersenyum jahil ke arah Tasya.


“Haih, Bunda. Adek, kan tanya bener-bener.” Tasya mengerucutkan bibirnya kesal.


“Bunda sama ayah, kan nggak pernah ngelarang Adek pacaran. Yang harus Adek ingat, pacaran boleh, tapi harus ada batasnya,” tutur Tera lembut lalu mengelus rambut putrinya itu. “Emang adek pacaran sama siapa?” tanya Tera. Jiwa-jiwa penasarannya mulai keluar.


“Hehe, sama Vino, Bun. Arvino Afrija Louis. Cowok populer di sekolah Adek. Dia seangkatan sama Adek, Bun,” jelas Tasya,


Tera mengangguk paham.


“Udah bisa pacaran, ya sekarang? Ingat pesan Bunda, Sayang. Jangan terlalu dalam mencintai seseorang hingga kamu melupakan Tuhanmu. Ingat, kalo Tuhan cemburu, kamu bisa saja diberi luka.” Tera mencubit hidung Tasya gemas.


“Haih, udah deh, Bun, godain adek. Adek selalu ingat pesan Bunda. Adek mau ke kamar, istirahat. Dadah Bunda sayang.” Sebelum kembali ke kamarnya, Tasya menyempatkan diri untuk sekedar mencium pipi bunda tersayangnya itu.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2